
*
*
Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin, dan membakar semangat baru di hari yang baru.
Pagi ini, merupakan hari minggu, yang mana banyak rutinitas pekerjaan yang tengah libur hari ini.
" Kak, ini jam berapa? " Tanya Dira dengan mata yang masih sayup sayup.
" Jam 6... Ayuk kita jogging... " Jawab ku padanya sambil tiduran memegang handphone.
Setelah sholat subuh, aku tidak keluar kamar, melainkan terlentang di atas tempat sabil memainkan handphone.
" Oke, tunggu sebentar, Dira mau cuci muka dulu. " Seru Dira berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan mengambil baju di kamarnya untuk bersiap siap jogging bersamaku, tak lupa aku juga pun bersiap siap.
Setelah kami siap, entah ide dari mana Dira ingin menggodai kakaknya Dika.
" Kak, ajak kak Dika juga yuk.... Dan sekalian Kakak mau liat kandang Babi nggak kak? " Tanya Dira kepadaku.
" Emangnya dirumah kamu ada kandang Babi, kan kamu orang Islam to? " Jawabku dengan bingung.
" Ada kak, kandangnya besar, tetapi babi yang ini berbeda dari babi lainnya, karena kalau tidak mengakuinya dan tidak merawatnya, Dira bisa jadi adik yang durhaka.. " Seru Dira kepadaku sambil berjalan menuju sebuah kamar.
Aku yang mendengar ucapannya kini masih mencerna perkataan yang dilontarkannya.
" Kak, ini kandangnya!! Ayo kak kita berubah haluan menjadi Satpol PP... " Ujar Dira langsung membuka kamar Kapten Dika yang tidak terkunci.
Dira pun, langsung masuk ke dalam kamar serta menghidupkan saklar lampu kamar tersebut dan aku hanya mengikutinya dari belakang.
Kedua bola Mataku terbelalak kaget ketika melihat isi kamar tersebut... Baju dan celana tergeletak dimana-mana, botol bekas, remahan bekas kue masih tertinggal di atas meja kamar, diatas sofa dan karpet kamar. Bahkan ****** ******** pun tergeletak diatas lantai pojok lemari.
Aku baru mengetahui bahwa selain dia tidak bisa bernyanyi atau buta nada, ternyata ini juga adalah kekurangan lainnya yang tertutupi oleh kesempurnaan yang dia miliki itu.
" Bangun... Bangun... Ada Raziaaaa.. Ada Satpol PP..." Seru Dira dengan suara lantang.
" Apaan sih dek kamu ini, masih pagi uda buat gendang telinga kakak rusak... " Jawab Kapten Dika dengan mata yang masih tertutup sambil menarik selimut sampai menutup semua mukanya.
" Bangun kak, nggak malu apa ini ada kak Ica. Ayok kita jogging..." Ujar Dira. Seketika itu pula Kapten langsung terduduk di atas tempat tidur, dan melihat ke arah sekitar kamar nya yang amat berantakan.
" Diraaa!!!! Kamu ini nggak sopan, langsung masuk kamar, tanpa ketok pintu dulu!!! " Marah Kapten Dika marah sambil menahan malu
" Kalian tunggu di sini... " Seru Kapten Dika lagi sambil menggandeng tangan mereka untuk keluar dari kamarnya.
*** Emang dasar adik Laknat!!! Bikin malu kakak aja... Kalo kamar kayak gini kan buat malu, yang ada dia ilfil *** Gumam Kapten Dika.
Brakkkkk...
Suara Pintu kamar Kapten Dika yang langsung ditutup olehnya.
Aku yang mendengar suara pintu tersebut merasa bersalah, karena masuk kekamar yang mana kamar tersebut adalah privasi setiap orang.
" Dek, kamu ini... Kakak jadi nggak enak kan sama kak Dika... Kak Dika pasti marah sama kakak. " Seruku pada Dira.
" Kakak ini jangan takut takut sama Kak Dika, nggak papa Kak... Sekali kali biar Kak Dika berubah gitu, masa semenjak putus sama mantan dan sekarang udah dapet calon istri masih aja kayak gitu... Sebelumnya kak Dika tidak seperti itu Kak, habis putus aja kak Dika kayak gitu. Masa uda 6 tahunan putus sama mantan masih aja nggak berubah berubah, mungkin udah kebiasaan kali ya... Kalo bang Dika marah, tinggal aja bilang gini.... Kak Dika ayo kita putus, makanya salah sendiri kalau kamu jorok, aku ilfil liat kamu... " Tutur Dira sambil mempraktekan nya kepadaku.
Mendengar gaya bicara nya, aku pun tertawa dengan kekonyolan nya tersebut.
Beberapa menit kemudian, Kapten Dika membuka pintu kamarnya yang mana telah siap memakai kaos polos berwarna hitam, celana pendek berwarna navy, serta sepatu running dengan kombinasi warna navy dan biru muda bertuliskan ALRI.
Kalau aku jangan di tanya lagi, semua yang aku pakai ini milik Dira, seperti hoodie jumper dengan lengan pendek berwarna abu abu, celana legging hitam ini, kecuali sepatu sneakers putih yang ku pakai ini.
__ADS_1
Untung saja badan ku tidak jauh berbeda dengan Dira, namun tetap lebih tinggi dia dibandingkan aku hehhehe
Kami bertiga akhirnya melakukan jogging pagi dengan semangat.
" Kak, jangan lupa nanti malem ya. " Seru Dira dengan pelan kepada ku.
" Hayooo... Lagi ngomongin kakak kan " Seru Kapten Dika melihat kami kami berbicara dengan saling mendekat.
" Idihhh... Gr bener Ajeossi satu ini... " Ucap Dira sambil berjalan
" Jangan panggil kakak Ajeossi Dek, enek kamu panggil kakak dengan sebutan itu, kalo kak Ica baru boleh... " Kata Kapten Dika.
" Whatttttt???? " Seru Dira kaget mendengar ucapan kakaknya itu, ia mengira akan bakal dimarahi oleh kakak nya tersebut, ternyata dia bahkan belum tau artinya itu.
*** Bego... Bego... Baru kali ini aku tau ternyata kakak ku bisa sebego dan sebucin ini dengan kak Ica *** Gumam Dira
" Hahaha... Lain kali kamu manggil nya appa aja dek, jangan kakak kakak segala, biar lebih kekinian gitu... " Ujarku kepada Dira.
" Hahaha, kak Ica emang the best... Appa ku sayang... " Seru Dira sambil Bergelandotan di lengan tangan Kapten Dika.
" Ishhh... Risih kakak dek... " Jawab Kapten Dika sambil menoyor jidat Dira.
" Issss.... Kakak ini, sama adek sendiri nggak ada baik baiknya... " Jawab Dira sambil memanyunkan bibirnya.
Aku melihat tingkah kakak beradik satu ini pun tertawa.
Tak terasa jam di tangan ku sudah menujukan jam 7 lebih, kamipun balik arah menuju rumah nya. Di tengah perjalanan pulang, aku melihat ada penjual bubur ayam, segera ku berhenti dan menuju penjual tersebut. Melihat ku berjalan menuju penjual tersebut, mereka berdua hanya mengekori dibelakang ku.
" Kalian mau makan bubur disini? " Tanya ku pada mereka setelah sampai di tempat tersebut.
" Aku nggak kak, Dira air mineral aja" Jawab Dira.
" Abang mau" Jawab Kapten Dika.
Akhirnya aku hanya memesan 2 bubur ayam, dan makan disini karena cacing diperut ku sudah mulai lapar.
" Kak, pak Jarot nggak bisa anter kita, mungkin karena kita mau julit ke Kak Dika mungkin ya. " Seru Dira memberitahukan.
" Naik ojek online aja gimana? " Tawarku
" Aishhh.... males ah Kak, minta anterin bang Rizal ajalah, dia kan libur" Ide Dira.
" Terserah kamu, tapi apa bang Rizal mau kita ajak belanja? " Tanyaku.
" Pasti mau, tenang aja Kak.. Jangan panggil aku Dira, kalau aku ngga bisa merayu, Akan ku rayu nya abang ku satu itu... sekarang kakak siap siap, Dira mau merayu dulu... " Jawabnya dan langsung berpergi berjalan meninggalkan aku.
Setelah beberapa menit kemudian, aku sudah siap dan menunggu Dira.
Sedangkan Kapten Dika, ia sedang menjadi supir pengganti Mama, di karenakan pak Jarot sedang sakit, mau tidak mau jadinya Kapten Dika pun mengikuti perintah mamanya, walapun dengan penuh paksaan.
Kami membuat rencana untuk membuat Kapten Dika tidak ada dirumah dan membuatnya kesal. Untuk itu aku dan Dira, tentunya sudah ada persetujuan mama juga, agar kapten Dika menghantar kan kemanapun mama pergi, khusus hari ini dengan beralasan pak Jarot sedang sakit..
Sedangkan pak Jarot akan kami ajak untuk menghantarkan kami pergi.
" Kak, ayo kita pergi... Tapi kita ke kantor bang Rizal dulu ya kak, soalnya katanya ada masalah penting, jadi kita tunggu sebentar ke kantor, setelah itu kita bisa beli bahan bahan nya... Jangan lupa kak, selagi kita menunggu kita bawa mpek mpek, Dira mau pamer ke bang Adi. " Seru Dira kepadaku, ketika masuk dikamarku.
" Bang adi? Emang apa urusannya sama bang Adi? " Tanyaku sambil berjalan disamping nya.
" Dira mau pamer ke bang Adi, kalo Dira sekarang udah bisa memasak... Bang Adi itu musuh bebuyutan Dira. " Jawab Dira.
" Kok bisa jadi musuh bebuyutan sih deh, awas aja nanti jadi cinta lohhh... " Tuturku.
" Mana ada kak, itu mah dulu. Sekarang aku uda nggak cinta Kak, pokoknya Dira uda bete sama bang Adi titik." Serunya.
" Terserah kamu aja dek, kakak mah manut aja" Jawab ku dengannya senyum
Kami menaiki mobil yang dikendarai oleh bang rizal menuju ke kantor perusahaannya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, mataku terkagum-kagum akan pemandangan di depan ku ini, dengan kemegahan gedung pencakar langit ini yang begitu besar. Setelah kami memasuki kantor tersebut, beberapa karyawan yang melihat bang Rizal langsung menundukkan badan, untuk menghormati atasanya tersebut.
Karena hari ini adalah hari minggu, aku tidak tahu kenapa di hari minggu yang menurut ku hari libur, tetap saja ada yang masuk ke kantor, mungkin ini Shift mereka, jadi ada beberapa karyawan yang ada di dalam kantor ini.
Kami pun berjalan dan memasuki lift khusus menuju ruangan bang Rizal.
Setelah kami memasuki ruangan tersebut, kami di sapa oleh perempuan cantik, yang mana menurut ku, itu kemungkinan sekertaris nya, lalu kami pun duduk di sofa ruangan yang dibuat secara khusus, mungkin ruangan ini di desain untuk para klien atau tamu yang akan membicarakan hal penting atau lainnya.
Ruangan ini masih satu ruangan dengan bang Rizal, tetapi ada dinding pemisah/pembatas antara ruangan ini dengan ruangan nya.
Sudah sekitar 1 jam lamanya kami menunggu bang Rizal, sedangkan Dira sudah kesal dengan kegabutan di ruangan ini.
" Abanggg... Masih lama nggak " Seru Dira ke bang Rizal.
" Sebentar, kalau mau sekarang kamu naik taxi aja, atau mau sama supir Kantor abang? " Tanya nya
" Yahhh, kalau pake sopir Kantor atau taxi kan nggak bisa dibayarin abang kalo Dira mau beli apa apa. " Seru Dira sambil Memonyongkan bibir.
" Makanya, tunggu sebentar..." Seru bang Rizal ke Dira
" Tinggal tanda tangan yang ini saja kan di!! " Tanya bang Rizal ke Adi (Asistennya).
" Iya pak. " Jawabnya
" Oke, kamu sekarang temani adik saya, kalau perlu diapain kek, biar dia ada kerjaan. " Seru banget Rizal dan di iyakan oleh asisten nya.
" Dira, uda lama kita tidak bersua " Seru Adi yang mana asisten bang Rizal berjalan menuju kami.
" Sok bersua lah, stop... Jangan ganggu Dira, jangan buat bete Dira, kalau mau buat bete Dira, kakak pergi aja dari sini.. " Seru Dira dengan kesal.
" No... No.. No... Kak Adi cuma mau nanya, mana hasil masakan mu, katanya bang Rizal kamu bawa sesuatu tadi. " Kata kak Adi tiba tiba duduk disamping ku.
" Stopppp... Suruh siapa kakak duduk, kak ica belom divaksin anti rabies, bisa bisa nanti kena rabies lagi. " Seru Dira.
" Whattt?? " Jawab kak Adi sambil melihat kearah ku.
" Mana ada, kamu pikir kakak anjing gila apa dek. " Seru ku pada Dira.
" Hahahaha, serius amat sih kak, Dira kan bercanda. Masakan Dira toh masih ada, itu khusus buat bang Adi sama bang Rizal tentunya." Seru Dira,
" Yakin kamu yang buat? Ngga ada racunnya kan? Enak nggak? " Cerocos bang Adi sambil memastikannya.
" Ngga usah banyak tanya kak, Cobain aja sana!! Nanti bilang ke bang Rizal ya kak, Dira tunggu di lobby, Dira penat diruangan ini.." Kesal Dira sambil mengajakku keluar ruangan ini.
" Oke. " Jawabnya sambil memegang masakan Dira.
Kamipun berjalan melewati bang Rizal yang sedang duduk di kursi kebesaran nya.
" Mau kemana kamu dek? " Tanya bang Rizal ketika elihat kami.
" Dira tunggu di lobby kak. " Serunya
" Oke, tunggu sebentar, abang sudah selesai. " Serunya sambil membawa kunci mobil dan mengikuti di belakang kami.
Kami pun berangkat menuju Toko roti langganan dan Mall untuk membeli perlengkapan lainnya.
*
*
*
See You Next Episode 😘😊
Jangan lupa Likes and Comment 🙏🙏😊
__ADS_1