
Satu bulan kemudian......
"Mbak Nayla sudah selesai," kata seorang perias yang baru saja selesai merapikan rambut Nayla.
"Makasih mbak," kataku.
"Bagaimana apa ada yang kurang?" kata perias itu.
"Sudah cukup mbak terima kasih," katanya.
"Kalo begitu saya keluar dulu mbak," pamitnya.
"Sekali lagi terima kasih mbak," kataku.
"Sama-sama mbak," kata perias itu langsung keluar dari kamarku.
Aku menatap pantulanku dicermin. Gaun putih panjang dan wajah yang sudah terpoles make up. Tak disangka hari yang ditunggu selama ini akhirnya datang juga.
Pintu kamarku terbuka Neta segera masuk kedalam.
“Nayla kamu udah siap?” tanya Neta.
Aku memalingkan wajahku ke arah Neta. Neta berjalan mendekati.
"Ya ampun Nayla Lo cantik banget," kata Neta.
"Makasih Net Lo juga cantik kok," jawabku tersenyum.
"Tapi tetep cantikan Lo," kata Neta.
Aku tersenyum padanya. Neta melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ya ampun gue sampai lupa," kata Neta.
Aku menatap kearahnya. "Gue diminta bunda buat bawa Lo keluar. Soalnya semuanya udah pada dateng," kata Neta.
"Ayo kita keluar sekarang!" kata Neta.
"Bentar Net!" kataku.
Aku menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. “Oke gue udah siap.”
Neta menggandeng tanganku keluar kamar. Aku menghentikan langkahku.
“Tunggu Net!” kataku.
“Kenapa lagi katanya udah siap?” tanya Neta.
“Gue nervous banget nih.” kataku memegang jantungku yang berdebar tak menentu.
Aku melakukan instruksi Neta. Aku tarik nafasku dan menghembuskannya pelan-pelan.
“Lagi Nay!” kata Neta aku mengikutinya.
“Habis itu dorong yang kuat!” kata Neta.
Aku menatapnya dan langsung menoyor kepalanya. “Lo pikir gue mau lahiran.”
Dia tersenyum. “Bercanda Nayla biar nggak nervous.”
“Udah ayo jalan!” kataku.
Neta kembali menuntunku keluar. Diluar sudah banyak sekali orang. Ruangan itu juga sudah dihias sedemikian rupa. Menjadi sangat indah. Aku berjalan melewati teman-temanku. Setelah itu melewati teman-teman Kak Alex dan Dokter Alam.
__ADS_1
Lalu aku melewati Bunda dan Kak Sasha yang sedang duduk bersama. Kak Sasha tersenyum kearahku sedangkan Bunda dia mulai menitikkan air mata.
Disebelah Bunda dan Kak Sasha ada Bi Suci dan Hanabi. Hanabi tersenyum sambil melambaikan tangan padaku. Aku membalas lambaian tangannya.
Hanabi terlihat sangat cantik dengan gaun yang dia gunakan. sebuah gaun panjang selutut berwarna putih. Dan rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai kebelakang dengan sebuah pita disisi kanan rambutnya.
Aku mengalihkan pandanganku lurus ke depan. Aku melihat seorang laki-laki mengenakan setelan jas sedang duduk menunggu kedatanganku. Laki-laki itu terlihat sangat tampan dengan pakaian tersebut. Siapa lagi kalo bukan Dokter Alam? Laki-laki yang sangat kucintai.
Didepan Dokter Alam aku melihat Kak Alex. Aku tersenyum kearah mereka. Mereka membalas senyumanku. Neta memintaku duduk disebelah Dokter Alam.
“Semua sudah siap?” tanya penghulu.
Kak Alex dan Dokter Alam mengangguk.
“Sekarang kamu jabat tangannya!” kata penghulu.
Kak Alex mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dokter Alam.
“Sekarang kamu ulangi perkataannya!” kata penghulu.
Setelah Kak Alex selesai mengucapkan. Dokter Alam langsung membalasnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Nayla binti Rusdi dengan maskawin tersebut dibayar tunai,”
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah,” teriak semua yang ada disitu.
“Alhamdulillah,”
Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Aku mencium tangan Dokter Alam dan Dokter Alam mencium keningku.
__ADS_1