I LOVE YOU BECAUSE ALLAH

I LOVE YOU BECAUSE ALLAH
BAB 23 : Kesalahpahaman


__ADS_3

Aku berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Bunda dan Kak Alex sudah ada disana. Mereka sedang menikmati makanan mereka masing-masing. Aku berjalan mendekati mereka dan langsung duduk ditempatku.


“ Dek, kamu kok kesini biar kakak aja yang bawa makanan kamu ke kamar.” Kata Kak Alex.


“ Nggak papa kak, aku udah sehat kok aku makan disini aja.” Kataku.


“ Nayla kamu beneran udah sehat?” Tanya bunda.


“ Iya Bun, Nayla udah sehat kok.” Kataku.


Aku mengambil makananku dan segera menyantapnya.


“ Kak, nanti kalo kakak mau berangkat kerja aku bareng ya?” tanyaku.


“ Memangnya kamu mau kemana?” tanyanya sambil menyiapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya.


“ Aku mau ke rumah Dokter Alam.” Kataku.


“ Tapi kamu kan masih sakit dek.” Katanya.


“ Kan tadi aku udah bilang kalo aku itu udah sehat kak.” Kataku.


“ Tapi Dokter Nabila bilang kamu harus istirahat dirumah.” Katanya.


“ Aku bosen kalo dirumah terus kak, aku mau main sama Hanabi.” Kataku.


“ Kalo gitu Hana aja yang diajak kesini.” Kata Bunda.


“ Iya kakak juga setuju biar nanti kakak yang telepon Alam.” Kata Kak Alex.


“ Nggak mau kak aku mau kesana.” Kataku.


“ Memangnya kenapa kan sama aja mau kamu yang kesana atau Hana yang kesini.” Katanya.


“ Yah jelas bedalah kak.” Kataku.


“ Beda apanya?” tanyanya.


“ Yah beda kalo disini kan rumah kita kalo disana rumah Dokter Alam.” Jawabku.


“ Pinter banget kamu jawabnya.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku.


“ Iya dong, boleh kan?” Tanyaku.


“ Coba tanya bunda.” Katanya.


Aku beralih pada Bunda “ Boleh kan Bun sekali ini aja.” Kataku memohon.


Bunda menganggukkan kepala “ Yes! Makasih Bunda.” Kataku.


“ Yaudah sana siap-siap dulu kakak habis ini mau berangkat.” Katanya.


Aku langsung bergegas menuju kamar tapi saat menaiki tangga Kak Alex memanggilku.


“ Dek, jangan lama-lama kalo lama kakak tinggal.” Katanya.


“ Iya.” Jawabku.


Aku langsung berlari menuju kamar. Aku segera berganti pakaian. Setelah itu aku memoles sedikit wajahku dengan make up.


Aku berlari menuju rak sepatu aku mengambil sneakersku dan segera mengenakannya.


15 menit kemudian aku sudah selesai bersiap-siap. Aku segera menuju kamar Kak Alex. Aku mengetuk pintunya tak berapa lama pintu terbuka. Kak Alex sudah rapi dengan pakaiannya.


“ Kamu cantik banget dek.” Pujinya.


“ Iya dong memang aku cantik kakak aja yang nggak pernah nyadar.” Kataku sambil mengibaskan rambutku.


“ Yaudah ayo berangkat.” Katanya.


Aku mengangguk kami berjalan beriringan. Kami berjalan menuruni tangga. Saat kami melewati ruang tenaga ternyata Bunda sedang ada disana. Seperti biasa Bunda sedang menonton sinetron kesukaannya.


Kami berdua berjalan mendekatinya “ Bunda, Alex berangkat dulu.” Katanya sambil menyalami Bunda.


“ Nay juga pamit Bun.” Kataku juga menyalami tangannya.


“ Hati-hati.” Katanya.


“ Iya Bun, Assalamualaikum.” Kataku.


“ Walaikumsalam.” Jawab Bunda.


Kami berjalan menuju mobil Kak Alex. Begitu sampai didepan mobil aku langsung masuk kedalam. Aku duduk di bagian belakang.


“ Dek, kamu kok duduk dibelakang sih?” Tanya Kak Alex.


“ Yah nggak papa aku lagi pingin duduk belakang.” Kataku.


“ Nggak kamu duduk depan kamu kira kakak supir kamu.” Katanya.


“ Tapi kan kak kalo dibelakang aku bisa tiduran.” Kataku membuat alasan.


“ Kalo kamu mau tidur nggak usah ke rumah Alam tidur dirumah aja.” Katanya.


“ Iya iya aku pindah depan.” Kataku dengan nada kesal.


Aku langsung pindah ke depan tanpa membuka pintu. Yah aku langsung melangah ke depan tapi Kak Alex langsung memukul kakiku.


“ Dek, kamu itu cewek kok kayak gitu kelakuannya?” marahnya.


“ Kan biar cepet kak.” Kataku.


“ Nggak keluar dulu.” Katanya.


“ Iya.” Kataku langsung membuka pintu dan berpindah ke depan.


“ Udah sekarang kita berangkat.” Katanya.


Kak Alex langsung melajukan mobilnya menuju rumah Dokter Alam. Beberapa menit kemudian kami sudah sampai didepan ruang Dokter Alam. Sebelum aku turun aku merapikan dulu dandananku. Aku ingin terlihat cantik didepan Dokter Alam.


Aku mengambil lipstik yang ada didalam tasku. Aku oleskan sedikit ke bibirku. Kaka Alex yang ada disampingku hanya melihat sambil geleng-geleng. Setelah selesai berdandan aku masukan kembali kedalam tas. Dan merapikan sedikit rambutku.


“ Gimana Kak, cantik kan?” Tanyaku.


“ Iya cantik, Kamu itu sebenernya mau ketemu Hana atau mau ketemu Alam?” Tanyanya.


“ Yah keduanya kan mereka serumah.” Kataku.


“ Dasar nakal.” Katanya mengacak-acak rambutku.


“ Ih Kakak berantakan lagi.” Kataku merapikan rambutku lagi.


“ Yaudah aku turun dulu kakak hati-hati nyetirnya.” Kataku.


“ Iya.” Jawabnya.


“ Assalamualaikum.” Kataku.


“ Walaikumsalam.” Jawabnya.

__ADS_1


Setelah aku menutup pintu mobil Kak Alex langsung meninggalkan rumah Dokter Alam. Aku segera masuk kedalam tapi aku melihat sebuah mobil terparkir didepannya. Aku segera masuk kedalam.


Aku mengetuk pintu tak berapa lama pintunya terbuka. Seorang wanita 40 tahunan berdiri didepan pintu. Dia tersenyum padaku aku membalas tersenyum padanya. Pasti dia Bi Suci yang diceritakan Dokter Alam.


“ Assalamualaikum.” Kataku.


“ Walaikumsalam.” Jawabnya.


“ Dokter Alamnya ada?” Tanyaku.


“ Ada, mbak ini siapa?” Tanyanya.


Aku tersenyum pasti Bi Suci “ Saya Nayla Bi calon istrinya Dokter Alam.” Kataku.


Bu Suci tampak terkejut mendengar aku mengatakan hal tersebut.


“ Maaf non silakan masuk.” Katanya.


“ Iya nggak papa Bi.” Kataku.


Aku langsung masuk dan Bi Suci langsung menutup pintunya kembali.


“ Mari non ikut saya.” Katanya.


Aku berjalan mengikutinya lalu aku teringat pada mobil yang ada didepan. Karena seingatku itu bukan mobil Dokter Alam. Aku mencoba menanyakan pada Bi Suci.


“ Bi, mobil yang didepan itu punya siapa?” Tanyaku.


“ Itu mobil temen den Alam non.” Katanya.


“ Oh Dokter Alam lagi ada tamu?” Tanyaku.


“ Iya.” Katanya.


Kami sampai diruang tamu tapi tidak ada siapa pun. Katanya ada ramai tapi kok ruang tamunya sepi sih. Memangnya mereka mengobrol dimana? Aku jadi penasaran siapa sebenarnya tamu tersebut.


“ Silakan duduk dulu non biar saya panggilkan Dokter Alam.” Katanya.


“ Iya Bi.” Kataku.


Bi Suci berjalan menaiki tangga. Aku berpikir apa Dokter Alam sama temanya ngobrol dikamar ya kok bibi sampai harus ke atas? Tak berapa lama Bu Suci datang lagi.


“ Den Alam bilang non diminta nunggu sebentar.” Katanya.


“ Iya Bi.” Kataku.


“ Non mau minum apa?” Tanyanya.


“ Nggak usah Bi nanti saya ambil sendiri aja.” Kataku.


“ Kalo gitu bibi pamit ke belakang lagi non.” Katanya.


“ Iya Bi.” Kataku.


Aku melihat sekeliling sangat sepi. Aku juga tidak melihat Hanabi. Biasanya dia Suak berkeliaran didalam rumah. Aku menunggu Dokter Alam cukup lama. Aku mengisi kebosananku dengan bermain game di ponselku.


Beberapa menit kemudian Dokter Alam berjalan menuruni tangga bersama seseorang perempuan. Aku terus mengamati siapa perempuan itu sepertinya aku pernah melihatnya.


Saat mereka sudah hampir dekat denganku aku baru menyadari kalo perempuan itu adalah Suster yang ada dirumah sakit kemarin. Aku dari tadi perhatikan mereka sepertinya sudah sangat dekat. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua?


Dokter Alam berjalan mendekatiku “ Nay maaf nunggu lama.” Katanya.


“ Nggak apa mas.” Kataku.


Aku melirik kearah Suster tersebut dia tersenyum padaku aku membalas senyumnya dengan senyum yang dipaksakan.


“ Oh iya Nay kamu ingat kan ini Suster yang merawat mamaku?” tanyanya.


“ Rin, Kenalin ini Nayla.” Katanya.


Suster itu mengulurkan tangannya padaku “ Rini.” Katanya.


Aku menyambut uluran tangannya “ Nayla.” Katanya.


“ Yaudah Lam aku pulang duluan ya?” pamitnya pada Dokter Alam.


“ Iya Rin, aku anter kamu sampai depan ya?.” Kata Dokter Alam.


Suster Rini mengangguk “ Nay aku anter Rini dulu.” Kata Dokter Alam padaku.


Aku mengangguk dan mereka langsung pergi meninggalkan aku. Tak berapa lama Dokter Alam kembali menuju ruang tamu. Aku duduk disana dengan memasang wajah cemberut. Aku tidak suka dengan keakraban Dokter Alam dengan Suster Rini.


Dokter Alam langsung duduk di sebelahku “ Kamu kenapa Nay kok wajah kamu cemberut gitu?” tanyanya.


“ Nggak papa.” Jawabku.


“ Yaudah kalo gitu.” Katanya.


Aku tambah merasa kesal padanya. Kenapa sih dia tidak peka sama sekali? Seharusnya kalo ada cewek yang lagi ngambek itu harusnya dibuku bukanya dibiarin kayak gini. Aku putuskan untuk mengambil minum didapur.


Aku memang sudah biasa mengambil minum sendiri dirumah Dokter Alam. Yah secara kan aku calon istrinya dan itu berarti rumah ini juga akan jadi rumahku. Aku berjalan menuju dapur Dokter Alam yang merasa ada sesuatu langsung menyusuiku ke dapur.


Saat didapur aku tak melihat Bi Suci disana. Mungkin Bi Suci ada dikamarnya. Aku membuka kulkas aku mengambil segelas air putih dan langsung meneguknya dengan sekali tegukan. Setelah gelasku kosong aku kembali menuangnya lagi.


Dokter Alam berjalan mendekatiku “ Kamu kenapa sih Nay nggak biasanya kamu kayak gini?” tanyanya.


“ Nggak papa.” Kataku kembali meneguk minumanku.


“ Kamu kalo ada apa-apa cerita jangan kayak gini.” Katanya.


“ Ngapain dia kesini?” tanyaku.


“ Dia siapa?” tanyanya bingung.


“ Nggak usah pura-pura deh mas.” Kataku.


“ Pura-pura gimana sih Nay?” tanyanya semakin bingung.


“ Ngapain Suster Rini kesini?” tanyaku dengan nada yang sedikit tinggi.


“ Dia kesini mau kasih tahu soal keadaan mama.” Katanya.


“ Terus tadi kalian ngobrol dimana?” tanyaku.


“ Kita ngobrol diraung perpustakaan aku.” Katanya.


“ Kenapa nggak ngobrol diruang tamu aja? Atau jangan-jangan kalian ada hubungan ya?” Tanyaku.


“ Kita ngobrol disana biar nggak kedengaran Hana aku nggak mau kalo dia sedih denger keadaan mama sebenarnya.” Katanya.


“ Kalo soal aku sama Rini kita berdua memang ada hubungan.” Katanya.


Hatiku terasa sakit saat mendengar apa yang dikatakan Dokter Alam. Gimana dia bisa dengan gampangnya bicara seperti itu padaku. Padahal aku ini calon istrinya kenapa dia tega sekali padaku.


“ Sudah berapa lama kamu sama dia?” tanyaku.


“ Yah udah lumayan lama dari kuliah dulu.” Katanya.


Bahkan mereka berdua sudah bersama saat kuliah. Lalu kenapa Dokter Alam melamarku kalo ternyata dia sudah ada Suster Rini. Aku sudah tidak bisa menahan lagi aku harus memperjelas apa maksud semua ini.

__ADS_1


Aku langsung meneguk gelas ketigaku “ Kok kamu gampang banget sih mas ngomong kayak gitu?” tanyaku yang bertambah kesal.


“ Memangnya apa salah aku?” Tanyanya tak merasa bersalah.


“ Kamu tega banget sih mas sama aku kita itu udah mau nikah mas, sekarang dengan gampangnya kamu bilang kamu punya hubungan sama tuh Suster.” Kataku yang sudah hampir menangis.


“ Memangnya apa yang salah kita berdua memang sudah berteman saat kami kuliah.” Katanya.


“ Apa teman?” kataku terkejut jadi dari tadi yang Dokter Alam maksud hubungan itu hubungan pertemanan. Aku memukul-mukul kepalaku. Kenapa aku bisa berpikiran sebodoh ini?


“ Kamu kenapa Nay kepala kamu sakit?” Tanyanya.


“ Nggak, nggak papa mas.” Kataku.


“ Beneran kamu nggak papa?” tanyanya.


“ Iya.” Kataku.


Dokter Alam membawaku untuk duduk diruang makan. Aku segera duduk dan Dokter Alam langsung duduk disampingku.


“ Mas, Beneran kamu nggak punya hubungan apa-apa selain teman sama Suster Rini?” tanyaku lagi.


“ Iya, memangnya kamu pikir aku punya hubungan apa sama dia?” tanyanya.


“ Hemm...” kataku berpura-pura sedang berpikir.


“ Atau jangan-jangan kamu pikir aku sama Rini...?” katanya menggantung.


Aku langsung menggelengkan kepala “ Nggak aku nggak mikir apa-apa.” Kataku mengelak.


“ Oh jadi ini penyebab kamu marah-marah nggak jelas tadi? Kamu cemburu ya?” tanyanya.


“ Nggak aku nggak cemburu kok.” Kataku menyembunyikan wajahku yang mulai memerah.


“ Beneran nggak cemburu.” Katanya sambil mencubit pipiku.


“ Nggak siapa juga yang cemburu.” Kataku mengelak.


“ Terus kalo nggak cemburu kok wajahnya merah gitu.” Katanya kembali menggodaku.


“ Siapa yang merah nggak wajahku nggak merah kok.” Kataku.


Aku mencoba mengalihkan perhatiannya supaya dia tidak membahas soal itu lagi. Aku meraih buah apel yang ada dimeja makan tapi Dokter Alam langsung merebutnya.


“ Kamu jawab dulu kamu cemburu kan?” tanyanya lagi.


“ Nggak aku nggak cemburu.” Kataku sambil berusaha mengambil apel yang ada ditangannya.


“ Kamu jawab dulu habis itu kamu boleh makan apel ini.” Katanya.


“ Aku nggak cemburu mas, Sini apelnya!” kataku kembali berusaha meraih apel itu tapi gagal lagi. Aku benar-benar ingin makan apel itu. Aku tidak bisa mengambilnya lagi karena tinggal ada satu apel yang ada dimeja.


“ Kalo kamu nggak jujur aku makan apelnya.” Ancamnya membuka mulutnya bersiap memakan apel tersebut.


Aku langsung menghentikannya “ Iya aku ngaku aku cemburu, puas?” kataku mengalah aku sama sekali tidak rela jika buah apel tersebut dimakan oleh Dokter Alam.


Dokter Alam tersenyum menang “Udah mana apelnya.” Kataku.


“ Kenapa kamu cemburu?” tanyanya.


“ Yah aku lihat kalian kayaknya deket banget memangnya aku salah kalo aku cemburu?” tanyaku.


“ Nggak, kamu nggak salah aku justru seneng liat kamu cemburu kayak gitu itu berarti kamu sayang sama aku.” Katanya.


“ Udah mana apelnya.” Kataku meminta apel itu tapi Dokter Alam tidak memberikannya.


“ Tapi aku lebih seneng lagi kalo kamu bisa percaya sama aku kalo aku nggak akan pernah duain kamu apa lagi ninggalin kamu.” Katanya.


“ Yah aku tahu mana berani kamu ngelakuin itu ke aku.” Kataku.


“ Tuh kamu tahu jadi bisa kan kamu percaya sama aku?” tanyanya.


“ Iya aku percaya, udah mana apelnya mas.” Kataku berusaha mengambil apel tersebut.


“ Kok nggak serius gitu ngomongnya? Kalo gitu aku makan aja apelnya.” Katanya aku langsung menahannya.


Aku menarik nafas sebentar “ Iya aku percaya sama kamu masku sayang.” Kataku sambil tersenyum.


“ Gitu dong.” Katanya.


“ Udah mana apelnya.” Kataku.


Dia mengulurkan apel tersebut saat aku akan mengambilnya Dokter Alam langsung menggigit apel tersebut. Aku langsung memukulnya aku sudah sangat menginginkan apel itu tapi dia malah memakannya.


“ Mas, kok dimakan sih?” tanyaku kesal.


Dia tersenyum sambil terus mengunyah apel yang ada di mulutnya. Aku langsung merebut apel yang ada ditangannya.


“ Kamu kan udah janji nggak akan makan apelnya.” Kataku memandang apel yang ada ditanganku.


Dia hanya tersenyum “ Udah nggak usah sedih nanti aku beliin.” Katanya.


“ Beneran kamu mau beliin aku apel?” tanyaku.


Dokter Alam tersenyum “ Iya, udah sekarang mana apel itu.” Katanya meminta apel yang aku pegang.


Aku langsung menyembunyikannya dibalik tubuhku “ Nggak mau ini punyaku.” Kataku.


“ Tapi kan itu udah aku makan Nay.” Katanya.


“ Nggak ini punyaku.” Kataku tetap mempertahankan apel itu.


“ Nanti aku beliin apel lagi Nay.” Katanya.


“ Beneran? Kamu nggak bohong kan?” tanyaku.


“ Iya, memangnya kapan aku bohong sama kamu?” tanyanya.


Aku menggeleng “ Tuh kan nggak pernah, udah sini apelnya.” Katanya mengulurkan tangannya.


Aku mengulurkan apel itu tapi aku menarik tanganku lagi dan langsung memakan apel tersebut. Aku memakannya pada sisi yang lain.


“ Nay kok kamu makan?” tanyanya.


“ Kan aku udah bilang ini apel punyaku ya aku makanlah.” Kataku.


“ Tapikan itu udah aku makan.” Katanya.


“ Sekarang ini juga aku makan.” Kataku sambil menggigit apel itu lagi.


“ Udah Nay mana apelnya.” Katanya merebut apel tersebut.


Aku menyembunyikannya dibalik badanku “ Nggak boleh, Udah ayo sekarang kamu harus beliin aku apel lagi.” Kataku menarik tubuhnya agar dia berdiri.


“ Mana dulu apelnya.” Katanya.


“ Kamu mau ini?” tanyaku menunjukkan apel tersebut.


“ Kita beli apel dulu.” Kataku mendorong tubuhnya.

__ADS_1


“ Tapi Nay.” Katanya tertahan.


“ Kamu udah janji sama aku sekarang ayo kita beli apelnya.” Kataku terus mendorong tubuhnya.


__ADS_2