I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Broken heart


__ADS_3

"Kayrah! Mau kemana?" Teriak Keynan yang sedang menonton televisi.


"Ke taman kompleks yah." Jawab Kayrah sambil melangkah keluar.


"Ngapain?" Tanya Keynan lagi.


"Aldebaran udah nunggu di sana. Udah ya yah, aku pergi dulu."


Setelah itu pintu rumah tertutup seiring dengan menghilangnya tubuh Kayrah di balik pintu. Keynan menghela nafas saat melihat kelakuan anaknya yang berani keluar malam-malam itu sedangkan Kayron, dia memasang tampang tidak pedulinya.


"Hei, kakakmu keluar tuh." Pancing Keynan pada Kayron yang duduk di sampingnya.


"Terus?" Mata Kayron tidak lepas dari televisi yang menyala.


Keynan menjitak kepala anaknya itu cukup keras. Toh kedua anaknya strong semua jadi Keynan tidak punya ampun jika sudah gemas. "Kayron Edward, menurutmu kenapa ayah bilang begitu?"


"Nggak tau." Jawab Kayron acuh sambil mengusap kepalanya yang terkena jitakan Keynan.


"Kayron, sekarang udah malem. Apa kamu nggak khawatir sama kakakmu? Dia perempuan, keluar dari rumah malem-malem seorang diri."


"Kalo ayah khawatir ya, ayah aja yang samperin." Ucap Kayron tidak peduli.


"Kurang ajar!" Keynan memasang tubuh bersiap untuk menghajar putranya yang tidak tau diuntung ini. "Berani sekali nyuruh ayahmu yang udah tua ini?!"


Kayron memundurkan badannya kebelakang saat melihat Keynan yang tiba-tiba ingin menghajarnya. "Ayah kenapa sih? Kak Kayrah pasti bisa jaga diri sendiri."


"Ayah juga tau itu! Tapi kamu sebagai adik khawatir dikit napa? Kayrah kakakmu dan dia perempuan! Keluar malem-malem gini apa kamu beneran udah nggak peduli lagi?" Keynan sudah tau tentang perang dingin kedua anaknya itu.


Kayron termenung. Dari perkataan ayahnya sepertinya ayahnya ini sudah tau tentang masalah dirinya dan Kayrah. Sekarang yang jadi pertanyaan Kayron adalah darimana ayahnya ini tau?


Tentu saja Keynan tau tanpa diberi tau. Cukup jelas terlihat dari sikap kedua anaknya terutama Kayron saat dirinya tidak ada maka sikapnya pada Kayrah akan berubah.


"Cepat samperin kakakmu!"


Melihat putranya yang malah melamun bukannya segera beranjak pergi membuat emosi Keynan serasa sedang diuji saat ini.


Kayron berdecak kesal sebelum mengambil jaketnya yang tergantung lalu pergi meninggalkan rumah.


Keynan tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan. Meskipun selama disini Keynan tidak pernah melihat penyakit putrinya kambuh lagi tapi Keynan juga mengerti kalau penyakit itu semakin parah. Hanya saja Kayrah bisa menyembunyikannya dengan baik, seperti Keysha dulu.


Itu yang membuat Keynan khawatir. Perasaannya tidak enak secara tiba-tiba. Dia sudah rela tidak bekerja untuk menafkahi keluarga kecilnya dan tinggal bersama putrinya tapi kondisi putrinya malah terlihat baik-baik saja dari luar.


Keynan sudah bersepakat dengan istrinya untuk menjaga Kayrah dari dekat. Karena takut terjadi apa-apa pada Kayrah akhirnya Keynan keluar dari pekerjaannya dan pindah kemari sedangkan istrinya masih bekerja karena terikat kontrak dengan rumah sakit.


.


***


.


Senyum Kayrah mengembang dengan lebar ketika melihat Aldebaran sedang duduk di salah satu kursi taman sambil memandangi sejuta bintang yang ada di langit.


Aldebaran terlihat lebih dewasa dan berwibawa dengan pakaian jas yang dia pakai. Kayrah sampai terpanah melihat penampilan Aldebaran yang baru pertama kali dia lihat itu.


"Lagi mikirin apa?" Tanya Kayrah sambil duduk di samping Aldebaran.


Aldebaran tidak menatap Kayrah, dia masih setia melihat bintang-bintang yang bercahaya terang. Tangan Aldebaran terulur dan menunjuk salah satu bintang yang paling terang.


"Liat bintang itu."


Kayrah mendongak dan menatap bintang bercahaya paling terang berkedip-kedip. "Kenapa?"


"Itu bagai kamu di hatiku." Aldebaran tersenyum tipis.

__ADS_1


"Oh ya?" Kayrah merasa tersanjung mendengar ucapan Aldebaran. Pipinya memerah seiring dengan senyumnya yang semakin melebar.


Tapi Kayrah menyadari maksud lain dari ucapan Aldebaran. Kayrah menatap bintang yang berkedip-kedip itu dengan seksama. Bintang besar yang bercahaya paling terang dan berkedip-kedip indah.


Senyum Kayrah perlahan memudar lalu dia menatap Aldebaran yang masih memandang bintang itu.


"Meskipun cahayanya paling terang tapi bintang itu berkedip-kedip bagai sudah hampir habis bahan bakarnya. Apa maksudnya itu?"


Seperti yang diharapkan, Kayrah bisa menangkap maksud Aldebaran yang lain. Aldebaran tidak menjawab, hanya tersenyum tanpa menatap mata Kayrah karena dia memang tidak ingin terjatuh lebih dalam lagi.


"Kenapa aku berkedip-kedip di hatimu? Apa namaku akan segera hilang dari hatimu? Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" Mata Kayrah berair dan menatap Aldebaran dengan penuh rasa tidak percaya.


Aldebaran menatap Kayrah dengan senyumnya yang tipis. Aldebaran mencopot jas yang dia pakai lalu memakaikannya pada Kayrah. "Udah malam. Kenapa kamu nggak pakai jaket saat keluar? Kamu ingin sakit?"


Kayrah menggenggam tangan Aldebaran yang akan menyentuh pipinya. "Kenapa Al...?" Lirihnya.


Aldebaran memejamkan matanya lalu dia mengambil tangan Kayrah dan mencium punggung tangan Kayrah. "Maaf..."


Jantung Kayrah berpacu dengan cepat saat mendengar permintaan maaf dari Aldebaran secara tiba-tiba. "Apa... Apa maksudnya?"


Aldebaran bangkit dari duduknya dan memandang Kayrah dengan penuh kasih sayang. Senyumnya yang tipis berubah menjadi hangat.


"Kita akhiri saja hubungan kita."


Kayrah langsung berdiri setelah mendengar itu. Bibirnya bergetar begitupun dengan tubuhnya yang bergetar karena terkejut. "Apa? Kenapa?"


Aldebaran tidak menjawab.


"Kenapa? Kenapa?! Setidaknya berikan sebuah alasan padaku!" Air mata Kayrah jatuh saat itu juga.


"Kamu tidak bahagia bersamaku." Ucap Aldebaran singkat setelah diam sejenak.


"Apa yang kamu katakan! Tau darimana kamu kalau aku tidak bahagia bersamamu?!" Kayrah memukul-mukul dada bidang Aldebaran sambil terisak.


Aldebaran menerima pukulan Kayrah tanpa berniat menghentikannya. Senyum hangat masih terpasang di wajah tampan Aldebaran.


Aldebaran menangkap kedua pipi Kayrah lalu dengan penuh kelembutan, dia menghapus air mata Kayrah. Kayrah menerima perlakuan Aldebaran sambil sesekali terisak.


Setelah menghapus air mata Kayrah, Aldebaran memeluk Kayrah sambil memejamkan mata. Aldebaran mencoba menikmati pelukan ini yang mungkin adalah pelukan terakhir mereka.


Saat Kayrah berniat membalas pelukan itu, Aldebaran melepaskan pelukannya. Dengan penuh kasih sayang Aldebaran mencium kening Kayrah lama. Mereka berdua menikmati waktu mereka saat ini yang mungkin akan menjadi kenangan saja kelak.


"Aku mencintaimu." Bisik Aldebaran sambil melepaskan ciumannya.


Kayrah menatap Aldebaran dengan tidak percaya. "Jika kamu mencintaiku lalu kenapa kamu mengakhiri hubungan kita?"


Aldebaran tidak menjawab lagi. Setelah beberapa saat dia berkata, "Pulanglah. Urusan kita sudah selesai."


Kayrah menatap Aldebaran dengan penuh kekecewaan. Dilepasnya jas Aldebaran yang menyelimuti tubuhnya lalu Kayrah memberikan jas itu lagi pada Aldebaran. "Terimakasih. Waktu yang kita lewati bersama... Sangat menyenangkan."


Setelah mengatakan itu, Kayrah berbalik dan berlari sambil menangis. Langkah Kayrah terhenti saat merasakan sebuah tubuh yang menghalangi langkahnya.


Kayron menatap Aldebaran lekat-lekat lalu dia melepas jaketnya dan memakaikannya pada tubuh Kayrah. "Ayah mencarimu."


Setelah itu Kayrah berlari pulang tanpa menoleh ke belakang.


Kayron mendekati Aldebaran dengan wajahnya yang dingin lalu secara tiba-tiba, Kayron menonjok wajah Aldebaran.


Aldebaran tidak berusaha menghindar. Dia menerima pukulan Kayron dengan senang hati.


"Brengsek Lo!"


Kayron sudah sangat marah sampai-sampai dia memakai logat Lo-gue yang hanya dia pakai saat benar-benar marah. Karena Aldebaran juga bisa berbahasa Indonesia jadi Aldebaran memahami perkataan Kayron.

__ADS_1


"Beraninya Lo bikin kakak gue nangis!" Bentak Kayron dengan amarah yang menggebu-gebu.


Aldebaran tersenyum lalu dia menerima pukulan Kayron lagi.


"Gue emang bilang kalo Jack itu cinta pertama kakak gue tapi gue nggak pernah bilang kalau kakak gue masih suka sama Jack!"


Kayron menghentikan pukulannya saat melihat air mata yang jatuh dari mata Aldebaran.


"Ku mohon... Jangan pura-pura tidak peduli lagi pada Kayrah..." Ucap Aldebaran lirih.


"Apa Lo bilang?! Emang Lo pantes bilang kayak gitu setelah bikin kakak gue nangis?!" Kayron sengaja memakai bahasa Indonesia agar jika ada seseorang yang melihat mereka, orang itu tidak akan tau apa yang mereka bicarakan.


Aldebaran mendongak saat tidak merasakan pukulan Kayron lagi. Senyum Aldebaran mengembang saat melihat kemarahan di dalam diri Kayron.


"Apa kamu sudah puas mukul--"


Bugh.


Kayron memukul wajah Aldebaran lagi dan lagi. Kayron berhenti setelah nafasnya jadi tidak teratur. Wajah Aldebaran sudah penuh luka lebam sekarang.


Aldebaran melirik jam tangannya lalu dia menatap Kayron. "Aku harus pergi. Ada meeting yang harus ku hadiri."


Bugh.


"Brengsek Lo! Lo pikir gue percaya sama ucapan Lo?! Meeting apa ditengah malem gini ha?!"


Aldebaran melirik Kayron sambil bersiap menerima pukulan berikutnya. Tapi setelah beberapa saat, tidak ada pukulan yang Kayron layangkan lagi.


Aldebaran mencoba tersenyum meskipun wajahnya berdenyut sakit saat tersenyum tapi dia mencoba mempertahankan senyum itu. Aldebaran menepuk pundak Kayron.


"Aku pergi dulu kawan. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi. Ya... Semoga saja kita bisa bertemu lagi."


Aldebaran berbalik dan pergi meninggalkan Kayron yang masih bingung dengan ucapannya.


Saat berjalan, Aldebaran mendongak dan menatap jutaan bintang sekali lagi. Air matanya jatuh begitu saja saat mengingat dirinya yang membuat Kayrah menangis tadi.


Aldebaran menggempalkan tangannya erat-erat. "Sial." Gumamnya penuh tekanan.


Andai saja... Kakaknya tidak pindah ke luar negeri karena menikah di sana, mungkin Aldebaran masih akan mempertahankan hubungannya dengan Kayrah.


Alasan Aldebaran meminta ini semua berakhir karena dia akan pergi. Kakaknya akan menikah dengan anak bos besar dari negara lain dan Aldebaran harus membantu kakaknya di negara tetangga.


Kemungkinan Aldebaran akan kembali itu sangat tipis. Aldebaran yakin, di negara tetangga nanti dia akan lebih sibuk daripada di sini.


"Tu..tuan muda..." Seorang pria yang menunggu di mobil terkejut saat melihat wajah Aldebaran setelah keluar dari taman.


Aldebaran menghapus air matanya lalu wajahnya berubah menjadi dingin. "Ke tempat meeting sekarang."


Pria itu mengangguk patuh. Setelah Aldebaran naik ke dalam mobil, pria itu menjalankan mobilnya menuju tempat meeting yang dimaksud.


Aldebaran tidak berbohong saat berkata ada meeting yang harus dia hadiri. Dengan siapa? Dengan seroang mafia. Untuk apa? Tentu saja untuk menjamin hidup agar aman di negara tetangga kelak.


Aldebaran memejamkan matanya. Teringat saat dia menelfon Kayron kemarin untuk meminta penjelasan.


Sebelum menelfon Kayron, Aldebaran menerima beberapa foto dari orang tidak dikenal. Di foto itu ada potret Kayrah sedang tertawa bahagia bersama seorang laki-laki. Bedanya di dalam foto itu terlihat wajah Kayrah yang masih kecil dan wajah laki-laki itupun berbeda. Aldebaran tau siapa laki-laki itu.


Jack, kakak tingkatnya yang beberapa kali Aldebaran lihat berjalan bersama Kayrah.


Aldebaran langsung menelfon Kayron saat itu dan menanyakan ada hubungan apa Kayrah dan Jack.


Kayron langsung menjawab bahwa Jack adalah cinta pertama Kayrah. Tentu Kayron juga menjelaskan kalau Jack juga adalah saudara mereka.


"Pada akhirnya kamu membenciku..."

__ADS_1


.


Like.


__ADS_2