
Aku dan Hanabi berjalan menuju gerbang kampus. Saat berjalan melewati tempat parkir kami tak sengaja bertemu dengan Dokter Rudi. Saat melihat aku dan Hanabi Dokter Rudi langsung mendekati kami.
“ Hanabi.” Katanya.
“ Kak Ludi.” Katanya sambil memeluknya.
“ Kamu kenapa bisa sampai disini?” tanyanya.
“ Hana ikut sama Kak Nayla.” Katanya.
Dokter Rudi langsung melihat kearahku “ Kok bisa sama kamu Nay?” tanyanya.
“ Iya Dok, soalnya tadi saya yang jemput Hana disekolah terus saya bawa aja kesini.” Kataku.
“ Oh sekarang kalian mau kemana?” tanyanya.
“ Kita mau pulang Dok.” Kataku.
“ Kalo gitu saya anter.” Katanya.
“ Nggak usah Sok biar kita naik taksi aja.” Kataku.
“ Nggak papa kalian pulang ke rumah Alam kan?” tanyanya.
Aku mengangguk “ Kalo gitu berarti kita searah mending saya anter sekalian.” Katanya.
“ Yaudah deh.” Kataku.
Dokter Rudi berjongkok didepan Hanabi “ Hana pulangnya kakak anter ya?” tanyanya.
Dia melihat kearahku “ Telus Kak Nayla gimana?” Tanyanya.
“ Kak Nayla juga ikut kita.” Katanya.
Hanabi mengangguk dan langsung berlari menuju mobil Dokter Rudi. Sepertinya dia sudah tahu mobil Dokter Rudi yang mana.
“ Hana jangan lari nanti kamu jatuh.” Kataku.
Dia berhenti sambil melambaikan tangan kepadaku “ Sini kak cepetan.” Katanya.
Aku langsung berjalan menyusulnya dan Dokter Rudi berjalan dibelakang ku. Tiba-tiba ponselnya berdering.
“ Nay kamu susul Hanabi dulu saya mau angkat telepon dulu.” Katanya.
Aku mengangguk dan langsung berjalan menuju Hanabi. Tiba-tiba sebuah motor dari belakang melaju dengan kencang kearah Hanabi. Sontak aku langsung berlari menuju kearahnya. Saat aku sampai didekatnya aku langsung mendorongnya.
Tiba-tiba Bukkk!!!
Motor itu mengenai tubuhku aku langsung jatuh tersungkur diatas tanah. Dokter Rudi yang melihatku terjatuh langsung menghampiriku. Begitu pun beberapa mahasiswa yang ada disitu langsung mengerumuniku.
“ Nay kamu nggak papa kan?” tanyanya.
Aku hanya memegang kepalaku yang sakit “ Kenapa Nay mana yang sakit?” Tanyanya.
Hanabi yang terjatuh langsung bangun mendekatiku.
“ Kak Nayla kenapa?” Katanya sambil menangis.
“ Kakak nggak papa.” Kataku dengan suara pelan aku pegang kepalaku yang semakin sakit. Saat aku lihat tanganku sudah ada darah dan itu membuat Hanabi semakin menangis.
“ Kak Nayla kenapa?” tanyanya lagi sambil terus menangis.
“ Kakak nggak papa sayang.” Kataku mencoba menenangkannya sambil menahan sakit di kepalaku.
“ Kita harus ke rumah sakit. Kalian tolong bantu bawa Nayla ke mobil saya.” Kata Dokter Rudi pada beberapa mahasiswa.
Mereka segera mengangkat tubuhku. Dokter Rudi menggandeng Hanabi berjalan menuju mobilnya. Begitu aku dan Hanabi masuk Dokter Rudi langsung masuk. Dengan kecepatan tinggi Dokter Rudi melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang letaknya tak jauh dari kampus.
__ADS_1
Aku didalam mobil masih menahan rasa sakit yang ada di kepalaku. Sedangkan Hanabi yang duduk didepan masih menangis melihat keadaanku.
“ Kamu tahan ya Nay bentar lagi sampai.” Katanya.
Aku masih menahan sakit di kepalaku dan darah yang keluar semakin lama semakin banyak. Beberapa menit kemudian mobil berhenti. Dokter Rudi langsung membuka pintu belakang dan langsung menggendongku.
Beberapa petugas medis langsung keluar untuk membantu Dokter Rudi. Dokter Rudi meletakanku diatas brankar dan mereka langsung membawaku kedalam ruang UGD. Diluar Dokter Rudi masih terus berusaha menenangkan Hanabi yang sejak tadi menangis.
“ Hana jangan nangis terus kakak Nayla pasti baik-baik aja.” Katanya.
Hanabi masih terus menangis Dokter Rudi memeluknya. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya mencoba menghubungi Dokter Alam.
Drrrt.... Drrrt... Drrrt...
Teleponnya masih tidak diangkat Dokter Rudi terus mencoba menghubunginya.
Drrrt.... Drrrt.... Drrrt....
Dia masih belum menjawabnya “ Lo lagi ngapain sih Lam? Kenapa Lo nggak angkat telepon gue?” Katanya pada diri sendiri.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Masih terdengar suara nada dering ponsel Dokter Alam. Setelah menunggu Akhirnya tersebar suara Dokter Alam dar seberang telepon.
“ Halo Assalamualaikum Rud.” Katanya.
“ Walaikumsalam Lo lagi ngapain sih Lam lama banget angkatnya?” tanyanya.
“ Gue abis operasi ponselnya gue tinggal di ruangan gue. Memangnya kenapa?” tanyanya.
“ Lo harus kerumah sakit sekarang.” Katanya.
“ Memangnya siapa yang sakit?” tanyanya.
“ Nayla kecelakaan Lam.” Katanya.
“ Gue share location.” Katanya.
“ Oke.” Katanya.
Setelah menerima pesan dari Dokter Rudi Dokter Alam langsung mengambil kunci mobilnya. Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju tempat parkir. Begitu sampai mobil dia langsung masuk dan melajukan mobilnya menuju jalan raya dengan kecepatan tinggi.
Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Alex.
“ Halo Assalamualaikum Lex.” Katanya.
“ Walaikumsalam.” Katanya.
“ Lo harus ke rumah sakit sekarang Nayla kecelakaan.” Katanya.
“ Apa? Lo sekarang dimana?” tanyanya.
“ Gue lagi perjalanan ke rumah sakit tadi Rudi yang ngabarin gue.” Katanya.
“ Yaudah sekarang Lo kasih gue dirumah sakit mana?” Katanya.
“ Rumah sakit pelita.” Katanya.
“ Oke gue kesana.” Katanya.
“ Oke.” Katanya menutup telepon.
Dia kembali fokus ke depan dan menambah kecepatannya. 30 menit kemudian dia sampai didepan rumah sakit. Setelah memarkir mobilnya dia langsung masuk kedalam. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah sakit mencari seseorang.
Dia melihat Rudi yang sedang memeluk Hanabi didepan ruang UGD. Dokter Alam langsung berlari kearah mereka.
“ Dimana Nayla?” tanyanya.
__ADS_1
Dengan bersamaan mereka melihat kearah Dokter Alam dan Hanabi langsung memeluknya.
“ Kakak.” Katanya.
Dokter Alam mengelus pundak Hanabi mencoba menenangkan.
“ Nayla lagi didalam masih ditangani Dokter.” Kata Dokter Rudi.
“ Kakak, Kak Nayla ?” tanyanya dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.
“ Kamu tenang aja Kak Nayla pasti baik-baik saja. Percaya sama Kakak.” Kata Dokter Alam sambil mempererat pelukannya.
Dokter Alam mengajak Hanabi untuk duduk. Tiba-tiba Alex dan Bunda datang dengan wajah yang sangat khawatir.
“ Gimana keadaannya Nayla?” tanya Kak Alex.
“ Lagi ditangani Dokter.” Kata Dokter Rudi.
Bunda duduk disebelah Hanabi “ Kenapa Nayla bisa seperti ini?” tanya Bunda.
“ Ini semua kalna Kak Nayla tolongin Hana.” Kata Hanabi.
“ Iya, Nayla mau nolongin Hanabi yang mau ketabrak motor tapi malah Nayla yang ketabrak .” kata Dokter Rudi.
“ Ya Allah kamu nggak papa kan?” tanya Bunda pada Hanabi.
Dia menggelengkan kepala “ Tapi Kak Nayla.” katanya.
“ Nggak papa sayang Kak Nayla pasti baik-baik saja.” Kata Bunda sambil memeluk Hanabi.
Ruang UGD terbuka seorang wanita sekitar berusia 25 tahun keluar dia mengenakan jas Dokter dengan name tag dijas sebelah kanannya bertuliskan Dokter Nabila. Dia adalah Dokter menangani Nayla. Semua langsung berdiri mendekati Dokter itu.
“ Gimana keadaan Nayla dok?” tanya Dokter Alam.
“ Apa ada keluarganya?” tanyanya.
“ Saya kakaknya dok.” Kata Kak Alex.
“ Saya ibunya.” Kata Bunda mendekat pada dokter.
“ Silahkan ikut saya.” Katanya.
Alex dan Bunda berjalan mengikuti Dokter keruangannya. Bunda dan Alex segera duduk.
“ Gimana dok?” tanya Kak Alex.
“ Nayla kehilangan banyak darah dia butuh transfusi darah. Apa ada diantara kalian yang punya golongan darah A rhesus negatif ?” Katanya.
“ A Rhesus negatif?” tanya Kak Alex.
“ Iya, apa ada diantara kalian yang punya golongan darah yang sama dengan Nayla?” tanyanya.
Alex dan Bunda saling pandang karena golongan darah Bunda dan Alex golongan darah mereka B. Golongan yang sama dengan Nayla itu Ayah sedangkan Ayah sudah lama meninggal.
“ Nggak ada dok cuma Ayah saya yang golongan darahnya Sam dengan Nayla tapi ayah saya sudah meninggal.” Kata Kak Alex.
“ Apa ada keluarga yang lain?” tanyanya.
“ Nggak ada dok, Apa disini nggak ada stok darahnya dok?” Kata Kak Alex.
“ Untuk saat ini tidak ada kami juga sudah berusaha mencari ke rumah sakit lain tapi belum ada.” Katanya.
“ Alex gimana adik kamu?” kata Bunda yang mulai menangis.
“ Bunda tenang kita bisa dapet pendonorannya.” Kata Kak Alex menenangkan.
“ Baik dok kami akan berusaha buat dapet pendonorannya.” Kata Kak Alex.
__ADS_1
Kak Alex menggandeng Bunda keluar dari ruang Dokter Nabila. Bunda berjalan pelan sambil dituntun Kak Alex dia merasa pusing pada kepalanya. Dia terus memikirkan keadaan Nayla.