I Love You Kapten Songong

I Love You Kapten Songong
Berwisata


__ADS_3

Maaf ya readers, author lama nggak update πŸ™πŸ™


...🌹❀(JANGAN LUPA VOTE) ❀🌹...


Acara lamaran ku akhirnya selesai, kini para kerabat maupun tamu yang hadir telah pulang satu persatu, sedangkan untuk keluarga Kapten Dika, sebagian menginap di rumah mas Dito, sedangkan mama, nenek, dan Dira tidur dirumah ku.


Keesokan harinya, kami berkumpul duduk diruang keluarga diselingi dengan canda tawa menyelimuti kami. Kini kedua orang tuaku sudah mengakrabkan dengan keluarganya, saking akrabnya, mama Kapten Dika sudah menganggap mama dan bapakku adalah Mbak dan mas nya, sampai sampai mereka lupa akan keberadaan ku disini.


Sedangkan untuk Oma, aku tidak bisa membaca apa yang ia fikirkan, sedang berpura-pura ataupun tidak.


" Nak Dito, sama nak Anin, kapan kesini ya membawa anak anaknya?" Sela Oma ditengah obrolan.


" Nanti sore mungkin bu, soalnya Dito dan istrinya kerja, sedangkan Rafi dan Lani dititipkan ke mertuanya. Kalau Anin mungkin sebentar lagi sampai sini membawa Aldy " Jawab mamaku menjelaskan ke Oma kapten Dika.


" Tuh dek, Oma sudah tidak sabar mau punya cicit, segeralah menikah dan cepat buatkan cucu untuk bapak mama, cicit untuk Oma dan ponakan untuk mbak " Potong mbak Anin sambil berjalan menuju kearah kami.


" Mbak ini, dateng dateng bukannya Salam malah ikut nyaut aja. " Protesku.


" Bener itu, mama setuju dengan mbak mu. " Ujar mama kapten Dika.


Melihat mbak ku membawa anaknya, Oma langsung mencoba untuk mengajaknya main.


" Oma menyetujui mereka menikah, Kalau Ica dan Dika bisa membuatkan cucu seperti Aldy, Rafi dan Lani." Ujar Oma sambil mengajak main Aldy anak dari mbak Anin.


" Hahaha... Denger itu dek... " Canda mbak Anin.


" Kami menunggu bang Rizal menikah dulu, setelah itu baru kami. " Protes ku.


" Kalian dulu saja sayang, Dika loh sudah serius dengan kamu. Kalau menunggu Rizal, Mama masih belum bisa memastikan, karena jodohnya masih kabur, belum keliatan. " Canda Mama kapten Dika.


" Hahaha, ada ada aja kamu ini des. " Tawa Mama.


" Sesuai kesepakatan kami para orangtua, kami akan menikahkan kalian setelah kamu selesai magang. Jadi mulai sekarang kamu kudu mempersiapkan segalanya untuk keperluan menikah." Terang Mama sambil menjelaskan.


" Mama, diundur lagi ya!! " Mohon ku dengan senyuman imut. Aku tau, ini semua pasti rencana Mama.


" Nggak bisa. Ini sudah kesepakatan kami bahkan mas Dika mu juga sudah menyanggupi. Jadi tidak ada alasan untuk memundurkan maupun menundanya." Jawab Mama.


Kalau sudah begini aku hanya bisa pasrah, tidak dapat lagi membantah mamaku, karena sifatanya yang keras kepala, membuat mamaku kekeh atas kemauannya, dan sudah tidak bisa diganggu gugat.


***


Sore hari pun tiba. Karena besok keluarga mereka akan pulang, keluarga ku berencana untuk mengajak mereka rekreasi wisata di daerah kami.


Rekreasi yang akan kami datangi kali ini merupakan Danau yang di hiasi dengan elemen-elemen yang ditata sedemikian rupa, serta adanya banyak permainan disekitar area wisata tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke area wisata tersebut. Setelah kami sampai di area wisata tersebut, Kami memesan 1 pondok didekat danau tersebut, sambil menggelar tikar di atas rerumputan samping pondok tersebut.


Aku sampai geleng-geleng melihat mereka seperti terbagi menjadi beberapa kelompok, yakni para orangtua sibuk dengan para cucu mereka yang ingin minta main kesana sini, berlarian disana sini. Selanjutnya ada Para kakak kakak ku, serasa pengantin baru sambil menikmati momen berdua, karena anak mereka dibawa para orang tua.


Sedangkan Dira, Farel dan bang Rizal yang sedang mengabadikan foto, sambil menaiki area permainan air. Dan kini tinggalah aku berdua dengannya yang duduk di atas tikar, menjaga makanan serta barang bawaan, sambil melihat kecerian mereka.


" Bang kamu main sana loh sama mereka. " Ujarku yang merasa tidak enak.


" Disini aja sama kamu, Tapi Kalo kamu ikutan kesana, abang juga kesana. " Jawabnya.


" Kalo aku nyemplung (menceburkan diri) ke dalam sumur abang juga ikut? " Godaku.


" Sok sok an mau nyemplung sumur, bisa berenang aja nggak. " Tegasnya.


" Hisss mulai lagi ngeselin nya. " Kesalku sambil cemberut. Mendengar sikapku, ia malah tertawa dengan bahagia.


Tiba tiba datanglah mamaku menggandeng Lani. " Enca... Nca... Auk entu... (Ica.. Ica... Mau itu)" Rengeknya dengan cedal sambil menunjuk ayunan. Lani adalah anak ke 2 nya mas Dito yang berumur 2 tahun lebih.


" Lani main Kesana sama nenek aja ya. " Jawabku.


" Emoh ama nenek (tidak mau sama nenek)." Jawab Lani.

__ADS_1


" Lani sini aja, nenek capek. " Seru mamaku.


Mendengar mamaku, Lani yang faham akan maksudnya langsung menangis.


" Huaaaaaaa... Auk main ntu.. " Tangisnya merengek.


"Capek Mama, lari sana lari sini, jatuh sana sini. " Protes mamaku.


Melihat Lani yang menangis, membuat Kapten Dika tidak tega.


" Cup cup cup... Ayok main kesana sama Om." Jawabnya sambil berjongkok mengusap air mata Lani.


" Mbak sama mas Dito emang kemana sih mah?" Tanyaku pada Mama.


" Tadi sih cekikikan sama Farel dan lainnya, terus sekarang mama nggak tau. " Jawab Mama.


Aku pun menghela nafasku " Ayok Lani main kesana sama tante Ica, sambil beli es cream." Seruku sambil menggandeng tangannya ke tempat yang dituju.


Sesampainya disana, Kapten Dika membelikan es cream, sedangkan aku duduk di ayunan, sambil memangkunya menunggu Kapten Dika.


Aku melihatnya sedang menerima telfon dari seseorang, tetapi aku tak tau apa yang mereka bicarakan, sampai sampai membuat raut wajahnya kesal.


Setibanya Kapten Dika didepanku, ia memberikan es cream kepada kami berdua. Setelah memberikan es cream tersebut, Aku jadi takut sendiri, melihat urat urat di tangannya sedikit menonjol serta raut mukanya yang merah padam karena memendam amarah. Karena sebelumnya, aku pernah melihat ia semarah ini ketika ia memarahi dan melampiaskan kemarahannya ke adik Letingnya.


Melihat mimik mukanya seperti itu, aku pun menghindarinya dengan berpindah tempat, karena takut kena sasaran atas kemarahannya.


Setelah aku berpindah tempat untuk menjauhinya, dia malah mengikutiku. Sampai 2 kali aku berpindah tempat, ia tetap saja mengikuti ku.


" Kenapa pindah pindah!! " Kesalnya.


" Ya..ya... kenapa abang marah marah." Seruku dengan gugup.


" Ya kenapa pindah pindah!! " Tanya nya.


" Ya.. Ya.. Pokoknya aku takut abang marah gara-gara habis beli es cream ini. " Tuturku dengan gugup.


" Ya tapi kenapa mukanya marah kayak mau nerkam orang aja. " Ujarku.


" Mana ada! " Jawabnya lagi.


" Tu kan marah, udahlah aku kesana aja. " Seru ku mengambil jalan aman sambil menggandeng tangan Lani.


" Nggak marah sama kamu. Abang tadi cuma kesal sama yang nabrak kamu." Ujarnya buka suara.


" Emang siapa yang nabrak aku? " Jiwa kepo ku meronta ronta.


" Abang nggak tau, jelasnya nomor yang mengirimkan pesan ke kamu itu tidak bisa dilacak siapa pemilik nya. " Jawab nya.


Kini aku duduk meluruskan kakiku dengan beralaskan rumput, sedangkan lani duduk didepan ku sambil memakan es creamnya "Yaudah lah bang, anggap saja aku lagi apes kena musibah. " Kataku menggampangkan.


" Tapi itu jelas jelas ingin mencelakai kamu ica, dengan alih alih membawa nama Dira. " Jelasnya sambil ikut duduk disamping ku.


" Iya ya, tapi yasudah mau gimana lagi, mungkin dia ada dendam sama aku bang. Eh.. tapi aku rasa, aku tidak punya musuh tuh. " Jawabku.


" Mungkin ada kaitannya dengan yang abang fikirkan. " Duga nya.


" Kaitannya dengan apa bang? " Tanyaku penasaran.


" Ya ada yang tidak menyukai keluarga abang, jadi mungkin ini berkaitan. " Jelasnya.


" Kok abang bisa mikir sampai kesitu, mungkin memang ada yang tidak menyukaiku bang. Jangan jangan selingkuhan nya abang tidak suka dengan ku, jadinya ia mencoba untuk mencelakai ku. " Selidik ku.


" Gini ni, akibat dari korban sinetron. " Serunya.


" Mana ada, yang ada abang tuh korban dari film detektif upin dan ipin " Protesku.


" Hahaha... Abang serius, sudah berberapa kali orang itu mencoba untuk mencelakai Dira. Karena sekarang Dira dijaga dengan ketat oleh bawahan nya bang Rizal, kemungkinan kamu sekarang menjadi incarannya. " Jelas kapten Dika.

__ADS_1


" Emang dira pernah dicelakai seperti apa? " Tanya ku penasaran.


" Dira juga pernah hampir di tabrak seperti kamu ini, bahkan seringkali ia diculik, tetapi ia berhasil lolos." Tuturnya.


" Apa? Jangan nakut nakutin deh bang. Serius ini Tanyanya." Seru ku sambil mencubit pinggang nya.


Merasakan sakit dari cubitan ku, ia pun kaget sambil meringis kesakitan. " Awww... Sakit tau.


Abang beneran, kalau kamu tidak percaya tanya saja bang Rizal, yang penting kamu jangan tanya ke Mama, karena Mama nggak tau hal ini. " Terangnya


" Ya kirain cuma nakut nakutin Ica aja. Terus bagaimana Dira kok sering dicelakai, apa Abang, bang Rizal juga pernah dicelakai??" Tanyaku penasaran.


" Abang juga tidak tau apa masalah mereka dan siapa mereka, tapi kejadian ini hanya terjadi pada Dira, dan kamu. Jadi untuk saat ini Dira tetap dijaga lewat kejauhan, tapi diperketat penjagaan nya. " Serunya.


" Kasian juga ya Dira, kemana-mana harus diawasi." Kataku.


" Ya mau gimana lagi, kami tidak mau kejadian ini terulang kembali. Cukup untuk terakhir kalinya peristiwa penculikan itu terjadi, kami tidak mau kecolongan lagi, dan selalu menjaganya dengan ketat, agar Dira aman. " Ujarnya.


" Tapi buat apa Bang mereka mencelakai ku, aku kan tidak berkaitan dengan mereka." Terangku.


" Abang juga tidak tau. Yasudahlah kamu tidak perlu memikirkan itu, yang paling penting sekarang kamu harus memikirkan pernikahan kita. " Serunya.


" Ishhhh, apa an sih.!! " Ujarku sambil menyubit pinggang nya lagi dan dia pun meringis kesakitan.


" Ncaa.. Ncaa... Abis... " Ujar Lani merengek kepadaku sambil menujukan cup es cream yang sudah habis.


Melihatnya merengek kepadaku, dengan wajah dan baju yang kotor terkena es cream, aku pun kaget.


" Ya Allah dek... Tante lupa kalo ada kamu, mana sampe belepotan gini minumnya.. " Kataku sambil mengusap mukanya menggunakan tanganku.


" Ishhhh, gara-gara abang ini, aku sampe lupa kalo ada lani" Ujarku mencubit pinggang nya lagi.


" Awwww... Kok gara-gara abang??? Mana nyubit lagi!!! Bisa biru pinggang abang kalau kamu cubit terus." Kesalnya.


Tiba tiba datanglah Mas Dito dan istrinya menghampiriku.


" Apaan sih yang kalian ributkan, uda nggak tahan pingin cepet cepet nikah ya? " Tanya mas Dito.


Aku pun menengok kebelakang ku, melihat datangnya pemilik suara tersebut. "Apaan sih mas Dito ini!! " Kataku.


" Hahaha, yasudah sini mas foto kalian bertiga, senyum yang bagus ya. " Ujarnya langsung berjalan didepanku dengan pose menjepret kamera.


" Satu, dua, tiga.. Senyum yang ikhlas ca.. Lani! Liat ayah nak... Satu, dua, tiga.. " Ujarnya memfoto ku.


" Satu kali lagi. Lani di taruh tengah kalian dek dika." Seru mas Dito lagi.


Mendengar ucapan mas Dito, Kapten dika pun melakukan apa yang diperintah nya.


" Oke, Lani liat ayah sama bunda disini... Satu dua, tiga... Ganti gaya. Satu, dua, tiga... Ganti gaya lagi, satu dua tiga... Yang terakhir, foto yang serasi geh seperti keluarga bahagia... " Ujar mas Dito.


" Mas Ditooo!!! " Seruku.


Mendengar ucapan mas Dito, Kapten Dika langsung meletakkan tangan kirinya di pundakku.


Alhasil, katanya foto terakhir, tetapi banyak sekali foto yang didapatkan, dan entah mengapa aku menuruti perintah mas Dito.


*


*


*


...Jangan lupa kasih like (πŸ‘), comment (πŸ“±) dan vote (πŸ’ŒπŸ“²) serta hadiahnya ( πŸŒΉβ˜• β€πŸ†) ya πŸ€—πŸ˜˜....


... Biar author semangat bikin ceritanya, terima kasih sudah mampir di cerita ini πŸ€—πŸ’•...


...🌹SEE YOU NEXT EPISODE🌹...

__ADS_1


__ADS_2