I Love You Kapten Songong

I Love You Kapten Songong
Jadi Pasangan


__ADS_3



*



*



" Ka, Abang boleh pinjam ica sebentar, untuk berbicara berdua saja? " Tanya Bang Rizal yang merupakan abang Kapten Dika.



" Boleh bang, silahkan. " Seru Kapten Dika



" Ayo ica ikut abang sebentar, ada yang ingin abang bicarakan." Seru bang rizal, dan aku mengiyakan.



*** Apa yang telah aku perbuat dengan Bang Rizal??? Perasaan aku baru bertemu dengan nya, mana mau bicara berdua tanpa ada Kapten Dika lagi, aku harus gimana??? Aku salah apa ya Allah*** Gumam ku dalam hati memikirkan permasalahan apa yang aku perbuat dengan bang Rizal.



Bang Rizal pun mengajak ku duduk di tempat yang tidak terlalu ramai, meskipun masih 1 lokasi, karena setelah acara inti para keluarga berkumpul dan memberikan selamat kepada pasangan tersebut " Abang boleh minta tolong?" Tanya Bang Rizal to the point.



" Minta tolong apa Bang? " Tanyaku bingung



" Abang sudah tau kalau kamu pura pura di depan mama untuk menjadi calon tunangan Dika. Abang senang melihat Dika seperti dulu lagi sekarang. Jadi Abang minta tolong jangan tinggalkan Dika, teruslah berada di samping nya. Kalau perlu kamu jangan pura pura menjadi calon tunangan, lebih bagus kalau itu bukan pura pura tapi kenyataan." Serunya sambil memegang tangan ku, sambil memohon.



" Iya bang, tapi untuk tidak pura pura belum terfikir kan. " Jawabku



" Kalau gitu coba fikir kan dari sekarang... Dan abang penasaran sama kamu ca, sebenarnya kamu suka nggak sih sama Dika? " Tanya nya



" Untuk suka sama bang Dika itu rumit bang, ya dibilang suka ya suka.. Saya merasa kurang pantas bahkan takut untuk mencintai bang Dika bang. " Jawabku dengan lirih



" Kurang pantas dari segi mananya?? Dan apa yang ditakutkan? " Tanya nya lagi.



Aku pun diam, menundukkan kepala, tanpa melontarkan kata kata.



" Sekarang gini, kamu suka sama Dika, begitu pun Dika juga suka dengan kamu, terus apa yang di takutkan? Abang, mama, Dira, sangat sangat menyetujui kamu berpasangan dengan Dika, jadi abang mohon pikir kan lah lagi ya. " Seru abang Rizal.



" Abang, mama, Dira, belum mengenal aku dan keluarga ku sepenuhnya, aku seperti apa, asalnya bagaimana, tapi kenapa kalian menyukai ku? " Tanyaku



" Gak perlu kami menilai kamu dan keluarga mu seperti apa, yang terpenting Dika nyaman denganmu, dan untuk melihat keluarga mu seperti apa, cukup lihatlah dirimu, karena dirimu cerminan dari ajaran keluarga mu. Jadi abang mohon, teruslah berada di samping nya " Jawab bang Rizal menohok ku



Dengan kata kata bang Rizal tersebut, Seketika itu pula aku menunduk, diam seribu bahasa.



Menurut ku dibanding kan dengan Dira dan kapten Dika, bang Rizal ini tipikal orang yang to the point, dingin serta tatapan nya yang menakutkan. Aku bahkan tidak berani untuk menatap matanya lama lama.



" Itu saja yang ingin abang bicarakan, dan ayo kita bergabung lagi kemeja mereka. " Serunya lagi, dan aku pun meng iyakan.



Setibanya kami menghampiri mereka, tiba tiba tangan ku digandeng kapten Dika untuk mengikuti nya.



" Kita mau kemana? " Tanya ku.



" Cari Udara segar, disana aku panas. " Jawabnya



" Panas??? bukannya dingin ya, kan udah ada ac" Seruku bingung sambil berjalan mengikutinya.



" Ya panas aja menurut ku... Kamu bicara apa aja sama bang Rizal tadi? " Tanyanya



" Nggak bicara apa apa kok. Bang bagus deh agaknya kalau foto disini. " Jawab ku, sambil mengalihkan pembicaraan



" Terus? " Tanyanya



" Tolong fotoin aku disini" Seruku sambil memberikan senyum an



" Yaudah sini" Jawabnya sambil meminta handphoneku. Aku pun mencoba untuk bergaya, dan berganti ganti pose.



" Sudah? " Tanya nya



" Coba liat dulu" Seruku sambil melihat hasil foto.



" Bang, kok kayak gini fotonya, apalagi cuma ini doang yang bagus. Coba abang berdiri disitu, aku coba gantian fotoin." Protesku padanya. Aku pun bergantian mencoba memfoto dirinya.



" Nih, kayak gini, jadi samping samping nya keliatan gimana gitu." Ucapku sambil memberitahu hasil jepretan fotoku kepada nya.



" Yaudah, pake kamera depan aja, ntar abang yang pegangin. " Jawabnya frustasi dengan tingkat ku.


__ADS_1


" Mending aku selfie aja bang kalo gitu" Kesalku sambil mencoba selfie.



" Hmm " Serunya sambil mengeluarkan nafas kesal dengan tingkah ku. Ketika Aku melihat wajahnya sedikit kesal, aku pun langsung menariknya, dan mencoba mengajaknya selfie.



" Jangan cemberut geh, smile" Seruku sambil mencubit pelan pipinya. Ketika aku mencubit pipinya, ia tidak Terima dan melakukan hal yang sama, pada akhirnya kami melakukan kerusuhan pada foto kami.



" Cieeee, yang lagi romantis romantis an.... Maafin Dira ya uda ganggu. Dira cuma mau bilang, kata Mama kita disuruh kumpul sama keluarga disana, sama kak ica juga. " Seru Dira tiba tiba datang dan melihat kelakuan kami.



Ketika aku melakukan kumpul keluarga Kapten Dika, Aku merasakan pedih pada kaki ku, aku ngga tau kenapa, mungkin ini akibat dari memakai sepatu higheels yang terlalu tinggi, dan terlalu lama menggunakan nya. Aku mencoba untuk tetap bertahan semoga acara ini segera berakhir.



" Karena ini sudah malam, bella minap dirumah mama Rizal saja." Seru Oma.



" Iya Oma, " Jawab Bella dengan senyuman.



"Dan Oma nanti mau pulang sama Dira saja. Oma nggak mau Naik mobil sama Dika, berasa di sirkuit balap liar. " Seru oma dengan intonasi kesal.



Mendengar perkataan oma, yang lain ikut tertawa.



" Ya maaf oma, Dika takut telat ke acara kak Riska, itu juga baru kecepatan rata-rata Oma, bukan diatas rata rata... " Seru Kapten Dika.



" Yasudah, nanti Oma naik mobil bersama kami. " Seru mama kapten Dika.



Beberapa menit kemudian, kami pamit untuk pulang dan melakukan perjalanan kerumah menggunakan mobil masing masing.



Ketika kami sampai rumah, aku masih berada di dalam mobil.



" Ayo turun " Seru Kapten melihat ku sedang celingukan didalam mobil.



" Iya sebentar, aku mau lepas sepatu dulu, malu kalo dari mobil lepas sepatu." Seruku ketika aku penasaran dan buru buru melepaskan sepatu high heels ku karena sudah tidak sanggup untuk memakai nya lagi.



Aku pun melepaskan sepatuku dan mengambil handphone untuk menerangi kakiku, karena aku penasaran, seberapa lecet luka di kaki ku saat ini.



Kapten Dika pun ikut memperhatikan dan melihat tindakan ku ini.



Aku keluar dari dalam mobil, sambil menenteng sepasang sepatu dan tasku.



" Ayo naik" Serunya.



" Nggak usah, kayak apa aja. " Kata ku



" Ayo naik, aku gendong " Serunya lagi.



" Aku bisa sendiri bang. " Seruku



" Pilih abang paksa gendong, atau Naik di punggung abang. " Serunya dengan penekanan.



" Yaudah yaudah... Gendong belakang aja. " Seruku dengan terpaksa.



Aku digendong dia sampai ke kamar ku, dan di dudukan pinggir tempat tidur.



" Kamu tunggu sini, abang ambil obat p3k dulu." Ucapnya padaku.



Aku menunggunya, dan mengamatinya ketika ia mengobati luka di kaki ku, dengan berjongkok di depan ku.



" Seperti ini kali ya, punya pasangan kalau seorang dokter, luka sedikit aja pasti langsung diobati oleh." Kata ku dengan pelan.



" Gak perlu punya pasangan seorang dokter, abang saja sudah cukup kok. Bisa jadi dokter untuk mu, bisa jadi pelindung mu, bisa jadi tempat curhat mu dan semuanya abang yakin bisa. Negara aja abang jagain, apalagi kamu mah kecil" Serunya setelah mendengarkan celoteh ku sendiri.



" Emang kedengeran ya aku tadi ngomong apa, perasaan aku tadi ngomong di dalem hati deh. Emang bisa abang kayak gitu? Aku ngga percaya. " Seruku.



" Maka dari itu, cobalah untuk menjadi pasangan ku. Kamu cinta nggak sih sebenernya sama abang? " Tanyanya.



Aku diam sesaat "nggakkkk" Jawab ku.



Setelah Dia mendengar jawaban ku, dia pun diam sesaat dan memandangi wajah ku.



" Nggak salah, aku cinta kok. Aku juga mau jadi pasangan abang." Seruku sambil mencubit hidungnya.



" Serius? " Tanyanya dengan penasaran.


__ADS_1


" Seriuss... Mau berapa persen... 100 per.. " Sebelum aku melanjutkan kata kata ku, dia langsung memelukku dengan erat.



" Uda uda, aku nggak bisa napas ini" Seruku karena dipeluknya dengan erat.



" Sini, abang kasih nafas buatan lagi. " Ucapnya dengan candaan sambil melepas kan pelukannya dan sekarang memegang pundak ku.



" Jangan geh... Emangnya aku tenggelam. " Ketus ku sambil mengerucut kan bibir.



" Hahaha.. " Tawanya



" Enak ya abang, uda ngasih nafas buatan buat aku, terus bisa liat yang lainnya " Ketusku lagi.



" Mana napsu abang lihat itu mu, abang gendong aja nggak terasa, bagaimana bisa memiliki dan menyusui anak kalau itu kamu kecil... " Seru nya sambil melirik kearah payudara ku.



" Ishhhh abang ini mesuummm... Mentang-mentang punyaku nggak sebesar mb Bella... " Ucapku sambil memukulinya dan dia malah tertawa melihat prilaku ku ini.



" Tapi bercanda... " Serunya sambil mencoba memberhentikan tangan ku yang sedang memukulinya.



Tanpa sengaja, dengan tindakan nya itu, malah membuat aku jatuh di atas ranjang.


Kami pun terjatuh, dan kini dia berada di atasku, sambil memegang tangan ku. Untuk pertama kali aku didekat nya, perasaan ku terasa aneh, bahkan jarak diantara kami sekarang ada sekitar 5cm an. Tatapan Mata kami pun bertemu, serta dengan hembusan nafasnya kini mengenai wajahku.



" Aku bercanda sayang, semua yang ada pada diri kamu aku suka." Bisik nya ke telinga ku. Mendengar bisikan nya, seketika aku merinding dibuatnya.



Tanpa diduga duga, ia langsung mencium bibirku, "Aku sangat mencintaimu" Serunya padaku.



Tiba tiba, pintu pun terbuka " Kakakkkk... " Seru Dira melihat kami.



Ketika Dira teriak, dan melihat kami, aku langsung menampar dan mendorong tubuh kapten Dika agak menjauh dari ku.



" Jangan salah paham dek, kami nggak ngelakuin apa apa kok. " Seruku pada Dira



" Kakak ini, kalo ngelakuin kayak gitu itu pintunya dikunci, Dira jadi ngeliat adegan 21 keatas kan. " Omel nya lagi.



" Whattt??? Ini nggak seperti yang kamu kira dek, kita nggak ngelakuin aneh aneh kok, iya nggak bang?" Tanya ku pada kapten Dika.



" Sebenarnya mau ngelakuin sih, tapi uda ketawan sama kamu, jadinya nggak jadi deh..." Canda Kapten Dika sambil memegangi pipinya yang bekas aku tampar tadi.



***emangnya enak, salah sendiri langsung main cium cium, emang dikira bibir ku ini apaan kali ya..*** Gumam ku sambil melihat dia memegang pipinya.



Mendengar kata katanya yang tidak berfaedah itu, aku pun langsung memukulnya.



" Dasar, mesum.. " Kataku sambil memukulinya



" Uda cukup cukup, ini masih sakit, masa mau kamu tambahin... Kamu mau ngapain dek disini.. " Tanya Kapten Dika.



" Aku mau tidur bareng sama kak ica lah bang, emangnya mau ngapain kalo nggak tidur sini. " Serunya.



" Enak aja, kamu tidur di sofa sana, orang kakak geh yang mau tidur disini.. " Seru Kapten Dika.



" Kakak, ngga usah aneh aneh, kakak keluar sekarang, ini urusan cewek. " Ujar Dira sambil mendorong keluar Kapten Dika, dan mengunci pintunya.



Setelah mengunci pitu kamar Dira langsung berlari menuju ke arah ku " Kakak ica jadian sama kakak ya? Pokoknya kakak harus cerita sama Dira. " Kata Dira dengan penasaran.



" Iya, nanti kaka ceritakan. Udah kakak mau ganti baju dulu. " Seruku padanya.




Kami pun bercerita hingga tidur terlelap.



*



*




*




See You Next Episode 🙏😁😁




Jangan lupa Likes And Comment, serta Jangan lupa Jaga kesehatan di Musim Pandemi ini yaa 🙏🙏💕💕

__ADS_1


__ADS_2