
“ Baik kita tutup kelas hari ini selamat siang.” Kata Dokter Alam.
“ Siang dok.”
Semua langsung keluar dari kelas. Neta langsung menghampiriku.
“ Ke kantin yuk Nay.” Ajaknya.
“ Ayo.” Kataku.
Kami berjalan menuju kantin. Sesampainya kami disana kami langsung memesan makanan dan mencari tempat duduk.
Beberapa menit kemudian makanan kami datang.
“ Makasih Bu .” kataku.
Ibu itu tersenyum lalu pergi. Kami segera menyantap makanan kami. Saat sedang asik makan tiba-tiba Dokter Alam datang bersama Dokter Rudi.
“ Kita berdua boleh duduk disini soalnya nggak ada tempat yang kosong.” Kata Dokter Alam.
Aku dan Neta saling menatap sebentar lalu mempersilahkan mereka duduk.
“ Silahkan dok.” Kataku.
Mereka langsung duduk dan menyantap makanan mereka. Aku dan Neta saling pandang aku bisa melihat ekspresinya kalo dia merasa tidak nyaman. Aku segera menghabiskan makananku agar bisa segera pergi.
“ Saya duluan dok.” Kataku.
“ Iya saya juga dok.” Kata Neta .
Saat aku mau pergi Dokter Alam menahanku “ Nay mobilnya udah selesai dibenerin jadi nanti udah bisa kamu ambil.” Katanya.
Neta menatapku dengan wajah bingung.
“ Nanti kalo kamu mau ambil bilang saya nanti saya antar ke tempatnya.” Katanya.
“ Iya dok terima kasih.” Kataku.
Aku segera menarik tangan Neta yang dari tadi bengong mendengar percakapan kami. Saat sudah jauh dari kantin aku lepas tangannya.
“ Mobil siapa Nay?” tanyanya.
“ Mobil Kak Alex.” Kataku.
“ Kok bisa sama Dokter Alam?” Tanyanya.
“ Iya soalnya kemarin waktu gue mau pulang dari reuninya Kak Alex mobilnya mogok terus dibantuin sama Dokter Alam.” Kataku.
“ Kok bisa dibantuin Dokter Alam terus dia kok bisa di reuninya Kak Alex?” Tanyanya.
“ Soalnya mereka temenan.” Kataku.
“ Hah! Temenan?” katanya berteriak.
“ Biasa aja kali Net nggak usah teriak.” Kataku.
“ Sorry, terus?” tanyanya.
“ Terus waktu mau pulang kan Kak Alex mau ke rumah temennya dulu terus mobilnya gue bawa eh nggak tahunya malah mogok, terus untungnya Dokter Alam belum pulang dia bantuin gue terus nganterin gue pulang.” Kataku.
“ Hah! Nganterin pulang?” katanya berteriak lagi.
“ Nggak usah teriak Net.” Kataku.
“ Iya sorry soalnya gue kaget banget.” Katanya.
“ Terus gimana?” tanyanya lagi.
“ Yaudah begitu sampai rumah gue langsung masuk terus dia pulang.” Kataku.
“ Cuma gitu doang?” katanya.
“ Iya mau apa lagi?” kataku.
__ADS_1
“ Nggak terjadi apa-apa?” tanyanya.
“ Nggak emangnya kenapa? Nggak usah mikir yang aneh-aneh.” Kataku.
“ Nggak kok kan gue cuma tanya.” Katanya.
“ Udah gue mau shalat dulu, Lo kalo mau pulang duluan aja.” Kataku.
“ Oke gue duluan ya.” Katanya.
“ Iya hati-hati.” Kataku.
Aku berjalan menuju mushola. Saat aku mau masuk aku bertemu Dokter Alam sepertinya dia juga mau shalat.
“ Kamu mau shalat?” tanyanya.
“ Iya dok.” Kataku.
Dia langsung menuju tempat wudhu dan aku langsung masuk kedalam mushola. Saat aku sedang menggunakan mukena Dokter Alam berjalan melewatiku. Dia melihat kearahku dan aku menundukkan kepalaku.
Ketika Dokter Alam sudah lewat aku segera berdiri untuk shalat. Selesai shalat aku langsung keluar dan mengenakan sepatuku. Saat sedang menggunakan sepatu Dokter Alam duduk di sebelahku.
“ Mau kamu ambil kapan mobilnya?” tanyanya.
“ Nunggu dokter ada waktu aja.” Jawabku.
“ Hari ini saya ada waktu gimana kalo kita ambil sekarang?” tanyanya.
“ Hem, boleh dok.” Jawabku.
“ Yaudah ayo jalan.” Katanya.
Aku berjalan ke depan menuju tempat parkir. Dia membukakan pintu untukku dan aku segera masuk. Mobil meninggalkan parkiran kampus menuju bengkel tersebut.
Beberapa menit kemudian kami sampai disebuah bengkel yang lumayan cukup besar. Kami segera turun dari mobil lagi-lagi Dokter Alam membukakan pintu untukku.
“ Nay, kamu tunggu sini aja biar aku yang ngomong sama montirnya.” Katanya pergi menemui montir yang memperbaiki mobil Kak Alex.
Aku mengangguk dan duduk disalah satu bangku yang tersedia disana. Beberapa saat kemudian Dokter Alam datang menghampiriku dan memberikan kunci mobil itu padaku.
“ Makasih dok oh iya uangnya.” Kataku teringat kalo aku belum memberikan uang pada Dokter Alam.
“ Nggak usah udah saya bayar.” Katanya.
“ Hah!” kataku kaget.
Dokter Alam menutup kupingnya karena aku berteriak.
“ Maaf dok.” Kataku menutup mulutku.
“ Iya nggak papa.” Katanya tersenyum.
Ya ampun senyumnya itu bikin hati meleleh, batinku.
Baik juga ternyata Dokter Alam, batinku.
Aku buru-buru menggelengkan kepala “ Nggak.” Kataku.
“ Kamu bilang apa Nay?” tanyanya.
“ Nggak papa dok sekali lagi makasih.” Kataku.
“ Sama-sama.” Katanya.
Aku segera menuju mobil Kak Alex dan segera masuk. Kucoba menyalakan mesinnya bisa nyala. Kubuka buka kaca jendelaku sebentar.
“ Saya duluan dok makasih.” Kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung pergi meninggalkan bengkel itu. Sesampainya di rumah kuparkirkan mobil Kak Alex kedalam garasi. Setelah itu aku langsung masuk kedalam rumah.
Kulihat seorang perempuan duduk diruang tamu. Aku terus mengamati perempuan tersebut ternyata itu Kak Sasha pacarnya Kak Alex .
“ Kak Sasha kok disini?” tanyaku.
__ADS_1
Dia tersenyum “ Emangnya nggak boleh?” tanyanya.
“ Bolehlah tumben aja kesini.” Kataku.
“ Lagi mau jalan sama Kak Alex.” Katanya.
“ Oh Kak Alexnya kemana?” tanyaku yang tak melihat Kak Alex.
“ Lagi ganti baju.” Katanya.
“ Oh kalo gitu Nayla ke kamar dulu ya kak.” Kataku.
Aku berjalan menaiki tangga tak sengaja bertemu Kak Alex “ Kak, ditungguin Kak Alex tuh.” Kataku.
“ Iya udah tahu.” Katanya.
“ Kak.” Panggilku .
“ Apa lagi?” tanyanya.
“ Ini kunci mobilnya udah selesai dibenerin.” Kataku menyerahkan kunci mobilnya.
“ Kamu bawa dulu aja dek.” Katanya langsung pergi.
Aku masukan lagi kunci itu kedalam tas dan berjalan menuju kamarku. Kututup pintu kamarku dan langsung berbaring diatas kasur. Kalo dipikir-pikir Dokter Alam itu baik juga baik banget malah nggak kayak pertama ketemu super nyebelin.
Kulirik jam didindingku sudah menunjukkan pukul 3 sore. Itu artinya sudah saatnya untuk shalat asar. Aku berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera shalat.
Selesai shalat kubaringkan lagi tubuhku diatas kasur sambil mendengarkan musik. Dan itu membuatku merasa mengantuk dan akhirnya aku tertidur.
Tok... Tok... Tok...
“ Masuk.” Teriakku yang masih setengah sadar.
Pintu kembali ditutup dan seseorang duduk di sebelahku.
“ Dek bangun.” Kata Kak Alex.
“ Iya ini juga udah bangun.” Kataku sambil duduk diatas kasur.
“ Sana cuci muka dulu masih ngantuk kan kamu?” katanya.
Aku berjalan menuju kamar mandi kuusap wajahku dengan air dan kukeringkan dengan handuk. Kuletakan handuk itu ditempatnya lagi dan segera keluar. Aku duduk disebelah Kak Alex.
“ Gimana masih ngantuk?” tanyanya.
Aku menggeleng padahal sih masih ngantuk. Nggak tahu kenapa hari ini aku sangat ngantuk. Mataku terasa sangat berat sekali untuk dibuka.
“ Kenapa Kak?” tanyaku.
“ Mana kunci mobilnya.” Pintanya.
“ Bentar aku ambilin.” Kataku merogoh tasku mencari kuncinya.
Begitu ketemu langsung kuberikan kepada Kak Alex “ Ini kak.” Kataku.
“ Ini uangnya tolong besok kamu kasih ke Kak Alam.” Katanya menyerahkan uang tersebut.
“ Kakak tahu darimana kalo yang bayar Dokter Alam?” tanyaku.
“ Ya tahulah nggak mungkin kamu yang bayar kamu mana punya uang?” katanya.
“ Punya siapa bilang nggak punya?” kataku.
“ Mana coba lihat.” Katanya.
Kurogoh lagi tasku kali ini untuk mengambil dompet. Tapi aku tidak menemukan dompetku.
“ Mana coba kakak lihat berapa uang kamu?” katanya.
“ Bentar kak ini lagi aku cari. Kok dompetku nggak ada ya apa jatuh?” Kataku.
“ Mana Kakak tahu udah ini pokoknya besok kamu kasih ke Kak Alam.” Katanya langsung pergi.
__ADS_1
Setelah Kak Alex keluar aku kembali mengobrak-abrik tasku. Tapi dompetku masih belum ketemu kira-kira jatuh dimana dompetku. Apa jatuh di mushola atau jangan-jangan jatuh di mobil Dokter Alam . Ya sudahlah besok aku coba tanya Dokter Alam.
Kurapikan kembali tasku dan kuletakan diatas meja. Setelah shalat aku kembali untuk tidur.