I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Dibalik layar


__ADS_3

Waktu terus bergulir sejak Kayrah jalan-jalan bersama dua lelaki yang sangat disayanginya, tentu saja itu adalah ayahnya dan Kayron. Setelah Kayrah menangkap sosok Jack samar-samar, Kayrah jadi sering berkunjung ke taman itu lagi.


Keinginan dan tekad yang kuat untuk bertemu dengan Jack membuat Kayrah jadi melakukan cara apa saja untuk bertemu dengan lelaki itu.


Meskipun bersama Aldebaran sekalipun, Kayrah masih tetap nekad ke taman itu lagi, seperti hari ini.


Kayrah sedang duduk bersama Aldebaran di sampingnya yang sedang menerima telfon dari seseorang.


"Huff..."


"Ada apa?" Tanya Kayrah sambil menatap Aldebaran yang menghela nafas setelah menerima telfon itu.


Aldebaran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sambil tersenyum canggung, Aldebaran berkata, "Maaf ya aku nggak bisa nemenin lebih lama, ada urusan yang harus ku urus sekarang"


"Yaudah, nggak apa" Kayrah tersenyum lembut.


"Kalo gitu ayo aku antar pulang" Aldebaran berdiri dari tempatnya lalu mengulurkan tangan pada Kayrah.


Kayrah menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum.


"Besok kita kesini lagi" ucap Aldebaran yang masih merasa bersalah karena mereka pulang lebih cepat dari biasanya.


"Aduh, iya-iya sayang" Kayrah terkekeh pelan sambil mencubit hidung mancung milik Aldebaran.


"Kamu itu ya!" Aldebaran ikut mencubit pipi Kayrah dengan gemas.


"Aduh!"


"Eh? Sakit?" Aldebaran menghentikan langkahnya lalu menatap Kayrah khawatir.


Kayrah mengangguk dengan wajah cemberut.


"Maaf sayang, aku nggak bermaksud nyakitin kamu" ucap Aldebaran dengan nada bersalah sambil mengelus pipi Kayrah dengan lembut.


Kayrah menatap Aldebaran lekat-lekat lalu berkata, "Tapi bo'ong" ucap Kayrah sambil menjulurkan lidahnya.


"Kayrah kamu..." Aldebaran tersenyum kesal saat melihat wajah bahagia Kayrah yang berhasil membuat Aldebaran khawatir.


Kayrah masih tertawa saat matanya tidak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar. Seketika Kayrah menghentikan tawanya lalu menatap lekat-lekat orang yang sedang membeli sebotol minuman.


"Kayrah... Kayrah? Sayang!"


Kayrah terlonjak kaget saat Aldebaran memanggilnya.


"Hei, kamu kenapa?" Tanya Aldebaran yang kembali khawatir.


"Eh? Ah, sayang katanya kamu ada urusan?"


Aldebaran mengangguk. "Aku anterin kamu pulang dulu"


"Nggak perlu" jawab Kayrah cepat. "Kamu pergi aja. Nanti aku naik taxi"


"Kenapa tiba-tiba?"


Kayrah diam sebentar lalu menjawab, "Aku masih pengen disini sebentar"


"Yaudah kalo gitu aku temenin" Aldebaran berjalan mundur lalu berniat untuk duduk.


"Ehh bentar!" Kayrah mencengkram lengan Aldebaran membuat Aldebaran terkejut karena tiba-tiba.


"Kenapa sayang?" Tanya Aldebaran lembut dan kembali berdiri.


"Terus gimana urusan kamu?" Tanya Kayrah mencari alasan.


Aldebaran tersenyum, "Terlambat sebentar nggak masalah"


"Nggak boleh! Cepet sana pergi! Kamu harus disiplin!" Kayrah mendorong tubuh besar Aldebaran.


"Terus kamu pulangnya gimana? Nggak boleh naik taxi! Nanti kalo kenapa-napa--"


"Aku bisa jaga diriku sendiri honey" Kayrah tersenyum tipis saat tau ternyata Aldebaran mengkhawatirkan dirinya.


Aldebaran menghela nafas. "Tetep aja aku nggak bisa berhenti khawatir"


Kayrah menggigit bibirnya sambil sesekali melirik seseorang yang berjalan menjauh dari mereka. Melihat itu membuat Kayrah menjadi panik. Dengan cepat otak Kayrah berputar agar Aldebaran bisa segara pergi. Bukan maksud mengusir tetapi bila Aldebaran ikut dengan Kayrah menghampiri orang itu maka bisa saja akan terjadi perang dunia ketiga.


"Oh! Gini aja, nanti kalo aku mau pulang, aku minta tolong Stevan buat jemput aku" ucap Kayrah sambil tersenyum lebar.


Aldebaran menatap Kayrah lekat-lekat lalu menghela nafas panjang. "Oke, aku akan kabari Stevan"


"Ya ya! Udah pergi sana sekarang"


Kayrah tersenyum lebar saat Aldebaran berjalan menjauh sambil sesekali melirik dirinya. Ketika Aldebaran sudah tidak terlihat lagi, Kayrah langsung mencari seseorang yang dia rindukan.


Kayrah berlari mengelilingi taman itu sambil mengamati setiap sudut taman tanpa terkecuali. Sampai pada saatnya, Kayrah menemukan seorang pria paruh baya yang sedang duduk santai sambil menatap langit sore.


Kayrah berhenti tepat di hadapan pria paruh baya itu dengan nafas yang ngos-ngosan. Kayrah berusaha mengatur nafasnya sambil menatap pria paruh baya yang masih menatap langit sore.


"Permisi..."


Pria paruh baya itu baru mengalihkan pandangannya pada Kayrah, "Ya, ada yang bisa--eh kamu?"


"Selamat sore om Ricard. Apa anda masih mengenal saya?" Tanya Kayrah sopan.


"Tentu saja. Tapi mengapa kamu bisa ada di sini?" Jawab Ricard cepat.


"Kebetulan beberapa hari yang lalu saya tidak sengaja melihat kakak Jack, jadi sekarang saya ingin mampir ke taman ini, berharap bisa bertemu dengan kakak Jack"


Raut wajah Ricard berubah setelah mendengar penjelasan Kayrah. Ada sedikit rasa iba juga kasihan di tatapan Ricard yang sendu.


Ricard membuka mulutnya yang bergetar. "Duduklah nak,"

__ADS_1


Tentu Kayrah dengan senang hati menerima tawaran itu. Kayrah duduk di bangku yang sama dengan Ricard membuatnya bisa melihat wajah Ricard dengan jelas.


Meskipun sudah banyak kerutan tetapi bila dilihat dengan teliti maka orang akan tau, dulu semasa muda Ricard adalah lelaki yang tampan.


Kayrah tertawa di dalam hatinya.


Wajah tampan om Ricard diambil seluruhnya oleh kakak Jack, pikir Kayrah dalam hati.


"Nak,"


Kayrah menoleh dengan spontan. "Iya om?"


"Apa kamu mencintai Jack?"


"Eh? Aku? Mencintai kakak Jack...?" Kayrah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sekarang Kayrah merasa bingung setelah mendengar pertanyaan Ricard. Apakah dirinya masih mencintai Jack? Atau rasa sukanya pada Jack dulu sudah pudar? Saat melihat Jack, Kayrah hanya merasa rindu. Tidak mungkin Kayrah masih mencintai Jack karena Kayrah sudah memiliki Aldebaran sekarang.


Bagaimanapun juga, Kayrah menerima Aldebaran sebagai kekasih pertamanya bukan tanpa alasan. Lelaki bermata abu-abu itu sudah berhasil mengambil hatinya dengan cara tidak terduga.


Misalnya saja Aldebaran bisa menyayangi semua anak-anak angkat Kayrah dengan tulus tanpa perduli mereka tidak punya hubungan apa-apa dengannya.


Hal itu saja sudah cukup mengambil hati Kayrah karena dilihat bagaimanapun Aldebaran bisa membagi rata kasih sayangnya atau lebih mudahnya tidak pilih kasih pada banyaknya anak angkat Kayrah.


Aldebaran juga membantu Kayrah memenuhi kebutuhan anak-anak angkat Kayrah. Dengan keluarga Aldebaran yang bisa dibilang pengusaha sukses dari Amerika, Aldebaran bisa dengan mudah memenuhi perannya sebagai seorang 'ayah' untuk anak-anak 'mereka'.


"Jangan terlalu dipikirkan. Lupakan saja pertanyaan om tadi"


Ucapan Ricard membangunkan Kayrah dari lamunannya. Kayrah tersenyum canggung karena tidak yakin harus berkata bagaimana.


Keheningan mulai tercipta diantara mereka. Kayrah masih canggung tidak tau harus berbuat apa sedangkan Ricard mulai memandangi langit lagi sambil tersenyum tipis.


Keysha maafkan aku, sepertinya pilihan anakku dulu akan membuat keponakanmu ini sakit hati. Ini semua salahku bukan salah anakku. Keysha aku siap menerima hukuman atas keputusanku ini.


"Om sedang memikirkan apa?"


"Hanya sedikit ingat dengan gadis yang om cintai" jawab Ricard santai tanpa mengalihkan pandangannya.


"Apakah itu Tante Keysha?"


"Bagaimana kamu bisa tau?" Ricard terkekeh pelan lalu mengelus dengan lembut rambut pirang Kayrah yang terurai.


Kayrah tersenyum tipis ketika Ricard memperlakukannya seperti anak kecil. "Ayah pernah cerita kalo om Ricard dulu terobsesi untuk memiliki Tante Keysha"


"Tentu saj--apa?" Ricard yang awalanya ingin menjawab dengan riang langsung berubah ketika sadar dengan apa yang diucapkan oleh Kayrah.


"Benar begitu om?" Tanya Kayrah yang ragu setelah melihat ekspresi Ricard.


Dulu saat Keynan bercerita tentang Ricard yang 'terobsesi' untuk memiliki kakaknya yaitu Keysha, Kayrah dan Kayron sama sekali tidak percaya.


Sekarang Kayrah mendengar Ricard yang akan berkata 'tentu saja' membuat keteguhan hatinya goyah seketika.


"Itu tidak mungkin!" Jawab Ricard cepat dengan nada tegas. "Dasar Keynan..."


"Apa kamu sudah memiliki kekasih?" Tanya Ricard mengalihkan pembicaraan.


Kayrah mengangguk, "Sudah om" jawab Kayrah cepat.


"Bagaimana kekasihmu itu? Maksud om sifatnya...?"


"Dia bisa membuat saya bahagia dengan hal sederhana" jawab Kayrah mantap.


Mendengar ucapan percaya diri yang keluar dari mulut Kayrah membuat Ricard tersenyum tipis dan bernafas lega.


"Apa kamu ingin bertemu dengan Jack?" Kali ini Ricard tidak lagi takut. Toh Kayrah dengan anaknya masih bisa dibilang saudara dengan darah buyut yang sama.


Mempertemukan Kayrah dan Jack sebagai saudara tidak masalah bukan?


"Bolehkah om?" Tanya Kayrah tidak yakin.


"Tentu saja. Kalian kan saudara. Kamu juga teman Jack sebelumnya di Tangerang"


Kayrah tertawa kecil. "Saya ingin bertemu dengan kakak Jack om"


"Hari Minggu jam tiga. Datanglah ke cafe Wind's. Om akan menunggumu disana"


"Eh? Kenapa tidak sekarang saja om?"


Ricard menggeleng. "Jack sedang tidak ada di sini"


"Oh? Tadi saya melihat kakak Jack om"


"Jangan lupakan Jack adalah anak om satu-satunya. Om sudah tua dan sudah waktunya Jack harus mengurus bisnis keluarga"


Kayrah bungkam mendengar perkataan Ricard. Dirinya merasa ada yang aneh. Jelas Ricard menolak mempertemukan Kayrah dan Jack hari ini.


"Kalau begitu," Kayrah berdiri lalu membungkukkan badannya sedikit. "Terimakasih om"


Ricard ikut berdiri. "Om dengar kamu sakit. Jangan pernah menyerah untuk sembuh. Jaga dirimu baik-baik Kayrah"


Ricard membelai rambut pirang Kayrah sebentar karena jika terlalu lama maka Ricard tidak bisa memastikan dirinya tidak kehilangan kendali untuk tidak memeluk gadis muda dihadapannya ini.


"Saya pamit ya om, sampai jumpa hari Minggu" Kayrah menyalimi tangan Ricard sambil mengucapkan salam.


Ricard menjawab salamnya sambil tersenyum simpul. Ketika melihat Kayrah berjalan menjauhinya, Ricard menghela nafas panjang.


"Jika kamu masih hidup sampai usia dua puluhan, apa kamu akan secantik gadis itu Keysha?" Gumam Ricard pelan.


Memang harus Ricard akui, semakin bertambah dewasa Kayrah semakin terasah wajah cantiknya. Sekarang kecantikan Kayrah sudah menyamai atau bahkan melebihi kecantikan para selebgram lainnya.


Kecantikan wajah Kayrah tidak lebih buruk dari artis-artis yang banyak melakukan perawatan untuk menjaga kecantikan mereka.

__ADS_1


"Seandainya saja itu benar-benar terjadi maka sudah pasti aku akan jatuh lebih dalam lagi saat kamu meninggalkanku"


Membicarakan sesuatu yang sudah lalu, Ricard jadi teringat betapa sedihnya dia ketika mendengar kabar kematian Keysha dan tidak lama kemudian disusul dengan kematian kakaknya, Ricardo.


Ricard menghela nafas lagi. "Semoga kalian bahagia di sana"


.


***


.


"Pfft!" Seorang lelaki berkulit putih pucat dengan gambar teratai merah di wajahnya tidak bisa menahan tawa ketika mendengar harapan Ricard.


Sedangkan di sampingnya, seorang gadis remaja berambut pirang sedang menatap Ricard dengan penuh kerinduan. Sedikit terharu bisa melihat Ricard lagi.


"Ricard..."


"Bagaimana nomer satu, apa si 'Ricard' ini mirip dengan pasangan hubungan terlarangmu?" Tanya lelaki berkulit pucat itu sembari mengibaskan tangannya.


Muncullah sesosok arwah yang menatap Ricard dengan penuh rasa bersalah juga penyesalan mendalam.


"Kak Gladys..." Keysha menatap Gladys lekat-lekat. "Sebenarnya kenapa?"


Gladys memejamkan matanya. "Keysha, diantara aku dan lainnya kamulah yang mati paling muda. Seharusnya kamu bahagia di umurmu yang muda. Maafkan aku yang membawa kutukan mengerikan untuk wajahmu"


"Hubungan terlarang yang membuat kutukan mengerikan datang dan merugikan tujuh turunan wajah cantik ini. Sungguh sangat disayangkan" ucap lelaki itu sambil menggeleng pelan.


"Apa maksudnya?" Tanya Keysha sambil menatap lelaki itu lekat-lekat.


Lelaki itu bergumam pelan sebelum mengangkat tangannya dan muncullah arwah lain.


Kali ini bukan arwah perempuan yang terlihat tetapi arwah laki-laki yang perlahan membuka matanya.


"Pada akhirnya kamu bersedia membuatku melihat dunia lagi" arwah laki-laki yang baru muncul itu berkata dengan nada datar.


"Aku terpaksa" lelaki berkulit pucat mengangkat bahu acuh.


"Loh?" Saat membuka mata dengan sempurna, laki-laki itu terkejut ketika melihat wajah Keysha. "Gla...Gladys?!"


"Ricard?" Gumam Keysha pelan. Sangat pelan atau bahkan bisa dikatakan tidak bersuara.


"Tidak. Kamu bukan Gladys" laki-laki itu menatap lelaki berkulit pucat. "Sudah berapa tahun kamu mengurungku?! Dimana Gladys?!'


"Berapa tahun? Dihitung sampai tahun ini, sudah tujuh ribu empat ratus tiga puluh lima tahun sejak aku datang dan mengutuk kalian" ucap lelaki berkulit pucat dengan enteng.


Laki-laki yang mirip dengan Ricard terlihat terkejut begitupun dengan Keysha yang sangat terkejut sampai-sampai mulutnya terbuka lebar.


Tujuh ribu empat ratus tiga puluh lima tahun?! Monster macam apa dia bisa hidup selama itu?! Pikir Keysha sambil bergidik ngeri ketika membayangkan dulu dirinya pernah mempunyai niat untuk memukul monster tua ini.


"Apa? Jadi..." Laki-laki yang mirip dengan Ricard tidak berani melanjutkan kata-katanya saat melihat wajah Keysha yang masih muda.


"Hen...Henry?"


Laki-laki yang mirip dengan Ricard berbalik saat merasa dirinya dipanggil. Suara lembut yang begitu dia rindukan membuat Henry, nama laki-laki itu, menoleh dengan pelan-pelan.


"Gladys..." Henry melihat wanita yang begitu dirindukannya berdiri tepat di hadapannya sambil menutup mulutnya karena terkejut.


Gladys langsung memeluk Henry dengan erat sambil menangis keras karena sudah tujuh ribu tahun lebih mereka tidak bertemu.


"Gadis itu..." Di tengah-tengah mereka melepaskan rindu bersama, Henry bertanya sambil menatap Keysha yang sangat kebingungan.


"Dia wajah kelima" jawab Gladys sambil sesenggukan.


"Apa?! Sudah kelima?!" Tanya Henry yang terkejut.


Gladys pun mulai menjelaskan apa yang terjadi setelah mereka dikutuk. Setelah mereka dikutuk, Henry sebagai laki-laki dihukum oleh dewa yang sedang bersama mereka saat ini.


Henry akan ditidurkan selama yang dewa inginkan tanpa bisa melihat wajah Gladys. Tentu saja itu adalah siksaan bagi Henry dan Gladys yang pernah menjalin hubungan terlarang sampai memicu kutukan.


Saat Gladys bercerita tentang masa lalu, Keysha mendekati lelaki berkulit pucat yang menatap Gladys dan Henry lekat-lekat.


"Aku tidak paham dengan semua ini" ujar Keysha pelan.


Lelaki berkulit pucat itu tersenyum tipis, sangat tipis lalu mulai menjelaskan.


Setiap wajah manusia pasti akan memiliki kembaran wajah yang sama. Seperti Ricard dan Jack. Mereka disebut 'saudara wajah'. Saudara wajah memiliki ikatan kuat, bahkan bisa lebih dari ikatan darah. Setiap wajah akan memiliki tujuh saudara wajah yang sama.


Gladys dan Henry ini adalah orang pertama yang lahir dengan wajah itu. Sedangkan Keysha dan Ricard adalah orang kelima lalu Kayrah dan Jack adalah orang keenam. Satu wajah terakhir belum lahir, jika wajah terakhir sudah lahir maka ikatan saudara wajah mereka akan berakhir. Tidak akan ada lagi manusia berwajah sama seperti mereka.


Sebenarnya 'wajah' Gladys dan 'wajah' Henry sudah memiliki takdir akan bersatu. Mereka berdua sudah ditakdirkan bahagia bersama.


"Tapi karena kedua manusia bodoh itu sudah tidak sabar, mereka mempercepat takdir mereka. Takdir yang awalnya berakhir dengan bahagia berubah menjadi tragis" ucap lelaki berkulit pucat itu dengan datar.


Dunia Gladys dan dunia Keysha berbeda. Di dunia Gladys, mereka percaya bahwa keluarga kerajaan dilindungi oleh seorang dewa agar tidak terjadi pemberontakan yang bisa memecah belah sebuah negara.


"Hubungan Gladys dan Henry terungkap dan membuat seorang pangeran yang awalnya adalah calon suami Gladys bunuh diri karena tidak mau mengganggu hubungan keduanya. Pangeran adalah keluarga kerajaan, dan kerajaan tempat pangeran berasal adalah wilayah yang ku jaga"


Tentu saja, lelaki berkulit pucat itu memberikan hukuman pada Gladys dan Henry. Andai saja mereka berdua bisa bertahan sebentar maka pangeran yang menjadi calon suami Gladys akan mati kecelakaan karena itu adalah takdir sang pangeran.


Namun nasi sudah menjadi bubur. Akibat yang harus di tanggung sangat fatal sampai mengancam tujuh saudara wajah tidak bisa bahagia semua.


"Aku, dewa kutukan yang terkenal kejam, tidak akan membiarkan penjahat lolos begitu saja. Jika saja Gladys dan Henry tidak membangunkan ku dengan darah pangeran maka sudah bisa dipastikan kau akan hidup bahagia sampai ujung nyawamu dengan dia" lelaki berkulit pucat itu menunjuk Ricard.


Keysha memejamkan matanya, mencoba untuk mengatur emosinya yang menggebu-gebu.


"Hei, keponakanmu adalah saudara wajah keenam yang memiliki nasib sama denganmu. Meskipun sekarang dia sudah tidak memiliki perasaan pada Jack tapi nanti perasaan itu akan muncul karena Jack adalah 'takdir'-nya. Jangan lupakan itu" dewa kutukan tertawa sinis.


"Sebelumnya Gladys dan Henry mempermainkan takdir tapi sekarang takdir yang akan mempermainkan kalian. Hahaha!" Dewa kutukan menghilang bersama arwah Keysha, Gladys dan Henry.


**like.

__ADS_1


sudah saya putuskan tidak akan ada chapter bergenre fantasi di novel ini karena semuanya sudah saya rangkum di chapter ini. Saya ingin novel ini cepat selesai karena saya berniat merevisi ulang cerita I'M TIRED agar ceritanya lebih masuk akal.


selamat menunaikan ibadah puasa dan terimakasih sudah membaca**!


__ADS_2