
Taksi itu berhenti tepat didepan rumah Neta. Saat ini Nayla sedang tidak mau pulang ke rumah. Jika aku pulang ke rumah pasti Dokter Alam akan kesana. Nayla tidak mau menemuinya lagi. Itu akan membuatnya sulit untuk melupakan Dokter Alam.
Tok-tok-tok
Tidak ada yang menjawab Nayla mencoba untuk mengetuknya lagi.
Tok-tok-tok
Pintu terbuka Neta berdiri didepan pintu sambil menatapku bingung. Nayla langsung memeluknya dan menangis.
“Nayla Lo kenapa ?” tanya Neta bingung.
“Gue udah putus dari Dokter Alam,” kata Nayla.
“Sabar Nayla.” Kata Neta mengelus-elus punggung Nayla.
“Gue bener-bener sedih Net,” kata Nayla.
“Yaudah kita masuk aja dulu ntar baru Lo cerita,” kata Neta.
Neta membawa Nayla masuk kedalam rumahnya. Dia meminta Nayla untuk duduk diruang tamu. Rumah Neta hari ini sepi hanya ada dirinya dan beberapa pembantu. Ayah Neta sedang bekerja sedangkan mamanya sudah lama berpisah dari papanya. Sekarang mama Neta tinggal bersama suami barunya.
Nayla duduk diruang tamu. Neta pergi menuju dapur untuk mengambilkan Nayla minum. Tak lama dia kembali dengan segelas air putih.
“Minum dulu Nay!” kata Neta menyerahkan gelas itu pada Nayla.
Nayla menerimanya dan segera meminumnya. “Makasih Net,”
Dia duduk di sebelah Nayla. “Jadi sekarang Lo udah batalin pernikahan Lo?”
Nayla mengangguk. “Gue udah nyakitin dia."
“Kalo Lo nyesel tinggal Lo ngomong aja sama Dokter Alam,” kata Neta.
“Nggak gue nggak akan ngelakuin itu. Kalo gue lakuin itu gue bakal buat dia tambah menderita dan gue nggak mau itu terjadi.” kata Nayla menangis.
Neta kembali memeluk Nayla.“Udah Nay, nggak usah nangis lagi.”
“Kenapa semua harus terjadi sama gue ?” tanya Nayla frustasi.
“Sabar Nayla gue yakin Lo bakal kuat ngadepin semua ini,” kata Neta menenangkan.
“Gue nggak tahu harus gimana lagi Net,” kata Neta.
Dia mengelus-elus punggung Nayla sementara Nayla masih saja menangis. Tiba-tiba saja kepala Nayla terasa sakit sangat sakit tidak seperti biasanya. Nayla melepaskan pelukan Neta dan segera mengambil obat dari dalam tasku. Tapi Nayla tidak menemukannya.
“Nay Lo kenapa?” tanya Neta.
“Obat gue Net.” Kata Nayla mengeluarkan isi tasnya.
“Lo sakit lagi?” tanya Neta.
Kepala Nayla semakin sakit tapi dia belum juga mendapatkan obatnya.
“Aw! Sakit banget Net kepala gue.” kata Nayla merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya.
“Aduh gimana nih?” kata Neta bingung.
“Kepala gue sakit banget Net, tolongin gue udah nggak kuat lagi!” kata Nayla sambil merintih kesakitan.
Kepala Nayla rasanya sangat sangat sakit sekali. Nayla tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Dan tiba-tiba saja tubuhnya jatuh tak sadarkan diri.
***
Dokter Alam sangat bingung terhadap sikap Nayla yang tiba-tiba berubah. Dia sedang ada diperjalanan menuju rumah Nayaka. Dia tidak bisa membiarkan perempuan yang dicintainya pergi begitu saja.
Begitu sampai didepan rumahnya Dokter Alam langsung berlari kedalam. Dia mengetuk pintunya tapi tidak ada yang membukakan. Dia terus mengetuk pintunya hingga Kak Alex muncul didepan pintu.
“Lex, Nayla mana gue mau ketemu sama dia?” tanya Dokter Alam.
“Bukannya dia pergi ke rumah Lo?” tanya Kak Alex.
“Iya tadi dia memang ke rumah gue tapi setelah dia batalin pernikahan kita dia langsung pergi,” kata Dokter Alam.
“Tunggu dulu! Maksud Lo Nayla nemuin Lo dan bilang mau membatalkan pernikahan kalian?” tanya Kak Alex.
“Iya, tiba-tiba aja dia bilang kayak gitu,” kata Dokter Alam.
“Kenapa tiba-tiba Nayla bilang kayak gitu?” tanya Kak Alex.
“Gue juga nggak tahu,” kata Dokter Alam tambah bingung.
Tiba-tiba telepon Kak Alex berbunyi. Tertera nama Nayla di ponselnya.
“Bentar Lam, ini Nayla telepon gue.” katanya langsung mengangkat telepon tersebut.
__ADS_1
Dokter Alam diam menatap kearah Kak Alex. “ Halo,” kata Kak Alex.
“Halo Kak Alex,” jawab Neta.
“Neta?” tanya Kak Alex bingung kenap Neta yang meneleponnya.
“Iya Kak ini aku Neta,” kata Neta.
“Kok ponsel Nayla bisa sama kamu?” tanya Kak Alex.
“Ceritanya panjang Kak, sekarang mending Kak Alex ke rumah sakit Pelita Nayla pingsan kak,” kata Neta.
“Oke saya kesan sekarang.” Kata Kak Alex menutup telepon.
“Kenapa Lex?” tanya Dokter Alam.
“Kita harus ke rumah sakit sekarang Nayla pingsan.” Kata kak Alex menutup pintu.
Mereka berdua langsung berlari menuju mobil Dokter Alam. Dokter Alam langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Beberapa menit kemudian mereka sampai dirumah sakit.
Mereka langsung menuju ruang UGD.
Neta sedang berdiri disana dengan gelisah. Mereka langsung menghampiri Neta.
“Neta! Gimana keadaannya Nayla?” tanya Kak Alex.
“Masih diperiksa Dokter,” kata Neta.
Mereka bertiga menunggu didepan dengan hati gelisah. Tak lama Dokter Nabila keluar dari ruang UGD. Mereka bertiga langsung mendekatinya.
“Gimana Dok?” tanya Kak Alex.
“Nayla harus segera dioperasi,” kata Dokter Nabila.
“Operasi?” tanya Dokter Alam dan Kak Alex bersamaan.
“Iya, Nayla terkena tumor otak stadium lanjut,” kata Dokter Nabila.
Kak Alex dan Dokter Alam tampak terkejut mendengar penjelasan Dokter Nabila. Seketika hati mereka terasa sangat hancur. Bagaimana mungkin mereka tidak mengetahui soal ini?
“Tapi Nayla nggak pernah cerita Dok?” tanya Kak Alex.
“Itu karena Nayla tidak ingin kalian tahu,” kata Dokter Nabila.
“Untuk sementara saya akan pindahkan Nayla keruang rawat agar saya bisa memantau keadaan Nayla,” kata Dokter Nabila.
Dokter Nabila kembali masuk. Pintu UGD terbuka beberapa petugas medis keluar sambil mendorong brankar Nayla. Mereka semua mengikuti sampai ke ruang rawat. Dokter Alam menatap Nayla yang sedang terbaring. Hatinya sangat sedih dan hancur melihat keadaan Nayla seperti ini. Kenapa dia menutupi semua ini darinya?
Petugas medis membawa Nayla masuk kedalam ruang rawat. Setelah selesai memasang beberapa alat medis. Mereka semua keluar begitu pun Dokter Nabila dia langsung kembali ke ruangannya.
Mereka semua masuk kedalam ruang rawat. Mereka berdiri mengelilingi ranjang Nayla. Saat ini Nayla sedang terbaring tak berdaya diatas ranjang. Dan terdapat beberapa alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Semua merasa sedih melihat keadaannya.
Tiba-tiba Nayla membuka matanya.
“Aku ada dimana?” sambil memegang kepalanya.
“Kamu ada dirumah sakit Nay,” kata Kak Alex.
“Kakak, Dokter kalian kok bisa disini?” tanya Nayla.
Nayla menengok kearah Neta. “Pasti Lo yang ngomong?” kata Nayla.
“Maaf Nay, soalnya gue bingung harus gimana lagi?” kata Neta.
Nayla mencoba untuk berdiri. Tapi Kak Alex menahannya dia tidak mau kalo terjadi sesuatu pada adiknya.
“Aku mau pulang,” kata Nayla beranjak berdiri.
“Nggak boleh kamu harus tetep disini!” kata Kak Alex.
“Aku baik-baik aja Kak aku mau pulang,” kata Nayla.
“Nggak kamu harus tetep disini!” kata Kak Alex dengan Nada tinggi.
Nayla hanya memandang Kakaknya. Dia tidak pernah melihat Kakaknya semarah ini.
“Tapi aku baik-baik aja Kak,” kata Nayla.
“Siapa yang bilang kamu baik-baik aja? Kamu itu lagi sakit Nayla,” kata Kak Alex.
Nayla hanya diam tak menjawab. “Pokoknya kamu harus segera operasi!” kata Kak Alex.
“Aku nggak mau,” tolak Nayla.
“Kenapa apa kamu udah nggak pingin hidup lagi?” tanya Kak Alex.
__ADS_1
“Aku baik-baik aja kenapa harus operasi?” kata Nayla.
“Nayla! Kakak mohon kamu harus sadar sekarang kamu lagi sekarat,” kata Kak Alex sambil menangis.
“Sabar Lex,” kata Dokter Alam menenangkan.
“Udah nggak tahu harus gimana lagi Lam?” kata Kaka Alex mulai frustasi.
“Lo sabar gue tahu ini memang berat biar gue yang ngomong sama Nayla,” kaya Dokter Alam.
“Terserah Lo Lam.” Kata Kak Alex berjalan keluar disusul Neta yang mengikutinya keluar.
Sekarang didalam hanya ada Nayaka dan Dokter Alam. Dokter Alam mendekati ranjang Nayla dan duduk disampingnya. Nayla memalingkan mukanya dari Dokter Alam. Dia tidak ingin melihat Dokter Alam karena itu akan mengingatkannya pada yang dia lakukan pada Dokter Alam.
“Nayla!” panggil Dokter Alam.
Dia hanya diam saja masih memalingkan wajahnya. “Kenapa kamu nggak cerita soal ini ke aku?” tanya Dokter Alam.
Nayla tidak menjawab. “Kenapa kamu harus menanggung semua ini sendiri?” tanya Dokter Alam.
Tanpa sadar air mata Nayla mengalir dia langsung menghapusnya. Dokter Alam meraih wajah Nayla menghadap padanya.
“Apa kamu nggak percaya sama aku?” tanya Dokter Alam.
“Aku nggak mau jadi beban buat kamu,” kata Nayla.
“Kamu nggak pernah jadi beban buat aku, sejak kapan kamu seperti ini?” kata Dokter Alam.
“Sejak mama kamu meninggal,” kata Nayla.
Dokter Alam menarik nafasnya yang terasa berat. Jadi saat itu Nayla sedang sakit. Tapi dia berusaha untuk menguatkanku padahal dia sendiri sedang terpuruk saat itu. Dokter Alam menangis mengingat kebodohannya kenapa dia tidak menyadarinya.
“Kamu nggak perlu sedih mas, aku baik-baik aja.” Kata Nayla menghapus air mata Dokter Alam.
Dokter Alam menggenggam tangan Nayla. “Nayla, aku mohon sama kamu, kamu harus operasi!” kata Dokter Alam.
Nayla langsung melepaskan tangannya dari genggaman Dokter Alam. “Aku nggak mau.”
“Kenapa kamu nggak mau operasi?” tanya Dokter Alam.
“Karena aku baik-baik aja,” kata Nayla.
“Apa perlu aku yang ngelakuin operasi kamu? Kalo gitu aku akan bilang sama Dokter Nabila buat pindahin kamu ke rumah sakit tempatku,” kata Dokter Alam.
“Nggak aku nggak mau,” kata Nayla.
“Kenapa kamu nggak mau? Kalo aku yang melakukannya aku akan lakukan yang terbaik buat kamu,” kata Dokter Alam.
“Aku nggak mau, aku takut kalo terjadi sesuatu padaku saat operasi kamu akan nyalahin diri kamu sendiri mas. Aku nggak mau buat kamu menderita dengan rasa bersalah itu.” kata Nayla menangis.
“Terus kamu maunya aku harus gimana? Aku nggak bisa lihat kamu seperti ini Nayla aku butuh kamu,” kata Dokter Alam.
“Kan aku udah bilang sama kamu buat jauhin aku kamu bisa cari perempuan lain yang nggak penyakitan kayak aku,” kata Nayla.
“Aku nggak bisa ngelakuin itu,” kata Nayla.
“Kamu harus bisa kalo kamu bener-bener cinta sama aku, aku mohon lupain aku dan cari perempuan lain yang lebih baik dari aku!” kata Nayla.
“Tapi Nay-” kata Dokter Alam.
“Sekarang tolong tinggalin aku sendiri aku istirahat,” kata Nayla.
Dokter Alam sudah tidak bisa apa-apa dia tidak mungkin terus memaksa Nayla. Dengan berat hati dia berjalan keluar meninggalkan Nayla sendiri didalam. Sedangkan Nayla masih menangis.
“Gimana Nayla mau operasi?” tanya Kak Alex.
Dokter Alam menggeleng. “Dia nggak mau bahkan waktu aku bilang aku yang akan melakukan operasi untuknya dia juga menolak.”
Kak Alex tambah bingung bagaimana dia harus menghadapi Bunda. Hari ini Bunda sedang pergi ke Surabaya untuk menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Jadi Bunda belum mengetahui tentang keadaan Nayla.
“Harus gimana lagi ini?” tanya Kak Alex.
“Gue juga bingung Lex,” kata Dokter Alam.
“Lam Lo bisa bantuin gue buat jaga Nayla? Gue mau jemput Bunda ke Surabaya dulu, mungkin kalo Bunda yang minta Nayla mau dioperasi.” kata Kak Alex.
“Gue akan jagain Nayla Lo tenang aja,” kata Dokter Alam.
“Makasih Lam, gue pergi sekarang.” kata Kak Alex beranjak pergi.
“Iya hati-hati,” kata Dokter Alam.
“Ayo! Neta kamu aku anter pulang dulu,” kata Kak Alex.
“Iya Kak,” kata Neta mengikuti Kak Alex.
__ADS_1