I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 21 : Mama Ratna


__ADS_3

Aku sedang menunggu Dokter Alam. Aku sudah membereskan semua barangku. Tadi pagi Dokter Nabila mengatakan kalo kondisiku sudah benar-benar pulih. Dan hari ini aku sudah bisa pulang ke rumah.


Setelah Dokter Nabila pergi aku langsung menghubungi Kak Alex. Tapi dia bilang dia tidak bisa menjemputku karena masih ada kerjaan. Kak Alex bilang kalo dia akan minta Dokter Alam untuk menjemputku. Dan sekarang aku sedang menunggunya .


Pintu kamarku terbuka Dokter Alam langsung masuk.


“ Assalamualaikum.” Katanya.


“ Walaikumsalam.” Jawabku.


“ Gimana kabar kamu?” Tanyanya.


“ Aku baik-baik aja, mas nggak bisa lihat aku udah bisa berdiri.” Kataku langsung berdiri disebelahnya.


“ Yaudah ayo kita pulang sekarang.” Katanya.


“ Ayo.” Kataku langsung mengambil tasku.


Dokter Alam langsung merebut tasku “ Biar aku yang bawa.” Katanya.


Aku langsung menyerahkannya “ Makasih mas.” Kataku berjalan sambil menggandeng tangan Dokter Alam.


“ Nay aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Katanya.


“ Ngomong aja mas, memangnya kamu mau ngomongin soal apa?” Tanyaku.


“ Soal pernikahan kita.” Katanya.


“ Memangnya kenapa kan tinggal 3 bulan lagi?” Kataku.


“ Gimana kalo kita undur aja.” Katanya.


Nayla berhenti berjalan dia menatap Dokter Alam “ Kenapa memangnya kamu nggak mau cepet-cepet nikahin aku? Apa selama ini kamu cuma mau main-main aja?” Kataku dengan air mata yang sudah mengalir.


“ Kenapa kamu jadi nangis sih Nay?” Katanya menghapus air mataku.


“ Jawab aku mas, apa kamu selama ini cuma main-main sama aku?” Tanyaku.


“ Bukan begitu Nay.” Katanya.


“ Terus kenapa tiba-tiba kamu bilang kayak gitu?” tanyaku.


“ Aku pikir kamu kan habis keluar dari rumah sakit kamu perlu istirahat, Aku nggak mau kalo sampai kamu kenapa-kenapa cuma gara-gara acara pernikahan kita.” Katanya.


“ Beneran cuma karena itu?” tanyaku.


Dokter Alam mengangguk “ Iya.” Katanya.


“ Bukan karena kamu cuma mau mainin aku?” Tanyaku.


Dokter Alam menggeleng “ Bukan Nay aku nggak ada niat sedikit pun buat mainin kamu.” Katanya.


“ Beneran kan?” Tanyaku meyakinkan.


“ Iya Nayla.” Katanya sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya.


Aku menatap wajahnya yang sekarang lebih dekat denganku “ Aku nggak mau kalo acara pernikahan kita diundur.” Kataku.


“ Tapi kondisi kamu?” katanya.


“ Aku baik-baik aja mas kamu nggak perlu mikirin kondisi aku, aku udah sembuh.” Kataku.


“ Kita nggak perlu undur acara pernikahan kita lagian ada Bunda, Kak Alex juga Kak Sasha yang pasti mau bantuin acara pernikahan kita. Jadi jangan diundur ya mas?” Kataku.


Dokter Alam menatapku “ Aku mohon mas jangan diundur.” Kataku memohon.


Dokter Alam mengangguk “ Iya, tapi kamu harus janji kalo kamu nggak akan kecapekan.” Katanya.


“ Iya Aku janji.” Kataku.


Dokter Alam menghapus air mataku “ Udah nggak usah nangis lagi.” Katanya.


Aku mengangguk dan memeluknya “ Makasih mas.” Kataku.


Dia balas memelukku “ Makasih buat apa?” Tanyanya.

__ADS_1


“ Karena pernikahan kita nggak jadi diundur.” Kataku.


“ Iya, aku akan ngelakuin apapun biar kamu seneng.” Katanya.


“ Makasih mas.” Kataku mempererat pelukanku.


“ Iya sama-sama.” Katanya.


Dia melepas pelukanku “ Sekarang aku anter kamu pulang Bunda pasti nungguin.” Kataku.


Aku mengangguk dia menggandeng tanganku. Kami berjalan menuju tempat parkir. Saat sampai didepan mobil Dokter Alam langsung membukakan pintu untukku.


Lalu dia membuka pintu bagian belakang dan meletakan tasku disana. Dua berjalan memutar dan duduk didepan kemudi.


“ Kita jalan sekarang?” Tanyanya meminta persetujuanku.


Aku mengangguk dan Dokter Alam langsung melajukan mobilnya.


“ Mas memangnya kamu nggak ke rumah sakit kok bisa jemput aku?” tanyaku.


“ Aku ke rumah sakit nanti malam kamu tenang aja.” Katanya.


“ Kamu seharusnya istirahat aja dirumah pasti kamu capek harus jemput aku terus malamnya jaga dirumah sakit.” Kataku.


“ Nggak papa Nay aku udah terbiasa.” Katanya.


Tiba-tiba ponsel Dokter Alam berbunyi.


“ Mas, ada telepon.” Kataku.


“ Kamu angkat aja Nay aku lagi nyetir.” Katanya.


“ Beneran nggak papa aku angkat?” Tanyaku.


“ Iya angkat aja.” Katanya.


Aku langsung mengambil ponselnya “ Halo Assalamualaikum.” Kataku.


“ Dengan Dokter Alam?” Kataku seseorang yang ada di seberang.


“ Bukan saya Nayla calon istrinya.” Kataku sambil melihat kearah Dokter Alam. Dia hanya tersenyum dan terus fokus pada jalan didepan.


“ Saya dari Rumah Sakit.” Katanya.


Aku melihat kearah Dokter Alam “ Kenapa Nay?” Tanyanya.


“ Mas katanya dari rumah sakit.” Kataku.


Dokter Alam langsung menghentikan mobilnya dan meraih ponsel yang ada ditanganku.


“ Halo ini saya Alam.” Katanya.


“ Saya mau memberitahukan kalo ibu anda mengamuk lagi.” Katanya.


“ Baik saya kesana sekarang.” Katanya.


Dia langsung meletakan ponselnya dan langsung menatapku. Aku lihat raut wajahnya yang tadinya senang sekarang terlihat khawatir.


“ Gimana mas?” Tanyaku.


“ Nay kamu bisa pulang sendiri?” Tanyanya.


“ Memangnya kenapa?” tanyaku.


“ Aku harus ke rumah sakit sekarang soalnya penyakit mamaku kambuh.” Katanya.


“ Yaudah aku ikut ke rumah sakit.” Kataku.


“ Tapi Nay kamu baru keluar dari rumah sakit aku nggak mau kalo nanti kamu kenapa-kenapa.” Katanya.


“ Nggak akan terjadi apa-apa sama aku. Lagian ada kamu yang pasti jagain aku.” Kataku.


“ Tapi Nay...” Katanya menggantung.


“ Pokoknya aku mau ikut kamu ke rumah sakit.” Kataku.

__ADS_1


Dia terus menatapku “ Udah buruan mas jalan memangnya kamu mau mama kamu kenapa-kenapa?” tanyaku.


Dokter Alam langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Beberapa saat kemudian kami sampai dirumah sakit. Aku sempat melihat tulisan Rumah Sakit Jiwa Sentosa disaat kami memasuki rumah sakit. Aku masih bingung kenapa Dokter Alam kesini apa mama Ratna dirawat disini? Kenapa mama Ratna bisa dirawat disini?


Aku turun dari mobilnya dan langsung mengikutinya dari belakang. Aku berusaha menyeimbangkan langkah kakiku dengannya. Saat pertama aku masuk kedalam rumah sakit aku sempat terkejut karena. Banyak sekali pasien ruang sakit itu yang berkeliaran diluar ada yang menari-nari, tertawa, bahkan ada yang menangis. Aku merasa sedih melihat keadaan disana.


Ini pertama kalinya aku berada disini. Dokter Alam meraih tanganku dan terus berjalan menuju sebuah kamar. Saat akan masuk kedalam seorang suster keluar dari kamar itu.


“ Alam.” Kata suster tersebut.


“ Gimana keadaan mamaku?” Tanyanya.


“ Dia udah lebih tenang.” Katanya.


“ Aku boleh masuk?” tanyanya.


“ Boleh.” Katanya.


Dokter Alam langsung masuk kedalam kamar tersebut. Aku berjalan mengikutinya. Begitu masuk aku melihat seorang wanita yang rambutnya sudah mulai beruban tertidur diatas ranjang. Dokter Alam berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.


Dokter Alam menyentuh tangan wanita itu. Dia juga mencium tangannya sambil menangis. Aku berjalan mendekatinya dan merangkul pundaknya. Ini pertama kalinya aku melihat Dokter Alam menangis.


“ Mah... Ini Alam kenapa mama kayak begini terus?” Katanya sambil menangis.


Wanita yang sedang tidur itu terbangun. Wanita itu menatap wajah Dokter Alam.


“ Alam kenapa kamu nangis nak?” Tanya wanita itu.


“ Alam nggak papa mah.” Katanya sambil menghapus air matanya.


“ Kamu kesini sama siapa mana papa kamu?” tanyanya.


“ Mama harus sadar papa udah meninggal.” Katanya.


“ Nggak kamu pasti bohong sama mama papa kamu belum meninggal.” Katanya sambil mulai mengeluarkan air mata.


Dokter Alam langsung memeluknya “ Mama harus ikhlasin papa.” Katanya.


“ Nggak papa kamu belum meninggal papa kamu masih hidup.” Katanya.


“ Mama harus sadar.” Katanya.


“ Nggak.” Katanya mendorong tubuh Dokter Alam.


“ Mah mama harus tenang.” Katanya menenangkan mamanya.


“ Nggak kamu bohong sama mama papa kamu masih hidup dia nggak mungkin ninggalin kita.” Teriaknya sambil menangis dan menjambak rambutnya sendiri.


“ Mah tolong sadar aku nggak bisa liat mama kayak gini terus.” Katanya dengan nada yang agak tinggi.


“ Nggak papa masih hidup papa belum meninggal.” Katanya terus menerus.


Dokter Alam mendekati mamanya “ Mah aku mohon jangan seperti ini.” Katanya.


Mama Ratna mendorong tubuh Dokter Alam “ Nggak kamu bohong sama mama papa kamu masih hidup.” Teriaknya.


Aku yang ada disitu hanya bisa menangis melihat keadaan Mama Ratna. Aku tidak menyangka ternyata keadaannya separah ini.


Dokter Alam mencoba mendekati mamanya lagi dan langsung memeluknya “ Mah sadar mah.” Katanya.


“ Kamu bohong sama mama papa kamu belum meninggal.” Katanya berusaha melepaskan pelukan Dokter Alam sambil terus menangis.


“ Nay tolong panggilin suster.” Katanya padaku.


Aku langsung keluar kamar dan mencari suster. Saat sedang mencari aku melihat suster yang tadi keluar dar kamar mama Ratna. Aku segera berlari mendekatinya.


“ Sus tolong ibu Ratna ngamuk.” Kataku.


Suster itu langsung berlari menuju kamar mama Ratna. Aku mengikutinya dari belakang. Suster itu langsung mendekati mama Ratna .


“ Ibu Ratna harus tenang.” Katanya memegang tangan mama Ratna.


“ Kamu bohong sama mama.” Katanya mengulang kalimat itu lagi.


“ Alam kamu mending keluar dulu biar aku yang tangani.” Kata Suster itu.

__ADS_1


Dokter Alam melepas pelukannya dan berjalan mendekatiku. Dia mengajak aku keluar dari kamar mama Ratna. Aku menurut ikut keluar dari kamar . Aku masih bisa mendengar teriakan mama Ratna. Dia terus menyebut papa Dokter Alam.


Sedangkan Dokter Alam hanya bisa duduk menunggu dan menangis.


__ADS_2