I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 26 : Pengkhianatan


__ADS_3

Mobil Dokter Alam sudah datang aku segera masuk kedalam.


“Ayo! Mas,” kataku.


Dia mengangguk langsung menancap gas menembus jalanan.


“Nay, kita jadi lihat gedungnya” tanyanya.


“Jadi dong mas, kamu tinggal lurus aja nanti aku kasih tahu jalannya,” kataku.


Dokter Alam mengangguk. Satu jam kemudian kami sampai didepan sebuah gedung. Setelah memarkir mobil kami langsung masuk kedalam gedung.


Didalam gedung kami bertemu dengan Pak Sosro yaitu orang yang bekerja pada pemilik gedung tersebut. Pak Sosro mengajak kami berkeliling gedung tersebut. Gedungnya sangat besar dan luas. Terdapat 2 lantai gedung dan di setiap lantainya itu juga sangat luas. Dan itu menurutku terlalu besar jika untuk acara pernikahan.


Setelah puas melihat semuanya kami langsung pulang. Kamu berjalan menuju tempat parkir. Setelah kami berdua masuk mobil Dokter Alam segera meninggalkan gedung tersebut.


“Nay, kenapa kita langsung pergi kamu nggak suka sama gedungnya? Padahalkan gedungnya bagus,” tanyanya.


“Bukaannya nggak suka cuma terlalu besar,” kataku.


“Memangnya kenapa bukanya bagus kalo besar?” tanyanya.


“Tapi yang tadi itu terlalu besar mas, pasti harganya juga mahal.” Kataku.


“Kalo soal harganya sih aku nggak masalah asal kamu suka aku akan nggak masalah,” katanya.


“Nggak usah mas, kita cari yang lain aja ya?” tanyaku.


“Yaudah terserah kamu aja, Sekarang kita mau kemana lagi?” katanya.


“Kita ke gedung satunya lagi alamatnya ada dijalan jendral Sudirman.” Kataku membacakan alamat yang ada dibuku catatanku.


“Oke kita kesan sekarang.” Katanya langsung menancap gas.


Tak lama kemudian kami sampai didepan gedung. Kami langsung masuk kedalam. Kami bertemu dengan Kak Panji yaitu teman Kak Sasha. Aku mendapat rekomendasi gedung ini dari Kak Sasha katanya gedung tersebut milik temannya. Dan dia juga sudah bilang kalo aku hari ini akan datang untuk melihat gedung tersebut.


“Kamu Nayla adeknya Sasha?” tanyanya.


Aku mengangguk. “Iya kak.”


Dokter Alam langsung menarik tanganku dan berbisik ditelingaku. “Kamu kenal sama orang itu?” tanyanya.


“Iya, dia itu temennya Kak Sasha.” Kataku ikut berbisik.


Dokter Alam mengangguk. “Gimana mau liat gedungnya sekarang?” tanyanya.


“Iya Kak.” Kataku berjalan mengikutinya.


Gedung itu lebih kecil dari gedung yang tadi. Hanya terdapat satu lantai walaupun hanya satu lantai tapi cukup luas juga. Terdapat juga 4 kamar mandi disana. Juga terdapat ruang untuk rias dan ganti baju pengantin jika saat acara ingin berganti pakaian.


“Gimana kalian jadi ambil gedung ini?” tanya Kak Panji.


Dokter Alam menatap kearahku. “Jadi kak,” jawabku.


“Oke nanti saya urus semuanya kalian tinggal transfer uangnya,” katanya.


“Oke kak, kita langsung pamit pergi ya kak,” Pamitku.


“Iya, salam buat Sasha,” katanya.

__ADS_1


“Iya ntar aku sampaikan,” kataku.


Kami langsung menuju mobil. Tak lama kemudian mobil berjalan meninggalkan gedung tersebut. Dokter Alam langsung mengantarku pulang ke rumah karena Dokter Alam akan kembali ke rumah sakit. Begitu sampai dirumah aku langsung masuk kedalam rumah.


***


Neta berjalan masuk kedalam kafe David. Dia melihat sekelilingnya sangat ramai seperti biasa. Kafe David termasuk salah satu kafe yang cukup banyak pembelinya bukan hanya tempatnya yang strategis. Tapi juga karena interior dan makanan kafenya juga sangat enak.


Sebenarnya kafe di kafe juga milik Neta karena sebagian besar dari kafe itu David dapatkan dari bantuan dari papanya Neta. Saat awal pacaran dengan Neta dia mengatakan bahwa ia ingin membuka sebuah kafe tapi saat itu modal yang David miliki tidak cukup. Neta pada saat itu langsung meminta bantuan pada papanya agar dapat memberikan modal pada David.


Neta berjalan masuk menuju kasir untuk menanyakan Diaman keberadaan David.


“Hai Mo, David mana?” tanya Neta pada petugas kasir yang memang sudah saling mengenal. Gadis itu bernama Momo.


“Heem.... Pak David ada di.....” kata Momo yang mulai bingung.


“Dimana?” tanya Neta.


“Ada di-” kata Momo.


“Di ruangannya,” sambung Neta.


“Aku langsung masuk aja deh.” Kata Neta berjalan menuju ruangan David.


Momo langsung mencegahku. “ Jangan mbak.”


“Kenapa kok aku nggak boleh masuk?” tanya Neta.


“Itu... Itu... sebenernya,” kata Momo gugup.


“Itu apa? Sebenarnya apa?” tanya Neta.


Neta menatap wajah Momo yang seperti menyembunyikan sesuatu.


“Keluar kemana?” tanya Neta.


“Ke...” kata Momo menggantung Neta masih menunggu jawabannya.


“Saya nggak tahu mbak,” kata Momo.


“Kalo gitu biar saya tunggu dia di ruangannya.” Kata Neta berjalan menuju ruangan David.


Lagi-lagi Momo menghalanginya. “Jangan mbak!” kata Momo.


“Kamu ini kenapa sih dari tadi aku mau ke ruangan David nggak boleh terus? Atau jangan-jangan kamu bunyi in sesuatu ya?” tanya Neta yang mulai curiga.


Momo hanya diam sedangkan Neta langsung menuju ruangan David. Saat didepan pintu dia sempat mendengar suara sedang mengobrol. Neta kembali berjalan mendekati Momo.


“Mo, kamu bilang David pergi terus yang ada dituangnya itu siapa?” tanya Neta.


Belum sempat Momo menjawab pintu ruangan David terbuka. David berjalan keluar disusul oleh seorang wanita dibelakangnya. Perempuan tersebut yaitu Angel mantan kekasihnya dulu. Mereka berjalan dengan sangat mesra Angel memegang lengan David, sedangkan tangan kanan David memegang pinggang Angel.


Untuk beberapa saat rasanya seperti disambar petir. Neta sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat orang yang sangat dicintainya bersama wanita lain. Dia berjalan mendekati David dan Angel.


Mereka berdua tampak terkejut melihat kedatangan Neta. David langsung melepaskan tangannya dari pinggang Angel.


“Neta kamu kok disini?” tanya David berusaha mendekati Neta.


“Jangan dekati aku!” kata Neta berjalan mundur.

__ADS_1


“Neta, aku bisa jelasin semuanya ini semua nggak seperti yang kamu lihat.” Kata David mulai mendekati Neta lagi.


“Ini semua sudah jelas nggak ada yang perlu kamu jelaskan lagi.” Kata Neta langsung berlari keluar kafe.


David berusaha mengejarnya tapi Neta tidak menghiraukan David. Dia terus berlari tanpa arah dia tak tahu haru kemana dan bagaimana. Sekarang ini yang ada dipikirannya saat ini adalah dia hanya ingin berlari jauh dari David. Dia tidak ingin melihat David lagi.


Karana capek berlari dia putuskan untuk berjalan. Dia berjalan pelan menyusuri jalanan yang sekarang lumayan ramai. Dia berjalan menatap ke depan dengan tatapan kosong. Sesekali dia bahkan sampai menabrak orang. Ketika orang yang ditabraknya marah dia tidak menghiraukannya.


Dia terus berjalan dan berhenti dipinggir jalan. Dia duduk di sebuah bangku panjang yang ada disana. Banyak sekali orang uang berlalu lalang. Dia menundukkan kepalanya agar tidak ada orang yang melihatnya menangis.


Hatinya sangat melihat pengkhianatan David. Padahal selama ini dia selalu bersikap baik pada David. Semua yang dikatakan David hampir semua dia turuti. Tapi kenapa David setega itu padanya.


Dari kejauhan Dokter Rudi melihat Neta yang sedang duduk dipinggir jalan. Dokter Rudi segera menghentikan mobilnya dan segera mendekati Neta.


“Neta, kenapa kamu disini?” tanya Dokter Rudi.


Neta langsung mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Setalah melihat Dokter Rudi tangisnya langsung pecah dia sudah tidak bisa menahan lagi. Dia ingin menangis sangat keras hingga beban yang ada dihatinya berkurang.


“Dokter... hiks... hiks... hiks...” tangis Neta semakin keras.


Dokter Rudi jadi bingung melihat Neta yang menangis sangat keras. Bahkan sampai orang-orang yang ada di sekitar menatap Dokter Rudi. Seolah Dokter Rudilah penyebab Neta menangis.


“Neta, jangan nangis!” kata Dokter Rudi menenangkan Neta.


Dia menatap sekelilingnya banyak orang yang memandangnya sambil berbisik-bisik “Maaf bukan saya ini bukan karena saya.” Katanya pada orang disana dia takut kalo dia disalahkan karena membuat seorang wanita menangis.


Dokter Rudi membawa Neta kedalam mobilnya.


“Neta, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu nangis seperti ini?” tanya Dokter Rudi.


“Hiks... Hiks.... Hiks....” Neta terus menangis.


“Terserah kamu kalo nggak mau jawab.” Kata Dokter Rudi melajukan mobilnya.


Neta masih terus menangis didalam mobil. Dan itu membuat Dokter Rudi merasa sangat terganggu.


“Neta, cukup jangan nangis terus! Saya nggak bisa konsentrasi nyetirnya,” kata Dokter Rudi.


Tangis Neta jadi semakin keras. “Kok Dokter jadi marahin saya? Saya lagi sedih Dok,” kata Neta masih menangis.


“Tapi suara tangisan kamu itu mengganggu konsentrasi saya,” kata Dokter Rudi.


Neta langsung diam dia tidak mau kalo sampai dimarahin lagi. “Nah gitu diem, jadi saya bisa konsentrasi nyetirnya.” Kata Dokter Rudi kembali fokus pada jalanan didepan.


“Dok,” panggil Neta.


“Ada apa?” tanya Dokter Rudi.


“Punya tisu nggak?” tanya Neta.


Dokter Rudi langsung memberikan kotak tisu pada Neta. Neta langsung mengambilnya. Dia segera mengelap wajahnya dengan tisu tersebut.


“Makasih Dok,” kata Neta dengan suara yang serak karena habis menangis.


“Kamu mau kemana biar saya anter?” tanya Dokter Rudi.


“Saya nggak tahu dok, saya bingung.” Kata Neta sambil menggelengkan kepala.


“Yaudah kamu ikut saya aja, kamu mau kan?” tanya Dokter Rudi.

__ADS_1


Neta mengangguk dia tidak ada pilihan lain. Dia tidak ingin pulang karena pasti David akan mencarinya dirumah. Dokter Rudi melajukan mobilnya menuju sebuah taman.


__ADS_2