
Nafas Kayrah tertahan sejenak setelah mendengar ucapan Anderson. "Apa?"
"Kau ingin melamar putriku untuk dia?" Tunjuk Keynan pada Aldebaran.
"Benar tuan. Adik saya sangat mencintai nona Kayrah, dia ingin saya melamar nona Kayrah untuknya." Anderson berkata lagi.
"Jadi..." Keynan menatap Anderson lekat-lekat, ada cahaya tidak suka dari mata Keynan. "Adikmu ingin mempersunting putriku setelah dia membuat putriku menangis?!"
"Apa?" Anderson jadi linglung. Aldebaran membuat seorang gadis menangis?
"Maafkan saya om atas tindakan saya yang lalu." Aldebaran membuka mulutnya. "Saya membuat Kayrah menangis karena saya akan pergi dari negara ini. Saya tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh yang bisa membuat saya dan Kayrah tersiksa. Lalu--"
"Jadi kau akan menikahi putriku lalu membawanya bersamamu pergi dari negara ini?" Keynan cukup cerdas untuk mengetahui niat Aldebaran.
Aldebaran mengangguk dengan yakin. Tidak heran Kayrah dan Kayron bisa begitu cerdas karena kedua orang tua mereka sangatlah cerdas "Benar. Om jangan khawatir. Saya akan membahagiakan istri saya dan saya berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi."
"Kau! Kau ingin aku--"
"Sayang..." Dahlia menggenggam tangan Keynan sambil tersenyum dan menggeleng pelan saat Keynan sudah siap untuk meledak karena amarah.
Setelah istrinya turun tangan untuk menahan, Keynan akhirnya bungkam. Saat melihat Dahlia, Keynan jadi ingat lagi bagaimana dia dulu bersusah payah mengambil hati bapak mertuanya.
Sekarang Keynan akhirnya bisa merasakan juga yang dirasakan oleh bapak mertuanya dulu sewaktu dirinya melamar Dahlia.
Ada perasaan tidak rela juga bangga di diri Keynan saat melihat putrinya dilamar. Keynan menghela nafas panjang, mencoba mengikhlaskan semuanya. "Keputusan ada ditangan putriku. Aku percaya padanya."
Secara serentak, semua yang berada di ruangan itu menatap Kayrah. Kayrah menggenggam erat selimutnya. Wajah Kayrah pucat tapi tidak melunturkan kecantikan yang dipancarkan wajahnya.
"Aku..."
Cklek...
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan Kayron yang sedang menggendong seorang gadis kecil.
"Mama!" Ariadna langsung turun dari gendongan Kayron lalu berlari menuju Kayrah.
Kayron menatap Ariadna sejenak sebelum beralih menatap Aldebaran. Sebenarnya Kayron sudah datang dari tadi tapi Kayron tidak segera masuk karena terlalu terkejut saat mendengar Aldebaran ingin melamar kakaknya.
"Apa kau serius dengan kakakku?"
"Aku serius." Jawab Aldebaran penuh keyakinan.
"Apa kau bisa membahagiakan kakakku?"
"Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan Kayrah."
"Pernikahan bukan permainan. Jika kakakku menangis karena kau, apa kau siap menerima amukan dari kita?"
"Aku siap. Tapi... 'kita' itu siapa saja?"
Kayron menunjuk dirinya sendiri diikuti oleh Keynan yang mengangkat tangannya. Rangga mendekati Kayron sambil tersenyum dingin pada Aldebaran lalu Sammy bangkit dari duduknya.
Ricard yang berada disana juga ikut bangkit begitupun dengan Jack yang sedari tadi mendengarkan bersama papanya. Benua yang datang bersamaan dengan Aldebaran dan Anderson tadi juga ikut mengajukan diri.
Anderson terkesima saat melihat semua laki-laki yang berada di ruangan ini berdiri serempak menandakan bahwa mereka siap menjadi tameng Kayrah apapun yang terjadi. Sekarang Anderson hanya bisa merasa kasihan pada adiknya karena harus melewati ini.
Aldebaran menelan ludahnya lalu mengangguk dengan cepat. Dia siap menerima semuanya agar bisa hidup bahagia bersama Kayrah.
"Papa?" Ariadna baru menyadari kehadiran Aldebaran setelah semuanya berdiri. "Papa! Papa!"
__ADS_1
Ariadna turun dari ranjang Kayrah lalu berlari menuju Aldebaran.
"Papa?" Anderson menatap Aldebaran dengan penuh kecurigaan.
"Dia putri angkatku kak..." Aldebaran tersenyum lalu membawa Ariadna pada pangkuannya.
"Papa papa! Papa tau nggak, kemarin ada orang jahat nyulik aku dan kak Karsein. Terus... Terus... Orang jahat itu buat kak Karsein berdarah pa... Hiks... Setelah itu... Kak Karsein tidur, nggak mau bangun... Hiks... Kata mama kak Karsein capek, Ria nggak boleh nangis karena kata mama nanti pasti kita ketemu lagi... Kak Karsein cuma tidur sebentar kan pa? Hiks... Hiks..."
Aldebaran memeluk Ariadna dengan erat. "Maaf papa nggak becus jaga kalian. Maaf."
"Papa percaya kan?" Ariadna menatap wajah Aldebaran. "Kalau papa nggak percaya tanya aja sama semua orang di sini. Mereka semua liat kak Karsein tidur. Tangan kak Karsein dingin pa, kayaknya kak Karsein kedinginan."
Aldebaran makin mengeratkan pelukannya sedangkan Kayrah sudah membuang pandangannya kesamping. Air mata Kayrah turun lagi dan lagi setelah Ariadna mengatakan hal itu.
"Ehem... Kayrah bagaimana jawabanmu?" Keynan mengalihkan pembicaraan dengan nada bergetar. Keynan juga sedang menahan tangisnya.
Kayrah menghapus air matanya lalu menatap Aldebaran sambil tersenyum. "Ya. Aku mau menjadi istrimu."
Semua orang tersenyum lebar setelah mendengar jawaban Kayrah termasuk Jack.
"Baiklah. Ah nona Kayrah, kamu ingin pernikahan seperti apa?" Anderson bertanya.
"Sederhana saja. Kalau bisa hanya dihadiri oleh keluarga kedua mempelai." Jawab Kayrah lembut.
"Oke. Pernikahan akan diadakan lusa. Saya yang akan mengurus semuanya."
.
***
.
Cklek...
Secara serentak semua orang mengalihkan pandangan mereka pada pintu ruangan yang terbuka. Terlihat Thalita sedang tersenyum sambil perlahan memasuki ruangan.
"Astaga sayang!" Sammy menghampiri Thalita lalu mengelap pipi Thalita yang terdapat bercak darah. "Kamu habis ngapain?!"
"Ah," Thalita terkejut saat menyadari masih ada darah Ibu tadi yang menempel. "Aku habis... Oh, itu tidak penting. Sekarang yang terpenting adalah aku sudah tau siapa pelaku dibalik pembunuh Karsein!"
Semua orang yang berada di ruangan itu menjadi serius setelah Thalita berkata demikian.
"Siapa orangnya?" Nada Kayrah begitu dingin saat bertanya.
Thalita tersenyum tipis lalu berkata, "Caroline. Putri dari kepala universitas Milestone."
"Apa?" Semua orang langsung mambatu. Bukankah itu universitas yang dibangun oleh geng black rose? Berani sekali putri dari kepala universitas melakukan pembunuhan pada anak kecil!
Tidak dengan Kayrah dan Aldebaran yang langsung menatap Kayron. "Dia kekasihmu Ron." Kayrah sangat marah saat ini.
"Tidak." Kayron dengan cepat berkata, "Dia bukan kekasihku lagi. Aku sudah putus dengannya."
"Eh? Lalu bagaimana dengan Stevano?" Aldebaran terkejut karena dia tidak tau apa-apa.
Kayron tersenyum lebar lalu mendekati Thalita. "Tenang saja. Ada bibiku yang bisa membantu."
Thalita mengerutkan alisnya saat melihat Kayron mendekati dirinya. "Apa mau mu?"
"Hehehe bibi..." Kayron tersenyum konyol.
__ADS_1
"Katakan." Thalita berdecak kesal sambil memutar bola matanya malas.
"Bibi... Tolong dong lepaskan keluarga temanku yang terikat oleh geng black rose..." Pinta Kayron dengan nada penuh harap.
Thalita mengangkat alisnya. Permintaannya hanya itu? Sederhana sekali. "Lakukan semaumu."
"Sungguh?!"
"Ya."
"Yes! Uhuy! Yee!!" Kayron bersorak senang.
Semua orang tertawa melihat reaksi Kayron yang sudah seperti menang lotre. Tidak dengan Aldebaran yang heran. Memang Thalita bisa apa? Itu pikiran Aldebaran.
Seperti tau apa yang dipikirkan Aldebaran, Kayrah berkata. "Bibiku itu ketua besar geng black rose."
Aldebaran tersentak kaget. Entah karena Kayrah yang berkata dengan tiba-tiba atau kenyataan yang Kayrah ucapkan. "Pemimpin seluruh geng black rose?!"
Kayrah mengangguk.
Tidak heran! Batin Aldebaran. Hah, dengan ini masalah yang mengekang keluarga Stevano sudah terselesaikan. Aldebaran tersenyum lega.
"Jack." Ricard memanggil Jack yang sedang berbincang dengan Benua.
"Ada apa pa?"
"Bagaimana perasaanmu pada Kayrah sekarang?"
Ruangan Kayrah menjadi senyap saat Ricard menanyakan hal itu. Jack terkejut mendengar pertanyaan papanya yang tiba-tiba. Memang ingatan Jack sudah kembali saat kemarin Jack pingsan karena kepalanya yang sakit.
Jack paham mengapa papanya bertanya seperti itu. Ricard hanya khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat pernikahan Kayrah dan Aldebaran lusa.
Jack tersenyum lalu berkata, "Jujur aku memang punya perasaan spesial pada Kayrah..."
Semua orang menahan nafas mereka.
"...Tapi itu dulu. Hahaha, kenapa kalian tegang sekali? Hahaha!" Jack tertawa terbahak-bahak saat melihat reaksi semua orang yang menurutnya lucu.
"Jack...!" Semua orang menjadi kesal saat Jack tertawa.
"Hahaha! Tenang saja hahaha! Sekarang Kayrah adalah adikku. Aku menyayanginya sebagai adikku, tidak lebih. Hahaha!"
Semua orang bernafas lega meskipun masih kesal karena Jack tidak berhenti tertawa. Kayrah juga tersenyum lebar, bersyukur karena dirinya juga sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Jack.
Tiba-tiba butiran-butiran cahaya keluar dari tubuh Jack dan Kayrah lalu berkumpul menjadi sebuah cahaya besar.
Tidak ada yang bisa melihat cahaya itu kecuali Rangga dan Riana yang sekarang terkejut dengan mata terus mengawasi cahaya itu.
"Bang..." Bisik Riana pada Rangga.
"Aku tau." Rangga masih fokus memperhatikan cahaya itu.
Cahaya itu menjadi semakin besar lalu meletus dan sirna tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Rangga dan Riana terkejut melihat cahaya itu hilang seperti tidak pernah ada.
Setelah cahaya itu meletus, sesuatu terjadi pada dewa kutukan yang selalu mengawasi Kayrah dari jauh.
.
Like.
__ADS_1