
Dokter Alam terduduk dilantai. “Udah Nay aku capek,” katanya.
“Iya mas, aku juga capek.” Kataku ikut duduk disebelahnya.
Dokter Alam melirik jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dia langsung beranjak berdiri.
“Aku shalat dulu ya?” tanyanya padaku.
Aku mengangguk. “Iya mas.” Kataku langsung bangun.
Dokter Alam langsung berjalan menuju kamarnya. Aku berjalan menuju dapur. Kubuka kulkas dan mengambil air putih. Setelah berlari tadi aku jadi merasa sangat haus.
Selesai minum aku kembali menuju meja makan. Kuambil apel yang aku tusuk dengan pisau tadi dan langsung melahapnya.
15 menit kemudian Dokter Alam datang. Dia langsung duduk disampingku.
“Kamu mau pulang jam berapa Nay?” tanyanya.
“Memangnya kenapa kamu nggak suka kali aku disini?” tanyaku.
“Bukannya begitu, soalnya harus ke rumah sakit sekarang,” katanya.
“Oh, Yaudah aku pulang sekarang aja,” kataku.
“Yaudah aku anter kamu pulang,” katanya.
Aku mengangguk dan kami langsung berjalan keluar. Setelah kami sudah ada didalam mobil Dokter Alam langsung melajukan mobilnya menuju rumahku.
30 menit kemudian aku sudah sampai didepan rumah. Aku langsung mengambil tasku yang aku letakan dibelakang.
“Mas, aku masuk dulu ya?” pamitku.
“Iya,” jawabnya.
“Oh iya aku hampir aja lupa,” kataku.
“Apa?” tanyanya.
“Besok aku udah mulai berangkat ke kampus,” kataku.
“Yaudah besok aku jemput kamu,” katanya.
“Oke aku tunggu,” kataku langsung keluar dari mobil.
Aku tidak langsung masuk. Aku berdiri disamping mobilnya dan melambaikan tangan padanya. Mobil langsung melaju pergi meninggalkan rumahku. Aku langsung masuk kedalam rumah.
Aku langsung berjalan menuju kamarku dan langsung mengunci kamarku. Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai aku langsung berbaring ditempat tidur. Aku pejamkan mataku sebentar hingga aku larut masuk kedalam dunia mimpiku.
***
Aku berjalan menuruni tangga. Bunda dan Kak Alex sedang sarapan dimeja makan. Aku berjalan mendekati mereka. Aku langsung meminum susu yang dibuatkan Bunda dan mencomot sehelai roti.
“Aku berangkat dulu Bun.” kataku menyalami tangannya.
“Nggak sarapan dulu sayang?” tanyanya.
“Nggak usah Bun.” Jawabku beralih kepada Kak Alex dan menyalami tangannya.
“Kok buru-buru sih dek?” tanyanya.
“Iya kak, soalnya Dokter Alam sudah nungguin didepan,” kataku.
“Yaudah hati-hati,” katanya.
“Iya, assalamualaikum.” Kataku sambil berlari keluar.
“Walaikumsalam,” jawab Bunda dan Kak Alex.
Aku langsung masuk kedalam mobil Dokter Alam. Dia tersenyum kearahku aku membalasnya.
“Ayo! Berangkat sekarang mas!” kataku.
“Oke.” katanya langsung melajukan mobilnya menuju kampus.
Aku ambil ponsel yang ada didalam tasku. Aku ingin menelepon Neta agar dia menungguku didepan gerbang. Supaya aku ada temen untuk masuk ke kelas.
“Halo Net,” kataku.
“Kenapa Nay?” tanyanya.
“Lo dimana?” tanyaku.
“Gue lagi dijalan mau ke kampus nih,” katanya.
“Oh oke ntar kalo udah sampai jangan langsung masuk tungguin gue digerbang dulu!” kataku.
__ADS_1
“Memangnya Lo udah mau berangkat ke kampus?” tanyanya.
“Iya gue lagi dijalan nih,” kataku.
“Oke,” katanya.
Aku masukan kembali ponselku kedalam tas. Aku lihat jalanan yang ada didepanku. Sebentar lagi sudah sampai dikampusku. Aku langsung mengambil bedak yang ada di tasku.
Kuusapkan sedikit diwajahku. Kemudian aku mengambil maskara dan segera memakainya. Dan yang terakhir aku mengambil lipstik. Dokter Alam menatap kearahku.
“Mas, kalo lagi nyetir lihat ke depan.” Kataku yang sedang sibuk mengenakan lipstik.
Dokter Alam kembali fokus ke depan. Aku masukan semua barangku kedalam tas kembali. Aku menghadap kearah Dokter Alam.
“Mas, gimana penampilan aku?” tanyaku.
“Cantik.” Katanya kembali melihat ke depan.
10 menit kemudian mobil sudah berhenti didepan kampus. Sebelum keluar aku kembali melihat wajahku dikaca mobil. Melihat bagaimana dandananku dan merapikan rambutku sedikit.
“Udah cantik Nay,” katanya.
“Iya aku juga tahu kalo aku cantik.” Kataku terus merapikan rambutku.
Dokter Alam hanya diam menatapku “Yaudah mas, aku turun dulu ya? Jangan lupa nanti kamu jemput aku terus kita langsung lihat gedung,” kataku.
“Gedung buat apa?” tanyanya.
“Gedung buat nikahan kitalah mas, kan aku udah bilang pasti kamu lupa,” kataku.
Dia hanya nyengir. “Nanti jangan sampai lupa, Aku duluan mas assalamualaikum.” Kataku langsung membuka pintu mobil.
“Walaikumsalam,” jawabnya.
Aku langsung berlari menuju gerbang kampus. Aku lihat Neta sedang berdiri Diana sambil celingak-celinguk. Aku segera menghampirinya.
“Net.” Panggilku langsung berlari kearahnya.
Dia melambaikan tangan padaku. “Hai Nay,” sapanya.
“ Udah dari tadi, Net?” tanyaku.
“Iya, lama banget sih Nay?” tanyanya.
“Pantesan lama banget,” katanya.
“Udah ayo masuk!” kataku menarik tangannya.
Kami berjalan menuju kelas sambil sesekali bercanda. Rasanya sudah lama sekali sejak aku masuk rumah sakit aku tidak bisa bercanda seperti ini dengan Neta. Aku sangat bersyukur karena aku sudah pulih dan aku bisa bercanda lagi bersama Neta. Saat kami sedang asik mengobrol kami bertemu dengan Dokter Rudi.
“Pagi dok,” Sapaku.
“Pagi,” katanya.
Aku menatap Neta yang dari tadi diam saja. Aku menyenggol tangannya dan berbisik ke telinganya. “Net, kasih salam dong!” katanya.
“Selamat pagi dok.” Katanya dengan senyum yang sedikit dipaksa.
Aku tersenyum pada Dokter Rudi. “Dokter mau kemana?” tanyaku.
“Saya mau ke perpustakaan sebentar mau cari buku,” katanya.
“Oh mau ke perpus.” Kataku menganggukkan kepala.
“Kamu kok udah masuk sih Nay? Memangnya kamu yang sembuh?” tanyanya.
“Sok perhatian.” kata Neta memalingkan mukanya.
Aku langsung mencubit perut. “Aw! Sakit Nay,” katanya.
“Maaf dok, Neta hari ini otaknya agak geser,” kataku sambil tersenyum.
Neta langsung melotot kearahku sebelum dia mengatakan sesuatu aku lebih dulu menutup mulutnya dengan tanganku.
“Saya baik-baik aja kok dok, kalo gitu saya mau ke kelas dulu dok, permisi.” kataku menarik Neta menjauh dari Dokter Rudi.
Dokter Rudi tampak bingung melihat tingkahku dan Neta. Saat sudah jauh aku langsung melepaskan tanganku dari mulut Neta.
“Lo apa-apaan sih, Nay?” tanyanya kesal.
“Lo yang apa-apaan, Lo nggak sadar kelakuan Lo didepan Dokter Rudi tadi?” kataku memarahinya.
“Biarin aja, lagian dia pantes kok digituin,” katanya.
“Kok Lo bilang gitu sih Net? Dokter Rudi itu Dosen kita,” kataku.
__ADS_1
“Gue tahu kalo dia itu Dosen kita, tapi gue masih kesel sama apa yang dia lakuin ke gue,” katanya.
Aku terdiam sejenak. “Memangnya Dokter Rudi ngapain Lo?” tanyaku.
Dia berjalan menuju kelas aku langsung mengikutinya. “Lo diapain sama Dokter Rudi?” tanyaku.
“Nanti gue ceritain kita masuk kelas dulu.” Katanya berjalan masuk kedalam kelas.
Kelas sudah selesai aku dan Neta sedang duduk dikantin menunggu pesanan makanan kami datang. Aku memandang Neta yang dari tadi diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang dilakukan Dokter Rudi pada Neta.
Pesanan kami akhirnya datang. Aku segera menyantap makananku. Neta menikmati makanannya dalam diam. Aku terus menatapnya dan aku sudah tidak tahan ingin segera bertanya padanya.
“Net, sebenarnya Dokter Rudi ngapain Lo sih? Gue jadi pingin tahu,” kataku.
Neta meletakan sendok yang ada ditangannya. “Kemarin waktu pulang dari rumah sakit kamu sempet berantem,” katanya.
“Kok bisa?” tanyaku.
“Waktu itu gue nggak mau dianter pulang sama dia, terus dia itu tetep maksa gue buat nganterin gue pulang bahkan dia sampai gendong gue kedalam mobilnya, terus waktu gue bilang gue udah punya cowok bukanya ngelepasin gue dia malah bilang 'Udah tahu' gitu doang, nyebelin kan? Makanya sejak kejadian itu gue selalu menghindar dari dia gue nggak mau kalo David tahu soal kejadian ini, Lo tahu kan disini ada temannya David?” katanya.
“Siapa?” tanyaku.
“Bagas, anak ekonomi,” katanya.
“Oh gue inget yang ganteng itu kan?” kataku.
“Heem.” katanya menyeruput es tehnya.
Bagas adalah anak ekonomi semester 5 dikampusku. Dan kebetulan dia juga adalah teman David pacarannya Neta. Bagas itu seorang playboy dikampus ini. Banyak sekali cewek yang berusaha untuk jadi pacarnya.
Padahal setahuku Bagas itu sudah punya pacar. Pacarnya kuliah dikampus lain dan aku tahu itu semua dari Neta.
“Net, kayaknya gue tahu deh kenapa Dokter Rudi sampai kayak gitu ke Lo,” kataku.
Dia menyendokkan makanan ke mulutnya. “Kenapa?” tanyanya.
“Sebenernya waktu itu Dokter Rudi denger semua omongan kita waktu dirumah sakit,” kataku.
“Uhuk-uhuk-uhuk.” Dia terbatuk karena kaget aku langsung mengulurkan minuman untuknya.
“Ini minum dulu,” kataku.
Dia langsung meneguk minumannya. “Serius Lo Nay?” tanyanya.
“Ngapain juga gue bohong?” kataku.
Dia kembali meminum es tehnya. “Lo tahu dari siapa?” tanyanya.
“Dari Dokter Alam,” kataku.
Dia meminum es tehnya lagi tapi kali ini sampai habis. “Jadi dia denger semuanya,” tanyanya lagi.
“Iya Neta, semuanya mulai dari curahan Lo sampai Lo ngatain dia,” kataku menjelaskan padanya.
“Mampus gue, terus gue harus gimana nih Nay? Gue nggak mau gara-gara ini nilai mata kuliah Dokter Rudi jadi jelek,” katanya.
“Kalo gue saranin mending Lo minta maaf deh Net,” kataku.
“Tapi gue nggak berani Nay,” katanya.
“Yah gimana lagi dari pada nilai Lo jelek?” kataku.
Dia menjambak rambutnya sambil berteriak-teriak seperti orang gila. “Kenapa jadi seperti ini sih?” teriaknya.
Semua yang ada dikantin langsung menatap kearah kami. Aku menutup wajahku dengan buku karena malu dengan kelakuan Neta.
“Net, jangan kayak gitu dong dilihatin banyak orang.” Kataku bisik.
“Gue bingung Nay, harus gimana nih?” katanya.
“Kan udah gue bilang Lo minta maaf aja,” kataku.
“Nggak, gue nggak akan minta maaf, gue nggak salah, dan nilai gue nggak akan jelek itu pasti,” katanya yakin.
Dia langsung berdiri. “ Lo mau kemana Net?” tanyaku.
“Gue mau ke kafenya David, mau ikut?” tanyanya.
“Nggak gue udah ada acara sama Dokter Alam,” kataku.
“Yaudah gue duluan ya, dan....” dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. “Bayarin dulu makanan gue,” bisiknya.
Belum sempat menjawab dia langsung berlari meninggalkan kantin. Aku yang sudah tidak bisa mengatakan apapun hanya bisa pasrah. Dengan terpaksa aku harus membayar makanannya padahal bulan ini aku lagi krisis keuangan.
Aku lirik jam ditanganku sudah hampir pukul 2 siang. Aku segera membayar makanan kami dan menelepon Dokter Alam. Setelah itu aku langsung berjalan menuju gerbang kampus untuk menunggunya.
__ADS_1