
Hari pun kian berganti, Matahari kini menapakkan cahayanya yang menyilaukan mata. Aku dan ke 3 sahabat ku kini telah bangun dari tadi, dan membereskan barang barang yang kami bawa. Ya, memang kami tidur berempat di kamar yang sama karena mereka tidak mau aku tinggalkan tidur bertiga. Ranjang ini, cukup luas untuk kami tiduri bersama, walaupun terkesan begitu sempit dan umpel umpelan, mereka tetap ingin tidur bersama.
Sebenarnya, tadi malam aku tidak bisa tidur, bukan karena sempit atau yang lainnya, dikarenakan fikiran ku kemana-mana, setelah kejadian ku semalam, hingga sekitar jam setengah 3 pagi, aku bisa tertidur. Sedangkan untuk kapten Dika sendiri, ia telah pulang kebarak nya tadi malam.
" Kakak kakak, ayo kita sarapan pagi, mama dan bang Rizal sudah menunggu dibawah " Ujar dira masuk kekamar kami.
" Iyaa dek, tunggu sebentar " Seruku padanya. Dira pun kembali ke ruang makan.
" Bang Rizal??? Abangnya kapten Dika ca???" Tanya April penasaran
" Iyaa" Sahut ku.
" Ohhh, tadi malam kami belum sempat kenalan... Oma kapten Dika yang kamu ceritakan Tempo hari sekarang dimana??? " Tanya April lagi.
" Oma lagi tempat adiknya Mama, udah ayo kita sarapan, biar kalian bisa kenalan sama abangnya kapten Dika yang ganteng.. " Ajakku
" Aishhh... Ayo kalo gitu... Semangat 45 kalo gini" Ujar tika menanggapi.
Setibanya kami duduk di ruang makan, aneka sarapan telah tersaji diatas meja makan. Seketika itu pula mereka terpana melihat wajah bang Rizal.
"Tuk.. Tuk.. " Senggolan kaki mereka menyenggol kakiku. Kini aku bisa menghela nafasku dalam dalam akan perlakuan April dan Tika yang aku tau makna dari senggolan kaki mereka.
" Kenalin, ini namanya bang Rizal, kakak dari Dika, mungkin kalian tadi malam tidak sempat bertemu, dikarenakan anak tante satu ini pulangnya larut malam." Ujar Mama kapten Dika memperkenalkan bang Rizal kepada sahabat sahabat ku.
Bang Rizal yang dikenalkan oleh Mama terlihat tersenyum manis, sedangkan mereka juga tersenyum dengan arti.
" Ayoo, pada dimakan, semoga masakan ini bisa sesuai dengan selera kalian. " Ujar Mama lagi.
" Iya tante. " Jawab mereka kompak.
Selesai sarapan pagi bersama, kami kembali ke kamar. Sesampainya dikamar, aku langsung di brondong oleh pertanyaan pertanyaan yang mereka lontarkan kepadaku, siapa lagi kalau bukan April, Agil dan Tika.
" Caaaa.... Bang Rizal uda punya tunangan belum.." Rengek April
" Caaa... " Ujar Agil.
" Hustttt... Tanya aja sono sama orangnya... " Ujarku tanpa melihat mereka, dikarenakan aku sedang chatingan dengan kapten Dika.
"Ahhhh, gitu deh..... Yang bener atuh caaa.. " Rengek April lagi.
" Ishhh, Bang Rizal itu nggak punya tunangan, baru putus, dan selera dia itu, bodynya kayak gitar Spanyol, jadinya kalian harus kayak gitar Spanyol dulu biar jadi kakak ipar aku.. Paham!!... Udah Huss.... Sekarang kalian siap siap, kita mau Jalan jalan sama Dira, kalian mau ngemoll nggak?? Siapa tau nemu cogan... " Seru ku.
April pun menghembuskan nafas putus asa "Yaelahh... Kalo gitu mah aku mundur alon alon, aku mah apa, cuma butiran rinso.." Seru April tidak semangat.
" Iya butiran rinso kalo kena air bisa kanyutt " Canda Tika.
" Kira kira butuh berapa lama ya, aku kalo gym sama diet biar kayak gitar Spanyol. " Ujar Agil.
" 1000 hari 1000 malam, sampe bulan purnama yang ke 100... " Goda Tika dan kami pun ikut tertawa.
" Uda uda, ayo kita sudah ditunggu. " Ajak ku.
" Bentar bentar, minta simmer simmer mu ca, biar cantik pas ketemu cogan. " Minta tika.
" Yaelah, ngga dari tadi... Nah di tas itu" tunjuk ku.
Setelah itu, kami pun siap berangkat jalan jalan bersama Dira.
***
Ditempat lain.
Di suatu ruangan, terdapat seseorang tengah duduk di kursi kebanggaan nya " Sudah lo siapkan orang tersebut? " Tanyanya kepada orang didalam telfon.
" Sudah Bang siap itu mah, gua pastikan rencana kita akan mulus, tanpa ada jejak. " Jawab orang tersebut didalam telfon.
" Good job... Nanti gua transfer ke rekening lo biasanya, kalau rencana kita kedepannya berhasil gua tambah bonus. " Seru orang tersebut.
__ADS_1
" Siap bos, gampang itu mah... Gua yakin rencana kita kedepannya pasti berhasil.. " Jawabnya.
***
Kira kira jam 9 pagi, kami berangkat dari rumah menuju Mall, setibanya kami di Mall, Dira langsung mengajak kami ke area baju, biasalah para perempuan.
" Kak, ini bagus nggak? " Tanya dira pada kami.
" Bagus dek, tapi apa nggak keliahatan dewasa jika kamu memakai yang ini." Ujar ku pada Dira.
" Bukan buat aku, tapi buat kakak." Ujarnya langsung.
" Untuk kakak??? Kakak nggak usah dek, kakak nggak cocok pake baju seperti itu, mau dipake kemana juga pake baju seperti ini dek." Seru ku padanya.
" Ya cocok kok buat kakak, bentar aku tanya ke temen temen kakak dulu." Ujar Dira menuju kearah teman temanku.
" Kakak kakak, baju ini cocok nggak kira kira untuk kak Ica?" Tanya Dira kepada para sahabat ku.
" Cocok dek" Seru April.
" Bagus kok" Jawab Tika, sedangkan Agil hanya mengangguk kan Kepala nya menyetujui ucapan Tika.
" Tuh kan kak, bagus katanya teman teman kakak... Ini pokoknya untuk kakak, hadiah dari Dira, dan nggak boleh ditolak." Ujar nya tanpa penolakan.
Dengan pasrah dan tanpa penolakan, aku pun menyetujuinya.
Setelah sekian lama kami berburu ala ala perempuan, kami pun duduk di area Foodcourt Mall tersebut, dan membeli minuman.
" Kakak kakak mau pesen apa, tenang aja nanti Dira yang bayar." Ujarnya pada kami.
" Nggak deh dek, untuk ini kami beli sendiri sendiri aja, soalnya dari tadi kamu yang bayarin kami terus, kakak beneran nggak enak." Ujar Tika.
" Nggak papa kak, Dira ikhlas kok." Seru Dira.
Aku pun menghela nafas, merasa tidak enak " Dira, biar kakak aja yang bayarin mereka, dan kamu, Oke, masa adek terus yang traktir kakak kakaknya, sekarang giliran kakak yang traktir adik nya." Seru ku padanya.
" Yaudah deh kalo gitu, Dira ngikut aja. Padahal nggak papa kak pake uang Dira ini, lagian dari tadi Dira bayar pake kartu dari bang Rizal." Tutur Dira.
" Yah kalo dikasih kartu bang Rizal, tanpa ada dia aku sih malah seneng kak, karena dia kebanyakan ngomel ketika aku ajak belanja." Serunya dengan cengengesan.
" Dira Dira, ada aja kamu ini... Kok bisa kamu dikasih kartunya bang Rizal, pake jurus rayuan apa kamu dek? " Tanya ku.
" Rayuan maut kak, jadinya klepek-klepek deh bang Rizal sama aku...hahah.." Tawa dira.
" Dek, ajarin dong, jurus rayuan maut, kakak juga mau tau, bikin cowo klepek klepek." Ujar April menanggapi, dan kami pun bercanda Ria.
Setelah kami menikmati makanan di foodcourt, kami pun berjalan ke area parkir mobil untuk pulang kerumah Dira, dan bersiap siap untuk pindah kontrakan baru.
Setibanya di area parkir, tak sengaja kami melihat perempuan sekitar seumuran ku tengah bingung, dan terlihat sedih ingin menangis di samping mobil kami.
" Mbak, permisi, saya boleh minta tolong?" Ujarnya dengan wajah sedih menghampiri kami.
Aku yang melihat nya kasihan pun akhirnya menanggapinya " Iya mbak, minta tolong apa ya?" Seru ku.
" Mbak boleh pinjam handphone nya, saya ingin menghubungi keluaga saya." Ujarnya.
" Iya boleh" Jawabku dengan merasa kasihan.
"Tapi disini saja ya mbak, saya takut mbaknya membawa lari handphone teman saya, soalnya sekarang modus penipuan itu banyak." Ujar Tika menanggapi.
" Iya mbak, saya tau, saya cuma mau menghubungi keluarga saya, soalnya handphone berserta dompet saya hilang di copet, terlebih lagi ban mobil saya kempes." Ujarnya menunjukkan ban mobilnya yang memang kempes.
"Iya mbak, ini" Ujarku memberikan handphone ku padanya. Setelah aku memberikan handphone ku, ia langsung menekan nomor handphone, dan menelfon orang tersebut
Beberapa menit kemudian, nomor yang ia telfon tak kunjung menanggapi, dengan terpaksa akhirnya ia memberikan handphone tersebut kepadaku.
" Gimana mbak? Sudah ada balasan?" Tanyaku padanya.
__ADS_1
" Belum mbak, gimana ya Mbak, saya bingung, ayah saya tidak menjawab.." Ujarnya dengan raut muka yang sedih.
" Emangnya mbak dicopet dimana, kok bisa kena copet?" Tanya April, dengan jiwa kepo nya mulai beraksi.
" Tadi sebelum saya kesini, saya sempat mampir ke ATM, dan ke toko kue di daerah xxxx, setelah itu saya ingin berbelanja di Mall ini, ketika saya mau menelfon teman saya, dan mencari handphone di tas sudah tidak ada, bahkan dompet saya juga tidak ada." Serunya dengan sedih, Sedangkan kami, kami hanya mendengarkan apa yang ia ceritakan.
" Mbak, mohon maaf sebelumnya, bukannya saya kurang ajar, atau tidak sopan, padahal saya baru bertemu dengan mbak mbak... Dikarenakan keluarga saya tidak bisa dihubungi, saya ingin meminjam uang 100rb mbak, untuk pesan taxi kerumah.. Biar mbak percaya sama saya, mbak boleh bawa tas ataupun kunci mobil saya ini, untuk jaminannya." Ujarnya memohon.
Melihat nya yang begitu kasihan, aku langsung memberikan selembar uang 100rb an " Ngga usah mbak, mbak bawa aja uang saya." Ujarku sambil memberikan uang padanya.
" Terimakasih banyak mbak, mbak baik banget dengan saya, sebagai jaminannya, ini ada tas saya, dan kartu pengenal saya, mbak boleh pegang." Ujarnya langsung memeluk ku dan memberikan tas nya.
" Ngga mbak, ngga usah, saya ikhlas membantu mbak... " Ujarku.
" Makasih banyak mbak." Ujarnya memeluk ku lagi.
" Emangnya rumahnya mbak daerah mana, siapa tau mbak mau saya pesankan ojek online sekalian." Ujar April menanggapi.
" Daerah xxxx nomor 12 mbak." Ujarnya.
Mendengar orang tersebut menyebutkan alamat tempat tinggalnya, Dira Menyerngit kaget, dikarenakan itu adalah perumahan elite.
" Sepertinya kita melewati perumahan itu ya dek" Ujarku pada Dira.
" Iya Kak." Jawab dira
" Kalau nggak, bareng kita saja kerumah mbaknya bagaimana, dikarenakan kita searah, siapa tau mbak mau." Ujarku
" Emangnya boleh mbak?" Tanya nya ragu ragu.
" Boleh kan dek? Boleh kan?" Tanya ku pada Dira dan yang lainnya.
" Boleh kok kak, ayok kak, bareng kita aja." Ujar Dira, dan yang lainnya pun mengiyakannya.
" Terimakasih banyak, maaf sekali sudah merepotkan kalian. Mba baik banget dengan saya" Ujarnya sambil memeluk ku
" Yasudah, ayo masuk sini, mbak nya sama saya. " Kataku padanya.
Pada akhirnya, kami menghantarkan dia kerumahnya, dan ketika sampai dirumah nya, kami begitu tercengang dengan besarnya rumah tersebut. Kami tiduk turun hanya memandanginya dari dalam mobil, dikarenakan aku dan para sahabatku segera membersihkan dan memindahkan barang barang kami ke kontrakan baru. Setelah dia turun, kami langsung pulang ke kediaman Dira dan keluarga, bersiap siap untuk pindah ke kontrakan baru kami.
*******
Setelah kami sampai di rumah kontrakan baru kami, kami langsung memindahkan barang barang bawaan kami ke dalam kontrakan. Kontrakan yang kami sewa ini tidaklah rumah yang perabotan rumahnya kosong, melainkan ada beberapa barang barang yang sengaja tersedia disini, dikarenakan pemilik rumah yang kami tinggali ini memilih untuk tinggal di rumahnya yang lain, biasa... mungkin orang kaya yang punya banyak rumah wkwk....
Didalam rumah ini tersedia 2 ranjang tidur, 2 kamar mandi, sofa ruang tamu, dan ruang makan + dapur, serta lemari. Melihat ku pindah di tempat ini, calon mama mertua ku yang dengan baiknya, mengharuskan ku membawa art beserta tukang kebunnya untuk membantu memindahkan barang barang bawaan serta membersihkan seluruh rumah ini.
Aku hanya menghela nafas ketika mendengar calon mama mertuaku melakukan video call. Ya, calon mama mertua ku itu tidak bisa mendampingiku, ketika aku pindah ke kontrak an dikarenakan ia sedang ada kepentingan diluar. Jangan tanya kapten dika kemana!! Tau sendiri, ia sedang berada di markasnya, tempat ia bekerja.
" Sayang, biarkan bik Mar, pak Yanto dan Mang Damin aja yang beres beres. Terus tadi mamah pesan barang barang untuk kamu dan teman temanmu, mungkin sebentar lagi sampai." Ujarnya padaku melalui video call
Tangan kiriku memegang handphone, sedangkan untuk tangan kanan aku sedang membawa tas dan memindahkan nya kedalam rumah " Gak papa mah, lebih banyak orang yang membantu lebih cepat juga selesainya... Barang barang apa mah?" Tanya ku bingung.
" Sebenarnya tadi mama mau beli mesin cuci biar kamu nyucinya enak, tetapi pasti kamu capek pulang magang kerja terus cuci pakaian setrika, jadi fikir mama kamu loundry aja atau kerumah Mama aja biar nggak kecapean, terus jadinya mama cuma beli kulkas, AC, TV, bedcover, perlengkapan alat alat memasak, terus sama makanan.. Untuk kendaran ke perusahaan magangnya, nanti Kak Dika yang anter Kesana, katanya dia mau milihin buat kamu.. Masih ada yang kurang nggak sayang?" Tanya mama kapten Dika
" Ya Allah mah, ica dan teman teman ngucapin terimakasih banyak atas semua kebaikan mamah. Tapi mah, Ica disini kan cuma sementara, kurang lebih 3 bulan, sayang kan barang barangnya mah, nanti mau dibawa kemana selepas ica nggak disini. Jujur mah, ica bingung." Ujarku bingung dengan tingkah laku mamanya Kapten Dika.
" Sayang... Jangan fikir in itu, Gak papa, itu juga buat kebahagiaan kamu dan teman teman mu, yang terpenting selama 3 bulan disana, kamu tidak kesusahan, nyaman gitu..." Ujar mama kapten Dika.
Mendengarkan mama kapten Dika, aku hanya menghela nafas pasrah, sebenarnya suka, tetapi ada rasa tidak enaknya. Bagaimana kalau calon Mama mertua ku ini tau, jika aku tinggal di kos kosan yang biasa saja, tidak ada perabotan seperti itu, bahkan menurut ku sendiri rumah yang kami kontrak ini lebih bagus dari kos kosan yang aku tinggal i di dekat kampus ku, pasti aku langsung disuruh pindah. Hmmm... Apalah apalah dayaku memiliki calon mertua yang serba ada...
" Sudah dulu ya sayang, teman mama sudah datang.. Nanti kalau urusan mama sudah selesai, Mama kesana." Serunya, dan aku mengiyakannya.
Setelah semuanya beres, rumah kontrakan ku bersih, dan semua pesanan mama Kapten Dika terpasang, kami pun menikmati makanan yang telah di pesan. Selanjutnya para pekerja mama Kapten dika kembali ke kediamannya.
*
*
__ADS_1
*
Sampai Bertemu kembali di episode selanjutnya 😘😘