
*
*
*
...poV Ica...
Aku berjalan menuju ruang tamu, yang mana disana ada keberadaannya.
Kini aku duduk di kursi depannya " Mau bicara apa?" Kesalku.
" Abang cuma mau jelasin, kalau itu semua nggak seperti yang kamu fikirkan. Abang sudah nggak cinta dengan dia, bahkan barang barang itu semua akan abang bakar. " Tuturnya.
" Kenapa nggak langsung dibakar?? Sayang mau ngebakarnya?? Atau mau pamer kemesraan karena masih sayang gitu!! " Potongku.
Ia memijat pelan keningnya " Abang lupa mau membakarnya... Tolong percaya sama abang... Abang cuma cinta sama kamu, cuma kamu satu satunya dihati abang..." Jelasnya.
" Aku nggak yakin kalau abang uda nggak sayang sama dia... Buktinya aku menemukan cincin pasangan kalian diatas tempat tidur, bahkan semua barang barangnya masih bagus, tanpa berdebu... Atau jangan jangan setiap malam abang masih memandangi bahkan membayangkan tentang hubungan kalian... " Crocos ku.
" Abang nggak tau siapa yang meletakkan kotak itu dikamar, apalagi masalah cincin itu, setau abang, barang barang itu semua ada di gudang. Tolong percaya sama Abang... " Katanya.
*** Atau ini semua ulah Oma untuk memisahkan kami, pantas saja tadi dia baik denganku, tidak seperti biasanya... Haduh haduhhhh... Jangan suudzon...*** Gumam ku
Aku diam sejenak " Buktinya apa, biar aku percaya sama Abang?? " Tanyaku.
" Kamu mau bukti apa, agar kamu bisa percaya sama Abang?? Mau tanya Dira? Mama? Atau Bang Rizal? Atau mau bukti keseriusan Abang kalau Abang benar benar sayang sama kamu? " Berbalik tanya.
" Kok malah balik tanya sih... Gini aja, aku mau bukti kalau memang Abang nggak cinta sama dia, besok semua barang barangnya dibakar atau dibuang... Dan buktiin keseriusan abang dengan menemui orang tua Ica besok??? Bisa nggak?? " Tantang ku.
" Iya baik, abang sangat sangat bisa.. Besok abang buang semuanya, setelah itu, dengan senang hati abang menemui orang tua kamu dikediamannya. " Jawabnya dengan tatapan serius.
" Apa??? Jangan besok, nggak jadi, nanti nanti aja ketemu orang tuaku. " Ujarku kalang kabut, ketika ia menerima tantangan dariku dan aku melihatnya yang begitu serius kepadaku.
" Katanya kamu butuh keseriusan dari abang.. Abang bener bener serius sama kamu... " Katanya.
" Nanti nanti aja ketemu orangtua ku, lagipula aku uda sedikit percaya sama abang... " Sanggah ku.
" Kok sedikit percaya??? Biar kamu benar benar percaya kalau abang serius sama kamu, abang besok mau bertemu dengan orang tua kamu. " Ucapnya.
" Uda nggak usah, biar aku percaya... Sini HP abang... " Mintaku sambil mengulurkan tangan.
Dia merogoh kantong celananya " Nih... Mau ngapain... " Ujarnya sambil memberikan handphonenya.
__ADS_1
Aku mengambil handphonenya. " Mau ngecek ngecek aja... Kata sandinya apa??" kataku
" Kata sandinya, tanggal lahir kelahiran mu... Kalau perlu kamu bawa juga nggak papa.. " Jawabnya.
Aku pun membukanya, tanpa diduga duga, memang benar kata sandinya adalah tanggal kelahiran ku.
" Jangan jangan abang punya handphone dua ya? " Tanyaku.
" Mana ada, itu cuma satu satunya. Udah kamu bawa itu handphone, kamu cek semuanya, biar kamu percaya." Jawabnya.
" Oke aku bawa handphonenya, besok pagi abang kesini, ntar aku balik in. Dan karena ini uda malam, abang pulang saja." Ujarku.
" Ceritanya, kamu mau ngusir abang ini? " Tanyanya.
" Niat nya sih mau ngusir, tapi kasian, terus mau gimana lagi uda malam. " jawabku.
" Dasar kayak anak kecil aja kamu ini. " Kesalnya.
" Ya memang aku masih anak kecil Om.. Emangnya situ uda Om Om, uda sana pulang Om. " Usirku.
" Yasudah mana Om dan tante kamu, abang mau pamit. " Ujarnya sambil berdiri.
Aku punya berdiri " Udah, ngga usah pamit pamit an segala, ntar aku salamin, sekarang abang langsung pulang aja. " Potongku.
" Masih marah, tapi nggak semarah tadi... Udah ayo abang pulang aja, aku ngantuk mau tidur. " Usirku sambil menarik tangannya untuk mengikuti ku.
Dia berjalan mengikutiku dengan tangan yang masih di gandeng. " Iya iya, abang pulang... " Ujarnya mengalah.
Aku menghantarkannya sampai di depan pintu mobilnya. " Yaudah, hati hati dijalan... " Kataku.
" Iya, salam untuk Om dan tante mu. " Ujarnya pergi meninggalkan rumah Om ku.
Aku masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rumah.
" Udah sana tidur, besok tante Intrograsi kamu." Ujarnya tante melihat ku selesai mengunci pintu, Aku pun mengiyakannya.
Kini aku sedang membuka semua chat yang ada di handphonenya. Aku mengerutkan kening ku ketika melihat nama yang ia gunakan pada kontak namaku. Ia menamaiku dengan nama kontak "Anak Kecilku... Cihh... Kalau aku anak kecilnya kenapa dia mau menikah dengan ku..." Monolog ku sendiri.
Aku langsung mengubah kontak ku menjadi
"❤Kesayangan❤" Aku senyum senyum sendiri ketika menuliskan nya.
Lalu aku buka semua isi chat whatsapp nya. Aku heran dengan isi chat nya, Tak ada pesan kecuali pesan dari ku, mamanya, Dira dan bang rizal. Semua panggilan pun tak ada kecuali dariku. Mungkin dia rajin menghapus pesan maupun panggilannya.
__ADS_1
Lalu aku beralih ke galerinya, aku membuka semua isi galeri dan membuka satu persatu fotonya. Mungkin ketika aku melihat galeri fotonya aku menemukan salah satu foto mantannya yang masih tersimpan.
Ku scrooll foto foto di galeri nya, namun nihil aku tidak menemukan satupun. Sampai sampai yang aku tersipu malu senyum senyum sendiri, karena banyak fotoku di galerinya. Tak terasa malam pun telah larut, akhirnya aku tertidur.
Aku bangun tidur seperti biasanya, dengan segala aktifitas ku. aku tidak menunggu nya datang menemui ku, karena hari ini dia bangun kesiangan dan tidak sempat untuk mengambil handphonenya. Dia mengirimkan pesan ke handphone ku melalui handphone Dira.
Toh aku senang dia nggak mengambil handphone ini, karena handphonenya bagus, apalagi kamera nya lebih bagus dari pada handphone milikku. Jadi aku bisa selfie selfie, main permainan di handphonenya yang mungkin bisa menaikan Rank (level) permainannya {°0°}...
Hari semakin sore, Kapten dika tak kunjung datang mengambil handphone nya. "Mungkin dia sibuk kali ya, kok nggak ambil ini handphone... Mana banyak chat masuk dari bawahan maupun atasannya lagi, nyesel aku megang handphonenya, buat budeg kupingku aja. " Monolog ku sendiri.
Tiba tiba ada pesan WhatsApp masuk ke handphone ku, aku pun membukanya.
•• Kak ini nomor handphone Dira yang baru. Kak Dira boleh minta tolong!! Jangan beri tahu siapa siapa ya walapun itu kakak atau mama Dira, pokoknya Janji ya kak!! •• isi pesan masuk ke handphone ku.
Aku membalas pesannya •• Iya, kakak janji.. Emangnya ada apa? ••
Tring... Bunyi pesan masuk...
•• Mobil Dira nabrak pembatas jalan, kakak mau nggak jemput Dira kesini, Naik motor warna merah yang digarasi rumah Dira, minta kuncinya sama pak Tono... Tolong jemput ya kak.. •• balasnya.
•• Ya Allah dek kok bisa. Iya kakak jemput, terus kamu gimana, ada yang luka nggak? •• tanyaku khawatir.
•• Nggak ada yang luka kak, cuma mobil baru mama bumper nya penyok, dan Dira takut kena marah, makanya pikir Dira kakak kesini jemput Dira sekalian anterin Dira ke bengkel mobil buat benerin itu... Nanti jangan sampai ketahuan Mama atau yang lainnya ya kak •• Balasnya lagi.
•• yaudah gini aja, kamu anterin mobil itu ke bengkel dulu, sekalian nunggu kakak jemput kamu.
Nanti share lokasi aja bengkelnya dek. •• Balasku.
•• Jangan kak, didepan sini ada rumah makan, Dira tunggu didekat sini aja kak, sekalian Dira mau makan, soalnya Dira laper. •• isi pesannya.
•• Yasudah nanti kamu share lokasi aja, kakak mau kerumah mu ambil motor dulu•• jawabku.
__Ditempat lain.
Ada seseorang yang sedang tertawa puas, akan tindakan yang ia lakukan.
*
*
*
See you next episode 😊🙏
__ADS_1