
Dokter Alam duduk disampingku masih menangis. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Aku mencoba menenangkannya.
“ Mas kamu harus sabar.” Kataku mengelus punggungnya.
“ Aku nggak tega lihat mama kayak gini Nay.” Katanya.
“ Iya aku tahu tapi kamu harus kuat mas ada Hana yang masih butuhin kamu.” Kataku.
Dia menghapus air matanya “ Maaf Nay kamu harus lihat aku kayak gini.” Katanya.
“ Nggak papa mas.” Kataku.
Aku merangkulnya dan aku letakan kepalaku dipundaknya.
“ Kamu harus kuat mas Hana masih butuh kamu. Aku juga nggak mau kalo terjadi apa-apa sama kamu, aku akan selalu ada buat kamu jadi kamu harus kuat jalanin semua ini.” Kataku.
“ Makasih Nay.” Katanya.
Tiba-tiba seorang suster keluar dari kamar mama Ratna. Dia berjalan mendekatiku dan Dokter Alam. Kami langsung berdiri mendekatinya.
“ Gimana keadaan mama?” tanyanya.
“ Kamu tenang aja mama kamu sudah tenang sekarang dia lagi istirahat.” Katanya.
“ Alhamdulillah.” Katanya bersyukur.
“ Mending kamu pulang dulu besok baru kamu bisa jenguk mama kamu.” Katanya.
“ Aku pamit dulu ya makasih.” Katanya menyentuh lengan suster itu.
“ Iya sama-sama.” Katanya menyentuh tangan Dokter Alam.
Aku bingung sebenarnya siapa suster itu. Kenapa mereka terlihat sepertinya sangat akrab sekali. Aku terus memandang mereka berdua.
Tapi Dokter Alam mengagetkanku “ Nay.” Panggilnya.
Aku langsung menatapnya “ Kamu lihat apa Nay?” tanyanya.
“ Nggak ngelihatin apa-apa.” Kataku.
“ Yaudah ayo kita pulang.” Katanya.
“ Iya.” Kataku.
Setelah mengucap salam aku dan Dokter Alam langsung pergi meninggalkan suster tersebut. Kamu berjalan menuju tempat parkir. Setelah sampai didepan mobil kami berdua langsung masuk kedalam. Dalam hitungan menit mobil sudah meninggalkan rumah sakit.
Dokter Alam terus melajukan mobilnya menuju rumahku. Aku terus menatapnya. Aku merasa prihatin pada keadaannya aku sama sekali tidak menyangka dibalik sikapnya yang baik ternyata dia menyimpan luka yang sangat dalam.
“ Mas.” Panggilku.
“ Iya.” Jawabnya terus menatap ke depan.
“ Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku tentang mama kamu?” tanyaku.
Dia langsung menepikan mobilnya dan menatapku “ Maaf Nay aku nggak mau kalo kamu tahu dan kamu bakal ninggalin aku.” Katanya.
__ADS_1
“ Kenapa kamu bisa berpikiran begitu? Apa kamu nggak percaya sama aku?” tanyaku.
“ Bukannya begitu aku Cuma takut aja Nay.” Katanya.
“ Kamu nggak perlu takut mas apapun keadaan kamu pasti aku akan selalu ada buat kamu.” Kataku.
“ Makasih Nay.” Katanya.
Untukbeberapa saat kami hanya diam tak bersuara. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Dokter Alam. Tapi aku tahu apa ini saat yang tepat untuk aku menanyakan hal itu.
“ Nay.” Panggilnya.
“ Heem.” Jawabku.
“ Kok diem aja ada yang kamu pikirin?” Tanyanya.
“ Hem... Sebenernya aku yang pingin aku tahu.” Kataku ragu.
“ Apa?” tanyanya.
“ Boleh nggak aku tahu kenapa mama Ratna bisa sampai kayak gitu?” Tanyaku.
“ Darimana kamu tahu nama mamaku?” tanyanya.
“ Dari Kak Alex.” Kataku.
Dokter Alam menghela nafas panjang lalu menghembuskannya.
“ Tapi kalo kamu nggak mau cerita juga nggak papa kok mas, lupain aja yang aku omongin tadi.” Kataku.
“ Kamu serius mau tahu?” Tanyanya.
“ Nggak papa Nay, lebih cepat kamu tahu itu lebih baik.” Katanya.
Aku hanya diam menunggunya memulai ceritanya. Dia kembali menarik nafasnya.
“ Waktu itu mama sedang mengandung Hana dan saat itu papa sedang ada di Belanda untuk urusan pekerjaan. Saat tahu mama sudah melahirkan papa yang ada disana sangat senang dan dia langsung pulang ke Indonesia. Namun pesawat yang papa tumpangi mengalami kecelakaan.” Katanya dia berhenti sebentar aku mengelus punggungnya untuk memenangkannya.
“ Semua penumpang dinyatakan meninggal dunia. Mama yang mendengar hal itu mengalami syok. Hampir satu minggu mama terus mengurung dirinya dikamar bahkan dia lupa kalo dia baru saja melahirkan Hana. Tapi untungnya ada bibi yang bantuin aku untuk menjaga Hana.” Katanya.
“ Terus kenapa mama kamu bisa masuk rumah sakit?” Tanyaku.
“ Satu tahun setelah itu penyakit mama semakin parah dia selalu menyalahkan dirinya atas meninggalnya papa bahkan mama pernah mau coba bunuh diri, Untungnya waktu itu aku tahu kalo tidak pasti mama sudah meninggal.” Katanya.
“ Sejak kejadian itu aku putusin buat bawa mama ke rumah sakit aku masih berharap kalo mama bisa sembuh.” Katanya sambil menangis.
Aku langsung memeluknya agar dia lebih tenang “ Ini semua karena aku yang nggak bisa jagain mamaku Nay, sampai mamaku harus masuk rumah sakit kayak gini.” Katanya terus menangis.
Aku ikut menangis sambil terus memeluknya yang juga menangis.
“ Ini bukan salah kamu mas.” Kataku.
“ Kalo aku bisa ngerawat mama dan nggak sibuk dengan pekerjaanku pasti mama bisa sembuh Nay.” Katanya.
“ Mungkin ini memang jalan yang terbaik mas, kamu harus sabar menghadapinya kamu harus inget sekarang kamu nggak sendiri lagi ada aku disamping kamu, kita hadap ini semua sama-sama aku yakin suatu saat mama kamu bisa sembuh.” Kataku.
__ADS_1
“ Makasih Nay.” Katanya.
“ Udah dong jangan nangis lagi.” Kataku melepas pelukanku.
“ Kita harus semangat buat Hana dan bikin Mama kamu sembuh.” Kataku menyemangatinya.
Dia menatapku “ Udah mas jangan nangis lagi ternyata Dokter Alam orangnya cengeng juga ya.” Kataku padanya.
Dia langsung tersenyum “ Nah gitu dong senyum kan gantengnya jadi kelihatan.” Kataku.
Dia tertawa “ Beneran mas kalo kamu senyum itu kamu kelihatan lebih ganteng.” Kataku.
“ Udah deh Nay nggak usah bercanda.” Katanya.
“ Aku nggak bercanda aku serius mas.” Kataku aku ulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya.
Aku mengusap air mata yang ada diwajahnya “ Kamu jangan sedih lagi aku akan selalu disamping kamu sampai kapan pun aku nggak akan ninggalin kamu.” Katanya.
“ Makasih Nay.” Katanya.
Untuk beberapa saat kami hanya saling menatap “ Jadi mulai sekarang nggak ada yang nangis kita harus senyum.” Kataku memasang senyuman diwajahku.
“ Mas kamu juga senyum dong.” Kataku memaksanya.
Dia langsung tersenyum hingga terlihat deretan giginya yang putih “ Nah gitu dong.” Kataku tersenyum senang.
“ Yaudah Nay aku antar kamu pulang sekarang.” Katanya.
Aku mengangguk dan Dokter Alam langsung kembali melajukan mobilnya menuju rumahku. Aku seneng bisa melihatnya tersenyum lagi. Aku tahu sebenarnya dibalik senyumnya itu masih menyimpan kepedihan.
Kami sudah sampai didepan rumah. Dokter Alam turun dan membukakan pintu untukku. Lalu dia mengambil tasku.
“ Ayo Nay aku anter sampai dalem.” Katanya.
Aku menahan tangannya “ Nggak usah mas, aku bisa sendiri kok.” Kataku meraih tasku.
“ Tapi Nay.” Katanya.
“ Nggak papa mas mending sekarang pulang istirahat nanti malam mas harus ke rumah sakit kan?” kataku.
Dia mengangguk “ Makanya sekarang mas istirahat aja dirumah nggak usah mikirin apa-apa.” Kataku
“ Kalo soal mama kamu nanti kita pikirin bareng-bareng.” Tambahku.
“ Yaudah aku pulang sekarang ya Nay.” Pamitnya.
“ Iya mas hati-hati.” Kataku.
Dokter Alam berjalan menuju kemudi saat akan masuk aku memanggilnya.
“ Mas.” Panggilku.
Dia melihat kearahku “ Semangat!” Kataku sambil mengepalkan tangan ke atas.
Dia tersenyum melihatku aku membalas senyuman itu “ Aku duluan ya Nay assalamualaikum.” Katanya.
__ADS_1
“ Walaikumsalam.” Kataku dia langsung masuk kedalam mobilnya.
Aku melambaikan tangan padanya hingga mobilnya menjauh dari rumahku. Saat mobilnya sudah tidak terlihat aku langsung masuk kedalam rumah.