
Kayron menatap anak kecil itu dengan berlinang air mata.
"Benar" Kayron mengusap matanya lalu mengelus wajah anak kecil itu dengan lembut.
"Kenapa kamu ada disini, nak? Cepat pulang. Nanti orang tuamu mencarimu. Disini juga bahaya. Kamu lihat tuh di belakang, ada api besar"
"Kalo kakak tau disini ada bahaya, mengapa kakak malah duduk disini? Tuh lihat, di depan kakak ada api besar nanti kakak bisa gosong loh" sahut anak kecil itu tanpa ekspresi.
Kayron tersentak kaget lalu tertawa diikuti dengan air mata yang keluar lagi dari matanya. "Kamu benar, tapi kakak tidak peduli. Kakak tidak akan pergi sebelum bertemu dengan orang yang kakak sayang"
"Siapa itu?" Tanya anak kecil itu sambil memiringkan kepalanya.
"Ada. Dia orang yang paling berharga untuk kakak. Dia orang yang sangat... kakak sayang" cicit Kayron yang mulai mengingat tentang Kayrah lagi.
Anak kecil itu menepuk pundak Kayron. "Kalau kakak sangat menyayangi orang itu, apa kakak mau mengikutiku? Ada orang yang sangat menyayangi kakak ingin bertemu dengan kakak"
"Apa?"
Anak kecil itu menggenggam tangan Kayron lalu mengajaknya pergi ke salah satu rumah warga yang terdapat disana.
Kayron tidak bisa membantah. Hanya menurut saja karena cengkraman anak kecil ini terlalu kuat bagi anak seusianya jadi Kayron berpikir ada yang benar-benar ingin disampaikan oleh anak kecil itu sampai tekadnya untuk menemui Kayron pun sudah benar-benar bulat.
"Nak, kita akan kemana?"
"Ketempat kakak cantik berada" jawabnya tanpa ekspresi.
"Siapa?" Tanya Kayron lagi.
"Nanti juga kakak akan tau" sahutnya lagi.
Kayron menghela nafas lalu menghapus air matanya yang melewati di pipinya. Dirinya tidak ingin terlihat lemah di depan seseorang yang akan dikenalkan oleh anak kecil yang sedang menariknya ini.
"Berarti aku nggak bisa manggil kakak dengan sebutan papa" gumam anak itu pelan.
"Apa?" Tanya Kayron yang mendengar secara samar.
"Kakak dan mama kami adalah saudara jadi kami tidak bisa memanggil kakak dengan panggilan 'papa', kan?"
Kayron memiringkan kepalanya. Bingung harus berkata apa.
"Jadi," anak kecil itu berhenti di sebuah rumah lalu menatap Kayron sambil berusaha tersenyum. "Apa aku boleh memanggil kakak dengan sebutan om papa?"
Kayron terkejut, ingin menolak permintaan itu karena dirinya bahkan tidak kenal dengan anak kecil ini tetapi karena melihat mata anak kecil dihadapannya menatapnya dengan penuh harap juga berusaha untuk tersenyum meskipun akhirnya tidak bisa, membuat Kayron tersentuh sampai-sampai ingin sekali dirinya memeluk anak kecil itu.
"Tentu saja. Panggil kakak sesukamu" jawab Kayron dengan senyum hangatnya.
Anak kecil itu terlihat antusias lalu berkata, "Namaku Karsein! Panggil aku Sein!"
"Oh, baiklah Sein" ucap Kayron sambil membelai kepala Karsein.
Karsein terlihat semangat lalu menarik tangan Kayron agar memasuki rumah di hadapannya.
"Apa kamu menangisi kakakmu ini, Aron?"
Suara yang begitu Kayron kenal dan bisa membuat Kayron tenang dalam keadaan apapun itu terdengar begitu merdu di telinga Kayron meskipun sebenarnya pemilik suara itu sedang berusaha mengeluarkan suaranya dengan terbata-bata.
"K..kakak?!" Kayron langsung mencari sumber suara setelah membeku sejenak.
__ADS_1
Mata Kayron berhenti ketika menatap seorang gadis berwajah pucat sedang terbaring dengan lemah di tempat tidur. Gadis itu berambut pirang, begitu cantik bahkan saat wajahnya pucat
Gadis itu tersenyum, "Aron, sini. Duduk di samping kakak" ucap gadis itu lemah.
Dengan cepat Kayron berlari menuju samping tempat tidur lalu menggenggam tangan Kayrah yang dingin.
"Kak, kakak kenapa bisa begini?! Kakak kenapa kelihatan lemah begini?! Terus kenapa kakak nggak pulang?! Bukan, bukan itu yang penting!" Kayron menatap Kayrah dengan tajam. "Kenapa kakak nggak menelfon aku tapi malah menelfon Paman Rangga?! Apa segitu nggak berartinya ak--"
"Sstt! Kamu berisik Ron" ucap Kayrah sambil menutup matanya. "Kamu harus tau satu hal penting ini dulu"
Kayron mengerucutkan bibirnya lalu berkata dengan kesal, "Hal penting seperti apa disaat seperti ini?! Kenapa sih kakak selalu--"
"Mereka adalah anak-anakku saat ini" sela Kayrah dengan santai.
Uhuk! Uhuk!
Kayron tersedak saat mendengar ucapan Kayrah yang seperti tidak memiliki beban.
"Apa?!" Kayron dengan cepat menatap anak-anak yang sedari tadi menatapnya.
"Kalian bisa memanggil kakak itu om papa" ucap Karsein memecah kesunyian yang terjadi.
"Om papa..."
"Om papa?"
"Om papa!"
Anak-anak seketika semangat saat Karsein mengintruksikan panggilan untuk Kayron.
"Karena om papa adalah adik dari mama, bukan kekasihnya" jelas Karsein dengan semangat.
Kayrah menahan malu saat anak-anak itu seolah paham dengan ucapan Karsein yang menurutnya terlalu jauh.
"Ron, badan kakak nggak bisa digerakkan. Kakak keracunan makanya kakak nggak bisa ngelawan. Jadi kamu mau kan memastikan keselamatan anak-anak kakak itu sekarang?" Tanya Kayrah penuh harap.
Kayron menatap Kayrah sejenak lalu menatap anak-anak yang menatapnya dengan mata berbinar. Seketika kepala Kayron sakit setengah mati. Bagaimana tidak? Dirinya tiba-tiba menjadi seorang paman dari anak-anak yang bahkan baru dikenalnya satu menit yang lalu.
"Ah" Kayron mengacak rambut pirangnya dengan gemas lalu berkata dengan pasrah. "Baiklah, aku akan mengurus mereka tapi sekarang..."
Kayron mengangkat tubuh kakaknya dengan mudahnya seolah Kayrah tidak mempunyai berat tubuh membuat anak-anak, bahkan Kayrah sendiri terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
"Sekarang kita ke rumah sakit"
.
***
.
"Kok terlambat banget sih?" Ucap Caroline sambil mengerucutkan bibirnya saat melihat Kayron menghampirinya setelah dia menunggu sepuluh menit.
"Maaf, aku harus mampir dulu ke rumah sakit" jawab Kayron lelah.
"Memang siapa yang sakit?" Tanya Caroline yang sudah melupakan rasa kesalnya.
"Kakakku"
__ADS_1
Caroline terkejut. "Calon kakak ipar sakit apa?!"
"Ya gitu deh" jawab Kayron malas.
Caroline mencoba untuk bersabar, "Lalu bagaimana keadaannya?"
"Masih hidup kok" Kayron mengusap matanya yang mengantuk.
"Ron, kita jadi kencan kan hari ini?" Tanya Caroline manja.
Kayron dengan cepat menggeleng. "Maaf ya, hari ini aku harus menjaga kakakku. Mungkin untuk beberapa Minggu ke depan aku sibuk mengurus kakakku" Kayron berkata sambil tersenyum lalu berbalik pergi.
"Kayron! Apa kamu lupa hidup temanmu ada di tanganku sekarang?!" Bentak Caroline sambil mencengkram tangan Kayron.
Kayron menatap mata Caroline yang menatapnya dengan penuh emosi. "Tentu aku tidak akan melupakan itu"
Caroline tersenyum kemenangan. "Maka dari itu--"
"Bila saja perusahaan nenek dan kakek sudah diwariskan padaku mungkin aku tidak akan terikat dengan hubungan konyol ini" ucap Kayron dingin sambil melepaskan tangan Caroline yang mencengkramnya.
"Tapi sekarang itu tidak mungkin terjadi!" Caroline menunjuk Kayron. "Dengan satu ucapanku, aku bisa menghancurkan keluarga temanmu itu!"
Kayron diam sejenak sambil menatap Caroline lekat-lekat. "Apa maumu?" Tanya Kayron.
"Jauhi kakakmu!" Jawab Caroline dengan cepat. "Kau selalu membicarakan kakakmu baik disaat kakakmu belum datang ke Amerika ataupun saat kakakmu telah datang di sisimu!"
Kayron terkejut. Tidak percaya dengan permintaan konyol kekasihnya ini.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan melakukan itu!" Bentak Kayron tegas.
"Oh, oh! Baiklah!" Caroline bertepuk tangan. "Memang apa susahnya menjauhi kakakmu selama beberapa saat? Toh setelah hubungan kita berakhir maka kau bisa bersama dengan kakakmu lagi"
Kayron diam. Tidak bisa mengeluarkan suaranya. Hanya saja hawa yang dilepaskan Kayron sekarang berubah.
"Jauhi kakakmu. Jangan peduli padanya lagi. Anggap bila kau tidak mempunyai seorang kakak. Bila kau tidak menuruti kata-kataku ini maka besok ku pastikan temanmu dan keluarganya menderita"
Kayron masih diam.
"Bila kau menjauhi kakakmu selama hubungan kita masih berjalan maka akan ku pastikan hidup temanmu nyaman. Tapi bila kau tidak mau menjauhi kakakmu maka aku pasti akan membuat semua keluarga temanmu menderita sampai akhir hidup mereka!"
Kayron menggempalkan tangannya erat-erat lalu membuang nafas lelah dan menghampiri Caroline untuk memeluknya.
Caroline yang berada di pelukan Kayron pun tersenyum puas. "Aku akan menempatkan seseorang untuk mengawasimu"
Kayron memejamkan matanya sambil berfikir bahwa semua akan baik-baik saja. Kakaknya tidak mungkin merasa sakit jika dirinya berubah. Toh mereka akan bertemu setiap hari di rumah jadi Kayron tidak perlu merasa khawatir kakaknya akan kesepian meskipun selanjutnya Kayron akan bersikap dingin pada kakaknya.
Tapi Kayron tidak tau bahwa kelak di masa depan dirinya akan menyesali keputusannya saat ini.
Keputusan yang membuatnya tidak bisa berada di sisi kakaknya.
Keputusan yang membuatnya tidak bisa mengkhawatirkan kakaknya dengan bebas.
Dan keputusan yang membuatnya tidak bisa tertawa bersama kakaknya saat ada waktu.
Kayron akan menyesali keputusannya ini. Sangat menyesalinya.
like. Maaf lama karena Selasa besok saya akan melakukan ujian sekolah:(
__ADS_1