I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 13 : Hanabi


__ADS_3

Dirumah sedang ramai dengan teman-teman Kak Alex. Aku berjalan menuju ruang tamu karena tadi Dokter Alam bilang kalo dia udah hampir sampai. Aku berjalan melewati mereka.


“ Hai Nayla, mau kemana kok rapi banget?” tanya Kak Boby.


“ Mau ngerjain tugas Kak.” Jawabku.


“ Tugas? Mau Kakak bantuin nggak?” tanya Kak Boby.


“ Nggak usah kak makasih.” Kataku.


Tok... Tok... Tok...


Aku langsung berlari untuk membuka pintu. Saat aku buka Dokter Alam sudah berdiri didepan pintu.


“ Masuk mas.” Kataku mempersilahkan dia masuk.


Dia masuk kedalam rumah dan berjalan menuju ruang tamu.


“ Lam, katanya nggak bisa dateng kok sekarang kesini?” tanya Kak Juna.


“ Iya.” Jawabnya singkat sepertinya dia bingung mau menjawab apa soalnya mereka belum tahu kalo aku dan Dokter Alam sudah bertunangan.


“ Kak, kita pergi dulu ya.” Pamitku pada Kak Alex.


“ Kalian mau kemana?” tanya Kak Juna.


“ Mau ngerjain tugas.” Jawabku.


“ Kamu mau ngerjain tugas sama Alam?” tanyanya.


“ Iya.” Jawabku singkat.


“ Kok bisa? Bukannya tugasnya dari Alam kan dia dosen kamu tapi kok sekarang kamu mau ngerjain sama dia?” tanyanya bingung.


“ Dokter Alam bukan dosen Nayla lagi sekarang Dokter Alam itu calon suami Nayla.” Kataku.


“ Hah! Suami?” kata Kak Boby dan Kak Juna kaget aku juga melihat ekspresi itu di wajah Kak Rio.


“ Biasa aja kali.” Kata Kak Alex.


“ Kalian berdua mau nikah?” tanya Kak Boby.


Aku mengangguk “ Iya.”


“ Kok Lo nggak ngasih tahu kita Lam? Lo juga Lex kok nggak ngasih tahu gue?” tanyanya.


“ Siapa suruh nggak tanya.” Kata Kak Alex.


“ Sorry, gue lupa soalnya gue sibuk banget.” Katanya.


“ Kapan?” tanya Kak Juna.


“ 4 Mei besok.” Jawab Kak Alex.


“ Hah! 4 Mei ?” kata Kak Juna kembali terkejut.


“ Biasa aja.” Kata Kak Alex sambil mendorong tubuh Kak Juna.


“ Kok cepet banget sih?” tanya Kak Juna.


“ Lebih cepat lebih baik.” Jawabku.


“ Bener tuh.” Kata Kak Alex.


“ Udah ah kita pergi dulu ya Kak assalamualaikum.” Kataku.


“ Walaikumsalam.” Jawab Kak Alex dan Kak Rio sedangkan Kak Boby dan Kak Juna diam saja mungkin mereka masih kaget mendengar kabar ini.


“ Ayo Dok.” Kataku menarik tangannya.


Dia berjalan mengikutiku menuju mobilnya. Kami segera masuk kedalam mobil.


“ Kok kamu kasih tahu mereka kan aku udah bilang biar aku aja yang kasih tahu mereka.” Katanya.


“ Memangnya kenapa mau kamu yang kasih tahu atau aku yang kasih tahu kan sama aja mas.” Kataku.


“ Yah nggak papa sih.” Katanya.


“ Yaudah ayo jalan mau ngapain lagi disini!” Kataku.


“ Iya.” Katanya menyalakan mesin mobilnya.


Mobil berjalan menuju rumahnya. Setelah beberapa menit kemudian kami sampai didepan rumahnya. Dokter Alam memarkirkan mobilnya digarasi.


“ Kok mobilnya dimasukin sih mas emang nanti kamu nggak kerja?” tanyaku.


“ Nggak papa.” Katanya berjalan menuju pintu masuk aku mengikutinya dari belakang.


“ Kamu mau kenalin aku ke siapa sih mas?” tanyaku yang penasaran.


“ Nanti juga tahu.” Katanya menggandeng tanganku masuk kedalam rumahnya.


Aku terkejut saat masuk kedalam rumahnya. Sangat besar sekali dan juga bersih.


“ Kamu tunggu sini bentar ya Nay.” Katanya memintaku menunggu diruang tamu.


Baru beberapa langkah dia berjalan seorang anak perempuan berlari memeluknya. Anak itu kira-kira berusia 5 tahun. Aku berdiri menghampiri mereka berdua. Siapa anak itu apa mungkin dia anak Dokter Alam? Apa dia sebelumnya pernah menikah? Tapi kenapa dia nggak cerita ke aku?


Aku terus bertanya-tanya tentang siapa anak itu. Apa benar itu anak Dokter Alam?


“ Ini siapa mas?” tanyaku.


“ Oh ini yang mau aku kenalin kekamu Hanabi namanya.” Katanya.


“ Hana, ayo kenalan dulu sama Kak Nayla.” Katanya meminta gadis kecil yang sekarang bersembunyi dibelakang punggungnya.


Anak itu mengintip kearahku aku tersenyum padanya “ Anak manis sini sama kakak.” Kataku padanya.


Dia berjalan kearahku “ Jadi nama kamu Hanabi cantik banget namanya kayak kamu.” Kataku mencubit pipinya dia tersipu malu.


“ Kakak ini pacalnya Kak Alam ya?” tanyanya aku tersenyum padanya.


“ Maaf Nay dia cadel jadi ngomongnya kayak gitu.” Katanya.


Aku mengangguk mengerti “ Hana kelas berapa sekarang?” tanyaku.


“ TK Besal Kak.” Katanya.


“ OOO baru TK besar.” Kataku.


“ Hana kamu ke kamar dulu ya Kakak mau ngomong dulu sama Kak Nayla.” Kata Dokter Alam.


Dia mengangguk dan berjalan menuju kamarnya “ Kamu duduk dulu Nay aku ambil buku-bukunya dulu.” Katanya.


“ Buku apa?” tanyaku.


“ Yah buku buat tugas kamu, kamu lupa kesini mau ngapain?” tanyanya.


“ Oh iya aku lupa.” Kataku tersenyum.


“ Aku ambil dulu ya.” Katanya berjalan menaiki tangga.


Aku duduk di kursi ruang tamu menunggu Dokter Alam kembali. Tiba-tiba Hanabi datang menghampiriku dengan membawa boneka.


“ Kak Nayla, temenin Hana main boneka mau?” Tanyanya.


“ Tentu aja mau dong sayang sini main sama kakak.” Kataku.


Dia berjalan mendekatiku dan sekarang dia sedang duduk di pangkuanku.


“ Siapa nama bonekanya?” tanyaku.


“ Ini namanya Clala.” Katanya menunjukkan boneka Teddy Bear.


“ Namanya bagus banget pasti Hana yang kasih nama?” tanyaku.


Dia menggeleng “ Bukan Hana yang kasih nama.” Katanya.


“ Terus siapa?” tanyaku.


“ Kak Alam yang kasih nama.” Katanya.


“ Oooo Kak Alam yang kasih nama.” Kataku.


Tiba-tiba Dokter Alam datang dengan membawa buku-buku itu.


“ Hana, jangan ganggu Kak Nayla ayo ke kamar.” Kata Dokter Alam.


Dia langsung turun dari pangkuanku dan berjalan mendekati Dokter Alam.


“ Hana ke kamar dulu ya Kak.” Pamitnya.


Aku mengangguk sambil tersenyum padanya “ Aku anter Hana ke kamar dulu ya Nay.” Katanya.


Aku mengangguk dia berjalan menuju kamar Hanabi. Berhala saat kemudian dia kembali lagi.


“ Maaf Nay.” Katanya.


“ Maaf kenapa?” kataku.

__ADS_1


“ Soal Hana tadi pasti kamu nggak nyaman.” Katanya.


“ Nggak papa aku justru seneng kok Hana itu anaknya manis banget sopan juga.” Kataku.


Dia tersenyum memandangku “ Kenapa mas kok ngelihatin aku sampai kayak gitu?” tanyaku.


“ Nggak papa.” Katanya.


“ Udah ayo kerjain sekarang.” Kataku.


Dia mengangguk “ Kerjain yang mana dulu mas?” tanyaku.


“ Biologi Seluler dulu aja tadi malam udah aku rangkum kamu tinggal ngetik aja.” Katanya.


Aku mengambil buku itu dari tangannya dan mulai mengetik.


“ Kamu mau minum apa Nay?” tanyanya.


“ Air putih aja mas.” Kataku sambil terus mengetik.


Dia berjalan menuju dapur dan kemudian kembali dengan segelas air putih.


“ Ini Nay.” Katanya.


“ Makasih mas, Oh iya mas aku mau tanya.” Kataku.


“ Tanya apa?” tanyanya.


“ Kamu kan punya pembantu kok nggak kelihatan?” tanyaku.


“ Dia lagi pulang kampung.” Katanya.


“ Jadi tadi waktu kamu jemput aku Hana dirumah sendiri?” tanyaku.


“ Iya, tadi dia masih tidur makanya aku langsung cepet-cepet jemput kamu.” Katanya.


“ Oh tapi kalo kamu kerja Hana yang jaga siapa?” tanyaku.


“ Kalo soal itu Hana aku titipin ke tetangga sebelah nanti setelah aku pulang kerja aku jemput dia.” Katanya.


“ Lain kali kalo kamu mau pergi dan Hana nggak ada yang jagain kamu telepon aku aja mas. Aku mau kok jagain Hana.” Kataku.


“ Makasih Nay.” Katanya.


“ Sama-sama.” Kataku .


“ Kamu udah sampai mana?” tanyanya.


“ Udah sampai sini.” Kataku menunjuk halaman buku.


Dia mengambil buku yang ada dimeja dan mulai membacanya. Aku terus melanjutkan mengetik dan sesekali berhenti karena capek. Aku buka halaman buku itu satu persatu masih banyak sekali yang belum aku ketik. Padahal tanganku rasanya pegal dari tadi ngetik terus.


“ Kamu capek Nay?” tanyanya.


Aku mengangguk “ Yaudah mana gantian .” katanya.


Aku menggeser laptopku kearahnya dan dia mulai mengetik. Aku mengambil buku yang tadi dia bawa dan melanjutkan merangkum buku itu.


Aku berhenti sejenak menatapnya dia masih terus menatap layar laptopku. Tiba-tiba dia mendapat kearahku.


“ Kenapa Nay?” tanyanya.


“ Nggak papa cuma pingin ngelihatin kamu aja.” Kataku.


Dia melanjutkan mengetik lagi “ Mas.” Panggilku.


“ Iya.” Katanya.


“ Kenapa kamu cuma tinggal sama Hana? Mama kamu kemana?” tanyaku.


Dokter Alam pernah bercerita padaku kalo Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Tapi dia tidak menceritakan soal Ibunya.


“ Mamaku?” Katanya.


“ Iya.” Kataku.


“ Mama ada dirumah sakit.” Katanya.


“ Rumah sakit memangnya mama kamu sakit apa kok kamu nggak pernah cerita sama aku sih mas?” tanyaku.


“ Maaf aku lupa ngasih tahu kamu.” Katanya.


“ Kapan-kapan aku jenguk mama kamu boleh?” tanyaku.


“ Boleh nanti kalo aku ada waktu aku kabarin kamu.” Katanya.


“ Kamu tahu nggak mas tadinya aku kira Hana itu anak kamu.” Kataku tertawa.


“ Yah kan aku nggak tahu kamu sih nggak pernah cerita kalo kamu punya adik.” Kataku.


Di tersenyum padaku “ Kalo semisal Hana beneran anakku apa kamu masih mau nikah sama aku?” tanyanya.


“ Kok kamu tanya gitu sih mas?” tanyaku.


“ Yah nggak papa aku cua pingin tahu jawaban kamu aja.” Katanya.


“ Hem... Mau nggak ya?” kataku.


Dia menatapku menunggu jawabanku “ Yah maulah mas aku akan terima apa pun keadaan kamu.” Kataku.


Dia tersenyum padaku “ Makasih Nay.” Katanya.


Tiba-tiba Hanabi keluar dari kamarnya menghampiri Dokter Alam.


“ Kak, Hana lapel mau makan.” Katanya pada Dokter Alam.


“ Kamu mau makan apa biar kakak beliin?’ tanyanya.


“ Hana mau makan nasi goleng aja Kak.” Katanya.


“ Yaudah kakak beliin dulu ya.” Katanya berdiri tapi aku mencegahnya.


“ Mas tunggu.” Kataku.


Aku langsung beralih pada Hanabi “ Hana gimana kalo kita masak sendiri aja. Kamu mau kan?” kataku.


“ Emangnya kamu bisa masak Nay?” tanya Dokter Alam.


“ Bisa dong cuma masak nasi goreng sambil merem aja aku bisa.” Kataku.


Dokter Alam tersenyum padaku “ Ada ada aja kamu.” Sambil mengacak acak rambutku.


“ Apaan sih mas, berantakan tahu rambutku.” Kataku merapikan rambutku.


“ Iya maaf.” Katanya membantu aku merapikan rambutku.


Aku tersenyum menatapnya. Tiba-tiba ada yang menarik bajuku “ Kak jadi masak nggak Hana udah lapel nih?” tanya Hana.


“ Iya jadi kok, tapi kamu temani kakak ya?” pintaku.


Dia mengangguk “ Ayo sekarang kita ke dapur kita masak nasi goreng buat Hana.” Kataku bersemangat sambil menggandengnya menuju dapur.


Aku berjalan menuju dapur sesampainya disana aku meminta Hanabi untuk duduk sementara aku memasak.


“ Hana kamu duduk disini ya.” Kataku mendudukkannya pada kursi yang ada didapur.


Aku langsung menuju Rice cooker untuk mengecek apa masih ada nasi disana. Aku membuka Rice cooker tersebut ternyata masih ada sedikit nasi yah bisa buat makan 2 orang. Setelah itu aku menuju kulkas untuk mencari bahan-bahan yang aku perlukan. Aku mengambil bawang merah, bawang putih, cabai, dan beberapa bahan yang lain.


Aku mencari cobek yang akhirnya aku temukan dilemari bawah. Saat aku mau menghaluskan bumbu itu aku berhenti sejenak. Aku berpikir Hana suka pedas nggak ya, nanti kalo aku bikin pedas dianya kepedasan. Aku mendekat ke arah Hanabi.


“ Hana suka pedas nggak?” tanyaku.


“ Hana, nggak suka pedas Kak yang suka pedas itu Kak Alam.” Katanya.


“ Oh oke tunggu sebentar ya.” Kataku kembali memasak.


Aku sudah menghaluskan semua bumbunya dan tinggal memanaskan minyak. Setelah minyak panas aku tumis sebentar bumbu yang aku haluskan tadi. Baunya sangat menyengat sampai ke hidung hingga Hana menjadi batuk-batuk.


Setelah itu aku masukan nasi dan segera mencampurnya tak lupa yang terakhir tambahkan kecap manis dan garam sedikit. Setelah kurasa sudah tercampur semua aku memindahkan separo ke piring Hanabi .


Sedangkan Nasi goreng yang separonya lagi aku tambahkan sambal dan mulai mencampurnya lagi. Setelah selesai aku pindahkan ke piring.


Setelah nasi gorengnya sudah siap aku mengambil 2 butir telur dari dalam kulkas. Aku panaskan minyak dan segera menggoreng telur tersebut. Setelah matang aku letakan diatas nasi goreng tadi .


“ Nasi gorengnya udah siap.” Kataku pada Hanabi.


“ Udah matang Kak?” tanya Hanabi sambi tersenyum senang.


Aku mengangguk “ Udah coba cium deh baunya wangi kan?” Kataku mendekatkan piring padanya.


Dia mengangguk “ Ayo kita makan.” Kataku mengajaknya menuju meja makan.


Aku meletakan piring tersebut diatas meja “ Hana duduk disini.” Kataku menarik kursinya.


“ Ini punya kamu.” Kataku menyerahkan sepiring nasi goreng untuknya.


Dia langsung melahapnya aku tersenyum melihatnya “ Gimana enak nggak?” tanyaku.


“ Enak banget Kak.” Katanya dan mulai melahap nasi goreng itu lagi.

__ADS_1


Aku tersenyum melihatnya senang rasanya bisa melihat Hana makan. Untung aja rasanya enak jadi nggak malu maluin.


“ Oh iya minumnya belum diambil Kakak ambilin dulu ya.” Kataku langsung pergi ke dapur.


Aku kembali dengan membawa 2 gelas air putih “ Ini minumnya.” Kataku.


“ Makasih Kak.” Katanya yang terus melahap nasi goreng tersebut dengan lahap.


Tiba-tiba Dokter Alam datang ke meja makan.


“ Hana lagi makan?” tanyanya sambil mengelus kepala Hanabi.


“ Iya Kak, enak banget nasi golengnya.” Katanya dengan mulut yang penuh dengan nasi goreng.


“ Hana kalo mau ngomong makanannya dihabisin dulu nanti tersedak.” Kataku.


“ Iya kak maaf.” Katanya sambil meminum air putih yang aku ambil tadi.


Dokter Alam masih berdiri disamping Hanabi. Aku berdiri dan segera memintanya duduk disebelah Hanabi dan memberikan sepiring nasi goreng padanya.


“ Ini buat kamu.” Kataku meletakan piring tersebut didepannya.


“ Buat aku?” tanyanya.


Aku mengangguk “ Cobain deh.” Pintaku.


Dia menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan. Aku terus menatapnya menunggu apa yang akan dia katakan tentang masakanku.


“ Gimana?” tanyaku ragu-ragu.


“ Heeem.... Enak kok.” Katanya.


Aku menghela nafas lega dan meminum air putih yang ada didepanku. Dokter Alam terus melihatku meminum air putih itu.


“ Kamu nggak makan?” tanyanya.


Aku menggeleng “ Nggak aku diet.” Kataku.


“ Diet?” tanyanya.


“ Iya biar nanti waktu kita nikah aku kelihatan langsing.” Kataku.


“ Menurutku badan kamu udah cukup ideal Nay, ngapain pake diet segala nanti kamu malah sakit.” Katanya.


“ Begitukah?” tanyaku.


Dia mengangguk “ Iya.”


“ Yaudah kalo gitu aku nggak jadi diet.” Kataku mengambil sepotong kue yang sudah ada dimeja makan.


“ Kak Nayla.” Panggil Hanabi.


“ Iya kenapa sayang?” tanyaku.


“ Hana mau Kak Nayla suapin.” Katanya.


“ Mau kakak suapin?” tanyaku.


Dia mengangguk “ Yaudah sini kakak suapin.” Kataku mengambil piring Hanabi.


Aku menyendok nasi goreng tersebut dan mengarahkannya pada mulut Hanabi. Hanabi langsung membuka mulutnya. Tanpa aku sadari Dokter Alam terus menatapku sambil tersenyum.


“ Kamu kenapa mas kok ngelihatin aku sampai kayak gitu?” Tanyaku.


“ Nggak papa.” Katanya melanjutkan makan.


Namun tiba-tiba dia berdiri dan aku segera mencegahnya.


“ Mau kemana mas?” tanyaku.


“ Mau ambil minum.” Katanya menunjuk kearah dapur.


“ Aku ambilin aja.” Kataku sambil berdiri.


“ Nggak usah Nay biar aku ambil sendiri aja.” Katanya.


“ Yaudah deh.” Kataku kembali duduk.


Aku terus mengamatinya hingga dia ke dapur sampai aku lupa untuk menyuapi Hanabi.


“ Kakak lagi.” Katanya yang sudah menghabiskan makanan yang ada di mulutnya.


“ Oh iya kakak sampai lupa.” Kataku kembali menyuapi Hanabi.


Tak lama Dokter Alam kembali dengan segelas air ditangannya. Dia kembali duduk untuk melanjutkan makannya sambil sesekali meneguk air tersebut. Aku menatapnya yang sedang makan. Sepertinya dia menyukai nasi goreng yang aku buat dan itu membuat hatiku sedikit senang.


“ Sudah habis. Sekarang kamu minum dulu habis itu kakak antar kamu ke kamar.” Kataku.


Hanabi menenguk habis semua air yang ada di gelas itu. Lalu dia mengelap mulutnya dengan menggunakan tangannya. Aku langsung mencegahnya dan mengambil tisu yang ada di tengah meja.


“ Jangan pakai tangan nanti tangan kamu kotor.” Kataku sambil mengelap mulutnya dengan menggunakan tisu.


Setelah itu aku mengantarnya menuju kamarnya. Begitu kami masuk aku langsung memintanya untuk naik ke atas tempat tidur. Aku tarik selimutnya dan mengelus kepalanya.


“ Sekarang kamu tidur ya.” Kataku mengecup keningnya.


Dia mengangguk setelah dia mulai tidur aku kembali keluar kamarnya. Aku kembali berjalan menuju meja makan. Saat aku sampai disana aku tidak menemukan Dokter Alam. Aku berjalan menuju dapur aku melihat seorang laki-laki berdiri didepan wastafel.


Siapa lagi laki-laki itu kalo bukan Dokter Alam. Dia sedang mencuci piring yang tadi dia dan Hanabi gunakan untuk makan. Aku segera menghampirinya.


“ Mas, biar aku aja.” Kataku.


“ Nggak usah lagian udah selesai kok.” Katanya meletakan piring tersebut pada rak piring dan mengelap tangannya dengan serbet.


“ Selesai kan?” katanya sambil tersenyum.


Aku mengangguk sambil tersenyum. Untuk beberapa saat kami hanya berdiri dan saling menatap.


“ Yaudah mas kita ke depan aja.” Kataku.


Dia mengangguk. Kami berjalan menuju ruang tamu aku langsung duduk menghadap laptopku dan Dokter Alam duduk di sebelahku.


“ Itu udah selesai semua Nay.” Katanya.


“ Udah selesai?” tanyaku.


“ Iya.” Katanya.


“ Beneran ini udah selesai?” tanyaku.


“ Iya, tadi waktu kamu masak aku lanjutin ngetiknya.” Katanya.


Aku terus menatapnya “ Kamu kenapa Nay?” tanyanya yang bingung melihat aku terus menatapnya.


“ Nggak papa aku seneng aja.” Kataku.


“ Seneng kenapa?” tanyanya.


“ Yah yang pertama tugasku udah selesai jadi aku nggak akan dimarahi Dokter Willy dan yang kedua aku seneng banget punya tunangan sebaik kamu.” Kataku tersenyum.


“ Aku juga seneng bisa sama kamu.” Katanya sambil tersenyum.


“ Kalo gitu aku langsung pulang aja ya mas.” Kataku.


“ Yaudah aku anterin ya?” katanya.


“ Nggak usah aku pulang sendiri aja.” Kataku.


“ Kenapa?” tanyanya.


“ Kamu lupa kalo Hana dirumah sendirian.” Kataku.


“ Nggak papa lagian dia juga masih tidur kan? Jadi aku bisa anterin kamu pulang sebentar.” Katanya.


“ Nggak usah mas. Ini aku udah pesen ojek jadi kamu dirumah aja jagain Hana.” Kataku sambil menunjukkan ponselku.


Ketika ojeknya sudah hampir sampai aku segera mengemasi barang-barangku.


“ Aku pulang dulu ya mas ini udah mau sampai ojeknya.” Kataku.


“ Yaudah aku anter kamu keluar.” Katanya.


Aku mengangguk dan berjalan menuju pintu. Dokter Alam berjalan dibelakangku. Aku celingak celinguk mencari ojek yang aku pesan . Tiba-tiba sebuah motor berhenti didepan rumah Dokter Alam.


“ Itu dia ojeknya. Aku duluan ya?” kataku.


“ Iya, hati-hati Nay nanti kalo kamu udah sampai rumah telepon aku.” Katanya.


“ Iya, Assalamualaikum.” Kataku.


“ Walaikumsalam.” Katanya.


Aku segera berlari menuju ojek tersebut.


“ Atas nama Nayla pak?” tanyaku pada ojek tersebut.


“ Iya mbak .” jawabnya.


Dia memberikan helm padaku dan aku segera naik ke motornya. Aku melihat kearah Dokter Alam yang masih berdiri didepan pintu. Aku melambaikan tangan padanya dan dia membalasnya.

__ADS_1


Tak lama motor yang aku tumpangi pergi meninggalkan rumah Dokter Alam menuju ke jalan raya.


__ADS_2