
*
*
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, kini aku sedang mencari kontrakan untuk ku tinggal bersama sahabat sahabat ku, sedangkan sore ini mereka sampai ke kota ini.
Aku mencari kontrakan ditemani oleh Dira, dengan penuh negoisasi dan banyak nya usaha yang kami lakukan, akhirnya kami menemukan kontrakan yang sesuai untuk kami tinggali.
" Kakak yakin mau tinggal disini??? Kenapa nggak tinggal di tempat Dira saja sih kak. " Ia mengerutkan keningnya, karena melihat kontrakan ku ini yang terlihat sederhana
.
" Ya yakinlah dek... Kakak nggak mau ngerepotin kalian, dan kakak mau mandiri bersama sahabat sahabat kakak. " Seruku
" Tapi kakak pokoknya janji ya sama Dira sering sering main kerumah, kalau perlu minap dirumah lebih bagus lagi. " Ujarnya.
" Iya, siap bos... nanti kakak sering sering main kerumah." Jawabku. Setelah itu, aku langsung kembali kerumah tanteku bersama Dira.
Setibanya aku dirumah tanteku, aku disambut oleh calon ibu mertua yang sudah berada disana menunggu kami.
" Gimana? Uda dapat rumah kontrakan nya? " Tanya mama kapten Dika.
" Sudah mah... Mungkin nanti Sore ica pindah kesana. " Ujarku.
" Barang barang yang akan dibawa sudah disiapkan?" Tanya nya memastikan.
" Sudah mah, tadi malam sudah ica packing, jadi nanti sore tinggal pindah kesana sekalian beres beres. " Seruku.
" Kenapa tidak besok saja pindahnya, kasian kan teman teman kamu baru datang terus suruh beres beres.. " Usul Mama.
" Emmmm, temen temen Ica nggak mau merepotkan mah.. " Jawabku.
" Bener itu mbak, kita satu pemikiran, tapi Percuma mbak, ica ini keras kepala" Seru tanteku.
"Mereka nggak mau merepotkan tante katanya, apalagi mereka bertiga jadi nggak enak katanya tan." Jujurku
" Orang cuma bertiga aja kok, apanya yang merepotkan... Jangankan bertiga satu angkatan mu aja tante nggak papa... " Seru tanteku lagi.
" Uda aku bilang tan, tetap saja mereka nggak mau." Ujarku.
" Kalau gitu, sini kamu telfon mereka, mama mau ngomong dengan mereka. " Seru mama kapten Dika.
Aku pun mengiyakan perkataan mama, dan menelfon salah satu dari mereka " Halo, assalamu'alaikum pril.... Gimana? Uda sampai mana? " Tanyaku.
" Wa'alaikumsalam ca, ca pesawat nya Delay, mungkin kita sampai sana malam..." Ujarnya sedih
" Yahh, terus gimana??? " Tanya ku.
" Ya mungkin kami cari penginapan dihotel, jadi untuk pindahnya kita besok saja yaaaa. " Serunya.
Mama pun mengkode aku untuk memberikan telfon ku kepadanya " April, mamanya kapten Dika mau ngomong sama kamu. " Ujarku.
" April, ini mama Desti... April nanti malam pokoknya kamu dan teman-teman harus menginap di rumah tante puspa atau Mama desti... Pokoknya tidak ada yang namanya tidak enak atau merepotkan, kalian sudah kami anggap keluarga... " Seru Mama kapten Dika.
" Tapi tan, kami... " Ujar April dipotong oleh Mama kapten Dika.
" Nggak ada kata tapi tapi an, pokoknya kalian tidak usah menginap di hotel. " Seru Mama Desti.
" Maaf pril tadi aku Louspeaker" Timpal ku.
" Yasudah kalau gitu tante... Terimakasih ya tante..." Ujar April terdengar pasrah.
Setelah itu, Mama kapten Dika pun memberikan telfon kepadaku.
" Nanti kalau kamu sudah turun dari pesawat kabarin aku ya, nanti aku jemput. " Seru ku
" Iyya ca nanti aku kabarin... Maaf yya, kita udaah ngerepotin. " Seru tika, yang ternyata mereka sedang bersebelahan.
" Sama sekali nggak kok... Yasuda kalau gitu aku tutup telfon nya, assalamu'alaikum..." Kataku.
" Wa'alaikumsalam,, " Seru mereka.
****
Malam hari pun tiba, sekitar jam 10 malam aku sedang menjemput mereka ke bandara, yang tentunya aku ditemani oleh Kapten Dika.
Sesampainya dibandara, kami mencari keberadaan mereka, tak butuh waktu lama, akhirnya aku menemukan keberadaan mereka. Ketika kami bertemu, mereka langsung memeluk ku dengan gemas, seperti tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.
" Kangen kangenan nya udah dulu, terus in dirumah." Seru kapten Dika melihat kelakuan kami.
" Iya iya, Cerewet.." Ledek ku. Mendengar perkataan ku, mereka tersenyum senang.
" Kalian mau makan apa?? " Tanya kapten Dika kembali.
__ADS_1
" Terserah, yang penting makan enak. " Seru April dengan semangat.
" Lebih enak lagi kalo gratis. " Timpal Tika dengan candaan.
" Hahaha, kalau itu tenang aja, abang yang traktir." Seru kapten Dika.
" Wahhhh.... Makasih bang.. " Seru mereka senang.
" Kalo denger kata ditraktir aja langsung berbinar binar.. " Ejek ku ke mereka.
" Ya iyalah.... Kalo Abang kayak gini terus, sebagai sahabat Ica, kami setuju banget abang jadi suami Ica. " Seru April menanggapi.
" Bener itu" Timpal Agil dan Tika.
"Itu sih maunya kalian, biar dapet makan gratis... Tapi untuk kali ini biar aku yang traktir.." Seruku pada mereka.
" Gak mau ah.. Aku mau minta traktir sama bang Dika aja, kan aku belum pernah ditraktir, ya kan bang.. " Seru Agil meminta persetujuan
" Iyaa... Sudah sudah, sekarang ayo kita berangkat, nanti abang yang teraktir kalian semua." Ujar kapten Dika sambil menutup bagasi mobil.
" Yang penting makannya jangan banyak banyak, terus jangan minta yang mahal mahal" Ujar ku pelan pada mereka sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
Setibanya di restaurant, kami berlima duduk dan kapten Dika memanggil waiters untuk memberikan kami buku menu.
"Inget yang aku bicara in tadi" Seruku memperingatkan mereka sambil melihat daftar menu.
Melihat ku memperingatkan mereka, kapten Dika pun melirik ku dengan bingung " Kamu Bicara apa sayang? " Tanyanya.
" Engga, bukan apa apa bang. " Jawabku.
" Emmm, ini kami boleh milih apa saja kan Bang? " Tanya April.
" Iya terserah kalian. " Seru kapten Dika.
Aku melihat menu ini yang paling murah " Em.. Kita berempat pesan paprik ayam, sama jus alpukat 4, ya kan pril, tik, gil! " Seruku sambil menyenggol kaki mereka yang kini berada didepan ku.
"Ahhh iyaa.. " Seru april dengan terpaksa.
" Beneran Itu aja? Ngga kurang???" Tanya kapten Dika memastikan.
" Sebenarnya kurang, tapi yaudah lah gak papa bang" Jawab Tika.
" Udah gak papa. mau tambah apa lagi, sebelum abang pesan..." Tanya kapten Dika lagi.
Mendengar perkataan kapten Dika, aku langsung menyenggol kaki mereka lebih keras dari sebelumnya. " Aduhh, beneran bang? Gak papa ya ca, kita orang laper.." Seru April sambil mengedipkan mata kepadaku.
" Asyikkkk, tu denger ca, gak papa... aku ngga jadi pesan paprik ayam deh.." Seru April. Aku hanya bisa menghela napas melihat perilaku mereka.
Bukannya aku kesal dengan mereka karena ditraktir oleh kapten Dika, tetapi aku kesal ketika mereka makannya banyak seperti tidak makan 3 hari 3 malam, ditambah lagi kapten Dika membawa kami ke restoran yang notaben nya harga makanan disini mahal mahal, bahkan bisa membuat kantongku jebol..
***
Setelah kami menikmati makan malam di restauran, kami pun akhirnya kembali pulang kerumah mama kapten Dika. Setibanya dirumahnya, kami disambut oleh mama, dan Dira. Setelah itu Tika, Agil, April langsung meletakkan barang barang mereka kedalam kamar yang pernah aku pakai dulu, dan membersihkan diri dikamar mandi.
Sedangkan kapten Dika dan aku, kami sedang bersenda gurau di kamarnya. Untuk malam ini, tante ku, beserta anak anaknya tidak dirumah, dikarenakan tadi ada telfon mendadak kalau Ibu tante Puspa sedang sakit, jadilah mama kapten Dika menyuruh kami untuk tinggal dirumah nya.
Aku dan kapten Dika duduk berdua disofa kamar miliknya. " Ini foto abang umur berapa?" Tanyaku padanya sambil menunjuk foto yang berada di album fotonya.
"Emm, sekitar umur 4 tahun kayaknya.. Kecilnya abang ganteng kan! " Ujarnya bangga sambil duduk di samping ku.
" Iya sih yang ganteng. " Ujarku sambil mencubit gemas pipinya. Ia pun langsung menyenderkan duduknya padaku.
" Pasti ganteng ganteng gini dulu banyak pacar nya " Cicitku lagi.
Dia bangun dari senderan ku, langsung menatap ku dengan intens " Mana ada? Abang ini orangnya setia tau" Serunya padaku.
" Elehh... Gak mungkin, sekarang aku tanya, dari dulu sampe sekarang abang punya mantan pacar berapa? " Tanyaku penasaran.
" Emm... "Dia diam sambil memikirkan.
" Hayoooo, pasti banyak kan, sampe bingung ngitung nya " Kaget ku.
" Jujur, abang Cuma 2 kok, kalau yang lainnya abang nggak menanggapi. " Serunya padaku
" Ahhh yang bener??? Tinggal ngomong 2 aja lama bener!! Nggak percaya aku. " Godaku.
" Beneran sayang... Suer deh" Jawabnya dengan meyakinkan
" Ya biasanya kan, cowok itu sukanya gitu, apalagi liat modelan abang kek gini. Terus liat cewe yang bening dikit, sexy dikit, apalagi mau diajak iya iya, langsung deh tancap gas" ketusku.
"Emang kamu pernah?" nada suara kapten Dika yang meninggi membuatku menoleh. Sepasang matanya tampak berkilat gusar.
"Pernah apa bang?" Tanyaku
__ADS_1
"Yaa... Yang iya iya itu?" cecarnya.
Aku menggeleng cepat. " Ya Enggalah. Ngapain juga, aku loh masih ting ting, kan uda pernah di cek gitu sama dokter."
Aku mendengar bang Dika menghela nafas. "Kalo ciuman pernah?" tanyanya lagi. Aku pun menggeleng sambil melihat album fotonya kembali.
"Serius?" Tanya nya meyakinkan, kali ini aku pun mengangguk.
"Satu kali pun belum pernah?" Tanya nya mengintimidasi ku.
" Masa iya belum pernah??" runtutan pertanyaan nya dengan cepat, dan aku pun mengangguk lagi.
"Kalo abang cium mau?" Tanya nya dengan cepat. Lagi lagi aku mengangguk akan pertanyaan cepat itu.
***Eeh.apa tadi? *** fikir ku mencerna pertanyaan kapten Dika. Mataku langsung membulat lalu mengeleng-geleng panik.
" Eh, nggakkk... Nggakk... Nggak mau.. Udah pernah deng, abang yang cium aku. " Ujarku gelagapan mengalihkan pembicaraan.
"Terlanjur sayang, abang cuma terima jawaban yang pertama, nggak ada ralat." suara seraknya terdengar mengancam.
Dengan takut, aku meliriknya dengan ujung mataku. Wajah kapten Dika datar, tapi matanya berkilat berbahaya membuatku merinding. "Kan abang udah bilang, jangan main api kalo nggak mau terbakar" desisnya tajam dan memegang tanganku dengan lembut.
Sekujur tubuhku saat ini meremang mendengar nya. ***Duh... Gimana ini, kayaknya aku udah membangunkan macan tidur*** gumam ku.
Aku ingin bangun, kabur dari kamar ini. Cuma orang bodoh yang bertahan di kandang macan yang baru bangun dan terlihat kelaparan. Tapi entah mengapa tubuhku terasa kaku, Tak sanggup bergerak pergi untuk meninggalkan kamar ini.
Ya. Aku memang sebodoh itu. Perlahan aku merasakan tangan kiri kapten Dika menyentuh pipi kananku, merangkumnya lembut lalu menolehkan wajahku hingga kini menatapnya.
Sepasang mataku yang resah bertatapan dengan sepasang matanya yang gelap. Wajahnya menunduk mendekat, semakin dekat hingga aku merasakan hembusan nafasnya yang hangat di wajahku, membuatku semakin merapatkan pahaku, dan meremas jemari tangan di pangkuanku dengan gelisah.
Tanpa kusadari mataku terpejam, bibirku terbuka dan nafasku terasa berat, dengan debaran jantungku berdetak cepat, menantikan sesuatu. Lalu aku merasakannya, sesuatu yang kenyal dan basah menyelimuti bibirku.
Menurut ku ini adalah Ciuman pertamaku, yang kami berdua sama sama menginginkan nya, bukan hanya sebelah pihak. Inikah yang dinamakan ciuman? Sensasinya begitu memabukkanku.
Aku ingin lebih. Namun kehangatan itu hilang secepat datangnya, dan meninggalkanku dalam rasa hampa yang pekat. Perlahan aku membuka mataku. Melihat wajah kapten Dika masih memandangi wajahku, dekat, sangat dekat, ujung hidungnya hampir menyentuh hidungku, sampai sampai suara nafas kami menyatu.
Aku merasakan tanganku perlahan bergerak naik, mengelus rahangnya dengan sayang. Yaa... Ntah mengapa perasaan sayang ini terasa membuncah di dadaku, dengan seketika kapten Dika mengerang lirih.
Lalu sedetik kemudian aku merasakannya lagi, pagutan nya yang lembut pada bibir bawahku, diiringi dengan pagutan yang lain di bibir atasku. Setiap pagutan nya mengambil nafasku, membuatku terengah.
Kapten Dika melepas sejenak pagutannya pada bibirku, memiringkan kepalanya ke satu sisi lalu memperdalam ciumannya. Ia mengulum bibirku, kali ini lebih berani, ******* bibirku dengan bibirnya, mendesakkan lidahnya dari celah bibirku yang terbuka.
Entah sejak kapan, aku menjadi wanita seperti ini, tidak sepolos dulu. Aku bukan lagi pihak yang hanya menerima ciuman, aku ternyata cepat belajar rupanya. Kemudian aku membalas setiap pagutan dan ******* bibirnya dengan bersemangat, ikut membelitkan lidahku dengan lidahnya dalam tarian lidah kami yang er*tis.
Aku pasrah saat ia merebahkan tubuhku di sofa dengan tubuhnya yang menaungi diatasku. Satu lengannya menumpu di sisi kepalaku, menahan tubuhnya agar tidak menindihku, tangannya yang lain bertengger ringan di lekuk pinggangku sementara bibirnya ******* semakin dalam.
Aku benar benar melayang, rasanya jiwaku terbang. Inikah namanya gairah? Dahsyatnya membutakan akal sehatku. Merasakan sensasi ini, entah mengapa, saat itu juga aku melingkarkan tanganku ke lehernya. Perlahan tangannya di pinggangku merayap naik. Menelusuri sepanjang lekuk pinggangku, semakin naik lalu berhenti di dadaku, meremasnya lembut namun memberikan efek yang sangat dahsyat bagiku, mungkin juga baginya, lalu kami sama sama mendesah.
"Abangg." aku mendesahkan namanya gamang saat tautan bibir kami terlepas. Kapten Dika mengangkat kepalanya, menatapku dengan sepasang matanya yang berkabut. Bibirnya berkilat basah membuat denyutan diantara kedua pahaku menggila.
Aku merasa sangat rapuh. Kepolosanku berbaur dengan gairah murni yang kurasakan pastilah terpampang nyata di mataku karena sedetik kemudian aku mendengar kapten Dika mengumpat lirih.
Kapten Dika bangkit dari atas tubuhku, menghempaskan tubuh jangkungnya duduk di sebelahku dengan nafasnya masih terdengar. Perasaanku rasanya tak karuan. Aku lega dia berhenti tapi juga kehilangan. Bahkan aku merasa rasa kehilangan itu lebih besar dari rasa lega. Aku merasa, aku memang sudah gila.
Memang benar, apa yang dikatakan oleh orang orang terdahulu, dimana ada 2 orang yang berbeda jenis kelamin, maka disitulah ada yang ke 3 yaitu syaiton.
Bagaimana mungkin ciuman ku ini kulakukan dengan er*tis, dan bukankah ciuman kami ini seharusnya terasa lembut, halus dan manis, bukannya menggebu-gebu, penuh nafsu dan meluluh lantakkan jiwaku seperti yang kurasakan barusan.
Ciuman macam apa ini? Aku menghembuskan nafas berat, membuat kapten Dika menoleh menatap ku, lalu beringsut mengubah posisinya duduk menghadapku. "Sayang.." panggilnya lembut.
Aku menoleh, menggerakkan badanku yang terasa lemas, duduk mengikutinya menghadap kearahnya. Kini kami duduk dengan saling berhadapan. Perasaan malu yang sangat kuat menerjangku saat tatapan kami bertemu membuat pipiku serasa terbakar.
Kapten Dika mengulurkan tangan kanannya, mengelus pipiku lembut. "Maafin abang, abang terbawa suasana." bisiknya dengan suara serak.
Aku menatapnya lama, memandang wajah tampannya, sepasang mata lentiknya, dengan rahangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, lalu pada bibirnya yang masih berkilat basah akibat ciuman kami. Perasaanku menghangat, rasanya aku sayang sekali dengan lelaki yang duduk dihadapanku ini.
"Iyaa aku tau.." aku balas berbisik.
"Pukul abang jika hal ini terjadi lagi." Ujarnya
"Abang takut hal ini mungkin bisa terjadi lagi, bahkan bisa lebih dari ini" bisik nya mengoda, dengan pipi memerah, tiba tiba alisku bertaut.
"Jangan bang, kita belum halal " Balas ku berbisik padanya.
Kapten Dika terkekeh "Maka dari itu, ayo kita segera menikah... Agar Abang bisa unboxing kamu... " Ajaknya dengan mata yang berbinar.
" Nanti, belum saatnya. " Ujarku malu langsung kabur kekamarku meninggalkan kapten Dika sendiri.
Melihat tingkah laku ku, kapten Dika terkekeh geli 🤣🤣
*
*
__ADS_1
*
*