
“ Baik kelas saya tutup hari ini.” Katanya.
Hari ini tidak seperti biasanya karena kelas hari ini selesai lebih cepat dari pada biasanya. Yang aku dengar sih para Dosen akan mengadakan rapat jadi kelas akan dilanjutkan 2 jam lagi. Aku berjalan mendekati Dokter Willy menyerahkan tugasku kemarin.
“ Dok.” Panggilku.
“ Iya ada apa?” tanyanya.
“ Saya mau ngumpulin tugas yang kemarin.” Kataku menyerahkan tugasku padanya.
“ Baik nanti saya cek dulu.” Katanya.
“ Iya dok.” Kataku dan dia langsung pergi.
Neta berjalan mendekatiku “ Nayla.” Teriaknya.
“ Nggak usah teriak Net gue nggak budek.” Kataku.
“ Iya maaf.” Katanya.
“ Kenapa?” tanyaku.
“ Ke kantin yuk.” Katanya .
Kulirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 11. Aku mengambil ponsel yang ada dalam tasku.
“ Bentar Net gue mau telepon dulu.” Kataku menjauh darinya.
Aku mencari kontak Dokter Alam dan segera menghubunginya.
“ Halo Assalamualaikum mas.” Kataku.
“ Walaikumsalam, Kenapa Nay?” tanyanya.
“ Mas dimana?” tanyaku.
“ Masih dirumah mau jemput Hanabi habis itu baru ke rumah sakit.” Katanya.
“ Mas langsung ke rumah sakit aja biar aku yang jemput Hana.” Kataku.
“ Memangnya kamu udah pulang dari kampus kok tumben cepet banget?” tanyanya.
“ Belum sih tapi Dosennya pada lagi rapat jadi aku kosong dua jam.” Kataku.
“ Oh.” Katanya.
“ Jadi gimana bolehkan aku jemput Hana?” tanyaku.
“ Nggak usah Nay biar aku aja yang jemput.” Katanya.
“ Kenapa?” tanyaku.
“ Aku takut ngerepotin kamu.” Katanya.
“ Ya ampun mas kayak sama siapa aja. Nggak papa ya mas aku yang jemput Hana?” tanyaku.
Dia diam sejenak “ Yaudah terserah kamu aja.” Katanya.
“ Oke sekarang aku langsung ke sekolah Hana.” Kataku.
“ Makasih ya Nay.” Katanya.
“ Iya sama-sama sekarang mas langsung ke rumah sakit aja kerja buat kita nikah nanti.” Kataku.
Dia tertawa “ Iya.” Katanya.
“ Yaudah aku tutup ya aku mau langsung kesekolah Hana.” Kataku.
“ Iya hati-hati dijalan Nay.” Katanya.
“ Mas juga hati-hati Assalamualaikum.” Kataku.
“ Walaikumsalam.” Katanya.
Aku masukan ponselku kedalam tas dan segera mendekat kearah Neta.
“ Kamu telepon siapa sih Nay lama banget?” tanyanya.
“ Dokter Alam.” Kataku.
“ Pantes lama, Yaudah ayo ke kantin gue laper banget nih.” Katanya.
“ Lo ke kantin sendiri aja gue mau pergi sebentar.” Kataku.
“ Lo mau pergi kemana?” tanyanya.
“ Gue pergi dulu Net.” Kataku langsung pergi tanpa menjawab pertanyaannya.
“ Nay Lo mau kemana?” teriaknya.
Aku tak menghiraukannya dan terus berjalan menuju gerbang kampus. Didepan aku langsung menghentikan taksi . Begitu taksinya berhenti aku langsung masuk dan menyebutkan tujuan yang aku maksud. Supir taksi itu langsung melajukan mobilnya menuju tempat itu.
Beberapa menit kemudian taksi berhenti didepan sekolah Hanabi.
“ Berapa pak?” tanyaku.
“ 100 mbak.” Katanya.
Aku langsung mengambil 2 lembar uang lima puluh ribu dari dalam dompetku dan memberikannya pada supir taksi tersebut.
“ Makasih mbak.” Katanya.
“ Sama-sama.” Kataku langsung keluar dari taksi.
Aku berjalan menuju gerbang sekolah sudah banyak ibu-ibu yang menunggu anaknya keluar. Tak lama kemudian semua murid keluar dari dalam kelas. Semua anak-anak itu berlari memeluk orang tuanya masing-masing dan orang tua mereka menggandeng tangan mereka.
Aku celingak celinguk mencari Hanabi. Dari kejauhan aku melihat Hanabi yang sedang berjalan bersama temannya. Aku langsung memanggilnya.
“ Hanabi.” Panggilku sambil melambaikan tangan.
Dia melihat kearahku dan langsung berlari kearahku “ Kak Nayla.” Katanya langsung memelukku.
Aku balas memeluknya “ Kak Alam mana?” tanyanya.
“ Kak Alam lagi kerja jadi Kak Nayla yang jemput Hana.” Kataku.
“ Oooo...” katanya mengangguk.
Tiba-tiba seorang guru mendekatiku “ Oh jadi ini mamanya Hana.” Kata guru itu.
“ Bukan Bu.” Kataku.
“ Ternyata masih muda cantik lagi persisi kayak Hana.” Katanya.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan guru itu.
“ Kalo gitu kami pamit pulang dulu Bu.” Pamitku.
__ADS_1
“ Iya Bu.” Katanya.
Ya ampun aku dipanggil Bu baru kali ini ada orang yang panggil aku ibu. Apa aku setua itu padahal tadi guru itu bilang aku masih muda tapi kenapa aku dipanggil ibu.
Aku menggandeng Hanabi menuju pinggir jalan untuk mencari taksi. Saat ada taksi yang lewat aku langsung menghentikannya. Aku meminta Hanabi masuk kemudian aku baru masuk.
“ Pak ke kampus Nusantara ya.” Kataku.
“ Baik mbak.” Katanya.
Supir itu langsung melajukan mobilnya menuju kampusku. Aku putuskan untuk mengajak Hanabi ke kampus karena sebentar lagi waktu rapat selesai.
“ Hana mau nggak ke sekolah kakak?” tanyaku.
“ Mau kak Hana bosen kalo halus dilumah sama mbak Shani.” Katanya.
Mbak Shani itu tetangga sebelah rumah Dokter Alam. Dia yang menjaga Hana saat Dokter Alam kerja. Beberapa menit kemudian taksi berhenti didepan gerbang kampusku.
Setelah membayar aku langsung turun.
Aku berjalan masuk sambil menggandeng tangan Hanabi. Tiba-tiba ponselku berdering. Aku berhenti sebentar untuk mengambil ponselku dari dalam tas ternyata telepon dari Neta.
“ Hana tunggu bentar kakak angkat telepon dulu.” Kataku.
“ Iya kak.” Katanya.
“ Halo Net.” Kataku.
“ Lo kemana sih Nay udah mau masuk nih?” Katanya.
“ Gue udah dikampus Lo dimana?” Tanyaku.
“ Gue dikantin cepetan kesini.” Katanya.
“ Oke gue kesana sekarang.” Kataku.
Aku tutup sambungan telepon dan kembali memasukkan ponselku kedalam tas.
“ Hana ikut kakak ke kantin mau?” tanyaku.
Dia mengangguk aku menggandeng tangannya berjalan menuju kantin. Aku berjalan menyusuri lorong kampus banyak mahasiswa lain yang memperhatikan aku sambil bisik-bisik. Pasti mereka heran kenapa aku bawa anak kecil kesini.
Tapi aku tak menghiraukan mereka dan tetap berjalan menuju kantin.
“ Kak.” Katanya.
“ Kenapa sayang?” tanyaku.
“ Kenapa semua ngelihatin kita kak?” tanyanya.
“ Itu karena kamu cantik makanya mereka ngelihatin kita.” Kataku.
Dia tersipu malu “ Ayo kita jalan lagi.” Kataku.
Dia mengangguk. Beberapa saat kemudian kami sudah sampai dikantin. Banyak mahasiswa lain yang memandangiku dengan tatapan heran. Aku melihat Neta duduk dimeja paling pojok. Aku berjalan menuju kearahnya.
“ Net.” Panggilku saat sudah ada didepan mejanya.
“ Uhuk... Uhuk... Uhuk... “ sambil meletakan minumannya dimeja.
“ Lo kenapa Net?” tanyaku.
“ Anak siapa yang Lo bawa?” tanyanya.
“ Anak gue.” Kataku langsung duduk didepannya aku juga meminta Hanabi untuk duduk di sebelahku dan dia menurut.
“ Jangan teriak.” Kataku menutup telingaku.
“ Jadi Lo udah punya anak Nay?” tanyanya.
“ Ya nggaklah.” Kataku.
“ Terus anak siapa? Atau jangan-jangan Lo culik nih anak terus Lo minta tebusan sama orang tuanya biar Lo dapet duit.” Katanya.
“ Jangan sembarangan Lo kalo ngomong.” Kataku.
“ Terus dia siapa?” tanyanya.
“ Dia adiknya Dokter Alam.” Kataku.
“ HAH!” Teriaknya.
“ Nggak usah teriak.” Kataku.
“ Kok bisa sama Lo sih Nay?” tanyanya.
“ Ya bisalah.” Kataku sambil meminum minumannya.
Dia masih terus menatapku dan Hanabi secara bergantian.
“ Lo ngapain ngelihatinnya sampai kayak gitu?” tanyaku.
“ Nggak papa.” Katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ Hana ini kenalin temen kakak namanya Kak Neta.” Kataku.
Dia langsung menyalami tangan Neta “ Namaku Hana Kak.” Katanya.
Neta yang tangannya disalami hanya melihatnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Aku tertawa melihat ekspresinya itu pasti dia kaget karena tiba-tiba Hanabi menyalaminya. Dia melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.
“ Nay kelas udah mau dimulai nih ayo masuk.” Katanya.
Aku melirik jam ditanganku “ Iya.” Kataku langsung berdiri.
Tapi aku kembali duduk karena teringat sesuatu “ Tunggu Net!” kataku.
“ Kenapa lagi Nay?” tanyanya.
“ Kalo kita masuk Hana sama siapa?” tanyaku.
“ Yah mana gue tahu kalo mau Lo bawa masuk ke kelas nggak mungkinlah. Lo sih Nay pakar acara bawa dia kesini sekarang Lo kan yang repot.” Katanya.
“ Hush! Lo diem dulu!” kataku sambil menempelkan jariku ke mulut.
“ Mang.” Panggilku pada Mang Cecep yang berjualan dikantin.
Dia itu orang yang sangat baik. Dia berjualan dikantin sudah sangat lama. Dari yang dia ceritakan dia bilang kalo dia sudah ada dikampus itu sudah 10 tahun lebih. Dan aku sangat dekat dengan Mang Cecep karena waktu pertama masuk ke kampus ini dia pernah menolongku yang hampir tertabrak motor didepan gerbang. Untung aja Mang Cecep menarik tanganku jadi aku bisa selamat kalo nggak mungkin waktu itu badanku udah lecet semua atau mungkin saja aku bisa masuk rumah sakit.
Sejak saat itu aku jadi dekat dengan Mang Cecep. Aku juga selalu makan ditempatnya karena makanan yang dia jual itu sangat enak. Namun seminggu yang lalu aku tak bisa menikmati makanan itu karena Mang Cecep tidak berjualan. Waktu aku tanya padanya ternyata dia pulang kampung untuk melihat keadaan orang tuanya. Dia disini tinggal bersama istrinya dan dia belum mempunyai anak .Istri Mang Cecep juga sangat baik namanya Mbak Santi.
Mang Cecep berjalan mendekatiku “ Ada apa mbak?” tanyanya.
“ Mang saya boleh nitip adik saya nggak biar disini soalnya saya mau ke kelas sebentar.” Kataku.
“ Boleh mbak.” Katanya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Hanabi “ Hana kamu tunggu kakak disini sebentar ya soalnya kakak mau masuk. Nanti kalo kakak udah selesai kakak kesini lagi. Kamu disini sebentar sama Mang Cecep.” Kataku.
__ADS_1
Dia melihat kearah Mang Cecep “ Tapi kakak nanti kesini lagi kan?” katanya.
“ Kakak pasti kesini lagi buat jemput Hanabi.” Kataku.
Akhirnya dia mengangguk aku bisa bernafas lega . Untung aja ada Mang Cecep.
“ Yaudah Mang saya titip sebentar ya?” kataku.
“ Siap mbak.” Katanya.
“ Hana kakak masuk kelas dulu ya kalo kamu mau makan atau yang lain bisa bilang sama Mang Cecep.” Kataku.
“ Iya Kak.” Katanya.
“ Makasih Mang.” Kataku.
“ Sama-sama mbak.” Katanya.
Aku berjalan meninggalkan kantin menuju kelas. Aku segera masuk kelas karena waktu masuk sudah tinggal 5 menit lagi. Begitu didalam kelas aku langsung duduk ditempatku. Tak lama kemudian Dokter Herman masuk.
Aku mengikuti kelas dengan hati yang tidak tenang karena terus memikirkan Hanabi. Aku kasihan padanya karena aku harus meninggalkannya seperti ini. Aku melirik jam ditanganku masih satu jam lagi baru kelas selesai. Aku mencoba menenangkan diriku dengan cara menarik nafasku lalu aku membuangnya. Aku melakukannya beberapa kali sampai hingga aku tenang. Dan aku kembali memperhatikan Dokter Herman.
1 jam kemudian....
Kelas akhirnya selesai aku langsung bergegas menuju kantin.
“ Nay tungguin gue dong.” Kata Neta yang aku tinggal lagian jalan kok lelet banget.
Tak sampai satu menit Neta sudah berada disampingku “ Kamu kenapa sih Nay buru-buru banget?” tanyanya.
“ Gue kasihan sama Hanabi.” Kataku.
Dia terdiam sebentar pasti dia bingung siapa Hanabi. Soalnya tadi aku ngenalin ke dia kalo namanya Hana. Tapi kenapa Neta nggak bisa menebak sih kalo Hanabi itu ya Hana. Dasar tulalit.
“ Hana maksud Lo?” tanyanya.
“ Iya.” Kata.
“ Jadi namanya Hanabi? Bagus banget namanya.” Katanya.
“ Iya udah ayo buruan ke kantin.” Kataku menarik tangannya.
“ Iya sabar Nay dia juga nggak bakal kenapa napa kan ada Mang Cecep sama mbak Santi yang jagain.” Katanya.
Aku tak memedulikan perkataannya dan segera menuju kantin. Aku lihat disana Hanabi sedang makan semangkuk bakso dengan minum air putih. Dia selalu meminum air putih karena Dokter Alam melarangnya untuk minum es. Dan Hanabi selalu mematuhinya walaupun itu tidak ada Dokter Alam.
Aku berjalan mendekatinya dan langsung duduk disebelahnya.
“ Kak Nayla udah selesai?” tanyanya.
“ Iya udah kamu lanjutin makannya nanti Kak Nayla anter kamu pulang.” Kataku.
“ Nay kita nggak jadi pergi dong?” tanyanya.
Sebelumnya dia sudah meneleponku dia minta aku temani untuk ke rumah temannya. Tapi karena ada Hanabi aku memilih untuk menemaninya dirumah saja. Kalo soal Neta besok-besok juga bisa.
“ Besok aja ya Net?” kataku.
“ Yah Lo gimana sih gue udah terlanjur bilang mau kesana?” katanya.
“ Maaf Net lain kali aja ya?” tanyaku.
“ Yaudah deh.” Katanya.
Aku tersenyum padanya “ Yaudah sebagai permintaan maaf gue Lo boleh minta apa aja sama Mang Cecep.” Kataku.
“ Beneran Nay nanti yang bayar Lo ?” tanyanya
“ Bayar sendirilah.” Kataku tertawa.
“ Kalo gitu nggak usah makasih.” Katanya sambil memalingkan muka dariku.
“ Iya nanti aku yang bayar.” Kataku.
Dia mengalihkan wajahnya padaku “ Serius?” tanyanya.
“ Iya udah sana pesen sebelum aku berubah pikiran nih.” Kataku.
“ Oke. Mang!” panggilnya.
“ Iya mbak.” Katanya.
“ Saya mau pesen bakso sama minumnya es teh satu.” Katanya.
“ Siap mbak.” Katanya.
Mang Cecep segera membuatkan pesanan Neta. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan semangkuk bakso dan es teh.
“ Makasih Mang.” Katanya.
Mang Cecep langsung pergi karena ada yang ingin memesan makanan. Aku lihat Hanabi sudah selesai makan.
“ Hana udah selesai kan makannya kita pulang sekarang ya?” tanyaku.
“ Iya kak Hana juga capek pingin tidul.” Katanya.
“ Yaudah kita pulang sekarang.” Kataku.
“ Kok pulang sih Nay gue kan belum selesai makan?” Tanyanya.
“ Yah Lo kalo masih makan tinggal makan aja tenang tetep gue yang bayar.” Kataku.
“ Oke kalo gitu.” Katanya langsung menyeruput kuah baksonya.
“ Hana tunggu sini dulu kakak mau bayar dulu.” Kataku.
Aku berjalan menuju warung tempat Mang Cecep jualan. Setelah membayar aku langsung kembali lagi kemejaku.
“ Hana ayo kita pulang” kataku menggandeng tangannya.
Dia langsung turun dari kursi dan memakai tasnya.
“ Net gue duluan.” Kataku.
“ Iya, udah Lo bayar kan?” Katanya.
“ Udah.” Kataku.
“ Oke hati-hati Nay.” Katanya.
“ Iya.” Kataku.
“ Kak, Hana pulang lumah dulu ya.” Katanya pada Neta.
“ Iya sayang hati-hati dijalan ya.” Kata Neta sambil mencubit pipi Hanabi.
“ Kita duluan.” Kataku.
__ADS_1
“ Oke.” Katanya melanjutkan makannya.