
Kami sudah sampai di supermarket dekat rumah Dokter Alam. Aku langsung menuju tempat buah-buahan. Sedangkan Dokter Alam berdiri di sebelahku sambil memegang keranjang. Aku mengambil 10 buah apel dan 5 mangga dan langsung aku masukan didalam keranjang.
“ Nay, kok banyak banget sih?” tanyanya.
“ Iya nggak papa buat stok dirumah kamu.” kataku berjalan menuju tempat cemilan.
“ Terus ini jika mangga buat siapa?” tanyanya.
“ Buat aku.” Kataku sambil sibuk memilih cemilan.
“ Kan tadi aku bilangnya apel bukan mangga,” kataku.
“ Mas, memangnya kamu nggak lihat itu apel.” kataku mengambil apel itu dan menunjukkan padanya.
“ Iya, tapi mangganya?” katanya.
“ Nggak papa mas sekalian.” kataku Dokter Alam hanya menghela nafas.
“ Mas, pilih yang mana?” tanyaku menunjukkan dua pilihan cemilan.
“ Terserah kamu aja deh,” katanya.
“ Heemmm... Dua-duanya aja deh,” kataku meletakkannya dalam keranjang.
“ Dua-duanya?” tanyanya heran.
“ Nay, kalo kamu makannya banyak nanti kamu bisa gemuk lho,” katanya.
“ Kan kamu sendiri yang bilang kalo aku nggak boleh diet. Makanya sekarang aku mau makan yang banyak,” kataku.
“ Iya aku tahu tapi kan nggak sebanyak ini juga,” katanya.
“ Mas, bisa nggak jangan kebanyakan protes? Diem, Oke!” kataku.
Dokter Alam langsung menutup mulutnya
“ Bagus, sayang deh sama kamu.” kataku sambil mencubit pipinya.
“ Kalian pengantin baru ya?” kata seorang ibu-ibu yang ada di sebelahku.
Aku hanya tersenyum “ Pantes aja kalian kelihatan mesra sekali,” katanya.
Mesra apanya orang dari tadi ribut mulu kok, batinku.
Dokter Alam dan aku saling pandang dan saling melempar senyuman. Tiba-tiba aku merasa perutku sakit pasti karena hari ini hari pertama aku haid. Jika hari pertama haid aku perutku memang selalu nyeri. Aku mencoba menahannya mengelus-elus perutku. Ibu itu memandangku yang dari tadi memegang perutku.
“ Apalagi kalo istrinya lagi hamil muda begini harus sering dijagain,” katanya pada Dokter Alam aku hanya tersenyum melihat Dokter Alam yang salah tingkah.
Siapa juga yang lagi hamil ini lagi nahan nyeri haid bukanya hamil, batinku.
Ibu itu beralih pada keranjang yang dibawa Dokter Alam “ Kamu lagi ngidam mangga ya?” tanyanya.
Aku tersenyum sambil berpura-pura memilih cemilan yang lain “ Ibu dulu waktu hamil juga ngidam mangga sama kayak kamu,” katanya.
“ Nak, saya kasih tahu kalo istrinya lagi ngidam pingin makan apapun kamu harus turutin nanti biar bayinya nggak ileran,” kata ibu itu.
“ Tuh mas dengerin jadi kalo aku minta kamu harus turutin,” kataku pada Dokter Alam.
Dia jadi tambah salah tingkah “ Ayo kita pulang sekarang.” Katanya menarik tanganku.
“ Kami permisi dulu Bu,” katanya pada ibu itu.
__ADS_1
Ibu hanya melempar senyum dan aku membalas senyumnya. Dokter Alam menarikku menuju kasir. Setelah selesai membayar kami segera pergi dari supermarket tersebut. Kami sudah ada didalam mobil.
Mobil sudah melaju menuju rumah Dokter Alam. Aku kembali teringat yang dibicarakan ibu-ibu yang ada di supermarket tadi. Apalagi waktu lihat wajah Dokter Alam yang kebingungan diajak ngomong seperti itu. Tanpa sadar itu membuatku tertawa.
“ Kamu kenapa Nay?” tanyanya.
“ Nggak papa aku cuma inget omongan ibu-ibu yang ada di supermarket tadi,” kataku.
“ Ibu yang bilang kamu hamil itu?” tanyanya.
“ Iya yang ngatain aku hamil itu.” kataku sambil tertawa.
“ Ada-ada aja tuh ibu masak aku dikatain hamil. Kamu tahu nggak kenapa dia begitu?” tanyaku.
“ Nggak tahu,” katanya.
“ Dia bilang begitu karena dia ngelihat aku waktu ngelus-ngelus perut. Padahal aku ngelus perut itu nahan nyeri haid bukannya hamil.” kataku sambil tersenyum senang.
Dokter Alam hanya tersenyum “ Apalagi waktu ibu itu ngomong sama kamu wajah kamu lucu banget mas.” kataku sambil tertawa. Aku terus tertawa sampai perutku sakit.
“ Aduh!” kataku sambil memegang perutku lagi.
“ Kamu kenapa Nay?” tanyanya.
“ Nggak papa mas, cuma perutku nyeri lagi.” kataku memegang perutku yang masih sakit.
“ Makanya jangan ketawa terus,” katanya.
“ Iya,” kataku.
Kami sudah sampai didepan rumah Dokter Alam. Dokter Alam mengambil sedang semua barang belanjaan tadi. Sedangkan aku sudah masuk kedalam rumah. Saat aku masuk aku melihat Hanabi sedang duduk diruang tengah. Dia sedang asik menonton TV. Aku langsung mendekatinya.
“ Lagi nonton kaltun kak,” katanya.
“ Kakak juga suka kartun itu.” kataku ikut menonton.
Dokter Alam masuk sambil membawa plastik belanjaan tadi. Bi Suci langsung berlari untuk membantu Dokter Alam. Dokter Alam masuk berjalan menuju meja makan kemudian dia kembali.
Dia ikut duduk diruang tengah bersama aku dan Hana. Aku dan Hana sedang asik menonton TV sambil sesekali tertawa. Bahkan kami tak memedulikan Dokter Alam yang sedang duduk sambil terus memandangi kami.
Tak terasa akhirnya film selesai. Hana langsung masuk kedalam kamar untuk belajar. Aku langsung beranjak menuju dapur meninggalkan Dokter Alam sendiri. Aku lihat didapur Bi Suci sedang mencuci piring. Aku berjalan mendekatinya.
“ Bi, buah yang tadi saya beli mana?” tanyaku.
“ Ada didalam kulkas non, Biar saya ambilkan,” katanya.
“ Nggak usah saya bisa ambil sendiri,” kataku.
Aku langsung membuka kulkas dan mengambil 2 buah apel dan 2 buah mangga. Setelah itu aku mengambil pisau dan 2 piring. Aku membawanya menuju meja makan.
Kupotong semua buah itu dan kuletakan dalam piring. Dokter Alam berjalan mendekatiku dan langsung duduk disampingku.
“ Kamu lagi ngapain Nay?” tanyanya.
“ Lagi potong buah.” kataku masih terus memotong buah tersebut.
“ Kok ada dua piring?” tanyanya.
“ Yang satu buat Hana,” Kataku,“ Bi,”
Bi Suci langsung berlari kearahku.“ Ada apa non?” tanyanya.
__ADS_1
“ Tolong kasih ke Hana!” kataku.
Bi Suci langsung menerima piring yang aku berikan. Dia berjalan menuju kamar Hana. Saat aku akan memakan buah yang ada dipiring satunya ternyata piring itu sudah kosong.
Aku melirik ke arah Dokter Alam yang mulutnya seperti mengunyah sesuatu.
“ Mas, pasti kamu yang makan?” tanyaku.
“ Nggak,” katanya.
“ Terus siapa lagi kalo bukan kamu?” tanyaku.
“ Mungkin kucing,” jawabnya.
“ Nggak mungkinlah mas, disini mana ada kucing? Lagian kucing itu sukanya ikan bukan buah,” kataku.
“ Yah aku juga nggak tahu,” katanya.
“ Jangan coba-coba bohong sama aku mas, atau kamu bakal nyesel.” kataku mengarahkan pisau padanya.
“ Nay, hati-hati itu pisau! Nanti kalo sampai kena aku gimana?” tanyanya mulai takut.
“ Makanya ngaku kalo nggak mau pisau ini nancep didada kamu,” ancamku.
“ Ganas banget sih kamu Nay,” katanya.
“ Biarin, Kamu tahu kan kalo perempuan lagi PMS itu galaknya kayak apa?” tanyaku sambil memainkan pisau yang aku bawa.
Dokter Alam menelan ludah. “ Iya.” Katanya.
“ Dan sekarang kamu juga tahu kan kalo aku lagi PMS?” tanyaku.
Dia menganggukkan kepala. “ Jadi jangan macam-macam sama aku,” kataku mengarahkan pisau itu padanya.
Dia mengangguk. “ Sekarang kamu mau jujur nggak? Kalo sampai kamu bohong aku akan...” kataku menancapkan pisau itu pada apel yang ada disampingku.
Aku lihat wajah Dokter Alam yang sudah ketakutan. Aku mencoba menahan tawa melihat ekspresinya yang ketakutan itu. Ternyata menggoda Dokter Alam itu seru juga. Aku terus menatapnya dan tiba-tiba tawaku meledak aku sudah tidak bisa menahan tawa lagi.
“ Hahahhahahaha.” tawaku sambil duduk di kursi.
“ Kok ketawa sih Nay?” tanyanya.
“ Abisnya wajah kamu lucu banget mas,Hahahhahaha.” Kataku sambil terus ketawa dan memegangi perutku yang sakit.
“ Oh jadi kamu ngerjain aku?” katanya beranjak mendekatiku.
Tawaku berhenti aku menatap Dokter Alam yang mendekat kearahku.“ Kamu mau ngapain mas?” tanyaku berjalan mundur.
“ Sekarang kamu udah berani ngerjain aku?” katanya yang kembali melangkah maju perlahan aku berjalan mundur.
“ Kamu mau ngapain mas?” tanyaku yang mulai takut.
“ Nggak aku nggak ngapa-ngapain,” katanya.
“ Kamu jangan macem-macem lho mas,” kataku.
“ Aku nggak macem-macem aku cuma mau satu macem yaitu....” katanya berjalan semakin dekat.
“ Nangkep kamu.” Katanya langsung berlari kearahku.
Sontak aku kaget langsung ikut berlari. Kami berlari dengan diiringi tawa. Untuk beberapa saat kami saling mengejar dan akhirnya menyerah karena kecapekan.
__ADS_1