
"Ayo pergi" suara Kayron kembali terdengar diikuti oleh suara langkah kaki yang menjauh.
"Ron, tunggu!" Suara langkah kaki lain pun terdengar menandakan sudah tidak ada Kayron dan Caroline di balik pohon yang disandari oleh Kayrah.
Kayrah menghela nafas. Dirinya masih tidak percaya bahwa suara laki-laki yang didengarnya tadi adalah suara adiknya, Kayron.
Kayrah memeluk lututnya sambil sesenggukan. Air matanya sudah tidak dapat Kayrah tahan lagi.
"Kenapa?" Gumam Kayrah pelan.
"Kenapa apanya?"
Kayrah langsung mendongak ketika mendengar suara seorang laki-laki. Mata Kayrah bertemu dengan mata abu-abu milik Aldebaran.
"Ya disini enak sih" Aldebaran merebahkan tubuhnya di samping Kayrah dengan menyilang kan tangan sebagai bantal.
"Kok kamu tau aku ada disini?" Tanya Kayrah sambil menghapus air matanya.
"Gue liat dari tadi" jawab Aldebaran santai dengan mata yang terpejam. "Ah, nggak enak banget"
Aldebaran merubah posisinya menjadi tidur di paha Kayrah dengan lengan tangan menutupi matanya. Senyuman tercetak di bibir Aldebaran. "Nyaman"
Pipi Kayrah merona. Sebelumnya dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh laki-laki lain kecuali Kayron.
"Nah, kalo blushing gitukan lebih cantik daripada nangis" celetuk Aldebaran dengan santainya.
Mata Kayrah melebar dan dengan cepat dia mencubit lengan Aldebaran yang dia pakai untuk menutupi matanya.
"Au!" Aldebaran dengan cepat duduk membuat keningnya tanpa sengaja bertemu dengan bibir Kayrah.
"Aduh!" Kayrah memegangi mulutnya yang terasa ngilu karena bertabrakan dengan giginya. Pipinya kembali merona, bahkan saat ini merahnya dua kali lipat dibandingkan tadi.
Aldebaran pun sama. Dirinya memegangi keningnya dengan mata melebar yang menatap Kayrah dengan tidak percaya.
Kayrah mengalihkan pandangannya ke samping untuk menghindari mata Aldebaran yang bisa membuatnya tambah malu.
"Kalian ngapain?"
Sontak saja pandangan Kayrah dan Aldebaran tertuju pada seseorang yang berdiri di tengah-tengah mereka sambil membawa tiga es krim.
"Kebetulan banget sudah datang" Aldebaran kembali menggunakan bahasa Inggris karena dirinya tau orang yang berdiri di hadapannya ini tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia.
"Stevano?" Panggil Kayrah ragu.
Yang dipanggil Stevano pun langsung menatap Kayrah lalu tersenyum lebar. "Ada apa memanggil cowok ganteng ini kak?" Tanya Stevano narsis.
"Beneran Stevano ternyata. Sudah lama ya kita nggak ketemu" Kayrah membalas senyuman Stevano.
"Hehehe" Stevano menyodorkan salah satu es krim pada Kayrah. "Maaf ya kak, aku sibuk banget. Beneran deh. Kalo nggak percaya tanya saja sama Al"
__ADS_1
"Dia bohong" celetuk Aldebaran dengan cepat ditengah-tengah dirinya yang memakan es krim.
"Al, kayaknya udah lama banget ya wajahmu nggak mampir ke ketiakku" ucap Stevano sambil tersenyum polos.
Mulut Aldebaran terbuka begitu juga dengan matanya yang melebar. Seketika Aldebaran bersembunyi di belakang Kayrah.
"Kay, lihat tuh dia mau nyiksa aku" ucap Aldebaran menggunakan bahasa Inggris membuat Stevano juga mengerti apa yang dikatakan Aldebaran.
Kayrah tertawa kecil sedangkan Stevano melongo melihat tingkah sahabatnya yang tidak biasa itu.
Stevano menatap Kayrah dengan mulut yang masih terbuka lebar. "Kak, dia beneran Aldebaran kan?" Tanya Stevano tidak percaya.
"Oh? Kamu belum tau ya? Beberapa hari yang lalu waktu di rumah sakit, dia bahkan lebih manja daripada saat ini" jelas Kayrah sambil terkekeh.
"Rumah sakit? Jadi akhir-akhir ini dia pulang lebih awal itu karena ke rumah sakit jenguk kakak?" Tanya Stevano yang makin tidak percaya.
"Ya begitulah" jawab Kayrah enteng sambil memakan es krimnya dengan santai.
"Lalu... 'Kay' itu..." Stevano tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Panggilan sayang dariku untuk Kayrah" jawab Aldebaran cepat.
"Hah?!" Stevano mundur beberapa langkah ke belakang. Bahkan es krim yang dipengangnya jatuh karena sangking terkejutnya dia. "Kau... Kok..."
"Oh, kenalan dulu dong" Aldebaran memeluk Kayrah dari belakang dan meletakkan wajahnya ke salah satu pundak Kayrah. "Kayrah adalah gadis yang kucintai"
Stevano semakin terkejut. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali dia terkejut hari ini karena sikap aneh Aldebaran yang belum pernah dia lihat.
Stevano menatap Kayrah lekat-lekat membuat Kayrah hanya bisa merespon dengan tertawa canggung.
Aldebaran menyodorkan es krimnya ke Kayrah dari belakang. "Mau coba?"
Memang es krim Kayrah dan Aldebaran memiliki rasa yang berbeda. Kayrah rasa coklat sedangkan Aldebaran rasa vanilla dan Stevano rasa stroberi.
Kayrah membuka mulutnya, tapi sebelum dia mencoba es krim milik Aldebaran, tangannya sudah di tarik terlebih dahulu oleh Stevano membuat wajah Kayrah belepotan karena es krim milik Aldebaran tertabrak olehnya.
Es krim milik Aldebaran jatuh begitupun dengan milik Kayrah membuat Aldebaran juga Kayrah menatap Stevano dengan datar.
"Eh?" Stevano baru menyadari bahwa es krim keduanya jatuh saat melihat wajah Kayrah yang tertimpa es krim milik Aldebaran.
Aldebaran menggeleng pelan sambil berdiri lalu mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan sisa es krimnya yang terdapat pada wajah Kayrah.
Kayrah memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang diberikan oleh Aldebaran di wajahnya meskipun terhalang oleh sapu tangan.
"Setelah ini basuh wajah pake air" ucap Aldebaran sambil mencubit hidung Kayrah yang sudah bersih.
Kayrah mengangguk lalu mengalihkan pandangannya pada Stevano. "Ada apa?"
Kayrah butuh penjelasan atas sikap Stevano tadi yang tiba-tiba.
__ADS_1
Stevano tidak menjawab, hanya memberi Aldebaran kode lewat matanya. Aldebaran mengikuti kode milik Stevano dan melihat Kayron sedang jalan kemari bersama Caroline.
Mata Aldebaran membulat lalu dengan cepat menggandeng tangan Kayrah. "Ayo kita pergi"
Melihat sikap Aldebaran yang tiba-tiba jadi aneh membuat Kayrah bingung. Secara tidak sengaja mata Kayrah menangkap wujud Kayron dan Caroline.
Wajah Kayrah berubah menjadi sedih ketika mengingat ucapan Kayron di balik pohon tadi dan secara kebetulan Kayrah mengingat bahwa tadi dirinya kemari dengan membawa makanan untuk Kayron dan Aldebaran.
"Oh!" Kayrah melepaskan genggaman tangan Aldebaran juga Stevano lalu kembali menuju pohon tadi. Kayrah mengambil makanannya tapi tidak segera kembali ke sisi Aldebaran dan Stevano karena jantungnya kembali berdetak tidak karuan.
"Hanya sebentar lagi... Lalu aku akan ke rumah sakit" gumam Kayrah pelan.
Kayrah menghela nafasnya dan tersenyum lalu berbalik untuk menghampiri Stevano dan Aldebaran.
Kebetulan juga Kayron sudah dekat dengan mereka. Kayrah menguatkan hatinya lalu merubah tujuannya untuk menghampiri Kayron.
"Ron, kakak masak makanan buat kamu" ucap Kayrah sambil tersenyum dan menyodorkan bekal yang dia bawa.
Caroline yang berada di samping Kayron menatap Kayrah dengan sinis begitupun dengan Kayron yang menatapnya dengan penuh kebencian membuat Kayrah bingung apa yang menjadi penyebab Kayron menatapnya demikian.
"Nggak butuh" Kayron melempar bekal yang masih berada di tangan Kayrah membuat bekal itu jatuh berceceran.
Para mahasiswa yang ada disana seketika menatap Kayrah dan Kayron seperti melihat pertunjukan yang menarik. Sedangkan Aldebaran dan Stevano menggempalkan tangan mereka erat-erat.
Kayrah menatap makanan yang berceceran di tanah dengan tidak percaya. Pikirannya menjadi liar. Pandangannya seketika menjadi kosong.
"Heh! Pergi sana!" Bentak Caroline dengan keras membuat Kayrah terkejut seketika.
Kayrah memegang dadanya yang sakit akibat terkejut. Detak jantungnya semakin tidak karuan. Perlahan pandangannya menjadi buram. Dia masih tidak percaya dengan sikap Kayron yang berubah.
Tangan Kayrah yang tidak memegangi dadanya terulur untuk meminta bantuan pada Kayron saat tubuhnya sudah terhuyung-huyung.
Kayron tidak menanggapi uluran tangan Kayrah. Hanya menatap saudarinya itu dengan datar.
Aldebaran dengan cepat menangkap tubuh Kayrah yang hampir jatuh diikuti oleh Stevano. Aldebaran menggendong Kayrah lalu berkata, "Vano! Cepat bawa mobilku!"
Stevano mengangguk lalu berlari sambil membawa kunci mobil Aldebaran.
Sedangkan Aldebaran sedang menatap Kayron dengan tajam begitupun dengan Kayrah yang masih memiliki sedikit kesadaran.
Kayrah menatap Kayron dengan tidak percaya. Nafasnya tidak teratur bahkan bisa dikatakan bahwa dirinya sedang kesulitan bernafas saat ini.
"Ron..." Lirih Kayrah yang berusaha memanggil Kayron.
Perlahan mulut Kayron bergerak lalu keluarlah kata-kata yang tidak diharapkan oleh Kayrah. "Dasar penyakitan. Aku sudah muak menjadi perawat mu"
Kayrah melebarkan matanya dengan tidak percaya sebelum matanya tertutup perlahan dengan sempurna.
Sampai di alam bawah sadar pun Kayrah masih tidak percaya dengan perubahan sikap yang Kayron tunjukan padanya.
__ADS_1
*
10 like dan 10 komen, maka cerita ini akan saya lanjut. Maaf ya begini karena tugas saya mulai banyak lagi. Jika memang cerita ini nggak banyak yang minat maka akan saya hentikan untuk fokus mengerjakan tugas.