I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Awal


__ADS_3

"*Bagaimana jika kamu menjadi kekasih anakku?" Seorang pria berperut buncit dan berkumis seperti banteng berkata di hadapan seorang pemuda berambut pirang.


"Apa?" Pemuda berambut pirang bertanya untuk memastikan ucapan pria itu.


"Bukankah kamu tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan hidup keluarga temanmu ini?" Tunjuk pria itu pada seorang lelaki paruh baya, wanita paruh baya dan remaja bermata biru diantara mereka.


"Stevano..." Melihat temannya sekeluarga berlutut tidak berdaya membuat hati pemuda berambut pirang berdenyut sakit.


Pemuda berambut pirang menggeram marah. Dirinya paling benci tidak berdaya seperti ini, apalagi ini menyangkut nasib temannya untuk kedepannya.


Jika saja perusahaan keluarga Edward, yang akan diwariskan padanya, juga melebarkan sayap mereka di Amerika maka situasi seperti ini pasti tidak akan dialami oleh pemuda berambut pirang.


Meminta bantuan geng black rose pun tidak mungkin karena saat ini geng besar yang tersohor di dunia itu sedang menyembunyikan diri yang berada di Amerika atas perintah ketua besar mereka, Thalita.


"Lalu apa yang anda inginkan?" Pemuda berambut pirang mencoba menahan amarah mereka.


Pemuda berambut pirang tidak tau apa yang dilakukan oleh keluarga Stevano sampai bisa membuat bisnis keluarga mereka hancur dan terlilit banyak utang bahkan keluarga Stevano akan dijual sebagai budak untuk melunasi hutang tersebut.


"Jadilah kekasih putriku dan turuti semua perintahnya maka aku akan menjamin hidup keluarga temanmu ini!" Tegas pria itu.


"Sampai kapan?!"


"Sampai putriku bosan dengan mainannya" pria itu tertawa mengejek.


Pemuda berambut pirang memejamkan matanya dengan wajah yang sudah memerah, menahan amarah yang menggebu-gebu. Siapa yang tidak marah jika harus menjadi mainan seorang wanita?


Meskipun pria buncit di hadapannya adalah kepala universitas Milestone, universitas yang dibangun oleh geng black rose, tapi bukan berarti pria dihadapannya adalah bawahan geng black rose.


Hal itu membuat pemuda berambut pirang kesal. Jika saja pria dihadapannya adalah bawahan geng black rose maka dia pasti akan meminta bibinya yang adalah ketua besar geng untuk membebaskan perusahaan keluarga temannya ini.


"Baiklah." Putus pemuda berambut pirang setelah berpikir sejenak.


Pria buncit itu tertawa keras, akhirnya permintaan putrinya bisa dia kabulkan. Pikir pria buncit itu senang karena tidak sabar melihat bagaimana wajah bahagia putrinya nanti saat tiba di rumah.


Kejadian itu menjadi awal bagaimana terciptanya hubungan Kayron dan Caroline yang menjadi pasangan idaman para mahasiswa kampus*.


.


***


.


Kayron menerjapkan matanya saat seseorang memanggilnya sembari menggoyangkan lengannya.


"Hei, udah malem. Kau mau menginap di sini?" Tanya Stevano yang membangunkan Kayron dari tidurnya.


Kayron menatap mata biru milik Stevano lekat-lekat. Senyum tipis tersinggung di wajahnya, "Makasih."

__ADS_1


"Untuk apa?" Stevano mengangkat alisnya, bingung.


"Sudah membangunkan ku." Karena aku tidak ingin memimpikan hal itu lebih lama. Lanjut Kayron dalam hati.


Stevano mengangguk saja karena dirinya tau jika sudah seperti ini pasti Kayron di hantui oleh mimpi buruk lagi.


"Jadi gimana? Kau mau menginap di sini?" Tanya Stevano lagi.


"Nggak ah. Kalo aku nginap di sini, yang jaga kakakku dirumah siapa?" Kayron bangkit sembari mengambil jaketnya yang tergantung di kursi.


"Kan ada ayahmu di sana?"


"Tambahan satu laki-laki untuk menjaganya jauh lebih baik bukan?" Kayron tidak memperdulikan Stevano lagi.


"Dasar..." Stevano menggeleng pelan dan mengikuti Kayron yang keluar dari kamarnya.


"Ah, Aron kamu sudah bangun?"


Suara seorang wanita menyambut Kayron saat dirinya keluar dari kamar. Terlihat seorang wanita paruh baya bersama lelaki paruh baya di sampingnya sedang menonton televisi.


"Iya ma." Kayron mendekati kedua paruh baya itu lalu menyalimi mereka satu persatu. "Kayron pamit pulang ya ma, pa."


"Nggak nginap di sini Ron?" Papa Stevano bertanya.


"Nggak dulu pa. Aron harus jaga kak Kayrah" Ya meskipun ada ayah sih di rumah. Lanjut Kayron dalam hati sambil tersenyum geli sendiri.


"Sekali-kali ajak kakakmu kemari Ron, biar mama sama papa bisa kenal." Ujar mama sambil tersenyum lembut.


"Kak Kayrah cantik ma" timpal Stevano dengan antusias.


"Iyalah, secara aku kan saudara kembarnya jadi wajah kita mirip." Sahut Kayron bangga.


"Kau mau jadi cantik Ron?" Stevano mengangkat alisnya, tidak menyangka ternyata sahabatnya ini suka dibilang cantik.


Segera saja jitakan ala Kayron mendarat di kepala Stevano. "Tau ah, kau ngeselin kalo diajak ngomong."


Mama dan papa tertawa bersama. Mereka tidak keberatan dengan sikap Kayron pada putra mereka karena bagi mereka berdua, Kayron juga adalah putra mereka apalagi setelah Kayron menyelamatkan mereka dari kehidupan yang entah akan bagaimana ditangan kepala universitas itu.


"Udah deh. Ma, pa, Aron pamit ya." Pamit Kayron sekali lagi.


"Hati-hati yaa!" Mama melambaikan tangannya dengan posisi yang masih duduk di samping papa.


"Nggak nganterin Kayron keluar nih?" Tanya Kayron pura-pura sedih.


"Cih, ngapain juga. Toh kau sudah biasa kemari tiba-tiba kayak tadi. Kau yang sudah menjadi keluarga kita apa masih perlu diantar keluar?" Celetuk Stevano sembari kembali ke kamarnya.


"Iya deh nggak usah" Kayron mendengus kesal.

__ADS_1


"Hehehe, maaf ya Ron. Papa lagi males." Ucap papa tanpa rasa bersalah.


Kayron menggeleng pelan dan keluar dari rumah itu. Saat menaiki motornya, Kayron menatap sekali lagi rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal baru teman--atau bisa disebut--sahabatnya itu setelah kejadian tidak mengenakan yang terjadi.


"Meskipun kecil tapi terasa kasih sayang keluarga..." Gumam Kayron nanar saat memikirkan sangat di sayangkan ibundanya tidak berada di sini.


Jika saja bundanya berada di Amerika maka keluarga kecil mereka pasti akan berkumpul saat ini.


Memikirkan keberadaan Kayrah, ayah, dan bundanya berada di satu ruangan membuat hati Kayron menghangat. Kayron menggeleng pelan sambil berkata dalam hati.


Itu tidak mungkin.


.


***


.


"Loh, Kayron? Darimana kamu?"


Kayrah yang baru membuka pintu rumah yang terkunci langsung menatap Kayron yang baru saja tiba bersama dengan sepeda motornya.


Kayron membuka helmnya dan turun dari sepeda motor lalu berjalan memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka oleh Kayrah.


Melihat Kayron yang mengacuhkannya membuat hati Kayrah terasa sakit. Kayrah mencoba tersenyum lalu dia pun ikut memasuki rumah setelah menutup pintu.


"Ron, habis darimana?" Keynan menopang dagunya di pagar pembatas lantai dua sambil menatap Kayron yang terkejut dengan keberadaan ayahnya itu.


Kayron mengamati penampilan ayahnya dari atas sampai bawah. Ayahnya sudah memakai piyama lengkap dengan topi yang sekarang terpasang di kepala.


Kayron membuka mulutnya, berniat menjawab dengan jujur perkataan ayahnya tetapi saat melihat Kayrah memasuki rumah, dia hanya berkata.


"Main"


Keynan mengerutkan keningnya sambil menatap lekat-lekat putranya yang sedang menuangkan minuman dingin ke gelas.


"Apa nggak capek habis pertandingan basket langsung main?" Tanya Keynan.


"Nggak. Aku juga istirahat kok di sela-sela waktu main." Jawab Kayron.


Terdengar helaan nafas dari Keynan. "Memang seharusnya ayah menonton pertandinganmu tadi."


"Nggak perlu yah... Kan udah ada kakak yang nonton jadi ayah istirahat aja di rumah. Nanti kalo tiba-tiba ayah sakit, Kayron yang repot." Kayron meletakkan gelas kotor itu lalu mulai memasuki kamarnya.


Keynan dan Kayrah menatap Kayron sampai pemuda berambut pirang itu menutup pintu kamarnya.


"Aron menang yah." Ucap Kayrah membuyarkan lamunan Keynan yang masih menatap pintu kamar putranya itu.

__ADS_1


.


like.


__ADS_2