
Kapten dan kakak tingkat yang membawa Kayron, mengerutkan keningnya. Bingung dengan sikap Kayron yang tidak sopan ini.
"Anda mengenalku?" Tanya sang kapten formal.
Kayron berdecak kesal. "Jangan pura-pura amnesia deh. Ngapain kau ada di sini?"
"Saya serius. Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya lagi.
"Kau bilang pernah bertemu? Heh! Apa kau sudah lupa dengan hubungan kita?!"
"Hubungan? Apa maksud anda?"
Kayron tiba-tiba menjadi bingung. Apakah dia benar-benar amnesia? Kayron mengamati kapten itu dengan seksama. Dia tidak menemukan kebohongan apapun dari wajah itu.
"Em... Kak, kapten ini namanya siapa?" Tanya Kayron pada kakak tingkatnya yang sedari tadi hanya menonton.
Kakak tingkat itu mendekatkan mulutnya pada telinga Kayron, mencoba untuk membisikinya.
Setelah mendengar bisikan nama kapten itu, Kayron menggempalkan tangannya erat-erat. Tubuhnya bergetar karena dia mencoba menahan amarah yang menggebu-gebu. Pandangannya pada sang kapten semakin tajam dan dingin membuat kakak tingkat dan sang kapten semakin bingung.
"Apa yang kau bisikkan?" Tanya sang kapten.
"Aku cuma beritahu namamu saja, sungguh!" Jawab kakak tingkat seraya menggaruk kepalanya bingung.
.
***
.
Selama pertandingan babak berlangsung, permainan yang Kayron tunjukan semakin buruk daripada hari-hari sebelumnya ketika latihan.
Hal ini membuat timnya resah karena kapten mereka bermain dengan amarah, tidak bermain dengan hati seperti kata pelatih mereka.
Tidak hanya itu, Kayron pun terus-menerus menatap kapten lawan dengan tajam. Tentu saja perhatian Kayron harus terpecah belah membuat permainan basketnya saat ini begitu buruk.
Seluruh kakak tingkat tim basket yang melihat permainan Kayron saat ini, secara serentak mengerutkan kening mereka karena tidak biasanya Kayron begini.
Bagaimanapun juga, Kayron memiliki skill basket yang hebat maka dari itu dia terpilih menjadi kapten basket. Sayangnya setiap latihan, Kayron selalu main-main. Dia tidak serius saat latihan dan malah berantakan saat pertandingan.
Padahal sebelumnya Kayron berjanji pada pelatih akan sungguh-sungguh saat pertandingan jadi karena itulah sang pelatih biasanya membiarkan Kayron yang sering main-main saat latihan.
"Sebenarnya kau kenapa sih?" Aldebaran duduk di samping Kayron yang sedang mengatur nafasnya. Waktunya istirahat sebentar setelah waktu babak pertama sudah habis.
"Nggak." Jawab Kayron singkat sambil menatap kapten lawannya yang tidak peduli dengan tatapan Kayron sedari tadi.
Aldebaran ikut memandang apa yang dipandang oleh Kayron. "Itu kapten kakak tingkat kita kan?"
"Ya."
__ADS_1
"Kenapa dengannya?"
"Nggak apa-apa."
Aldebaran menaikkan alisnya, bingung karena melihat wajah Kayron yang memerah saat menatap kapten kakak tingkat mereka. "Kau suka sama dia?"
Kayron yang sedang melamun langsung tersedak nafasnya sampai terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaan Aldebaran yang diluar dugaan. "Omong kosong apa yang kau katakan?"
"Liat tuh muka," Aldebaran menunjuk wajah Kayron. "Merah. Kayak orang lagi jatuh cinta."
"Sialan." Umpat Kayron sambil mengusap wajahnya. Wajahnya memerah bukan karena jatuh cinta tetapi karena menahan amarah saat melihat dia lagi setelah bertahun-tahun lamanya.
"Dia ganteng."
Kayron menatap Aldebaran dengan bingung. "Siapa?"
"Kapten basket kakak tingkat kita." Jawab Aldebaran sambil tersenyum.
Kayron membuka mulutnya lebar-lebar, tidak percaya Aldebaran memuji seseorang yang berkemungkinan besar akan menjadi saingan cintanya untuk mendapatkan Kayrah.
"Lebih ganteng kau atau dia?" Tanya Kayron serius.
"Tentu saja aku." Jawab Aldebaran cepat dengan penuh percaya diri, setelah itu Aldebaran tertawa membuat para penonton yang sedari memperhatikannya langsung histeris.
Aldebaran, Kayron dan seluruh tim basket yang berada di lapangan terlonjak kaget ketika dari bangku penonton keluar teriakan secara bersamaan.
"Ngeri," gumam Aldebaran saat melihat penonton yang histeris.
"Kau pake ketawa segala" Stevano datang setelah selesai dari kamar mandi. Memang saat istirahat, Stevano langsung izin ke kamar mandi karena sudah tidak tahan lagi.
Tidak Stevano sangka, saat kembali dia akan melihat Aldebaran yang tertawa dengan tampannya. Stevano sebagai laki-laki pun terpaku dengan wajah Aldebaran saat tertawa.
"Lalu aku tidak boleh tertawa?!" Tanya Aldebaran yang mulai kesal.
Kayron menggeleng pelan, tidak berniat berbicara lebih lanjut dengan kedua sahabatnya ini. Kayron mengalihkan pandangannya pada bangku penonton. Entah kenapa mata Kayron menjarah satu persatu para penonton sampai akhirnya matanya terpaku pada seseorang yang berdiri.
Seseorang yang menatapnya lalu tersenyum saat tatapannya bertemu dengan tatapan Kayron.
Mata Kayron melebar, tidak menyangka sang kakak yang dia harapkan untuk melihat pertandingannya ternyata sungguh melihat pertandingannya saat ini.
Karena semua penonton berdiri, Kayrah yang berada di bangku penonton juga ikut berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Tentu saja Ricard tidak ikut berdiri karena malas menggerakkan badannya.
Kayron baru saja ingin memberitahu Aldebaran bahwa ada Kayrah di sini saat Kayrah melambaikan tangannya. Buru-buru Kayrah menggelengkan kepalanya sambil menaruh jari telunjuknya di bibir ketika tau niat Kayron.
Bagaimanapun sebelumnya Kayrah kesini bukan karena berniat melihat Aldebaran ataupun Kayron. Kayrah juga tidak menyangka seseorang yang dicarinya ternyata sedang melakukan tanding basket melawan adiknya.
Kayron menyipitkan matanya saat merasa Kayrah mengucapkan sesuatu. Karena bangku penonton masih ramai jadi Kayrah berbicara tanpa suara. Dia yakin menggunakan suara pun tiada guna karena suaranya akan kalah dengan suara para penonton.
"Sstt! Jangan beritahu Aldebaran" Kayrah menggelengkan kepalanya sambil menatap Kayron dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Kayron mengangguk pelan sebagai jawaban. Saat Kayron akan mengalihkan pandangannya, mulut Kayrah bergerak lagi membuat Kayron memperhatikan dengan teliti sekali lagi.
"Kamu." Kayrah menunjuk Kayron. "Semangat!" Kayrah mengangkat tangannya yang menggempal keatas.
Kayron tersenyum tipis. Mengetahui kakaknya sedang menyemangatinya, Kayron langsung mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan kebahagiaan yang terlihat.
Tanpa Kayrah sadari, hanya menyemangati Kayron seperti itu saja sudah bisa membuat pertandingan babak kedua menjadi sangat berbeda dengan sebelumnya.
Tentu saja support dari kakaknya membawa perubahan besar untuk Kayron.
Saat pertandingan babak kedua dimulai, Kayron mulai menunjukkan keseriusannya. Kayron tidak ingin kakaknya melihat permainannya yang kacau seperti babak pertama tadi. Bisa-bisa kakaknya akan menceritakannya pada ayah mereka.
Kayron tidak tau akan bereaksi seperti apa saat melihat ayah dan kakaknya menertawainya di rumah.
Jadi Kayron bertekad akan mulai serius saat ini.
Tidak disangka, kakak tingkat yang sebelumnya meremehkan Kayron karena tidak bisa main dengan betul di babak pertama, langsung melongo saat melihat kegesitan Kayron.
Bukan hanya kakak tingkat saja, rekan basketnya pun sama terkejutnya melihat perubahan Kayron dalam waktu singkat itu.
Three shoot!
Para penonton juga pemain diam sejenak sebelum bersorak bangga saat melihat shoot Kayron yang begitu cantik itu.
Kayron mulai fokus pada pertandingan lagi, saat mendribble bola untuk menuju lebih dekat pada ring, kapten kakak tingkatnya langsung datang untuk menghalangi.
Kayron tersenyum sinis sambil terus menghindari kapten itu yang berusaha mengambil bolanya.
Saat ada kesempatan, Kayron berkata dengan penuh penekanan. "Tenang saja, aku akan mengalahkanmu. Jack. Nathan. Moses."
Tanpa aba-aba, Kayron langsung melemparkan bolanya menuju ring dari tempatnya yang sekarang.
Semua orang melihat bola yang sedang menggelinding di ring itu, entah akan masuk atau tidak.
"Whooooo!!"
Sorakan gembira terdengar lagi saat bola itu memasuki ring. Tree shoot yang cantik dilakukan Kayron lagi dan lagi. Memang sang pelatih tidak sembarang memilih kapten untuk tim basket.
Alasan Kayron terpilih menjadi kapten karena dia langganannya mencetak three shoot dengan begitu elegan. Bahkan sang pelatih pun berdecak kagum setiap kali melihat Kayron yang begitu mudahnya mencetak three shoot.
Berbeda dengan kapten basket kakak tingkat yang sedang menatap Kayron dengan tajam. Kayron pun juga ikut menatap demikian.
"Kau sungguh mengenalku." Ucap Jack tanpa ekspresi.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padamu. Tapi kau harus tau satu hal yang sangat penting."
Jack semakin menajamkan matanya saat melihat senyum miring yang tersinggung di wajah Kayron.
Kayron menepuk pundak Jack lalu membisikinya, "Kita... Adalah saudara."
__ADS_1
like.