
Chapter ini terdapat banyak adegan kekerasan. Harap membacanya dengan bijak. Enjoy!
.
Thalita mengeluarkan sesuatu dari tas penyimpanan barang yang tersedia di ruang interogasi. Thalita tersenyum saat mengambil sebuah pisau belati yang sudah diasah dengan baik oleh geng black rose.
Thalita menghampiri ibu yang berlutut lalu Thalita mengangkat dagu ibu agar menatapnya. Thalita tersenyum miring dan melepaskan dagu ibu dengan kasar.
"Lucuti semua pakaiannya!"
"Baik."
Meskipun sebagian anggota yang menjaga di sisi Thalita saat ini adalah laki-laki tapi mereka tetap bisa mengendalikan diri karena mereka semua sudah dilatih secara profesional. Tidak dilatih pun mereka yang laki-laki juga pasti tidak akan bernafsu saat melihat tubuh telanjang ibu.
Malahan semua laki-laki memandang dengan jijik.
Anggota perempuan geng black rose yang ikut menjaga Thalita di ruang interogasi mulai melepaskan semua pakaian ibu meskipun ibu memberontak sekalipun, mereka tidak peduli.
"Lepaskan! Sialan kalian! Kurang ajar!" Ibu yang berlutut dengan tangan dan kakinya diikat, tidak bisa berbuat apa-apa.
Thalita yang melihat itu sambil duduk kembali di tempatnya hanya bisa terkekeh, "Bagaimana? Apa enak diikat tanpa bisa melawan seperti itu?"
Ibu memandangi Thalita dengan penuh kebencian. Sekarang di tubuhnya tidak ada satupun benang yang menutupi. Ibu merasa malu karena bagaimanapun dirinya tetaplah seorang perempuan dan sebagian anggota geng black rose yang berada di ruang interogasi ini adalah laki-laki.
"Sialan! Kau ingin membalas dendam ha?!" Ibu berteriak.
"Tentu saja." Thalita menjawab dengan cepat. "Aku juga ingin membalaskan dendam anak laki-laki yang kau bunuh itu." Thalita memperlihatkan pisau belati yang dia bawa.
Ibu melotot saat melihat pisau belati itu. "Mau apa kau?!"
"Jangan salahkan aku yang menjadi kejam. Kau yang memaksaku berbuat seperti ini. Padahal aku pernah bertekad tidak akan menunjukkan sisiku yang seperti ini. Tapi sekarang..."
Thalita berdiri dan menghampiri ibu dengan senyum yang menyertai di wajah Thalita. Ibu gemetar ketakutan saat melihat wajah menyeramkan Thalita. Ibu tidak percaya pernah menculik wanita menyeramkan seperti ini!
"Ma..mau apa kau?!"
"Bermain denganmu."
"Jangan mendekat!"
"Aku tidak peduli."
"Kurang ajar--"
"Hei." Thalita meletakkan pisaunya di pipi ibu. "Kita. Seumuran. Tau."
Sret...
"Argh!"
Sret...
"Arrggghh!!"
Sret...
"Tolong! Argh!!"
Sret...
__ADS_1
"Ampun! Ampun! Ampuni aku!!"
Sret...
"A..aku akan mengatakannya! Aku akan bicara!!"
Thalita mengehentikan tangannya yang membawa pisau lalu melotot pada ibu sambil berkata dengan nada dingin dan menusuk.
"Kau mau aku percaya pada pengembala domba yang berteriak serigala setelah dibohongi?"
Pupil mata ibu bergetar melihat wajah Thalita yang sangat menyeramkan itu. Anggota geng black rose yang berada di sana juga menjadi tegang. Mereka menelan ludah susah payah, ketua besar mereka seorang psikopat! Monster!
Darah bercucuran menutupi tubuh telanjang ibu. Thalita bukan hanya menyayat pipi ibu tapi juga seluruh tubuh sampai darah sepenuhnya menutupi tubuh ibu yang telanjang.
"Aku benar-benar akan mengatakannya! Kumohon percayalah!!" Ibu berteriak dengan penuh harap. Rasa sakit sudah melunturkan kesetiaan yang ibu berikan pada tuannya.
Thalita terkekeh lalu bangkit dan memandang ibu dengan penuh rasa jijik. "Katakan."
"Yang menyuruhku melakukan itu semua--"
Pintu terbuka saat Ibu akan mengatakannya. Anggota geng yang baru masuk sambil membawa banyak timba besar berisi air garam, langsung berkata dengan bangga karena berhasil melaksanakan perintah ketua besar mereka.
"Nyonya besar, kami membawa--"
"Sstt!!" Anggota geng yang sedari tadi ada di dalam langsung meletakkan jari mereka di bibir dan menatap anggota yang baru masuk lekat-lekat.
Wajah Thalita berubah menjadi dingin. Dia paling tidak suka saat ada yang mengganggu interogasinya. Thalita melirik anggota yang baru masuk, cahaya kemerahan seperti terlihat dimata Thalita saat berkata,
"Apa."
Anggota geng black rose yang baru masuk secara serentak menelan ludah mereka saat menyadari darah keluar dengan deras menutupi seluruh tubuh telanjang ibu.
"K..k..ka..ka..kami..kami..." Tubuh anggota geng itu bergetar hebat. Kebanggaan yang terlihat di wajah mereka tadi sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada ketakutan di wajah mereka saat ini.
"I.i..i..iy..iya... nyo..nyo..nyonya besar..."
Thalita tersenyum lalu membersihkan darah yang menempel di pisau belati dengan tissue. Setelah itu Thalita menyimpan kembali pisaunya dan menatap ibu.
"Katakan siapa tuanmu."
"Dia nona Caroline! Putri dari kepala universitas Milestone! Hiks." Jawab ibu cepat meskipun dia masih menangis karena merasakan sakit yang teramat sangat.
Thalita tersenyum tipis lalu mengambil seember air garam dan menumpahkannya pada tubuh ibu.
"AAARRRRGGHH!!"
Rasa perih yang teramat sangat menyerang tubuh ibu. Air mata ibu turun dengan derasnya bersama dengan air geram itu.
"Eh, aku ingin mengobatimu jadi aku harus membersihkan tubuhmu dulu." Thalita menutup mulut dengan salah satu tangan.
"Ja..jangan... Jangan!! Bukankah aku sudah mengatakan siapa tuanku?!" Teriak ibu saat melihat Thalita membuka satu obat merah.
Thalita tidak menggubris, dia menyiramkan obat merah itu pada luka-luka di tubuh ibu.
"AAARGGGHH!! AMPUN! KUMOHON!!"
Thalita melempar tempat obat merah yang sudah habis isinya lalu mengambil jaketnya dan berkata.
"Buang dia ke kandang hewan peliharaan kita."
__ADS_1
"Baik..." Anggota geng black rose menjawab dengan penuh ketakutan.
Ibu yang mendengar itu langsung berteriak protes. Meskipun dirinya sangat kesakitan tetapi dia masih bisa mendengar. "Kau... Kau! Kau ********! Bukankah aku sudah mengatakannya?!"
Tentu saja ibu tau tentang hewan peliharaan geng black rose. Tempat itu adalah pembuangan musuh geng black rose untuk dijadikan makanan hewan-hewan liar itu. Siapapun yang masuk ke dalam sana tidak akan pernah bisa kembali lagi.
"Lalu?" Nada Thalita menjadi dingin lagi.
"Kenapa kau masih ingin membunuhku?!"
"Memang aku pernah berkata kalau aku tidak akan membunuhmu?" Thalita benar-benar kesal sekarang.
"Kau! Kau breng--"
"Tutup mulutmu." Thalita melotot lalu berkata dengan tegas. "Sobek mulutnya sebelum membuang tubuhnya."
"Baik!"
"Ti..tidak... Tidak...." Tubuh ibu bergetar saat anggota geng black rose mulai berjalan ke arahnya.
Thalita tertawa keras dengan wajah seperti sudah puas bersenang-senang. "Tenang saja, aku juga akan segera mengirim tuanmu ke neraka bersamamu. Tapi sebelum itu aku akan menyiksanya lebih kejam dari ini."
Semua yang mendengar langsung bergidik. Jadi ini belum cukup kejam bagi Thalita?! Masih ada yang lebih kejam lagi?! Ketua besar mereka benar-benar psikopat!!
"Hahahah! Aku akan mencabut satu persatu jari tuanmu beserta keluarganya lalu aku akan memotong tangan mereka... Kaki mereka... Lidah mereka... Ah, sepertinya tubuh mereka bisa aku buat sebagai bahan eksperimen... Menarik juga. Tapi maaf ya, tubuhmu aku berikan pada hewan-hewan itu karena mereka pasti kelaparan sekarang."
Setelah mengatakan itu, Thalita pergi dari ruang interogasi.
"JANGAANN!! ARGGHHH!!!"
Thalita tidak peduli dengan teriakan itu. Yang berada di dalam kepala Thalita saat ini hanya keluarga kepala universitas yang dia bangun! Terutama Caroline yang sudah berani membuat Kayrah tersiksa!
Kwak! Kwak! Kwak!
Suara gagak terdengar menggantikan suara jeritan ibu yang sudah tidak terdengar lagi di markas geng black rose.
.
***
.
"Kayrah... Kayrah..."
"Enghh..." Kayrah membuka matanya saat suara lembut Rangga membangunkannya. "Ada apa Paman?" Tanya Kayrah dengan suara parau sambil mengucek matanya.
Rangga membantu Kayrah duduk dan saat itulah Kayrah melihat ada dua orang asing yang dikelilingi oleh keluarganya.
"Eh?" Kayrah menggosok matanya untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak berkhayal saat ini. "Aldebaran?!"
Aldebaran tersenyum saat melihat Kayrah sudah bangun lalu Aldebaran menyenggol lengan Anderson.
"Berhubung yang bersangkutan sudah bangun, saya akan mengatakan niat saya kemari." Anderson berkata dengan tenangnya. Bisa dilihat bahwa Anderson sudah biasa berbicara didepan banyak orang.
Anderson tersenyum lembut lalu berkata dengan suara yang bisa didengar jelas oleh semua orang di ruangan ini.
"Tujuan saya kemari ingin melamar Kayrah Edward untuk adik saya, Aldebaran French Ludwig."
.
__ADS_1
Like.
Sebenarnya sih tadi lebih kejam ya tapi ditolak sama mangatoon. Hahaha benar sih, sebelumnya itu terlalu kejam.