
Pertandingan basket antara tim Kayron dan tim Jack berakhir dengan kemenangan di pihak tim Kayron. Sorak-sorai terdengar mengelu-elukan nama Kayron yang banyak mencetak three shoot dengan cantik.
Tim basket lawan yang adalah kakak tingkat Kayron juga memberikan selamat serta pujian untuk pemuda berambut pirang itu. Kayron yang merasa senang hampir saja menghampiri kakaknya dan memeluknya.
Saat akan melakukan itu, Kayron sadar bahwa dirinya sedang pura-pura perang dingin dengan kakaknya. Apalagi saat ini ada Caroline yang sudah menggelayut manja di lengannya.
"Ron, aku balik dulu." Aldebaran menepuk pundak Kayron.
Kayron mengangguk lalu mulutnya terbuka, ingin mengatakan bahwa kakaknya berada disini pada Aldebaran tetapi ketika memikirkan kakaknya akan berdua dengan Aldebaran membuat hati Kayron kesal. Jadi dia tidak akan mengatakan hal itu.
"Hati-hati." Ucap Kayron singkat.
"Oh satu lagi." Aldebaran mendekatkan dirinya pada Kayron. "Sampaikan permintaan maaf ku pada Kayrah. Aku tidak bisa menemuinya hari ini." Bisik Aldebaran.
"Kenapa?" Kayron mengerutkan keningnya.
"Biasa, sudah waktunya aku menjadi budak perusahaan." Aldebaran tersenyum kecut.
Kayron yang mendengar itu langsung tersadar, Aldebaran memiliki kakak laki-laki yang menjadi pewaris perusahaan. Aldebaran adalah anak kedua yang harus membantu kakaknya mengembangkan perusahaan.
Sayang sekali hal itu tidak sesuai dengan ekspektasi. Aldebaran seperti dikurung oleh ayahnya untuk menjadi budak yang bisa memajukan perusahaan. Aldebaran dikekang tanpa bisa melawan.
"Kau tidak rindu pada kakakku?" Bisik Kayron datar.
"Tentu saja aku rindu." Jawab Aldebaran cepat. Mau bagaimana lagi, meskipun serindu apapun Aldebaran pada Kayrah tapi jika sudah menyangkut soal pekerjaan, Aldebaran tidak bisa membangkang.
Bukan karena takut fasilitasnya akan dicabut oleh sang ayah tapi Aldebaran lebih takut jika ayahnya mempunyai niat buruk pada Kayrah karena sudah menganggu perkejaan Aldebaran.
"Baiklah, pergi sana." Usir Kayron sambil menatap Aldebaran dengan tajam.
Aldebaran mengangkat alisnya lalu matanya melirik Caroline yang sedang memandang mereka dengan curiga. Aldebaran tersenyum tipis.
Andai saja dia memiliki pengaruh penuh seperti pewaris perusahaan keluarga maka sudah pasti Aldebaran akan membantu meringankan beban Kayron karena membantu Stevano yang hampir hancur.
"Aku pergi dulu," pamit Aldebaran lalu meninggalkan mereka berdua.
.
***
.
Kayrah bersembunyi dibalik punggung Ricard saat mereka menghampiri Jack yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Papa?" Jack mengerutkan kening, bingung melihat kemunculan Ricard di sini.
__ADS_1
"Permainanmu sudah bagus," Ricard menepuk pundak Jack. "Tapi apakah kamu tidak malu dikalahkan oleh adik tingkatmu?"
Wajah Jack menjadi merah seketika ketika melihat Ricard cekikikan menahan tawa. Jack tidak tau jika papanya ini akan menonton pertandingan basketnya. Jika tau mungkin Jack akan lebih berusaha mengalahkan lawannya kali ini.
"Siapa itu dibelakang papa?" Jack mengalihkan pembicaraan. "Papa tidak membawa dia kesini untuk meminta restuku bukan?" Tangan Jack menunjuk Kayrah dan pandangannya menatap Ricard dengan penuh curiga.
Ricard yang sebelumnya tertawa langsung terbatuk-batuk karena terkejut dengan perkataan anaknya yang konyol itu. "Kamu bicara apa? Apa kamu pikir papa seorang pedofil?"
Meskipun sebelumnya Ricard pernah menyukai wajah yang mirip dengan Kayrah itu tetapi dia menyukai Keysha. Bukan dari segi fisik ataupun penampilan melainkan dari hati. Apalagi gadis dibelakangnya saat ini bukan Keysha melainkan Kayrah.
"Hahaha, habisnya jarang sekali papa bawa seorang--tunggu sebentar..." Jack menghentikan ucapannya dan menatap wajah Kayrah yang berada di belakang punggung papanya dengan intens. "Kamu... Apa hubunganmu dengan si Kayron yang kurang ajar itu?"
"Eh?" Kayrah bingung sejenak lalu menatap Ricard untuk meminta penjelasan dari ucapan Jack.
Ricard mengangguk kepalanya, "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Maksud ucapan kakak Jack apa om? Bukankah dia sudah tau aku adalah saudari kembar Kayron?"
"Kakak Jack?" Jack mengangkat alisnya bingung dan ikut menatap papanya untuk menuntut penjelasan.
Ricard menghela nafas lalu mulai menjelaskan. "Kayrah... Sebenarnya saat Jack berada di Paris, dia mengalami kecelakaan. Lalu..."
"Lalu?"
Kayrah menarik nafas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca saat dia menggempalkan tangannya dan mencoba untuk mengatur emosi yang bercampur aduk.
"Dan... Jack." Ricard menatap Jack sambil tersenyum tipis. "Dia Kayrah. Saudari kembar Kayron. Kamu sudah tau kan siapa Kayron?"
Jack mengangguk, "Kayron berkata kalau dia adalah saudaraku. Apakah itu benar pa?"
"Ya itu benar." Jawab Ricard cepat. "Dan Kayrah juga menjadi saudaramu. Kamu bisa menganggapnya sebagai adik jadi perlakukan dia sebagai adik perempuanmu."
"Tentu saja!" Jawab Jack antusias. Sudah dari dulu dia menginginkan mempunyai adik perempuan. Sekarang seorang gadis datang sebagai adik perempuannya maka Jack tidak punya alasan untuk menolak.
Ricard yang melihat itu hanya menggeleng pelan sambil menyembunyikan raut wajah sedihnya.
"Lalu... Bagaimana dengan kak Dewa? Dimana dia? Apakah dia juga mengalami kecelakaan?" Kayrah bertanya dengan suara bergetar. Dirinya sakit hati saat mendengar Jack hilang ingatan dan lebih sakit hati saat Ricard mengenalkan dirinya pada Jack sebagai seorang saudara.
Memang sudah seharusnya begitu. Bagaimanapun juga Kayrah sudah memiliki kekasih tapi entah mengapa saat mendengar itu langsung hati Kayrah menjadi sakit seketika.
"Tidak. Dewa tidak apa-apa. Dan sampai sekarang dia melanjutkan studinya di Paris."
Ricard menjawab dengan santai meskipun mulutnya berkedut ketika mengingat bagaimana susahnya dia memisahkan Jack dan Dewa saat itu.
Di satu sisi, Dewa ingin menjaga rumah mereka yang berada di Paris sekaligus berkuliah di sana tapi di sisi lain Jack tidak ingin berpisah dengan saudara angkatnya itu. Sebenarnya Ricard juga keberatan saat harus meninggalkan Dewa sendiri di Paris karena bagaimanapun Dewa tetaplah anaknya jadi sudah sewajarnya dia sebagai seorang ayah merasa khawatir.
__ADS_1
Tapi setelah memikirkan berbagai alasan akhirnya Ricard rela juga membiarkan Dewa tinggal sendiri di Paris.
"Papa mari kita pulang. Aku ingin membelikan es krim untuk adik perempuanku ini." Jack menjadi ceria seketika.
"Ya. Mari kita pulang."
Kayrah dengan perasaan campur aduk mengikuti Ricard dan Jack pulang ke rumah mereka yang tidak Kayrah tau dimana letaknya.
.
***
.
"Bagaimana kabar kakak Jack?"
Kayrah bertanya untuk basa-basi saat Jack duduk di sampingnya setelah memberinya sebuah es krim. Sekarang mereka berada di taman, dimana di tempat ini Kayrah melihat Jack untuk pertama kali setelah sekian lama saat bersama dengan ayah dan adiknya.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana? Coba ceritakan padaku tentang dirimu. Tidak mungkin kan aku sebagai kakak tidak mengetahui apa-apa tentang adikku?" Tanya Jack sambil tersenyum lebar.
Kayrah memejamkan matanya, mencoba memikirkan cerita apa yang akan dia ceritakan. Cerita apa? Cerita bagaimana dirinya melewati hari-hari tanpa Jack? Seberapa besar rasa rindunya pada Jack? Atau seberapa senang dirinya bertemu kembali dengan Jack tetapi langsung jatuh ketika tau Jack sudah lupa padanya?!
"Tidak ada yang spesial." Jawab Kayrah setelah berpikir sejenak.
"Itu tidak mungkin." kekeh Jack sambil mengelus rambut Kayrah.
Kayrah yang diperlakukan seperti itu langsung membatu, tiba-tiba teringat dulu Jack sering memperlakukan dia seperti ini. Air mata Kayrah menetes tanpa dia sadari. Emosi yang selama ini dia pendam tiba-tiba meluap seketika.
"Eh? Eh? Kamu kenapa?" Jack menjadi panik saat melihat air mata Kayrah yang turun begitu saja.
"Huhuhu, jahat! Jahat sekali!!" Kayrah menghapus air matanya tetapi air matanya tidak mau berhenti.
"Siapa? Siapa yang jahat? Katakan padaku. Ingat sekarang aku adalah kakakmu Kayrah, aku bukan orang asing. Jadi jika kamu mempunyai masalah maka ceritakan padaku."
Kayrah sesenggukan. Setelah mengatur nafasnya agar bisa sedikit lebih tenang, dia mulai membuka suara. "Laki-laki yang dulu bilang mencintaiku sekarang melupakanku. Padahal aku selalu merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya yang terpisah jarak sangat jauh dariku. Tapi... Tapi dia... Huhuhu..."
"Di..dimana laki-laki itu? Siapa dia? Katakan pada kakak Kayrah... Katakan dengan jelas!"
Kayrah mendongak dan menatap mata Jack dengan matanya yang berlinang air mata. "Dia... Dia sudah mati kak... Dia pergi begitu saja tanpa pamit! Aku... Aku membencinya! Aku benci dia!"
.
like.
maaf, mungkin besok nggak bisa update.
__ADS_1