
Ruangan rumah sakit yang ditempati oleh Kayrah sekarang menjadi hening. Lebih tepatnya atmosfer dari ruangan itu dingin ketika Keynan sedang menatap anak laki-lakinya dengan tajam.
Kayron yang ditatap seperti itu jelas salah tingkah. Keringat dingin menetes di wajahnya tetapi Kayron tidak berani untuk mengelap keringatnya itu.
Kayrah disisi lain sedang melamun menghadap jendela yang ada di samping tempat tidurnya. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan ayahnya pada saudara kembarnya.
"Ron" panggil Keynan sambil menghela nafas panjang.
"I..iya ayah" jawab Kayron gugup.
"Kemana aja?" Tanya Keynan menggunakan bahasa Indonesia.
"Maksud ayah?" Tanya Kayron hati-hati.
Keynan mengambil nafas dalam-dalam. "Kamu kemana aja selama ini?! Waktu ayah datang kesini, kamu tidak berada disamping kakakmu! Malah yang selalu menemani kakakmu adalah Aldebaran"
"Al..debaran?"
"Ya! Aldebaran bahkan sampai tidur disamping kakakmu setelah lelah menangis! Dia menangis, terus menangis padahal dia laki-laki. Dia selalu berbicara di telinga kakakmu! Berdoa agar kakakmu cepat sadar! Tapi kamu bagaimana?! Jalan-jalan terus dengan kekasihmu itu?!" Bentak Keynan di akhir kalimat.
"Ayah... Bukan begitu"
Keynan mengalihkan pandangannya pada Kayrah yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Hati Keynan menjadi sakit.
Keynan melihat wajah kakaknya lagi. Wajah yang cantik tapi selalu pucat. Wajah yang selalu tersenyum padahal ingin menangis. Rasa bersalah menyelimuti hati Keynan.
"Kayrah..." Panggil Keynan lembut.
"Ya, ayah?"
Keynan berdiri dari duduknya lalu langsung memeluk Kayrah dengan erat. "Maaf, maafkan ayah. Mulai sekarang ayah akan selalu ada disisimu. Sekarang kamu tidak akan sendiri lagi--"
"Ayah bicara apa?" Sela Kayrah sambil mengusap lengan Keynan yang mendekapnya. "Aku punya Aldebaran disini. Dia kekasihku. Dia selalu menemaniku"
Keynan tersenyum ketika mendengar pengakuan Kayrah. Hatinya menjadi lega karena Kayrah memiliki pendamping yang sangat menyayanginya.
Saat pertama kali datang ke rumah sakit, hati Keynan sudah tersentuh karena melihat Aldebaran yang menunggu Kayrah sambil membicarakan apa saja di samping Kayrah yang sedang koma.
Tentu saja Keynan sudah mempunyai kesan baik pada Aldebaran.
Sedangkan Kayron, dia menggempalkan tangannya erat-erat. Merasa marah karena sahabat yang dia pikir hanya ingin menjenguk kakaknya tiba-tiba menjadi kekasih kakaknya.
Entah mengapa, Kayron tidak terima dengan kenyataan itu. Kayron merasa kesal karena ada lelaki lain yang memiliki kakaknya sekarang.
Dia tidak rela membagi kakak yang dia sayangi dengan lelaki lain, apalagi lelaki itu adalah sahabatnya sendiri.
"Lalu," Keynan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah anak gadisnya yang cantik itu. "Kamu tidak mau ayah berada disampingmu?"
"Tentu saja mau" jawab Kayrah cepat. "Tapi ayah kan harus bekerja"
"Tidak. Ayah bisa keluar dari pekerjaan ayah untuk merawatmu" jawab Keynan mantap.
"Lalu siapa yang akan membiayai hidup kita? Bunda? Bukankah yang menjadi kepala keluarga adalah ayah?" Tanya Kayrah bingung.
Keynan terkekeh. "Ayah dan bunda sudah mengumpulkan uang untuk biaya berobatmu. Untuk biaya hidup, ayah bisa bekerja di perusahaan nenek dan kakek kalian"
Kayrah tersenyum tipis. Sebenarnya Kayrah merasa kecewa karena yang datang ke Amerika hanya ayahnya.
Bundanya tidak ikut kemari karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan oleh bundanya itu.
"Nanti setelah bundamu sudah menyelesaikan tugasnya, dia akan kemari kok" itu kata Keynan tadi.
"Bisnis nggak segampang itu yah" Kayron ikut menimpali saat Keynan berkata akan bekerja di perusahaan nenek dan kakek mereka. "Memang ayah pernah belajar bisnis? Ayah kan sekolah kedokteran bukan bisnis"
Kayrah terkekeh pelan saat mendengar ucapan adiknya itu. "Betul tuh yah, kalo perusahaan nenek dan kakek berada ditangan ayah bisa-bisa bukannya perusahaan itu tambah manju tapi bangkrut dalam waktu singkat"
Keynan tersenyum kesal mendengar ucapan kedua anaknya yang sangat tepat dengan faktanya.
Faktanya Keynan tidak pernah sekolah bisnis. Dulu memang Keynan mempunyai ketertarikan dengan bisnis tetapi itu semua berubah karena kakaknya yang sakit.
"Dasar..." Keynan mendekap kembali kepala Kayrah. Tapi kali ini bukan kepala Kayrah saja yang dia dekap, kepala Kayron pun juga terkena imbasnya. "Anak-anak kurang ajar!"
"Akkh! Ayah!" Kayron berteriak karena terkejut saat Keynan tiba-tiba bersikap seperti itu.
Tentu saja Kayron terkejut. Karena tadi Keynan marah dengannya, tapi sekarang Keynan tiba-tiba mendekap kepalanya secara tiba-tiba membuat Kayron terkejut setengah mati.
"Cium tuh bau ketek ayah!" Teriak Keynan sambil tertawa.
.
****
.
"APA?!"
__ADS_1
Teriakan keras yang membuat bulu kuduk berdiri itu terdengar di sebuah ruangan dari rumah besar yang berpenghuni para preman.
"M..m..maaf bos... I..itu kenyataannya" seorang wanita paruh baya berlutut di depan seseorang yang duduk dengan kaki di atas meja.
Bila ada Kayrah disini sudah pasti dia akan menghajar habis-habisan wanita paruh baya itu karena wanita itulah yang membuat dirinya menjadi lumpuh beberapa waktu lalu.
"Jadi kamu tidak bisa membunuh Kayrah Edward karena ada tiga lelaki yang berada disisinya setiap saat?" Tanya sang bos sambil menatap wanita paruh baya itu dengan dingin.
"Be..benar bos" jawabnya gugup.
"Di rumah sakit pun tidak bisa?" Tanya sang bos sambil mengangkat alisnya.
Wanita paruh baya menggeleng dengan sekuat tenaganya. "Hari ini gadis itu sudah boleh pulang"
"Kau membuang waktu satu bulan sejak dia sadar dari komanya. Tentu saja sekarang Kayrah Edward akan pulang karena dirinya sudah 'sembuh' sesaat" ucap sang bos sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
"Bahkan saat Kayrah koma pun ada kekasihnya yang selalu di sampingnya" ucap wanita paruh baya dengan kesal.
"Aldebaran bukan?" Tanya sang bos sambil berdecak kesal. "Bagaimanapun juga bocah itu tidak bisa di remehkan. Bisa saja dia membongkar tujuan kita jika dia mengarahkan kekuatan keluarganya"
"Benar bos. Latar belakangnya kuat dan dia juga melindungi Kayrah Edward" sahut wanita paruh baya.
"Memang siapa dua lelaki lain yang menjaga Kayrah selain Aldebaran?" Tanya sang bos.
"Saudara kembarnya, Kayron Edward" wanita paruh baya itu menatap mata sang bos yang menatapnya lekat-lekat. Wanita paruh baya menarik nafasnya dalam-dalam lalu berkata, "Juga ayahnya, Keynan Edward"
Sang bos mengangkat alisnya. "Tidak ada yang istimewa kan dari keluarganya?"
Wanita paruh baya mengangguk. "Hanya saja keluarga Edward memiliki perusahaan keluarga"
"Perusahaan itu berada di Indonesia. Tidak perlu dipedulikan karena sekarang kita ada di Amerika" ucap sang bos.
"Lalu bos..."
"Bukankah Kayrah mengangkat anak-anak yang dulu kau rawat?" Tanya sang bos sambil tersenyum.
Wanita paruh baya terkejut tetapi juga bergidik ngeri ketika melihat senyuman itu. "Be..benar"
"Ada pelanggan yang meminta organ jantung" sang bos tertawa kecil. "Anak-anak itu adalah sumber uang kita"
"Jadi..." Wanita paruh baya itu tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Awasi terus Kayrah Edward. Jika ada kesempatan bunuh dia. Disamping kau mengawasi Kayrah, culik juga anak-anak itu. Lakukan dengan cepat karena pelanggan ini adalah pelanggan penting" ucap sang bos sambil menyalakan sebuah rokok.
"Kau harus ingat, penghalang besar bagi tujuan kita adalah Kayrah Edward. Jadi kita harus membunuhnya apapun yang terjadi"
Setelah mengatakan itu, sang bos tertawa keras. Begitu keras sampai-sampai semua orang yang ada di rumah itu bisa mendengar tawanya yang mengerikan.
Sayangnya mereka tidak tau, sedaritadi ada seseorang yang memperhatikan mereka di suatu tempat. Tentu saja orang itu mendengar semua ucapan mereka.
Seorang laki-laki berambut putih dan berkulit putih pucat dengan tanda teratai di wajahnya tersenyum tipis saat mendengar percakapan kedua manusia itu.
Laki-laki itu memejamkan matanya lalu secara perlahan tubuhnya diliputi oleh asap putih yang tebal seperti kabut. Perlahan tapi pasti tubuhnya menghilang bagai tidak pernah ada sebelumnya.
Sebelum menghilang dengan sempurna, laki-laki itu bergumam pelan.
"Manusia-manusia bodoh, berani sekali kalian berencana menyentuh targetku"
.
***
.
Kayrah memandangi orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya dengan tatapan kosong. Kata dokter Kayrah sudah sembuh tetapi hanya Kayrah yang bisa merasakan bagaimana keadaannya sekarang.
"Kayrah, kamu tidak apa-apa?" Keynan yang duduk di samping Kayrah bertanya dengan nada cemas saat melihat putrinya melamun sedari tadi.
Kayrah tersadar dari lamunannya lalu menatap Keynan sambil tersenyum. "Aku tidak apa-apa ayah"
"Sungguh? Kalau ada yang sakit katakan saja" ucap Keynan lembut.
Kayrah mengangguk. "Aku hanya tidak sabar menunggu es krimnya datang"
"Sebentar lagi Kayron akan tiba" ucap Keynan sambil terkekeh ketika tau apa yang ada di pikiran putrinya ini.
Bagaimanapun juga Kayrah sangat bersyukur karena akhirnya ayah yang sangat dia rindukan berada disisinya.
Sudah satu bulan Keynan terus berada di samping Kayrah. Satu bulan itu juga Kayron secara tidak langsung juga berada di sisi Kayrah.
Hal yang sangat Kayrah inginkan akhirnya tercapai juga tetapi yang sangat disayangkan adalah ketidakhadiran bunda mereka disisinya.
Tapi meskipun begitu Kayrah tetap senang karena Aldebaran juga berada disampingnya dan selalu menyemangati Kayrah.
Satu bulan Aldebaran selalu menjenguk Kayrah. Hal itu membuat Aldebaran selalu bertemu dengan Keynan.
__ADS_1
Keynan juga merasa Aldebaran sungguh mencintai putrinya dan mereka menjadi dekat seperti ayah mertua dan anak menantu pada umumnya.
Keynan secara tidak langsung sudah merestui hubungan Kayrah dan Aldebaran. Mendapatkan lampu hijau dari calon ayah mertuanya tentu membuat Aldebaran senang setengah mati.
Aldebaran bahkan sampai mengutarakan rencananya untuk membawa Kayrah pergi menemui orang tuanya.
Tentu saja Keynan senang dengan hal itu tetapi tidak dengan Kayron. Meskipun sadar kalau Aldebaran lebih cocok di sisi kakaknya tetapi Kayron masih tidak rela.
Aldebaran juga menyadari kalau Kayron tidak merestui hubungan mereka tetapi Aldebaran tidak menyerah.
Aldebaran masih ingin mempertahankan status 'sahabat' nya dengan Kayron tetapi Aldebaran juga ingin menambah statusnya menjadi 'kakak ipar' Kayron.
Kayron masih setengah hati untuk menerima Aldebaran sebagai kekasih kakaknya. Hal itulah yang membuat Kayron bahagia hari ini.
Hari ini Keynan, Kayrah, dan Kayron jalan-jalan di taman yang sangat ramai pengunjung karena taman ini sangat indah.
Kayron senang karena hari ini Aldebaran tidak ikut dengan mereka membuat Kayron tidak cemburu ketika melihat kakaknya bersama dengan Aldebaran.
Kayron membeli es krim untuk kakak juga ayahnya yang sedang menunggunya sambil menanti es krim yang Kayron beli.
Kayron tidak berhenti tersenyum hari ini karena keinginan Kayron sama dengan keinginan kakaknya. Kayron ingin menghabiskan waktu bersama orang tuanya seperti saat ini meskipun hari ini tidak ada bunda mereka.
"Ayah, kakak, nih" Kayron menyodorkan es krim yang dia beli pada kedua orang yang dia sayangi.
"Terimakasih" ucap Keynan dan Kayrah secara bersamaan.
Kayron mengangguk lalu ikut duduk di samping Kayrah. Kayron mengamati wajah Kayrah lekat-lekat membuat Kayrah tidak nyaman dengan tatapan Kayron.
"Ayah," rengek Kayrah.
"Ada apa?"
"Kayron tuh" adu Kayrah kesal.
Keynan mengerutkan alisnya lalu menatap Kayron yang juga terkejut dengan aduan Kayrah pada ayahnya. "Eh? Aku kenapa?"
"Jangan liat aku seperti itu!" Ucap Kayrah sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apa salahnya coba? Kan aku cuma liat wajah kakak" celetuk Kayron yang ikut kesal karena ternyata masalahnya begitu sepele.
"Menurutmu orang akan nyaman tidak jika di pelototi seperti itu?!" Balas Kayrah tidak mau kalah.
Keynan menggelengkan kepalanya pelan. Melihat kelakuan kedua anaknya ini membuat Keynan mengingat masa-masa dirinya dan kakaknya.
Keynan tersenyum tipis. Dia juga ikut mengamati wajah Kayrah yang sangat mirip dengan Keysha. Keynan senang bisa melihat wajah itu lagi tetapi Keynan juga sedih karena putrinya menderita penyakit yang membahayakan nyawa.
"Ayah juga!" Rengek Kayrah yang sangat kesal karena kedua laki-laki berwajah sama di kanan-kirinya memelototi dirinya.
Keynan menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya yang sudah memiliki beberapa kerutan itu tersenyum membuat kerutan baru tercetak di wajahnya.
"Kayrah," panggil Keynan pelan.
"Kenapa yah?" Tanya Kayrah sambil menatap wajah Keynan.
Keynan membuka mulutnya tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Beberapa saat kemudian barulah keluar kata-kata yang ingin dia ucapkan, "Yang akur ya sama Kayron"
Spontan saja Kayron menatap ayahnya dengan perasaan bersalah. Tentu saja Kayron merasa bersalah karena dirinya yang membangun dinding pembatas dengan kakaknya.
"Kayron, apa kamu menyayangi kakakmu?" Tanya Keynan sambil menatap Kayron penuh curiga.
"Pertanyaan konyol macam apa itu?" Sahut Kayron dengan cepat. "Tentu saja aku sangat menyayangi Kay--eh kak Kayrah"
Keynan menghela nafas panjang. Jika saja waktu bisa diulang maka dirinya akan mengucapkan kalimat 'aku sangat menyayangimu' pada Keysha berulang kali.
Memikirkan itu membuat Keynan terkekeh. Pikiran konyol yang sangat tidak masuk akal.
Sama seperti putraku, aku juga sangat menyayangimu kak Keysha. Batin Keynan yang hatinya melembut ketika memikirkan Keysha.
Kayrah hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan adiknya itu. Tentu dia menyadari ucapan itu tidak main-main. Dan sekarang otak Kayrah berpikir keras alasan kuat apa yang masuk akal untuk bisa merubah sikap adiknya ini.
Ditengah-tengah pikirannya, mata Kayrah tidak sengaja menangkap wujud seseorang.
Seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya. Seseorang yang dulu sangat dia cintai. Cinta di masa muda yang konyol.
Tetapi kerinduan yang Kayrah rasakan tidak main-main meskipun sekarang dihatinya ada nama Aldebaran.
Kayrah membeku sejenak sambil bergumam dengan mata yang berlinang air mata,
"Kakak Jack..."
.
like.
saya Senin ujian sekolah:(
__ADS_1