
Aku sedang duduk didalam kamar. Setelah dari taman Dokter Alam langsung mengantarku untuk pulang. Aku lirik jam yang ada didindingku sudah pukul 1 dini hari. Tapi aku masih tidak bisa untuk memejamkan mataku. Aku masih memikirkan keputusan apa yang akan aku ambil untuk hubunganku dengan Dokter Alam.
Memikirkan semua itu membuat kepalaku sedikit pusing. Aku beranjak dari tempat tidurku untuk mengambil air wudhu. Aku putuskan untuk shalat istikharah. Semoga saja setelah aku shalat aku bisa mengambil keputusan yang tepat.
Selesai shalat tak kuat aku langsung berdoa meminta petunjuk pada Allah. Aku mengangkat kedua tanganku.
“Ya Allah Ya Tuhanku , kenapa engkau memberaikan hamba cobaan sebesar ini? Ya Allah, saat ini hamba sangat bingung harus bagaimana? Sekarang ini hamba sedang sakit keras dan mungkin umur hamba tidak lama lagi, Hamba mohon petunjuk darimu ya Allah apa yang harus hamba lakukan. Apa hamba harus membatalkan pernikahan kami? Hamba sangat mencintainya hamba tidak bisa kehilangan dia tapi hamba juga tidak bisa melihatnya hidup menderita jika terus bersama dengan hamba. Hamba mohon petunjukmu ya Allah.” Doaku.
Aku menghapus air mataku. Aku lipat mukena yang aku kenakan dan menyimpannya dalam lemari. Aku kembali duduk diatas tempat tidurku. Setalah shalat pikiranku sedikit tenang aku putuskan untuk tidur karena besok aku harus menemui Dokter Alam.
Keesokan harinya.....
Aku berjalan masuk kedalam sebuah toko bunga. Penjual tersebut menyambutku dengan senyuman.
“Selamat pagi,” sapa penjual bunga itu padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Saya mau cari bunga tulip,” kataku.
“Silakan ada banyak bunga tulip disini, mau warna apa?” tanyanya.
Aku menatap bunga tulip yang ada dihadapanku. Sejujurnya aku masih bingung harus memberikan bunga warna apa pada Dokter Alam. Warna merah atau warna putih?
Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Aku harus yakin pada keputusanku dan siap menerima semua konsekuensinya.
“Saya mau tulip warna putih,” kataku.
“Tunggu sebentar,” katanya.
Beberapa menit kemudian penjual bunga tersebut datang dengan membawa buket bunga tersebut. Aku segera membayarnya dan pergi dari tempat tersebut. Aku berdiri dipinggir jalan menunggu taksi. Aku pandangi bunga yang ada ditanganku. Aku berdoa dalam hati semoga ini yang terbaik untuk semua.
Saat aku melihat sebuah taksi lewat aku langsung menghentikannya. Begitu taksi berhenti aku segera masuk kedalam dan menyebutkan alamat rumah Dokter Alam. Beberapa menit kemudian aku sampai didepan rumah Dokter Alam. Aku tidak langsung turun aku duduk didalam taksi sebentar.
Aku tarik nafasku dan aku hembuskan beberapa kali sampai aku merasa tenang.
“Pak bisa tolong tunggu saya sebentar disini?” tanyaku pada supir taksi tersebut.
“Baik mbak,” katanya.
Aku menarik nafasku lalu menghembuskannya untuk yang terakhir. Aku segera keluar dari taksi tersebut dan berjalan menuju rumah Dokter Alam. Aku berdiri didepan pintu tapi enggan untuk mengetuknya. Tiba-tiba pintunya terbuka dan Dokter Alam keluar dari dalam rumah. Dia sudah sangat rapi sepertinya dia mau berangkat kerja.
“Nayla,” katanya.
__ADS_1
Aku tersenyum padanya. “Kenapa kamu disini kok nggak ketuk pintu?” tanyanya.
“Nggak papa mas, sebenarnya ada yang aku omongin sama kamu,” kataku.
“Kalo gitu kita masuk dulu,” katanya memintaku untuk masuk.
“Nggak usah mas, disini aja aku cuma sebentar,” kataku.
“Yaudah kita duduk dulu.” Katanya memintaku untuk duduk.
Aku segera duduk dan menyembunyikan bunga yang aku bawa dibelakang punggungku.
“Kamu mau ngomong apa?” tanyanya.
“Sebenernya aku mau kasih ini ke kamu.” Kataku memberikan bunga yang aku sembunyikan tadi.
“Tulip putih? Maksudnya apa kenapa kamu kasih ini ke aku?” tanyanya.
“Mas, aku mau batalin pernikahan kita,” kataku sambil mencoba menahan air mataku.
“Kenapa? Apa aku buat salah sama kamu?” tanyanya.
“Kamu nggak salah aku yang salah, dari awal aku yang salah nggak seharusnya aku terima kamu,” kataku.
“Aku baik-baik aja,” kataku.
“Tapi kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gini?” tanyanya.
“Karena aku baru sadar kalo keputusanku selama ini salah,” kataku.
“Maksudnya?” tanyanya.
“Iya aku nyesel udah terima lamaran kamu, asal kamu tahu mas sebenarnya aku nggak pernah cinta sama kamu.” kataku berdiri membelakanginya aku tidak mau dia melihat kalo aku menangis.
“Lalu kenapa kamu terima aku?” tanyanya.
“Aku kasihan aja sama kamu. Aku pikir setelah aku terima kamu aku bisa jatuh cinta sama kamu tapi kenyataannya nggak, justru aku semakin menderita.” kataku.
Dokter Alam mendekatiku. “ Aku nggak percaya sama kamu dan ini bunga yang kamu kasih aku juga nggak butuh.” katanya membuang itu.
“Terserah kamu mau terima bunga itu apa nggak yang pasti pernikahan kita batal,” kataku.
“Kalo aku nggak mau?” tanyanya.
__ADS_1
“Itu urusan kamu mulai sekarang kita udah nggak ada hubungan lagi.” Kataku mengambil tasku hendak pergi.
Dokter Alam menahanku dia menarik tanganku. Dia memegang pundakku dan menatap tajam kearahku.
“Lepasin aku mas,” kataku meronta.
Dokter Alam mempererat pegangannya. Dia terus menatapku dengan sorot kemarahan. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini yang aku tahu Dokter Alam ada lah orang yang baik dan sabar.
“Nayla lihat mata aku!” katanya.
Aku memalingkan wajahku. “Kalo semua yang kamu bilang itu benar sekarang kamu tatap mata aku,” katanya.
Aku langsung menatap tajam matanya. Sebenarnya aku tidak bisa menatapnya seperti ini tapi aku harus bisa agar dia percaya dengan apa yang aku katakan. Dokter Alam tidak menyangka kalo aku berani menatap matanya.
“Aku akan lepasin kamu, tapi kamu harus ngomong semua yang baru saja kamu katakan didepan mata aku,” katanya.
Aku menatap tajam matanya. “Aku nggak pernah cinta sama kamu, aku nyesel udah terima kamu, aku nggak mau nikah sama kamu, dan aku nyesel ketemu sama kamu.” kataku.
Dokter Alam langsung melepaskan tangannya dariku. Dia berbalik badan membelakangiku. Aku tahu pasti kali ini harimau sangat hancur. Tapi aku melakukan semua ini demi kebaikannya.
“Aku minta maaf sama kamu,” kataku lalu pergi.
Aku langsung berlari masuk kedalam taksi. Aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi.
“Pak, jalan!” kataku pada supir tersebut.
Taksi tersebut mulai meninggalkan rumah Dokter Alam. Tapi tiba-tiba taksi itu berhenti.
“Kenapa berhenti pak?” tanyaku.
“Itu mbak ada orang didepan,” katanya.
Aku lihat Dokter Alam berdiri tepat didepan taksi tersebut.
“Nayla, kita harus ngomong!” teriaknya.
Aku buka kaca jendela dan berteriak padanya. “Mas, minggir!” teriakku.
“Aku nggak mau kita harus ngomong dulu Nay,” katanya.
Aku tutup kaca jendelanya. “ Gimana mbak?” tanya supir taksi tersebut.
“Kita puter balik aja pak,” kataku.
__ADS_1
Supir taksi itu langsung memutar balik taksinya. Saat tahu taksi itu akan pergi Dokter Alam mengejarnya. Tapi usahanya sia-sia taksi itu sudah pergi meninggalkan rumahnya.