
Aku sedang menunggu Neta didepan gerbang. Tadi dia meneleponku untuk memintaku menunggunya. Tapi sudah hampir setengah jam dia tidak muncul juga. Tiba-tiba seseorang memanggilku dari kejauhan ternyata itu Neta dia melambaikan tangan padaku. Aku balas melambaikan tangan padanya.
“Hai Nay,” sapanya padaku.
“Lo kenapa Net sakit?” tanyaku menempelkan tanganku padanya.
Dia langsung menyingkirkan tanganku. “Gue itu nggak sakit Nay,” katanya.
“Kalo nggak sakit kenapa Lo senyum-senyum terus?” tanyaku.
“Gue itu lagi jatuh cinta,” katanya.
“Jatuh cinta sama David?” tanyaku.
“David siapa ya? Maaf Nayla gue nggak kenal lagi sama yang namanya David, kita berdua udah putus.” Katanya.
“Putus? Kapan? Kenapa kok gue nggak Lo kasih tahu?” tanyaku kaget.
“Ntar gue ceritain sekarang kita ke kelas dulu.” Katanya sambil menggandeng tanganku.
Setelah kelas selesai kami langsung menuju kantin. Saat sedang berjalan menuju kantin kami bertemu dengan Dokter Rudi.
“Siang dok,” Sapaku.
“Siang,” jawabnya.
“Selamat siang Dokter,” sapa Neta sambil tersenyum lebar.
Aku jadi heran padanya padahal kemarin dia cuek banget sama Dokter Rudi. Kenapa sekarang dia malah ramah banget sama Dokter Rudi. Sebenarnya apa yang terjadi?
“Siang, nanti jadikan Net?” katanya.
“Jadi dok,” kata Neta.
“Yaudah saya mau ke kantor dulu,” pamitnya.
“Silahkan Dok,” kataku.
Neta berjalan mendahuluiku sambil senyum-senyum sendiri. Aku langsung menyusulnya.
“Net Lo mau kemana sama Dokter Rudi?” tanyaku.
“Rahasia, mau tau aja Lo.” Katanya langsung berlari menuju kantin.
Makanan yang kami pesan akhirnya datang juga.
“Makasih Mang,” kata Neta pada mang Cecep.
“Sama-sama mbak.” Jawab Mang Cecep langsung pergi.
Neta langsung melahap makanannya sedangkan aku terus menatapnya.
“Nay Lo ngapain ngelihatin gue terus?” tanyanya.
“Ntar gue ceritain tapi kita makan dulu.” Katanya seolah bisa membaca pikiranku.
Aku langsung melahap makananku. Saat aku lihat Neta sudah selesai makan. Aku langsung bertanya padanya.
“Net, kenapa Lo bisa putus sama David? Terus Lo kok jadi deket sama Dokter Rudi?” tanyaku.
“Sabar Nay, satu-satu kalo mau tanya.” katanya sambil menyeruput es teh.
“Lagian Lo lama banget sih,” kataku.
“Oke sekarang gue ceritain,” katanya.
Aku diam menatapnya. “Sebenarnya gue putus sama David karena dia selingkuh,” kataknya.
“What selingkuh?” kataku kaget.
“Dan Lo mau tahu dia selingkuh sama siapa?” tanyanya yang membuatku penasaran.
“Sama Angel,” katanya.
“Angel mantannya yang badannya kerempeng kayak lidi itu?” tanyaku teringat pada mantan David.
“Heem,” jawabnya.
“Gila bener tuh orang, berani banget dia selingkuhin Lo apalagi sama tuh cewek lidi.” kataku menggelengkan kepala tak menyangka.
“Biarin aja, gue udah kasih tahu bokap gue dan bokap bilang kalo dia akan narik modalnya dia kafe David.” katanya sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
“Mantap Net, biar tahu rasa tuh orang.” kataku memberinya dua jempol.
Dia langsung mengibaskan rambutnya. “Iya dong Neta.” Katanya bangga.
“Terus kalo soal Dokter Rudi?” tanyaku.
“Kalo soal itu Dokter Rudi datang saat gue lagi terpuruk dia nemenin gue, menghibur gue pokoknya dia itu bagaikan malaikat yang Tuhan kirim buat gue,” katanya.
“Lebay Lo,” kataku.
“Dan sekarang kita berdua udah jadian,” katanya.
“Jadian kapan?” tanyaku.
“Kemarin,” jawabnya.
__ADS_1
“Kok cepet banget?” tanyaku heran.
“Karena gue nggak mau berlama-lama larut dalam kesedihan atas perlakuan David,” katanya.
“Gaya bener Lo,” kataku.
“Biarin dong, udah ah gue mau pergi dulu sama Dokter Rudi. Ini uang buat bayar makanannya tolong bayarin ya Nay?” katanya memberikan selembar lima puluh ribu dan langsung pergi.
Aku berjalan menuju gerbang kampus untuk menemui Dokter Alam. Dari kejauhan aku bisa melihat Dokter Alam sedang berdiri bersandar mobilnya. Dia mengenakan kemeja dan celana panjang serta sepatu hitam. Dia berdiri dengan salah satu tangannya dimasukkan kedalam saku celana. Dan itu membuatnya tampak keren.
Aku segera berlari mendekatinya. “Mas,” panggilku.
Dia menoleh kearahku. “Ayo! Kita pergi sekarang,” kataku.
Dia mengangguk dan langsung membukakan pintu penumpang untukku. Aku segera masuk dia kemudian berjalan memutar dan duduk dibalik kemudi. Dia segera menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan gedung kampus.
Hari ini kami berencana untuk pergi ke mall. Karena kemarin Dokter Alam bilang padaku kalo dia ingin mencari hadiah untuk seorang temannya yang baru saja melahirkan. Ketika dia memintaku untuk menemaninya mencari hadiah aku langsung menyetujuinya.
Kami sampai di mall. Setelah memarkir mobil kami langsung masuk kedalamnya. Kami berjalan menuju tempat perlengkapan bayi. Kami memilih-milih pakaian untuk bayi.
“Mas, anaknya cowok atau cewek?” tanyaku.
“Aku juga nggak tahu,” katanya.
“Kok nggak tahu?” tanyaku.
“Yah kan aku belum jenguk dia dirumah sakit, makanya aku belum tahu.” Katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalo gitu kita beliin baju yang warna biru aja ya mas? Kan warna biru bisa buat cowok ataupun cewek,” kataku menunjukkan baju kecil itu pada Dokter Alam.
“Terserah kamu aja Nay,” katanya.
Aku langsung memanggil pegawai toko tersebut dan memberikan baju itu padanya.
“Mbak tolong bajunya dibungkus sekalian ya!” kataku.
“Baik mbak.” Kata pegawai itu langsung pergi.
Aku kembali berkeliling untuk melihat-lihat yang lainnya. Tak sengaja aku melihat sebuah mainan kerincingan. Aku langsung mengambilnya dan membunyikannya.
Cring-Cring Cring-Cring
Aku langsung memanggil Dokter Alam yang sedang ada dikasir.
“Mas, sini deh!” panggilku.
“Ada apa?” tanyanya.
“Bagus nih.” Kataku memainkan kerincingan tersebut.
Cring-Cring Cring-Cring
“Iya bagus.” Katanya sambil tersenyum.
“Kita beli ini juga ya?” tanyaku.
“Iya,” katanya menyetujui.
Kami langsung menuju kasir. Aku memberikan kerincingan tersebut pada petugas kasir.
“Mbak ini juga ya,” kataku.
Petugas itu langsung menerimanya. Setelah barang selesai dihitung Dokter Alma langsung membayarnya. Setelah membayar kami langsung meninggalkan toko tersebut. Kami kembali mengelilingi mall tersebut.
“Sekarang kita mau kemana?” tanyanya padaku.
“Kita beli es krim?” kataku.
“Kamu itu selalu aja es krim kayak anak kecil aja.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Nggak papa dong mas, es krim itu bukan cuma untuk anak kecil aja orang dewasa juga boleh makan.” Kataku sambil merapikan rambutku.
“Yaudah kita beli sekarang.” Katanya langsung menarik tanganku menuju toko es krim.
Saat sampai ditoko tersebut kami langsung masuk. Aku lihat antreannya sangat panjang. Saat sedang menunggu antrean seseorang memanggilku.
“Nayla,” aku langsung menoleh kearah suara tersebut.
“Neta,” panggilku padanya.
“Kalian disini juga?” tanya Dokter Rudi.
“Iya, kita lagi cari hadiah buat temannya Dokter Alam.” kataku menunjukkan plastik belanjaan kami.
“Buat Susi, Lam?” tanya Dokter Rudi pada Dokter Alam.
“Iya,” jawabnya.
“Terus kalian disini ngapain?” tanya Dokter Rudi.
“Yah mau beli es krimlah dok masa mau main bola,” kataku sontak mereka semua tertawa mendengar jawabanku.
“Iya juga ya.” Katanya sambil menggaruk kepalanya.
“Yaudah Nay, kita duduk disana aja yuk!” ajak Neta.
“Iya, kalian tunggu aja buat kami yang pesen,” kata Dokter Alam.
__ADS_1
“Beneran mas nggak papa?” tanyaku.
“Iya Nayla kamu tunggu disana aja sama Neta.” Kata Dokter Alam.
“Yaudah deh aku tunggu disana.” Kataku menuju kursi yang kosong.
Tak lama kemudian kedua laki-laki itu berjalan mendekati kami. Dengan masing-masing kedua tangan mereka memegang dua es krim. Dan meletakannya didepan kami, kami menerima es krim tersebut dan langsung melahapnya.
“Pelan-pelan Nay kalo makan!” kata Dokter Alma padaku.
“Iya mas, ini juga udah pelan.” kataku.
“Dokter kayak nggak tahu Nayla aja, diakan kalo makan memang kayak gitu nggak ada anggunnya sama sekali,” kata Neta.
Aku langsung menendang kaki Neta. “ Aw! Sakit tahu Nay,” katanya merintih kesakitan.
“Tuh dok lihat sendirikan kelakuannya,” kata Neta.
Aku langsung melotot kearahnya. Dokter Alam dan Dokter Rudi hanya tersenyum melihat kami berdua bertengkar. Tak lama es krimku sudah habis. Aku langsung berdiri karena ingin ke toilet.
“Kamu mau kemana Nay?” tanya Dokter Alam.
“Aku mau ke toilet sebentar mas,” kataku.
“Oh Yaudah jangan lama-lama,” katanya.
“Iya.” Jawabku langsung berlari menuju toilet.
Aku langsung masuk kedalam toilet. Setelah selesai aku keluar dan merapikan rambutku sebentar didepan cermin yang ada depan toilet. Saat sedang merapikan rambutku tiba-tiba aku merasa sakit di bagian kepalaku.
Memang sudah sekitar dua Minggu sejak keluar dari rumah sakit kepalaku sering terasa pusing. Tapi aku tak menghiraukannya karena aku berpikir itu hanya efek dari obat atau karena aku kecapekan. Karena akhir-akhir ini aku selalu sibuk dengan acara pernikahan aku dengan Dokter Alam.
Aku berjalan pelan menuju tempat duduk kami masih memegang kepalaku yang sakit. Ketiak sampai aku langsung duduk ditempatku.
“Kamu kenapa Nay, Kok wajah kamu pucat gitu?” tanya Dokter Rudi.
“Iya Nay, kamu pucat banget.” Kata Neta.
Dokter Alam langsung menatap wajahku. “ Kamu kenapa sakit?” tanya Dokter Alam.
“Nggak papa mas, aku cuma ngerasa pusing aja mungkin kecapekan kali.” Kataku sambil memegang kepalaku yang masih pusing.
“Mau aku periksa?” tanya Dokter Alam.
“Nggak perlu mas, cuma pusing nanti setelah istirahat juga hilang pusingnya,” kataku.
“Yaudah kalo gitu kita pulang aja?” tanya Dokter Alam.
Aku mengangguk. Dokter Alam langsung mengambil barang belanjaan kami dan membantuku untuk jalan.
“Kita duluan ya Rud,” pamit Dokter Alam pada Dokter Rudi.
“Iya, hati-hati,” katanya.
“Gue pulang duluan Net,” Pamitku pada Neta.
“Iya Nay, cepet sembuh ya,” katanya.
Kami langsung berjala keluar mall menuju tepat parkir. Dokter Alam langsung membukakan pintu untukku. Setelah itu dia baru masuk kedalam mobil. Dokter Alam langsung melajukan mobilnya menuju rumahku. Kusandarkan kepalaku pada jok mobil sambil memejamkan mata.
“Masih pusing Nay?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Kamu beneran nggak mau aku periksa?” tanyanya.
Aku menggelengkan kepala. “ Atau kita ke rumah sakit aja?” tanyanya.
“Nggak perlu mas kita langsung ke rumah aja,” kataku.
“Yaudah kali itu mau kamu, sekarang kamu tidur aja kali udah sampai aku bangunin.” Katanya sambil memegang kepalaku.
Beberapa menit kemudian kami sampai didepan rumah. Dokter Alam langsung membantuku untuk masuk kedalam. Pintu terbuka ternyata Bunda yang membukakan pintu. Dia terkejut saat melihatku berjalan dibantu oleh Dokter Alam.
“Kamu kenapa sayang kok wajah kamu pucat?” tanya Bunda.
“Nayla bilang katanya kepalanya pusing Bun, waktu mau Alam anter ke rumah sakit tapi dia nggak mau.” katanya yang masih memegang tubuhku agar aku tidak jatuh.
“Nggak perlu ke rumah sakit aku Cuma kecapekan aja,” kataku.
“Yaudah sini biar Bunda yang bawa masuk,” kata Bunda.
“Iya Bun,” jawabnya.
Dokter Alam langsung menyerahkan aku pada Bunda.
“Kalo gitu Alam langsung pulang aja Bun biar Banyak bisa istirahat,” pamitnya.
“Iya nak, makasih udah anter Nayla,” jawab Bunda.
“Akh pulang dulu Nay,” pamitnya padaku.
“Iya mas, hati-hati,” kataku.
“Iya, Assalamualaikum.” Katanya.
“Walaikumsalam,” jawab aku dan Bunda.
Bunda langsung membawa aku masuk kedalam rumah. Dia menutup pintunya dan langsung membawaku kedalam kamarku.
__ADS_1