I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 34 : Taman Bunga


__ADS_3

1 bulan kemudian....


Semuanya sudah kembali normal seperti biasa. Dokter Alam sudah bisa menerima kepergian mama Ratna.


“Nanti aku jemput ya Nay?” tanyanya.


“Nggak usah mas, hari ini aku mau pergi sama Neta,” kataku.


Sebenarnya aku tidak pergi dengan Neta. Tapi aku mau menemui Dokter Nabila untuk menanyakan tentang penyakitku ini. Aku nggak mungkin meminta Dokter Alam mengantarku.


“Yaudah sana masuk!” katanya.


“Iya.” Kataku segera keluar dari mobilnya.


Aku berjalan menuju kelas. Saat aku didepan kelas tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Aku bersandar pada tembok agar aku tidak jatuh. Neta yang melihatku dari kejauhan langsung berlari mendekatiku.


“Nayla Lo kenapa?” tanyanya.


“Kepala gue sakit banget Net.” Kataku sambil memegangi kepalaku.


“Kita ke rumah sakit sekarang!” katanya menarikku.


Aku melepaskan tangannya. “Nggak usah Net,”


“Nggak usah apanya Lo nggak lihat Lo itu kesakitan,” katanya memarahiku.


“Gue Cuma perlu minum obat aja kok,” kataku.


“Lo serius?” tanyanya.


Aku mengangguk. Tiba-tiba kepalaku terasa semakin sakit.


“Aw!” teriakku berjongkok sambil menjambak rambutku.


“Nay Lo kenapa?” tanyanya berjongkok di depanku.


“Sakit banget kepala gue Net.” kataku terus menjambak rambutku.


“Nayla jangan dijambak!” katanya menyingkirkan tanganku.


Dia melihat rambut yang ada ditanganku. “Nayla rambut Lo?”


“Gue tahu Net, tolongin gue sakit banget,” kataku.


Neta langsung membantuku untuk berdiri. Dia memapahku menuju mobilnya. Dia membawaku menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Dokter Nabila segera memeriksa. Setelah selesai diperiksa aku dan Neta duduk didepan Dokter Nabila.


“Nayla penyakit kamu semakin hari semakin parah bahkan obat yang saya berikan kepada kamu sama sekali tidak berefek,” kata Dokter Nabila.


“Terus saya harus gimana?” tanyaku.


“Jalan satu-satunya tetap operasi,” katanya.


Neta sangat terkejut mendengar perkataan Dokter Nabila. “Operasi? Nayla Lo sebenernya sakit apa kenapa harus operasi?” tanya Neta.


“Nanti gue jelasin,” kataku.


“Saya harap kamu bisa segera memutuskan,” kata Dokter Nabila.


“Iya dok, saya akan pikiran soal itu,” kataku.


Aku menarik Neta untuk keluar dari ruangan Dokter Nabila. Kami berjalan menuju mobil Neta. Aku segera masuk begitu pun dengan Neta. Dia terus menatapku dengan tatapan bertanya-tanya.


“Lo sebenernya sakit apa? Kenapa harus operasi?” tanyanya.


“Dokter Nabila bilang gue kena tumor otak,” kataku.


“Apa? Tumor?” tanyanya tak percaya.

__ADS_1


“Iya,” kataku.


“Kok bisa?” tanyanya


“Dokter Nabila bilang kalo ini semua karena benturan waktu kecelakaan dulu,” kataku.


“Sejak kapan Lo tahu soal penyakit Lo?” tanyanya.


“Udah satu bulan,” kataku.


“ Satu bulan? Kenapa Lo nggak cerita ke gue?” tanyanya sambil menangis.


“Gue nggak mau Lo sedih Net kalo tahu keadaan gue,” kataku.


“Nayla gue ini sahabat Lo nggak seharusnya Lo sembunyiin hal sebesar ini dari gue,” katanya.


“Gue tahu gue minta maaf,” katanya.


Neta menghapus air matanya. “Apa Dokter Alam tahu?”


Aku menggeleng. “Lo orang pertama yang tahu soal ini,” kataku.


“Apa? Jadi Bunda dan Kak Alex juga nggak tahu soal ini?” tanyanya.


“Ya ampun Nayla Lo gila ya? Kenapa Lo sembunyiin ini dari semua orang?” tanyanya kembali menangis.


“Gue nggak pingin semuanya sedih karena gue,” kataku.


“Semuanya bakal lebih sedih kali tahu Lo nyembunyiin ini semua,” katanya.


“Gue mohon dan Lo jangan bilang ke siapa-siapa soal ini, terutama Dokter Alam gue nggak mau dia bakal nyalahin dirinya kalo tahu soal ini,” kataku.


“Tapi Dokter Alam harus tahu kalian sebentar lagi akan menikah,” katanya.


Aku diam menunduk. “Kenapa Lo diem?” tanyanya.


“Gue nggak akan nikah sama Dokter Alam,” kataku.


“Gue nggak mau dia hidup dan orang yang penyakitan kayak gue,” kataku.


“Berarti Lo bakal batalin pernikahan Lo?” tanyanya.


Aku mengangguk Neta langsung memelukku. “Lo tenang aja gue baik-baik aja,” kataku.


Neta terus menangis aku memeluknya.


“Kenapa Lo nggak mau operasi?” tanyanya.


“Kalo gue operasi semua orang akan tahu soal ini,” kataku.


“Tapi kalo Lo kayak gini terus Lo ya bakal kesakitan Nay,” katanya.


“Lo tenang aja gue baik-baik aja,” kataku.


Neta mengajar wajahnya dan menghapus air matanya. “Gue mohon dan Lo jangan kasih tahu siapa-siapa” kataku.


Neta mengangguk. “Udah dong jangan sedih lagi gue baik-baik aja,” kataku tersenyum.


“Lo yang kuat ya Nay gue akan selalu ada buat Lo,” katanya.


“Makasih Net,” kataku.


Neta menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.


“Gimana kalo kita jalan-jalan?” tanyanya.


“Tapi Kita kan harus balik ke kampus,” kataku.

__ADS_1


“Kita udah telat Nayla ini udah jam sepuluh,” katanya..


Aku lihat jam ditanganku benar sudah jam sepuluh. Itu artinya kami terlambat kalaupun bisa masuk pasti kena hukuman.


“Gimana Lo mau?” tanyanya.


“Net Lo bisa anter gue ke rumah sakit Dokter Alam?” tanyaku.


Neta menatap Nayla seperti paham yang dimaksud Nayla. Dia menganggukkan kepala dan langsung melajukan mobilnya menuju ruang sakit Dokter Alam.


Beberapa menit kemudian kami sampai didepan rumah sakit. Aku segera turun dari mobil Neta. Dan Neta langsung melaju pergi meninggalkan rumah sakit. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Dokter Alam.


Aku mengetuk pintunya dia langsung memintaku untuk masuk. Dia tampak terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba.


“Nayla, kok kamu disini bukannya kamu kuliah?” tanyanya.


Aku langsung duduk di kursi yang ada disana.


“Kenapa memangnya aku nggak boleh kesini?” tanyaku.


“Bukanya begitu,” katanya bingung harus menjawab apa.


“Mas, kita pergi yuk ke taman yang waktu itu,” kataku.


“Tapi-” katanya.


Aku langsung mendekatinya mengambil kunci mobilnya dan mendorongnya keluar dari ruangannya. Dia berjalan mengikutiku hingga sampai didepan mobilnya. Aku langsung menyerahkan kunci mobilnya dan memintanya untuk masuk kedalam. Setelah dia masuk aku juga langsung masuk.


“Cepetan jalan mas!” kataku.


Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan. Tempat parkir rumah sakit.


“Nay, kamu kenapa sih kok tiba-tiba ngajak aku kesana?” tanyanya.


“Nggak papa aku cuman mau pergi berdua sama kamu aja,” kataku.


Dokter Alam kembali fokus dengan jalanan yang ada didepannya. Setengah jam kemudian kami sampai ditaman tersebut. Aku berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan bunga. Aku bisa menghirup bau yang sangat wangi dari bunga-bunga tersebut.


Aku berjalan menuju hamparan bunga tulip. Aku berdiri menatap hamparan bunga tulip yang ada didepanku. Aku teringat apa saat Dokter Alam melamarku. Ditempat inilah sekarang aku berdiri. Mengingat semua itu membuat air mataku kembali mengalir aku segera menghapusnya.


“Mas, kamu inget nggak ini tempat kamu ngelamar aku?” tanyaku.


“Tentu aja aku inget itu komen paling bahagia buat aku,” katanya menatap hamparan tulip yang warna-warni.


“Kamu inget juga nggak aku pernah bilang kalo aku akan kasih kamu tulip putih?” tanyaku melihat kearahnya.


“Iya, tapi untungnya kamu nggak kasih aku bunga itu dan kamu terima aku,” katanya tersenyum menatapku.


Aku memalingkan wajahku. “Mungkin suatu hari aku akan kasih bunga itu buat kamu,” kataku.


“Apa maksud kamu?” tanyanya.


“Nggak papa, aku cuma bercanda kok,” kataku mencoba untuk tersenyum.


Dokter Alam merangkul pundakku. “Aku harap kamu nggak akan pernah kasih bunga itu buat aku, kalo pun kamu kasih bunga itu aku nggak akan pernah terima. Karena menurutku apapun yang kamu lakukan nggak pernah salah dimata aku,” katanya.


Air mataku kembali mengalir. Aku langsung memeluk Dokter Alam aku tidak mau dia melihatku menangis. Atau mungkin ini terakhir kali aku memeluknya.


“Makasih mas, aku juga minta maaf,” kataku.


“Nggak ada yang perlu dimaafin,” katanya.


Aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku terus menangis dalam pelukan Dokter Alam. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana? Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkannya tapi keadaan yang membuatku harus meninggalkannya.


Dokter Alam melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku.


“Kamu kenapa nangis?” tanyanya.

__ADS_1


“Nggak papa,” kataku.


Dokter Alam kembali memelukku dan aku balas memeluknya.


__ADS_2