I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 11 : Restu dari Bunda dan Kak Alex


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Pintu kamarku diketuk aku segera membuka pintunya.


“ Udah dijemput tuh.” Kata Kak Alex.


“ Oke bentar.” Kataku menyambar tas dan bukuku yang tergeletak dikasur.


Aku berjalan menuju ruang tamu Dokter Alam sudah menungguku disana. Mulai hari ini aku akan berangkat ke kampus bersama dengannya. Aku segera menghampirinya agar bisa segera berangkat.


“ Ayo Dok.” Ajakku.


Dia berdiri “ Ayo.” Katanya.


“ Kak aku berangkat dulu ya.” Teriakku pada Kak Alex.


“ Iya.” Katanya menghampiriku.


“ Lho Bunda mana kak?” tanyaku yang dari tadi tak melihat bunda.


“ Lagi dikamar istirahat.” Katanya.


“ Oh oke aku berangkat dulu.” Kataku menyalami kak Alex.


“ Kita duluan ya Lex.” Kata Dokter Alam.


“ Hati-hati.” Katanya.


Beberapa menit kemudian kamu sudah sampai dikampus. Saat turun dari mobil tiba- tiba terdengar suara orang memanggilku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitarku mencari orang tersebut. Dari kejauhan aku melihat Neta berjalan mendekatiku. Aku tersenyum kearahnya.


“ Neta, Kamu kok berangkat sih kan kamu lagi sakit?” tanyaku.


“ Nggak papa kok gue udah sembuh. Tadi Lo bilang apa? kamu? tumben Lo manggil gue gitu?” Katanya.


Aku langsung mencubit perutnya “ Aw! Sakit tahu.” Katanya.


Aku langsung memberikan kode kalo Dokter Alam masih ada disitu memandang kami. Dia langsung tersenyum pada Dokter Alam.


“ Pagi Dok.” Sapanya.


“ Pagi.” Jawabnya.


“ Nay, saya masuk duluan ya kamu jangan lama-lama kelas udah mau dimulai.” Katanya.


“ Iya.” Kataku.


Dokter Alam pergi meninggalkan kami berdua diparkiran. Aku sudah bisa menebak begitu Dokter Alam pergi Neta langsung memburuku dengan berbagai pertanyaan.


“ Nay, Lo kok bisa berangkat sama Dokter Alam sih?” tanyanya.


“ Ya bisalah.” Kataku berjalan meninggalkannya.


Dia langsung mengejarku “ Gimana ceritanya?” tanyanya penasaran.


“ Terus sejak kapan Lo pake cincin Nay?” tanyanya


“ Nanti gue ceritain.” Kataku .


“ Sekarang aja Nay.” Katanya.


“ Ih kok nawar sih emang dipasar pake ditawar segala.” Kataku.


“ Hehehe.” Katanya meringis.


“ Nanti aja kita harus masuk kelas ntar dihukum Dokter Alam baru tahu rasa kamu.” Kataku.


Kami sudah ada didalam kelas. Aku terus menatap Dokter Alam yang sedang menerangkan didepan sambil tersenyum. Saat pandangan kami bertemu kami saling melempar senyuman. Sampai hari ini aku masih tidak percaya kalo semalam Dokter Alam melamarku.


“ Nay.” Panggil Neta aku langsung melihat kearahnya.


“ Kenapa?” tanyaku.


“ Lo kenapa sih sakit ya dari tadi senyum-senyum sendiri ngelihatin Dokter Alam.” Katanya.


“ Nggak papa kok.” Kataku kembali menghadap ke depan.


“ Baik kelas hari ini selesai mulai besok Dokter Willy yang akan mengajar kalian.” Katanya.


Aku langsung melongo mendengarnya kok tadi Dokter Alam nggak bilang kalo ini hari terakhirnya di kampus.


“ Apakah ada yang ditanyakan?” tanyanya.


Semua diam “ Kalo begitu selamat siang.” Katanya meninggalkan kelas.


Begitu kelas sepi Neta langsung menghampiriku.


“ Lo itu kenapa sih Nay?” tanyaku.


“ Emang gue kenapa?” tanyaku balik.


“ Itu tadi Lo ngelihatin Dokter Alam.” Katanya..


“ Nanti gue ceritain kita Ke kantin dulu yuk.” Ajakku.


Kami berjalan bersama ke kantin. Diperjalanan kami bertemu Dokter Alam.


“ Siang Dok.” Sapa Neta.


“ Siang.” Katanya.

__ADS_1


Sedangkan aku hanya tersenyum padanya.


“ Nay, nanti jadi?” tanyanya.


“ Jadi tapi aku ke kantin dulu.” Kataku.


“ Yaudah saya juga mau ke perpus dulu.” Katanya pergi meninggalkan aku dan Neta.


“ Jadi apa Nay?” Tanya Neta.


“ Nggak papa.” Kataku pergi meninggalkannya.


Dia berlari mengejarku “ Nay tungguin dong.” Katanya.


“ Hah! Lo dilamar Dokter Alam?” katanya hampir berteriak jika aku tidak menutup mulutnya.


“ Nggak usah teriak.” Kataku.


Aku lepas tanganku yang tadi menutup mulutnya “ Kok bisa sih Nay?” tanyanya nggak percaya.


“ Bisalah.” Kataku.


“ Jadi cincin yang Lo pake itu dari Dokter Alam?” tanyanya.


Aku melihat cincin yang ada dijari manisku “ Iya.” Jawabku.


“ Gila Nay bener-bener gila.” Katanya .


“ Kok Gitu?” kataku.


“ Gue masih nggak percaya aja kalo Dokter Alam ngelamar Lo.” Katanya.


“ Gue juga nggak nyangka Net, Lo mau tahu nggak dia ngelamar gue gimana?” tanyaku.


“ Gimana?” tanyanya penasaran.


Aku diam menatapnya dia juga terus menatapku menunggu jawabanku “ Nungguin ya?” tanyaku.


“ Cepetan Nay gimana?” tanyanya penasaran.


“ Beneran mau tahu?” tanyaku.


Dia mengangguk “ Besok gue ceritain.” Kataku.


“ Kok besok?” tanyanya.


“ Soalnya gue mau pergi sama Dokter Alam.” Kataku.


“ Dah Net.” Kataku langsung pergi.


“ Ih nyebelin Lo Nay.” Teriaknya.


“ Udah?” tanyanya.


“ Bentar.” Kataku.


“ Kenapa?” tanyanya.


“ Kamu kok nggak bilang kalo ini hari terakhir kamu di kampus?” tanyaku.


“ Kan aku udah bilang tadi dikelas.” Jawabnya.


“ Kamu seharusnya bilang aku dulu mas.” Kataku.


“ Kan sama aja Nay.” Katanya.


“ Sama apanya jelas bedalah mas, kalo dikampus aku mahasiswa kamu kalo diluar kampus aku ini tunangan kamu seharusnya kamu kasih tahu aku dulu.” Kataku.


“ Iya aku minta maaf lain kali aku kasih tahu aku duluan deh. Udah nggak marah kan?” Katanya.


“ Nggak.” Kataku.


“ Jadi dimaafin nih?” tanyanya.


“ Iya.” Kataku.


“ Beneran?” tanyanya.


“ Iya beneran udah ayo pergi.” Kataku.


“ Oke.” Katanya.


Mobil sudah meninggalkan kampus menuju rumahku. Rencananya hari ini aku dan Dokter Alam mau bilang ke Bunda soal hubungan kami.


Kami sudah sampai didepan rumah. Aku langsung masuk kedalam rumah.


“ Mas, kamu tunggu disini aku panggil Bunda dulu.” Kataku.


Dia mengangguk “ Kamu mau minum apa?” tanyaku.


“ Terserah kamu.” Katanya.


“ Oke.” Kataku.


Aku langsung pergi mencari Bunda dikamarnya tidak ada dan aku langsung menuju dapur ternyata juga tidak ada. Bunda kemana sih kok nggak ada. Aku berjalan menuju taman belakang Bunda sedang menyiram bunga disana.


Aku langsung menghampiri Bunda.


“ Assalamualaikum Bun.” Kataku menyalaminya.

__ADS_1


“ Walaikumsalam, kamu udah pulang Nay?” tanyanya.


“ Iya Bun, barusan dateng.” Kataku.


“ Kak Alex mana kok nggak kelihatan?” tanyaku.


“ Udah berangkat kerja.” Katanya.


“ Oh.” Kataku.


Aku diam sejenak Bunda melanjutkan menyiram bunganya.


“ Bun.” Panggilnya.


“ Iya.” Jawabnya.


“ Ada yang mau ketemu sama Bunda.” Kataku.


“ Siapa?” tanyanya.


“ Dokter Alam.” Kataku.


“ Kenapa tumben nyariin Bunda?” tanyanya.


“ Katanya ada yang mau diomongin.” Kataku.


“ Sekarang dia ada dimana?” tanyanya.


“ Nunggu diruang tamu.” Kataku.


“ Yaudah Bunda kesana dulu.” Katanya.


“ Iya Bun, aku bikin minum dulu ya.” Kataku.


Bunda berjalan menuju ruang tamu. Aku segera menuju dapur. Setelah selesai membuat minuman aku langsung membawanya keluar. Ternyata disana juga ada Kak Alex padahal tadi bunda bilang kalo dia udah berangkat kerja tapi kenapa sekarang dirumah.


“ Lho kok disini?” tanyaku.


“ Memangnya kenapa nggak boleh ini kan rumah kakak juga .” katanya.


“ Siapa bilang nggak boleh bingung aja tadi Bunda bilang kakak udah berangkat kerja eh nggak tahunya sekarang disini.” Kataku.


“ Tadi ada yang ketinggalan makanya kakak balik lagi waktu sampai ternyata ada Alam disini. Kamu cuma bikin minum 2 doang kakak nggak dibuatin?” tanyanya.


“ Mana aku tahu kakak ada disini.” Jawabku.


“ Udah nggak usah bertengkar terus malu dilihatin Nak Alam. Maaf ya nak mereka memang sering kayak gini.” Kata Bunda.


“ Iya Bun nggak papa.” Jawabnya.


“ Kamu mau ngomongin apa?” tanya Bunda.


“ Begini Bun, Alam kesini mau ngelamar Nayla.” Katanya.


“ Kamu beneran mau ngelamar Nayla?” tanya Bunda.


“ Iya Bun, saya serius mau ngelamar Nayla jadi istri saya.” Katanya.


“ Kalo Bunda sih terserah Nayla kalo Nayla mau Bunda sih setuju-setuju aja.” Kata Bunda.


“ Kalo Bunda sih pinginnya nanti yang nikah dulu si Alex soalnya dia yang paling tua lagian Nayla juga lagi kuliah.” Kata Bunda.


“ Iya Bun, nggak papa saya ngerti kok saya akan nunggu sampai Nayla lulus.” Katanya.


“ Kelamaan kalo kalian mau nikah dulu juga nggak papa kok lagian setelah nikahkan Nayla masih bisa kuliah.” Kata Kak Alex.


“ Beneran Kak nggak papa?” tanyaku.


“ Iya nggak papa.” Kata Kak Alex.


“ Kalo Alex nggak keberatan Bunda juga setuju.” Katanya.


“ Terima kasih Bun.” Kata Dokter Alam.


“ Makasih Bun.” Kataku.


“ Iya.” Kata Bunda.


Dia tersenyum memandangku aku membalas senyumannya. Aku senang sekali ternyata Bunda tidak keberatan dengan hubunganku dan Dokter Alam. Bahkan kami juga sudah menentukan tanggal pernikahan untukku dan Dokter Alam yaitu pada tanggal ulang tahunku. Tanggal 4 Mei dan itu tinggal 4 bulan lagi. Kenapa cepet banget karena kata Bunda kalo ada niat baik lebih cepat lebih baik.


Setelah membicarakan acara pernikahan Bunda pamit untuk istirahat dan Kak Alex juga pamit untuk kembali ke kliniknya. Beberapa menit kemudian Dokter Alam pamit untuk ke rumah sakit soalnya dia ada janji dengan seorang pasien.


“ Nay, aku pamit duluan ya soalnya aku ada janji sama pasien nih.” Katanya.


“ Iya mas, aku anter keluar ya.” Kataku.


“ Iya, Bunda mana aku mau pamit dulu?” tanyanya.


“ Bunda lagi dikamar nanti aku bilangin ke Bunda kalo kamu udah pulang.” Kataku.


Dia mengangguk dan langsung berjalan keluar.


“ Nay, aku duluan ya besok ke kampus aku jemput.” Katanya.


“ Iya hati-hati mas.” Kataku.


“ Assalamualaikum.” Katanya.


“ Walaikumsalam.” Jawabku.

__ADS_1


Begitu mobilnya tidak terlihat aku langsung masuk kedalam rumah.


__ADS_2