
Kayrah tersedak nafasnya sendiri sampai terbatuk karena sangking kagetnya. Kayrah sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya.
"Pfft!" Setelah batuknya mereda, Kayrah tidak bisa menahan tawanya lagi. "Ahahaha!"
Caroline dan Kayron bingung sekaligus heran dengan perubahan sikap Kayrah. "Memang ada yang lucu?" Tanya Caroline pelan pada Kayron.
Kayron menatap Caroline dengan memasang wajah seolah tidak tau apa-apa. Hal itu membuat Caroline gemas sekaligus geli dengan ekspresi wajah yang dipasang oleh kekasihnya itu.
Melihat kedekatan Kayron dengan Caroline membuat Kayrah bisa mengontrol tawanya. Kayrah terdehem sambil merapikan rambutnya lalu menatap Kayron dengan serius.
"Aron, kamu beneran punya pacar?" Tanya Kayrah yang masih tidak percaya.
"Iya dong" jawab Kayron sombong.
"Pfft! Ahahahaha!" Kayrah tidak bisa menahan tawanya lagi ketika melihat ekspresi Kayron yang sombong.
"Kenapa sih?" Tanya Kayron yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Ahahaha! Nggak, nggak! Lucu aja kamu jadi sombong gitu cuma gara-gara udah punya pacar" jawab Kayrah di tengah-tengah tawanya.
"Heh" Kayron membuang nafasnya. "Daripada kakak nggak punya pacar kan?" Tanya Kayron yang langsung membuat Kayrah berhenti tertawa.
Kayrah langsung menatap langit yang mulai gelap. Bintang pun sudah tampak di langit. Kayrah tersenyum simpul lalu bergumam, "Gimana kabar kakak Jack ya?"
Kayrah membuang nafas panjang lalu menatap Kayron yang sedang menatapnya sambil menaikkan alis. Kayrah tersenyum lalu mengayunkan telapak tangannya.
"Udah-udah, nggak apa. Kalian pergi kencan aja, aku bisa pulang sendiri" ucap Kayrah sambil tersenyum lebar seperti biasanya.
"Siapa juga yang mau nganter kakak" sewot Kayron.
"Oh, gitu?" Kayrah menatap Kayron lalu tersenyum miring. "Awas ya kalo penyakit kakak kambuh terus kamu tiba-tiba memasang muka cemas saat aku membuka mata!"
"Nggak akan!" Bantah Kayron tegas.
Kayrah mengangkat bahunya acuh lalu berjalan melewati Caroline. "Yaudah, kakak pergi dulu"
"Ya!" Kayron dan Caroline pun juga mulai berjalan.
Saat tiba waktunya Caroline berpapasan dengan Kayrah, Caroline memasang senyum kemenangan dengan pandangan yang merendahkan.
Caroline membuka mulutnya untuk berkata sesuatu pada Kayrah tetapi tidak ada suara yang keluar, "Aku menang"
Kayrah yang sebelumnya berjalan pun kini menghentikan langkahnya tetapi tidak dengan Kayron yang tidak tau apa yang terjadi. Kayron tetap berjalan dengan Caroline yang menggenggam tangannya.
Kayrah berbalik dan menatap punggung sepasang kekasih itu. "Wanita yang berbahaya" gumam Kayrah.
Setelah berkata begitu, Kayrah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi kenapa Aron pacaran sama dia? Apa Aron nggak tau?"
"Ah, udahlah" Kayrah mengangkat bahunya lalu berbalik dan melanjutkan perjalanannya. "Nggak mungkin Aron nggak tau. Lebih baik aku nggak ikut campur dalam permainannya"
"Kayron. Apapun keputusanmu akan selalu kakak dukung. Meskipun begitu, kakak berjanji tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya"
*****
Kayrah berhenti berjalan saat melihat papan nama dari sebuah gedung yang dilewatinya. Perlahan Kayrah memutar tujuan untuk mampir ke gedung itu.
Kayrah memandangi gedung yang berada di hadapannya sambil bergumam, "Panti asuhan"
"Kalo panti asuhan berarti banyak anak-anak kan ya?" Kayrah menggempalkan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Mampir ah, sekalian sedekah"
Kayrah bersenandung sambil perlahan memasuki gedung yang adalah panti asuhan itu.
"Permisi..."
Kayrah menjulurkan kepalanya di pintu yang terbuka. Terlihat semua anak yang ada di sana menatap Kayrah dengan penasaran.
"Eh... Hehehe" Kayrah menggaruk kepalanya sambil menampakkan seluruh badannya di depan pintu.
"Maaf ya, kakak mengganggu kalian ya?" Kayrah tersenyum canggung saat melihat ada buku di hadapan setiap anak yang memandanginya.
"Tidak!" Salah satu gadis kecil dengan cepat berdiri lalu menghampiri Kayrah.
"Apakah kakak kemari untuk mencari anak?" Tanya gadis kecil itu dengan polosnya. Tidak lupa senyuman yang ia tunjukkan sangat menawan.
Kayrah tersentak kaget saat gadis kecil di hadapannya bertanya seperti itu. Keterkejutan itu tidak bertahan lama sampai akhirnya Kayrah menyadari betapa menggemaskannya gadis di hadapannya ini.
Kayrah berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu. "Kenapa bertanya begitu, anak manis?"
Gadis kecil itu tersenyum sampai giginya terlihat. "Karena Ria ingin mempunyai seorang mama dan papa yang bisa menyayangi Ria seperti kakak-kakak Ria yang mempunyai orangtua baru dan tinggal bersama mereka!"
"Ria? Namamu Ria?" Tanya Kayrah sambil membelai rambut gadis kecil itu.
"Ya! Namaku Ariadna!"
"Wah, nama yang bagus sekali" Kayrah mencubit pipi Ariadna sambil tersenyum.
"Kalau nama Ria bagus, angkat Ria menjadi anak kakak!" Ria menggenggam tangan Kayrah dengan erat.
Kayrah salah tingkah dibuatnya.
"Ria! Kamu tidak boleh begitu! Kalo kamu begitu, kakak ini tidak akan mau menjadi mamamu!" Seorang anak laki-laki berwajah dingin langsung menarik Ariadna dan memeluknya.
"Benarkah kak?" Ariadna menatap Kayrah dengan rasa bersalah. "Maaf kak, Ria nggak tau"
Melihat perilaku seperti ini di hadapannya membuat Kayrah makin salah tingkah. "Eh... Ng... Nggak kok!"
"Ada apa ini?"
__ADS_1
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang membawa sapu datang menghampiri Kayrah, Ariadna, dan anak laki-laki dingin yang masih ada di depan pintu.
"Ibu!"
Ariadna melepaskan pelukan anak laki-laki itu lalu berlari kearah wanita paruh baya.
"Ibu! Ria nggak tau Bu! Ria minta maaf!"
"Eh? Minta maaf untuk apa Ria?" Wanita paruh baya itu berjongkok lalu membelai rambut Ariadna dengan penuh kasih sayang. Ariadna tersentak kaget lalu tubuhnya bergetar ketika tangan wanita paruh baya itu menyentuh rambutnya.
Belum sempat Ariadna menjawab, wanita paruh baya itu menyadari kehadiran Kayrah.
"Ada tamu kenapa tidak disuruh masuk Sein?" Tanya wanita paruh baya itu sambil menatap anak laki-laki yang berwajah dingin.
"Tadi Ria langsung peluk kakak ini, jadi kita belum sempat mempersilahkan masuk" ucap salah satu anak yang ada di ruangan itu membuat wanita paruh baya memperhatikannya.
Anak yang menjawab langsung bungkam dan menunduk ketika matanya bertemu dengan mata wanita paruh baya.
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu menatap anak laki-laki berwajah dingin. "Apakah itu betul Sein?"
Anak laki-laki berwajah dingin itu diam sejenak lalu raut wajahnya berubah menjadi lebih dingin membuat Kayrah yang melihatnya mengerutkan dah.
"Ya" jawab anak itu singkat.
Wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada Kayrah yang juga menatapnya sambil tersenyum. Wanita paruh baya itu membalas senyumnya lalu berkata.
"Mari masuk"
Kayrah mengangguk lalu berjalan memasuki panti asuhan. Saat Kayrah melewati Ariadna yang tubuhnya masih bergetar, Kayrah menepuk pundak Ariadna membuat gadis manis itu menatapnya.
Kayrah tersenyum lembut. "Kakak tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian"
Ucapan itu juga senyuman Kayrah membuat anak-anaknya yang berada di panti asuhan bisa bernafas lega. Entah karena apa, ucapan juga senyuman Kayrah membuat hati para anak-anak menjadi tenang. Mereka tanpa sadar sudah menaruh harapan besar untuk Kayrah termasuk anak laki-laki berwajah dingin.
Setelah melihat raut wajah anak-anak panti lebih santai, Kayrah meninggalkan mereka dan menyusul wanita paruh baya.
Melihat punggung Kayrah dan wanita paruh baya sudah tidak terlihat lagi, langsung saja Ariadna memeluk anak laki-laki berwajah dingin.
"Kakak, Ria takut"
Anak laki-laki berwajah dingin membalas pelukan Ariadna dengan tangan yang bergetar. "Tenang saja, ada kakak disini Ria"
Anak-anak panti lain berdiri lalu ikut memeluk anak laki-laki berwajah dingin.
"Kakak..."
Sekarang, di panti asuhan ini anak laki-laki berwajah dingin lah yang paling tua diantara mereka.
Melihat ketakutan yang terpancar jelas dari wajah saudara-saudaranya membuat anak laki-laki berwajah dingin memejamkan matanya.
Terlintas bayangan laki-laki dewasa yang tersenyum lembut kearahnya.
Kamu harus bisa menjaga adik-adikmu dan menenangkan mereka sampai ada orang yang tau perbuatan buruk apa yang dilakukan di panti asuhan ini. Kamu sebagai kakak tertua tidak boleh menangis. Tuhan maha melihat, kamu harus percaya bahwa Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk menyelamatkan kalian dan kamu tinggal menunggu kedatangan orang kiriman Tuhan itu. Ingat pesan kakak ini, Karsein*"
Anak laki-laki berwajah dingin itu menghela nafas lelah sambil menahan air matanya.
Kakak, aku bertemu dengan orang yang memiliki aura mirip denganmu. Aura yang bisa membuatku tenang di panti asuhan ini. Sepertinya beliau yang akan membongkar kebusukan panti asuhan ini. Menunggu kedatangan beliau sungguh lama sekali. Sudah lima tahun sejak kita kehilanganmu dan akhirnya orang kiriman tuhan yang engkau maksud datang juga.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, anak laki-laki berwajah dingin itu tersenyum lagi.
****
"Ariadna itu sudah dari kecil tinggal disini"
Wanita paruh baya sedang memotong wortel ketika dia berbincang dengan Kayrah yang sedang memasak sup.
"Benarkah?" Tanya Kayrah yang tertarik.
"Ya, dan anak laki-laki berwajah dingin yang tadi adalah kakak kandung Ariadna. Namanya Karsein"
Kayrah terkejut.
Melihat reaksi yang Kayrah tunjukkan membuat wanita paruh baya ini melanjutkan ceritanya.
Sebenarnya bukan kenyataan Ariadna adalah adik kandung Karsein yang membuat Kayrah terkejut tetapi wadah besar tertutup yang berada di samping kulkas.
"Karsein yang berumur tiga tahun sudah dititipkan di panti asuhan ini, dulu hanya Karsein saja. Tetapi setelah Karsein berumur empat tahun, muncul wanita yang sedang hamil besar. Dia adalah ibu kandung Karsein
Ibu kandung Karsein bilang bila dirinya diusir oleh mertuanya setelah tau dia hamil. Ibu kandung Karsein juga minta maaf pada Karsein dan bilang bila dia melakukan ini demi kebaikan Karsein karena bila mertuanya tau dia sudah memiliki anak dengan anak laki-lakinya maka Karsein akan berada dalam bahaya
Lalu ibu kandung Karsein meninggal setelah melahirkan Ariadna"
Kayrah diam. Bahkan setelah cerita itu habis, Kayrah tetap diam.
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu berkata, "Nak, kita sudah merawat Karsein dan Ariadna juga anak-anak yang lain dengan baik tetapi mereka tetap ingin mempunyai ibu dan ayah sendiri. Maka dari itu, maaf ya atas kelakuan Ariadna tadi"
Kayrah tersenyum lalu berkata, "Tidak apa-apa"
Wanita paruh baya itu membalas senyumannya lalu berkata, "Ah, aku lupa mengambil daging"
"Biar aku saja yang mengambilnya. Dagingnya ada dimana?" Tawar Kayrah.
"Ada di lemari es"
"Baik"
Kayrah berjalan mendekati kulkas dengan santai. Saat sampai di depan lemari es, handphone Kayrah berbunyi.
"Ah" Kayrah mengambil handphone-nya lalu menatap wanita paruh baya yang juga menatapnya.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu berkata, "Angkat saja"
Kayrah mengangguk lalu mengangkat telfon itu.
"Halo Paman Rangga, ada apa?"
"....."
"Paman Rangga?"
"Ah, Kayrah.... Kamu ada dimana sih, kok rame banget?"
"Apa?" Kayrah terkejut mendengarnya. Sekarang dirinya berada di dapur dan disini hanya ada wanita paruh baya dan dia. Jadi darimana pamannya mendengar suara ramai?
"Emm... Kayrah, kamu ada dimana sekarang? Cepat jawab!"
Kayrah melirik wanita paruh baya yang masih sibuk dengan wortelnya. "Aku berada di panti asuhan di sekitar kampus Kayron, Paman" jawab Kayrah menggunakan bahasa Indonesia.
"....Kamu pulang sekarang! Tempat itu bahaya!"
"Eh? Tidak Paman. Aku masih ingin bermain--"
"Paman akan menelfon Kayron"
"Tidak Paman! Jangan! Kayron sedang--"
Tut...
Kayrah mengerutkan keningnya lalu membuang nafas panjang. Kayrah membuka lemari es itu lalu mengambil daging yang ada di sana.
Saat mengambil daging itu, tiba-tiba tubuh Kayrah merinding dan sebuah suara terdengar di telinga Kayrah.
"to...lo..ng... jang...an..."
Kayrah membeku sejenak lalu tersenyum tipis dan bergumam pelan, sampai wanita paruh baya tidak bisa mendengarnya.
"Maaf, tapi setelah aku mengumpulkan bukti..." Kayrah melirik bak tertutup yang ada di sampingnya. "Aku akan menyelamatkan semua anak-anak yang ada di sini"
Kayrah berjalan menuju wanita paruh baya lalu memberikan daging itu.
***
"Anak-anak, waktunya makan!"
Kayrah terkejut ketika melihat anak-anak panti bahkan sudah duduk rapi di tempat duduknya masing-masing saat wanita paruh baya berbicara.
Wanita paruh baya tersenyum lalu meletakkan menu daging di meja.
Melihat daging yang ada di atas meja membuat anak-anak panti mati-matian menahan diri. Bahkan ada seorang anak yang wajahnya sudah pucat pasi.
"Ayo makan, sekarang menunya daging" ucap wanita paruh baya.
"Tidak, kami akan memakan telur saja" dengan cepat Karsein menjawab.
Wanita paruh baya tersenyum lalu berkata, "Memang anak-anak di panti ini tidak suka makan daging sejak dulu. Nah, nak Kayrah, mari kita makan daging"
Kayrah tersenyum lalu berkata, "Maaf, saya alergi daging"
"Oh? Benarkah? Kenapa tidak bilang dari tadi. Seharusnya saya memasak menu makanan lain"
Tentu saja Kayrah berbohong. Kayrah tidak alergi daging. Tapi melihat keanehan demi keanehan terjadi membuat Kayrah tidak akan memakan daging yang ada disini.
"Tidak apa-apa. Lagi pula sekarang sudah malam, saya harus pulang"
"Ah, setidaknya makan dulu sup-nya"
Kayrah menatap sup dihadapannya. Lagipula sup itu buatannya jadi Kayrah tidak curiga terhadap apapun.
Kayrah mengangguk lalu memakan sup itu. Setelah itu, Kayrah bangkit dari duduknya dan menatap Ariadna, Karsein, dan anak-anak yang lain.
"Kakak pulang dulu ya, besok kakak akan kesini lagi" ucap Kayrah sambil tersenyum lembut.
Setelah itu Kayrah menatap wanita paruh baya, "Ah, saya juga ingin menyum--"
Bruk...
"Kakak!!"
Anak-anak panti yang sebelumnya duduk langsung turun dari tempat duduknya dan menghampiri Kayrah yang sudah terbaring lemas.
Wanita paruh baya menatap Kayrah dengan dingin lalu pandangannya teralihkan pada Karsein yang juga menatapnya.
"Bawa gadis itu ke ruang 'Tamu'." Ucap wanita paruh baya dengan dingin lalu melanjutkan acara makanannya.
Karsein tidak menjawab tetapi langsung turu dari tempatnya dan menghampiri Kayrah.
"Sup itu sudah kuberi obat saat kau asik berbincang di telfon dengan pamanmu. Kau sangat tidak menyangka bukan?" Ucap wanita paruh baya sambil melirik Kayrah yang perlahan kesadarannya mulai menghilang.
"Sayang sekali, padahal aku memberimu kesempatan untuk mengenyangkan perutmu sebelum mati. Tapi kau malah menyia-nyiakan kesempatan itu" lanjutnya.
Kayrah menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan tidak percaya lalu perlahan matanya tertutup dengan sempurna.
"Dia tidak akan bisa bergerak selama satu minggu" ucap wanita paruh baya sambil memakan daging dengan santai.
Karsein menatap Kayrah dengan iba lalu perlahan dia menggotong Kayrah yang sudah tidak sadar bersama anak-anak panti asuhan yang lain.
Kakak, apakah benar kakak cantik ini adalah orang kiriman tuhan? Sepertinya tidak lama kakak cantik ini akan ikut bersamamu, kakak. Pikir Karsein yang mulai ragu.
Like.
__ADS_1