
Bunda membantuku berbaring ditempat tidur dan menyelimuti tubuhku.
“Kamu istirahat ya sayang,” kata Bunda.
“Iya Bun makasih,” kataku.
Bunda langsung keluar dari kamarku. Aku langsung menutup mataku agar pusing dikepalaku berkurang.
Aku terbangun karena mendengar suara azan. Kulirik jam didindingku sudah menunjukkan pukul y. Aku segera bangun untuk mengambil wudhu. Aku berjalan pelan menuju kamar mandi sambil menahan sakit kepalaku yang masih sakit.
Aku bingung sebenarnya ada apa denganku kenapa pusing dikepalaku ini tidak hilang juga. Padahal biasanya kalo aku tinggal istirahat pusingku langsung hilang.
Setelah mengambil wudhu aku segera menunaikan shalat. Setelah shalat aku sempatkan untuk mengaji sekalian menunggu waktu shalat isya. Tak lama kemudian terdengar suara azan isya aku segera menunaikan shalat.
Setelah itu aku langsung berjalan keluar kamar menuju meja makan. Bunda sedang menyiapkan makan malam disana. Aku berjala mendekatinya dan langsung duduk ditempatku.
“Nayla kamu udah bangun sayang?” tanya Bunda.
“Iya Bun,” jawabku.
“Kamu udah shalat?” tanya Bunda.
“Udah Bun,” jawabku.
“Gimana kepala kamu masih sakit?” tanya Bunda.
“Lumayan Bun,” jawabku.
“Yaudah kalo gitu kamu makan dulu ya? Habis itu kamu minum obat!” kata Bunda.
Aku mengangguk Bunda langsung mengambilkan aku makanan.
“Bun, Kak Alex mana?” tanyaku yang tak melihat Kak Alex.
“Lagi dikamar bentar lagi juga turun.” Katanya menyerahkan piring itu padaku.
Aku menerimanya dan langsung menyantapnya. Sebenarnya aku sedang tidak nafsu makan tapi kali aku tidak makan Bunda pasti memarahiku. Dengan terpaksa aku memakan makananku perlahan.
Tiba-tiba Kak Alex datang dua langsung duduk di sebelahku. Dia mengambil piring dan mengambil nasi dan juga lauk. Dia langsung menyantap makanannya dengan lahap.
“Dek, gimana keadaan kamu kata Bunda kamu sakit?” tanyanya.
“ Cuma pusing biasa aja kok.” Kataku sambil menyendokkan makanan kemulutku.
“Oh.” Jawabnya melanjutkan makan.
Setelah selesai makan aku langsung kembali ke kamarku. Aku duduk diatas kasurku. Kepalaku masih sakit bahkan lebih sakit dari yang tadi. Aku langsung mencari obat dilaciku. Setelah menemukannya aku langsung meminumnya. Setelah minum obat aku langsung berbaring untuk tidur karena besok aku harus berangkat ke kampus.
Aku kembali terbangun karena azan subuh. Aku langsung bangun dan duduk diatas kasur. Kepalaku sudah tidak sakit lagi aku merasa lega jadi hari ini aku bisa berangkat ke kampus. Aku langsung bangun dari tempat tidurku. Berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Setelah selesai shalat aku langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Aku masukan buku-buku yang akan aku bawa hari ini kedalam tasku. Setelah selesai aku kembali duduk diatas kasurku.
Kuraih ponsel yang ada disampingku. Aku ingin menghubungi Dokter Alam.
“Halo mas assalamualaikum,” kataku.
“Walaikumsalam Nay, ada apa?” tanyanya.
“Nanti kamu jemput aku ya mas aku mau ke kampus,” kataku.
“Bukanya kamu masih sakit?” tanyanya.
“Aku udah sembuh kok mas kamu tenang aja,” kataku.
“Yaudah aku nanti jemput kamu,” katanya.
“Makasih mas,” kataku.
“Iya, sampai ketemu nabati dirumah kamu,” katanya.
“Iya Assalamualaikum,” kataku.
“Walaikumsalam,” jawabnya.
Kumasukkan ponselku kedalam tas agar tidak lupa membawanya. Setelah itu aku langsung keluar kamar. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Aku lihat Bunda sedang menyiapkan makanan untuk sarapan.
__ADS_1
Aku berjalan mendekatinya. “Pagi Bun,” sapaku.
“Pagi sayang.” Jawabnya masih sibuk memasak.
Aku membuka kulkas mengambil botol minuman dan gelas. Kutuangkan air tersebut kedalam gelas lalu meminumnya. Setalah selesai aku membantu Bunda untuk menyiapkan sarapan. Selesai menyiapkan sarapan aku langsung menuju kamar Kak Alex.
“Kak Alex ayo sarapan.” Kataku sambil mengetuk pintu kamarnya.
Pintu kamar Kak Alex terbuka aku lihat Kak Alex berdiri dengan pakaian rapi.
“Iya, ini kakak juga mau turun kok,” katanya.
“Yaudah, Ayo! Udah ditungguin Bunda,” kataku.
“Ayo!” katanya berjalan mengikutiku.
Aku dan Kak Alex langsung menuju meja makan. Setelah selesai makan aku langsung keluar karena Dokter Alam sudah menungguku didepan rumah. Aku segera masuk kedalam mobilnya.
“Ayo mas berangkat!” kataku.
Dokter Alam langsung menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumahku. Beberapa menit kemudian kami sampai didepan kampus. Aku segera turun dari mobilnya
“Aku duluan mas, assamualaikum,” kataku.
“Walaikumsalam.” Jawabnya.
Aku langsung berlari masuk kedalam kampus. Aku berjalan menuju kelas sambil celingak-celinguk mencari Neta. Tiba-tiba ada yang memegang pundakku dari belakang dan itu membuatku terkejut.
“Lo kaget Nay?” tanyanya.
“Iyalah gue kira siapa,” kataku.
Aku langsung duduk ditempatku begitu pun dengan Neta. Tak lama Dokter Willy masuk kedalam kelas.
“Pagi semua,” sapanya.
“Pagi Dok,” jawab semuanya.
“Baik kita sekarang kita mulai kelasnya,” katanya.
Tak kusangka Dokter Willy memperhatikanku. Dia berjalan mendekatiku. Aku masih memegang kepalaku yang sakit.
“Nayla kamu kenapa sakit?” tanyanya.
“Nggak papa Dok Cuma pusing aja nanti juga hilang,” kataku.
“Tapi wajah kamu pucat banget,” katanya.
“Saya nggak papa Dok,” kataku sambil menahan sakit kepalaku.
“Ya sudah kalo itu mau kamu.” Katanya menerangkan materi hari ini.
Hingga kelas selesai aku sama sekali tidak bisa konsentrasi. Kepala masih saja sakit padahal tadi pagi waktu mau berangkat aku sehat-sehat saja tapi kenapa kepalaku jadi sakit lagi?
“Nay, Masih pusing?” tanya Neta.
“Iya Net, malah tambah sakit kepala gue.” Kataku megang kepalaku.
“Kalo masih sakit mendung Lo pulang aja Nay kalo nggak ke rumah sakit,” katanya.
“Iya Net, gue juga udah nggak tahan sakit banget,” kataku.
“Mau gue temenin?” tanyanya.
“Nggak usah gue bisa sendiri,” kataku.
“Beneran gue takut Lo kenapa-napa?” katanya.
“Iya tenang aja, gue titip absen ya?” kataku.
“Tenang aja kalo soal itu,” katanya.
“Makasih Net,” kataku.
“Iya Lo hati-hati dijalan,” katanya.
__ADS_1
“Iya,” kataku langsung pergi.
Aku berjalan pelan menuju gerbang kampus. Didepan aku langsung menghentikan sebuah taksi. Setelah taksi itu berhenti aku langsung masuk kedalam. Aku menyebutkan alamat yang ingin aku tuju dan supir taksi tersebut langsung melaju ke tempat tujuanku.
Aku ambil ponsel yang ada di tasku. Aku ingin menghubungi Dokter Nabila. Aku ingin menanyakan tentang keadaanku saat ini.
“Halo! Assalamualaikum,” kataku.
“Walaikumsalam, ini siapa?” tanyanya.
“Saya Nayla Dok,” kataku.
“Oh Nayla, ada yang bisa saya bantai?” tanyanya.
“Ada yang ingin saya tanyakan ini saya lagi perjalanan menuju rumah sakit.” kataku.
“Baik saya tunggu,” jawabnya.
Aku masukan kembali ponselku kedalam tas. Dan kusandarkan kepalaku dijok mobil.
“Pak, tolong lebih cepat ya!” kataku.
“Baik mbak,” jawabnya.
Aku pejamkan mataku menahan sakit kepalaku. Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Beberapa menit kemudian aku sudah sampai didepan rumah sakit. Setelah membayar aku langsung turun dan berjalan masuk kedalam rumah sakit.
Aku berjalan menuju ruangan Dokter Nabila. Aku mengetuk pintunya. Kemudian terdengar suara Dokter Nabila memintaku masuk.
“Siang dok.” sapaku.
“Oh Nayla silakan duduk!” katanya mempersilahkan aku duduk.
Aku segera duduk dikursi depannya.
“Ada apa Nayla?” tanyanya.
“Begini dok, sejak keluar dari rumah sakit saya merasa sakit kepala dan akhir-akhir ini sakit kepala itu lebih sering muncul dan pagi tadi saya merasa penglihatan saya agak kabur, sebenarnya saya kenapa dok? Bukannya dokter waktu itu hilang saya baik-baik saja?” tanyaku.
“Sejak kapan kamu seperti ini?” tanyanya.
“Dua Minggu yang kalau dok,” kataku.
Dokter Nabila diam sejenak. “Sebaiknya kita lakukan CT Scan buat kita tahu sebenarnya kamu kenapa?” katanya.
“Baik dok, kapan kita lakukan?” tanyanya.
“Terserah kamu selama kamu sudah siap kita lakukan,” katanya.
“Saya sudah siap dok,” kataku.
“Oke kalo gitu kita lakukan sekarang,” katanya.
Aku mengangguk. Dokter Nabila membawaku menuju ruang untuk CT Scan. Dibantu oleh perawat aku mengganti pakaianku dengan pakaian khusus. Perawat juga memintaku untuk melepas semua yang aku kenakan termasuk cincinku.
Setelah itu perawat memintaku berbaring. Terdengar suara Dokter Nabila dari ruangan yang berbeda. Dia menanyakan kesiapanku aku menarik nafas sebentar lalu mengangguk. Setelah itu aku dimasukkan kedalam mesin CT Scan tersebut.
Aku sebenarnya merasa takut tapi aku mencoba menenangkan diriku. Aku hanya diam menunggu mesin itu bekerja. Mesin tersebut mengscan tubuhku satu persatu. Setalah satu jam lamanya aku didalam mesin tersebut akhirnya aku bisa keluar.
Aku kembali keruang ganti untuk mengganti pakaian yang aku kenakan dengan pakaianku. Setelah itu aku kembali menuju rumah Dokter Nabila.
“Gimana dok?” tanyaku.
“Kita akan tahu hasilnya besok semoga hasilnya seperti yang kita inginkan,” katanya.
“Amin, semoga saja dok,” kataku.
“Untuk sementara saya kasih kamu obat untuk sakit kepala kamu dulu,” katanya memberikan aku resep.
“Baik dok, kalo gitu saya permisi dulu.” kataku langsung berdiri.
“Silakan, Besok kalo hasilnya sudah keluar saya akan kabari kamu.” katanya.
“Sekali lagi terima kasih,” kataku.
“Sama-sama,” katanya.
__ADS_1
Aku segera keluar dari ruangan Dokter Nabila. Aku berjalan menuju tempat menebus obat. Setelah mendapatkan obat aku segera pulang ke rumah.