I Love You Kapten Songong

I Love You Kapten Songong
Kejahatan Bella


__ADS_3

Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™๐Ÿ™


Terima kasih buat pembaca novel "I Love You Kapten Songong" sudah menemani author hingga episode ini. Jujur, membaca komen kalian membuat author sangat senang. Author ingin menyampaikan permintaan maaf, untuk para readers semua, karena author tidak bisa mengabulkan permintaan kalian untuk up episode pada bulan bulan ini.


Dikarenakan menulis 1 bab butuh waktu paling sedikit 3 jam itupun author ini masih penulis amatir, dan belum mahir mengolah kalimatnya dengan apa yang difikir kan. Itu juga kalau lagi fokus, tapi kalau lagi down, bisa memakan waktu hingga 4 jam an lebih.


Sedikit Curhat, sebenarnya ini cerita uda lama author buat, tetapi belum ada semangat untuk mengecek ulang dikarenakan sedang down sehingga belum bisa upload cerita selanjutnya. Berbulan bulan author sedang sibuk merawat bunda yang sakit. Mungkin Allah lebih sayang dengan bunda author, sehingga kini penyemangat author telah tiada sehingga membuat author sangat sangat down. Jangankan untuk melanjutkan cerita, author aja sampai resign dari pekerjaan karena sibuk merawat Ortu.. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Untuk itu, author mohon maaf sekali lagi.


Author tidak bisa membalas komen kalian satu satu. Tapi, percayalah. Membaca komen kalian membuat hati author berbunga dan menjadi penyemangat untuk terus berkarya. Terima kasih dari saya selaku Author "I Love You Kapten Songong"


Jangan lupa like, share, dan vote sebanyak-banyaknya ya


Author peluk online ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Untuk para Bocil diharapkan hussss.... Minggir jauh jauh ya ๐Ÿ˜


****


Hari demi hari pun terlewati, semua berkas berkas yang telah aku persiapkan telah selesai. Ya, menurut ku ini baru awal untuk melangsungkan pernikahan, bagaimana nanti ketika mempertahankan pernikahan ini!!!


Apakah aku sudah siap jika ditinggal olehnya selama berminggu minggu, berbulan bulan bahkan tahunan. Membayangkan nya saja nyaliku sudah hampir ciut, tapi apalah daya, inilah resiko yang harus aku ambil ketika menjadi istri Abdi negara. Jujur aku sangat kagum kepada wanita wanita hebat diluar sana yang menjadi pasangan Abdi negara.


Kini aku telah tiba di Bandara xx tempat ia ditugaskan, yang mana ini juga tempat magang ku. Sesampainya dibandara, aku tidak dijemput olehnya, melainkan dijemput oleh bang Rizal, yang mana abang dari Kapten Dika.


Walaupun nanti aku akan menjadi calon adik ipar nya, aku tetap masih sungkan dan tidak sebegitu akrab dengannya.


" Dek, kita mampir ke kantor abang dahulu ya, karena ada masalah mendadak. " Ujarnya sambil mengendarai mobil, dan ku iya kan.


Sesampainya dikantornya, aku hanya berjalan mengekor dibelakangnya. Lalu Setelah sampai ketempat yang ditujukan, aku duduk di ruangannya, dengan memakan makanan yang telah ia pesankan untukku. Ditengah aku menikmati makanan ku, aku memperhatikan nya ketika ia marah kepada asisten dan sekertaris nya itu.


"Brakkkk.... " Seketika dia menggebrak meja kerjanya dan langsung memijat kening kepalanya.


Beberapa menit kemudian, bang Rizal berjalan kearah ku dan ia pun duduk disampingku dengan menatapku. Aku melihat tampilan mukanya yang begitu horor, hingga membuat nyaliku ciut.


" Maaf ya dek, sudah menunggu lama. Kalau perusahaan tidak sedang gawat, kamu sudah abang ajak pulang ke rumah tante mu. " Seru bang rizal dengan melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemeja bagian atasnya.


" Ng Nggak bang... Ica malahan yang minta maaf, karena uda ngerepotin abang disaat keadaan perusahaan sedang begini. Abang nanti nggak usah anterin Ica pulang nggak papa, nanti Ica bisa pulang naik taxi online kok bang." Jawabku tidak enak.


" Sebenarnya sebelum abang menjemput kamu keadaan kantor baik baik saja tidak ada kendala, tetapi setelah itu, secara mendadak beberapa investor menarik dana sehingga mau tak mau perusahaan menunda proyek yang tengah berjalan. Apalagi ditambah dengan ancaman dari Bella." Serunya sambil memijat kening Kepala nya.


Melihatnya dengan kasian, aku pun angkat bicara "Ancaman dari Mba Bella?? Ancaman apa bang??? Ahh.. Maaf bang jika pertanyaan ku seolah olah ikut campur, lupakan saja bang, apa yang aku bicarakan. " Ujarku dengan takut.


" Dia akan membeberkan foto foto kami, jika abang tidak bertanggung jawab atas kehamilannya. Sumpah, abang tidak tau akan hal ini, abang merasa tidak melakukan semua hal yang ia tujukan. " Katanya dengan frustasi sambil menopang keningnya dengan kedua tangannya.


" Kalau abang tidak merasa melakukannya dengan mbak Bella, coba tes DNA saja bayi yang ada didalam kandungan nya. " Fikirku sambil memegang bahunya.


" Apa yang sedang kalian lakukan." Seru kapten Dika masuk dengan tiba tiba.


Melihat tangan ku yang masih berada dipundak nya, segera ku melepaskannya. "Emmm.. Bang Rizal lagi kena musibah, katanya perusahannya sedang tidak baik." Ujarku.


" Dek, Apakah bisa bayi dalam kandungan kalau umur 5 minggu di tes DNA? " Tanya bang rizal kearah kami.


" Mana ku tau bang, aku bukan dokter!!" Seru kapten Dika kesal.


" Aku tidak yakin kalau umur 5 minggu bisa dites DNA bang. " Jawabku.


" Siapa yang mau tes DNA?? " Tanya kapten dika bingung kearah ku dan Bang Rizal dengan horor.


" Bella" Jawab bang rizal pelan.


" Hah, apa?? Bella?? Kok bisa??? Bella hamil anak Abang??" Tanya kapten Dika dan bang Rizal pun menceritakan kejadian tersebut kepada kami.

__ADS_1


***


" Kalau menurut ku sih bang, dari apa yang abang ceritakan, jelas sekali Bella memasukkan sesuatu ke gelas abang, pada saat dia ingin bertemu abang dengan alasan dalang dari kecelakaan Ica. Tau sendiri bagaimana licik nya si manusia ular itu." Jelas kapten Dika.


" Sebenarnya abang ingin minta tolong ke kamu dek, tolong cari bukti apakah dia benar hamil anak abang dan ambilkan Sertifikat kepemilikan apartement abang di apartemen nya. " Pintanya.


" Hah?? Abang memberikan apartemen abang kepada nya??? Dan Kenapa mesti aku bang yang kesana? Kenapa tidak abang sendiri!! Atau menyuruh bodyguard bodyguard abang lainnya!! " Jawab kapten dika.


" Dia mengambil sertifikat itu ketika abang tidak sadarkan diri. Dan harus kamu tau, untuk apa abang menyewa mereka selagi ada kamu yang gratis dan berpengalaman. Apalagi Keadaan perusahaan kini sedang kacau balau, dan apartemen itu adalah tempat dimana banyak kenangan abang bersamanya. Dan satu lagi, abang minta tolong kamu juga bantu abang ya ca." Ujarnya memelas agar kapten Dika mau melakukan hal tersebut.


" Ica nggak ada kaitannya, biar aku dan kamu saja bang. Bagaimana? Sekarang sampai sore aku bisa bang. " Seru kapten Dika.


" Aku ikut ya bang, aku bisa menjaga pintu apartement mba Bella kok, jika mbak bella mau masuk nanti aku telfon. " Seru ku mencoba ingin membantu.


" Jangan ikut !!!" Potong kapten Dika kesal.


Dengan banyak perdebatan, aku pun akhirnya diperbolehkan ikut dengan mereka. Kini kami sedang merencanakan skema yang akan digunakan untuk masuk ke apartemen tersebut dan mencari sesuatu yang kita butuhkan.


***


Sesampainya nya di apartement Bella, sesuai rencana kami, yang bertugas menjaga pintu apartemen dari luar yakni bang Rizal, karena untuk berjaga jaga bila pemilik apartemen masuk, ia akan langsung menghubungi Bella untuk mengalihkan nya.


Benar saja, sandi yang dimasukkan untuk membuka pintu masih tetap sama, tidak diganti sedikit pun.


"Klek" Bunyi pintu apartemen nya yang terbuka. Aku dan Kapten Dika pun masuk ke dalam ruangan apartemen tersebut.


Kini aku tengah mencari sertifikat kepemilikan apartemen di lemari nya, Sementara kapten Dika sedang mengecek isi dari laptop maupun CCTV milik Bella.


Ketika aku membuka lemari selanjutnya, aku menemukan fotoku yang telah dicoret coret dengan lipstik merah, lalu di tusuk oleh banyak jarum dan bertuliskan akan membunuh ku. Melihat itu semua, mataku terbelalak kaget dengan rasa ketakutan.


" Abangg!!! " Teriakku histeris langsung berlari memeluk kapten Dika.


" Kenapa??? " Tanya nya kebingungan melihat tingkat laku ku.


Melihat reaksiku, kapten Dika pun berjalan menuju kearah yang aku tunjukan, dengan tangan ku yang masih melingkar di lengan tangannya. Setelah ia melihat yang aku tunjukkan, ia pun mengamati dan memikirkan semua hal yang terjadi selama ini aku dan Dira alami.


" Sudah kamu jangan takut ada abang disini. Abang pastikan, Bella akan membayar semua yang dia lakukan kepadamu dan Dira." Ujar Kapten Dika menenangkan.


Setelah itu, kapten Dika pun menemukan sertifikat apartemen di lemari tersebut, dan tanpa disengaja sebuah handphone jatuh ke bawah, dan ia pun mengambilnya.


Tiba tiba terdengar suara password pintu yang sedang ditekan, dengan spontan Kapten dika menyeretku dan mengambil laptop yang telah ia pakai ke bawah kolong ranjang tidur. Untung saja, ranjang kamarnya tinggi (king size), sehingga kolong ranjangnya sedikit luas untuk kami mengumpat dibawah sana.


Kini kapten dika memelukku dari belakang dengan posisi badan kami yang berbaring kearah samping, dengan tangan kanan melingkarkan nya dipingangku, sedangkan tangan kirinya membungkam mulutku.


Setibanya mereka di ruang kamar tidur apartement, kami melihat 2 pasang kaki mendekat kearah persembunyian kami. Bella mendekat dan mengajak lelaki tersebut duduk di atas ranjang. "Sayang, kamu mau minum apa?" Tanya Bella kepada orang yang tidak kami kenal.


" Terserah kamu!!! Jangan lama lama sayang aku sudah tidak sabar. " Jawab lelaki tersebut dengan tidak sabaran.


***Kurang ajar, kemana kamu pergi bang?? Sampai sampai Bella masuk kamu nggak tau. Dasar brengs*k, Kur*ng aj*r.. *** kerutuk Kapten Dika didalam hati.


" Iya sayang, dasar tidak sabaran. " Ujar Bella berjalan mendekat ke ranjang tidur diikuti dengan lelaki tersebut.


Tak menunggu waktu lama, tiba tiba satu persatu pakaian yang dipakai Bella dan lelaki itu jatuh di atas lantai ke sembarang tempat, pastinya kami tau apa yang mereka lakukan diatas ranjang.


Melihat pakaian yang jatuh diatas lantai, aku hanya bisa menelan ludah, dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


***Gilakkk, Gilakkk... Bukan live streaming lagi ini mah namanya!! Mau nge gep tapi pasti ketahuan... Tau gitu aku nggak mau ikut kesini... Ampunilah aku ya Allah... *** Kerutuk ku dalam hati sambil memejamkan mata.


"Aahhhh" Suara Leguh*n yang keluar dari mulut Bella.


" Mmpphhh... Sayangggg... " terdengar suara bella yang begitu mengoda.


Merasakan r*njang yang yang begetar dan suara L*guhan kenikmatan akibat pergulatan panas mereka diatas ranjang, membuat ku memanas, dan merinding. Ditambah lagi, aku juga merasakan ada sesuatu yang keras mengganjal di belakang area bawah ku.

__ADS_1


Aku seperti merasakan juni*r kapten Dika yang mengeras dibawah sana ingin menyeruak masuk, apalagi posisi kami sekarang sama dengan sebelumnya, yaitu ia memeluk ku dari belakang, dengan tangan kanannya yang melingkar dipinggang ku.


Dengan membuang semua fikiran kotorku, aku memberanikan diri dengan meraih tasku yang berada di depanku. Setelah ku mendapatkan tas tersebut, aku pun meraba mencari handphone ku, dan langsung menuliskan pesan kepada bang Rizal.


***Bang tolong! Ada Bella! *** Pesan ku padanya.


Tak lama kemudian " Tring... Tring... Tring... " Suara dering telfon pun terdengar nyaring ditelinga kami. Mendengar dering telfon berbunyi, mereka tetap melakukan kegiatan tersebut tanpa henti.


" Tring... Tring.. Tringgg... " Suara dering telfon terus berbunyi tanpa jeda, hingga si pemilik handphone kesal akan suara tersebut.


Bella pun mengambil handphone tersebut, dan melihat siapa yang telah mengganggu kegiatan mereka. " Siapa??? Kenapa tidak diangkat??" Tanya lelaki tersebut dengan kesal.


" Nggak jelas!! " Jawab Bella dengan malas.


Sebelum Bella meletakkan handphone di atas meja samping ranjang, dering telfon kembali berbunyi dengan nyaring.


Dengan kesal, bella pun menjawab telfon tersebut.


"........." Seru bang Rizal di telfon.


" Aku nggak bisa, aku lagi sibuk sekarang!!! " Seru Bella dengan kesal.


"............" Jawab bang Rizal ditelfon.


" Okey, aku kesana sekarang!! " Putus Bella dengan mendengus kesal.


" Ada apa sayang?? " Tanya lelaki tersebut.


" Maaf sayang, sekarang aku lagi ada urusan mendadak. Besok malam kita lanjutkan lagi, dan jangan lupa janji kamu ya sayang. " Jawab Bella sambil berjalan kearah kamar mandi, dan kembali memakai pakaiannya.


***


Setelah mereka keluar dari apartemen, dengan cepat aku langsung beranjak menjauh dari pelukan kapten Dika.


" Brakkk " Suara kepala ku yang terbentur ranjang tempat tidur.


" Aduhhhh " Ujarku kesakitan sambil menggosok gosok kepalaku.


" Makanya pelan pelan. " Ujarnya keluar dari bawah kolong tempat tidur.


" Uu uda uda, aku tunggu dimobil. " Kataku tergagap sambil melirik kearahnya dan masih memikirkan hal-hal tersebut.


" Heh!! sayang ini kunci mobilnya. " Teriaknya sambil melempar kuncinya. Setelah ia melemparkan kunci mobilnya, segera kutangkap dan langsung berlari menuju parkiran mobil.


***


Ditempat lain, Kapten Dika sedang mengotak atik laptop dan memindahkan data data yang menurutnya penting.


Ia pun menelfon bang Rizal " Bang.. Jangan temui Bella sekarang, batalkan janji kalian, karena aku punya bukti dan kita perlu menyusun rencana." Ujar kapten Dika didalam telfon.


" Oke. Abang tunggu di apartemen Abang. " Seru bang Rizal mematikan telfon.


*


*


*


Mau bagi bagi THR tapi author lagi belum kerja, terus aku kudu pie ๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜‘


Yaudah deh..


Jangan lupa kasih like (๐Ÿ‘), comment (๐Ÿ“ฑ) dan vote (๐Ÿ’Œ๐Ÿ“ฒ) serta hadiahnya ( ๐ŸŒนโ˜• โค๐Ÿ†) ya ๐Ÿค—๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Biar author semangat bikin ceritanya, terima kasih sudah mampir di cerita ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’•


__ADS_2