
Dokter Alam segera menelepon Kak Alex. Dia ingin memberitahukan kalo Nayla sudah mau untuk melakukan operasi. Dia merasa sangat senang itu artinya dia masih ada kesempatan untuk bersama dengan Nayla.
“Halo Lex,” kata Dokter Alam.
“Iya Lam, ada apa?” tanya Kak Alex.
“Gue mau kasih kabar gembira,” kata Dokter Alam terlihat senang.
“Gue udah tahu Nayla mau operasikan?” tebak Kak Alex.
“Lo tahu darimana?” tanya Dokter Alam.
“Gue udah lihat semua dirumah sakit tadi,” kata Kak Alex.
Dokter Alam tampak terkejut berarti saat mereka sedang bercanda tadi Alex melihatnya. Dia merasa malu atas tingkahnya itu. Dokter Alam sampai melamun memikirkan itu.
“Halo Lam, Kok Lo diem aja sih?” tanya Kak Alex.
“Eh iya Sorry Lex,” kata Dokter Alam.
“Makasih Lam,” kata Kak Alex.
“Makasih buat apa?” tanya Dokter Alam.
“Makasih karena Lo selalu ada buat Nayla,” kata Kak Alex.
“Gue seneng kok ngelakuin itu,” kata Dokter Alam.
“Yaudah Lam, gue tutup dulu teleponnya soalnya lagi nyetir nih,” kata Kak Alex.
“Memangnya Lo mau kemana?” tanya Dokter Alam.
“Gue mau anter Bunda pulang dulu ntar sore baru kita kesana,” kata Kak Alex.
“Oke hati-hati,” kata Dokter Alam.
Dokter Alam kembali masuk kedalam kamar Nayla. Disana sudah ada Dokter Nabila yang memeriksa Nayla
.
“Nayla besok kamu sudah bisa operasi,” kata Dokter Nabila.
Nayla dan Dokter Alam tersenyum senang. “Makasih Dok.”
“Keputusan yang bagus Nayla,” kata Dokter Nabila.
Nayla hanya tersenyum mendengar ucapan Dokter Nabila. Setelah selesai memeriksa dia keluar dari kamar Nayla. Dokter Alam duduk disebelah ranjang Nayla.
“Kamu udah kasih tahu Kak Alex?” tanya Nayla.
“Udah, dia kesini nanti sore,” kata Dokter Alam.
“Oh,” kata Nayla.
“Nayla kamu mau nikah sama aku?” tanya Dokter Alam.
Nayla hanya diam tak menjawab. “Kita lupain semua yang terjadi kemarin dan mulai lagi semua dari awal,” kata Dokter Alam.
“Tapi-” kata Nayla menggantung.
“Lagian aku juga tahu semua yang kamu katakan kemarin itu cuma bohong,” kata Dokter Alam.
“Darimana kamu tahu aku bohong apa nggak?” tanya Nayla.
“Yah aku tahu buktinya kamu masih pake cincin dari aku.” Kata Dokter Alam tersenyum.
__ADS_1
Nayla menatap cincin yang masih melingkar dijari manisnya. Dia baru menyadari kalo ternyata dia masih mengenakan cincin itu.
“Aku bisa lepas sekarang.” Kata Nayla hendak melepas cincinnya.
Dokter Alam mencegahnya. “Jangan dilepas! Aku mau lihat kamu terus pakai cincin itu. Jadi tolong jangan pernah kamu lepas cincin itu,”
Nayla menganggukkan kepala. “Aku janji nggak akan lepas cincin ini”
“Makasih Nayla.” kata Dokter Alam memeluk Nayla.
Tiba-tiba pintu terbuka mereka berdua segera melepas pelukannya. Dari balik pintu muncul Neta dan Dokter Rudi. Mereka berjalan mendekatiku.
“Gimana keadaan Lo?” tanya Neta.
“Gue baik-baik aja,” kata Nayla.
“Syukur deh kalo gitu gue seneng lihatnya,” kata Neta.
“Iya, Tumben Lo kesini?” tanya Nayla.
“Memangnya nggak boleh?” kata Neta.
“Boleh sih, tapi itu Lo bawa apa?” tanya Nayla melihat kearah kantung plastik yang dibawa Dokter Rudi.
Dokter Rudi langsung memberikan plastik itu pada Nayla. “Ini buat kamu.”
Nayla langsung menerima plastik itu saat melihat isinya dia tersenyum senang. “Apel?”
“Lo suka kan?” tanya Neta.
“Lo tahu aja apa yang gue suka,” kata Nayla.
“Iya dong,” kata Neta.
“Sini gue peluk!” kata Nayla langsung menarik tubuh Neta.
“Gue makan ya apelnya?” tanya Nayla.
“Makan aja kan itu buat Lo,” kata Neta.
Saat Nayla mau memakannya Dokter Alam merebutnya. “ Kamu nggak boleh makan!”
“Memangnya kenapa?” tanya Nayla.
“Kamu lupa ya besok kamu operasi jadi nggak boleh makan,” kata Dokter Alam.
“Lo mau operasi Nay?” tanya Neta.
“Iya, doain gue ya semoga besok lancar,” kata Nayla.
“Gue pasti doain Lo,” kata Neta.
“Neta gue mau cerita sesuatu,” kata Nayla.
Neta mendekatkan tubuhnya ke Nayla. Saat akan bicara Nayla sadar kalo disitu masih ada Dokter Alam dan Dokter Rudi yang sedang memperhatikan.
“Mas, kamu bisa keluar sebentar nggak aku mau ngomong sama Neta?” kata Nayla.
“Ngomong aja aku nggak akan nguping kok.” kata Dokter Alam.
“Yah nggak bisa dong mas, ini masalah perempuan mami nggak boleh tahu,” kata Nayla.
“Oke aku keluar.” kata Dokter Alam berjalan keluar dengan wajah cemberut.
Nayla menarik tangannya. “Kamu marah?”
__ADS_1
“Nggaklah masak Cuma kayak gitu marah,” kata Dokter Alam.
Aku tersenyum senang. “Dokter juga keluar ya!” kata Nayla.
“Saya juga harus keluar?” tanya Dokter Rudi.
“Iya, maaf Dok.” Kata Nayla.
“Oke saya keluar, Ayo Lam! Kita berdua nggak dibutuhin lagi,” kata Dokter Rudi.
Neta langsung melotot kearahnya. “Kamu ngomong apaan sih?” kata Neta kesal.
“Aku cuma bercanda.” kata Dokter Rudi tersenyum.
Mereka berdua berjalan keluar kamar setelah menutup pintu aku langsung meminta Neta untuk duduk di sebelahku.
“Lo mau ngomong apa sih Nay?” tanya Neta.
“Gue mau kasih tahu Lo kabar gembira,” kata Nayla.
“Kabar gembira apa Lo mau operasi? Itukan tadi gue udah tahu,” kata Neta.
“Bukan itu,” kata Nayla.
“Terus?” kata Neta.
“Tadi Dokter Alam ngelamar gue lagi,” kata Nayla.
“Ngelamar Lo lagi?” tanya Neta tidak percaya.
“Iya,” kata Nayla tersenyum senang.
“Selamat deh kalo gitu,” kata Neta.
“Makasih Net semoga aja nggak ada masalah lagi,” kata Nayla.
“Sebenarnya tuh nggak ada masalah Lo aja yang cari masalah,” kata Neta.
“Kok gitu?” tanya Nayla.
“Iyalah, kalo dari awal Lo cerita soal ini kesemua orang Lo nggak akan dimarahin Kak Alex, Lo juga nggak akan pernah putus dari Dokter Alam,” kata Neta.
“Iya juga sih tapi ya sudahlah yang semua sudah terjadi, yang penting sekarang gue udah kembali lagi dengan Dokter Alam,” kata Nayla.
“Terserah Lo gue seneng kalo Lo juga seneng,” kata Neta.
“Makasih Net.” kata Nayla memeluknya dan Neta balas memeluknya.
Dokter Alam dan Dokter Rudi yang mengintip dibalik pintu tersenyum melihat mereka berdua. Dokter Rudi menutup pintunya pelan agar tidak ketahuan. Dia duduk di bangku depan kamar Nayla.
“Gue bingung kenapa kita bisa jatuh cinta sama mereka berdua ya?” tanya Dokter Rudi tersenyum.
Dokter Alam tertawa kecil. “Gue juga nggak tahu tiba-tiba aja perasaan itu dateng.”
“Lo beruntung Lam bisa dapetin Nayla. Dia itu cantik, baik, lemah lembut.” Kata Dokter Rudi memuji Nayla.
Dokter Alam kembali tersenyum. “Lo juga beruntung dapet Neta dia juga baik, cantik juga.”
“Tapi ada satu kelemahannya dia itu suka teriak-teriak sampai kendang telinga gue rasanya mau pecah,” kata Dokter Rudi.
Mereka berdua tertawa. “Tapi biar bagaimanapun gue tetep cinta sama dia,” kata Dokter Rudi.
Dokter Alam berdiri. “Ayo! Kekantin gue traktir makan Lo belum makan kan?” tanya Dokter Alam.
“Tahu aja Lo kalo gue belum makan.” kata Dokter Rudi tersenyum.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju kantin.