
"Ayah nggak terkejut." Jawab Keynan enteng lalu tiba-tiba matanya menajam saat melirik Kayrah. "Kamu juga darimana? Nggak mungkin kan pertandingan basket sampai malam begini?"
"Nggak kok yah. Kayrah habis dari main." Jawab Kayrah singkat.
Keynan memijat keningnya, memang anak muda akan menikmati masa mereka dengan main-main. Keynan pun melakukan itu pada masa mudanya tetapi apakah mereka harus tidak memberi kabar padanya yang sedang cemas menunggu di rumah sampai akhirnya ketiduran?
Kayrah tau bahwa Keynan mengkhawatirkan anak-anaknya tetapi Kayrah sungguh lupa jika ayahnya sedang menunggu di rumah saat ini. Tidak heran karena selama berada di Inggris, Kayrah tidak tinggal bersama Keynan lagi.
"Oh iya yah" Kayrah mengingat sesuatu. "Minggu depan Kayrah mau mengunjungi anak-anak Kayrah. Ayah mau ikut?"
"Ya tentu saja ayah akan ikut mengunjungi cucu-cucu a..yah?" Mata Keynan melebar begitupun dengan tubuhnya yang tiba-tiba bergetar saat menatap putrinya dengan tatapan tidak percaya.
Keynan meloncat dari lantai dua tanpa berpikir untuk menuruni tangga karena sangking inginnya dia mengintrogasi Kayrah.
Gedebuk!
Suara keras terdengar saat tubuh Keynan mendarat di lantai. Mata Kayrah membulat sempurna ketika melihat ayahnya berhasil mendarat dengan baik setelah melompat dari lantai dua.
Meskipun sudah tua ternyata kemapuan ayahnya masih terasah dengan baik. Tidak heran karena bagaimanapun juga Keynan termasuk bagian dari geng black rose. Bahkan Keynan pernah menduduki posisi ketua geng black rose pusat yang berada di Surabaya.
Brak!
"Ada apa?! Ada apa?!" Kayron langsung keluar dari kamarnya saat mendengar suara keras itu.
Mata Keynan dan Kayrah secara serentak menatap Kayron yang bingung melihat posisi ayahnya seperti baru saja mendarat dari atas.
"Ayah ngapain?" Kayron bertanya dengan penuh keraguan. "Jangan bilang suara tadi itu karena ayah?"
Keynan berdiri sambil membenarkan piyama tidurnya saat ditanya seperti itu oleh Kayron sedangkan Kayrah malah terkekeh.
"Ayah loncat dari lantai dua?" Tanya Kayron lagi, kali ini tidak ada keraguan didalamnya.
"Ya gitu deh..." Keynan terbatuk-batuk saat menyadari tatapan tidak percaya putranya itu.
"Kenapa harus loncat? Kan ada tangga" Kayron sungguh bingung dengan sifat ayahnya yang tidak bisa dia tebak.
"Ayah mau tanya--oh iya! Ayah mau tanya!" Seketika Keynan teringat hal yang hampir dia lupakan. Keynan berjalan cepat menuju Kayrah lalu mencengkram kedua bahu Kayrah.
"A..ayah?" Kayrah menjadi gugup saat ditatap lekat-lekat oleh Keynan.
"Jelaskan pada ayah, bagaimana kamu bisa memiliki anak? Siapa laki-laki brengs*k yang berani menyentuhmu?!" Keynan berkata dengan dingin.
Kayrah tersenyum kaku sedangkan Kayron mengerutkan alisnya. "Anak? Siapa?" Tanya Kayron bingung.
"Bu..bukan ayah! Ayah salah paham..." Kayrah menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Maksud Kayrah, itu anak angkat Kayrah. Kayrah adopsi anak dari panti asuhan..."
"Kamu adopsi anak?" Keynan mengangkat alisnya. "Emang kamu sanggup membiayai hidup anak itu?"
"Kan ada Kayron" jawab Kayrah enteng membuat pemilik nama langsung melotot pada kakaknya itu.
Keynan menatap putranya lekat-lekat.
"Nggak. Aku cuma bantu dikit. Yang membiayai seluruh keperluan hidup anak-anak itu Aldebaran." Kayron menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa Aldebaran ikut-ikutan?" Tanya Keynan dengan tatapan tajamnya.
"Karena dia berperan sebagai ayah." Jawab Kayron jujur.
"Lalu Kayrah ibunya? Kamu mau main rumah-rumahan?" Tanya Keynan kesal. "Kamu pikir mengurus anak itu gampang? Berapa yang anak yang kamu adopsi? Dua?"
"Em.. semua anak yang ada di panti Kayrah adopsi..." Jawab Kayrah takut-takut.
"Oh, semua anak--APA?! Apa kamu gila nak?!" Keynan berteriak tidak percaya.
Deg.
"Ah" Kayrah memegang dadanya saat terkejut dengan teriakan Keynan yang tiba-tiba.
Keynan tersadar dengan tindakannya. Dia langsung menatap Kayrah dengan cemas. "Kamu tidak apa-apa? Maafkan ayah..."
"Kak...? Apa ada yang sakit?" Kayron juga merespon.
"Tidak. Tidak apa-apa." Kayrah menggeleng dan menatap ayahnya. "Semua anak-anak panti yang Kayrah adopsi udah di adopsi oleh keluarga baik-baik kecuali sepasang adik-kakak yang masih bersama Kayrah..."
"Jadi intinya kamu sekarang hanya mempunyai dua anak?" Tanya Keynan memastikan setelah mendengar ucapan putrinya.
Kayrah mengangguk.
"Karsein dan Ariadna?" Tanya Kayron ikut memastikan siapa ponakan angkatnya saat ini.
Kayrah mengangguk lagi.
.
***
.
Di salah satu restoran mewah yang tersedia, dari banyaknya pengunjung yang ada, ada seorang pemuda yang sedang makan bersama gadis berambut pirang.
"Coba ini juga." Jack memberikan sesuatu pada piring Kayrah.
"Kak... Perutku nggak muat tau..." Keluh Kayrah dengan wajah memelas.
Jack terkekeh pelan. "Makan yang banyak biar cepet besar."
"Jadi sekarang aku belum besar?" Mata Kayrah memicing.
"Em..." Jack mengamati Kayrah yang sedang duduk di hadapannya dari atas sampai bawah. "Menurutku masih belum. Kamu kan adik kecilku."
"Hanya karena aku adik kecil kakak, di mata kakak aku belum besar?"
"Lebih tepatnya nggak akan pernah besar. Selamanya kamu akan menjadi adik kecilku." Jack mengacak rambut pirang Kayrah.
"Mana bisa begitu?!" Kayrah cemberut kesal.
"Bisa aja." Jawab Jack singkat.
__ADS_1
Kayrah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Jack menyebalkan juga. "Karena aku adik kecil kakak jadi kakak akan selalu memanjakan ku kan?"
"Tentu." Jack mengangguk.
"Kakak akan selalu menemaniku shopping?"
"Ya." Jawab Jack cepat.
"Bukan hanya menemani tapi juga membayar semua barang yang aku beli."
"Tidak masalah." Jawab Jack enteng. Baginya yang sekarang sudah mulai mengambil alih perusahaan milik keluarga Moses juga perusahaan milik mendiang pamannya, membayar apapun yang ingin Kayrah beli adalah hal mudah.
"Sungguh?"
Jack mengangguk. "Sungguh."
"Sampai aku berkeluarga pun kakak akan melakukan itu?"
Jack mengerutkan alisnya. "Kamu akan selamanya menjadi adik kecilku. Mana bisa kamu menikah sebelum menjadi besar?"
"Kakak Jack!"
"Hahaha..."
Keduanya asyik bercanda sendiri sampai tidak sadar ada yang memperhatikan mereka sedari tadi.
"Terimakasih. Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik." Seorang pemuda bermata abu-abu sedang berjabat tangan dengan seorang pria di hadapannya.
"Ya. Senang bekerja sama dengan anda."
Pemuda itu tersenyum saat menatap rekan bisnisnya yang perlahan menjauh. Saat sudah tidak terlihat lagi, pemuda itu mengalihkan pandangannya pada gadis berambut pirang yang sedang tertawa bersama laki-laki lain.
Sedari tadi saat meeting sedang berlangsung, pemuda ini tidak pernah fokus pada meeting yang berjalan setelah melihat kekasih hatinya masuk ke dalam restoran yang sama dengan membawa laki-laki lain.
Setelah diamati baik-baik, pemuda itu mengenal laki-laki yang sedang tertawa dengan kekasihnya itu.
"Bukankah dia laki-laki yang kulihat di taman waktu itu?" Gumamnya.
Di pikir berapa kali pun pemuda itu seperti pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Bukan di taman, tapi sebelumnya. Saat sedang berpikir dimana dia mengenal laki-laki itu, tiba-tiba dirinya teringat oleh Kayron.
"Benar. Aku tanya Kayron sa--" mata pemuda itu melebar saat mengingat sesuatu yang penting.
"Bukankah dia kapten basket kakak tingkat yang tiba-tiba dimusuhi Kayron saat pertandingan yang lalu?" Pemuda itu yakin tidak salah mengenali orang.
Makanya sejak pertama melihat laki-laki itu di taman, dia sudah merasa familiar. Tapi karena sebelumnya pemuda itu sibuk dengan pekerjaan jadi dia tidak terlalu mengingat.
Sekarang dia sudah ingat semuanya. Lalu yang menjadi pertanyaan pemuda itu sekarang adalah apa hubungan kekasihnya dengan kakak tingkatnya itu?
"Jika... Jika kamu mencintai dia, aku akan mengalah Kayrah. Demi melihatmu bahagia aku akan melakukan apapun yang aku bisa."
.
like.
__ADS_1