I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Mami diculik?!


__ADS_3

"Ben, ikut papi yuk!"


"Ben, beli itu yuk!"


"Ben, bantuin papi beres-beres."


"Ben, papi nggak sanggup lagi."


"Ben--"


"Stop pi!" Benua yang wajahnya mulai kesal menggempalkan tangannya yang memegang sebuah baju di dalam koper.


Sedari tadi papinya, Sammy, selalu saja berisik. Saat sampai di salah satu hotel di Amerika, Sammy langsung mengajak Benua jalan-jalan. Benua ingin meminta tolong pada maminya tapi maminya, Thalita, langsung kabur entah kemana saat Benua hendak meminta tolong.


"Hehehe, iya-iya maaf. Eh nanti bantuin papi beres-beres loh ya setelah kamu selesai beres-beres."


"Iya, Pi."


Sammy tersenyum dan menunjukkan giginya pada putranya itu lalu keluar dari kamar Benua. Benua menghela nafas panjang.


Benua bingung sebenarnya, kenapa sifat mami dan papinya sangat beterbalikan? Papinya begitu cerewet seperti seorang ibu kebanyakan sedangkan maminya pekerja keras dengan sifat tenangnya.


Apalagi Sammy juga suka sekali jalan-jalan membuat Benua yang merupakan anak satu-satunya di keluarga kecil ini menjadi target teman jalan-jalan papinya itu.


Benua menggeleng pelan lalu kembali membereskan barang-barangnya. Karena setelah sampai di hotel dirinya langsung di seret oleh sang papi membuat barang-barang yang dia bawa tergeletak begitu saja. Sang mami pun belum pulang dari 'kabur' nya.


"Ah, sudahlah. Hal kecil seperti ini tidak bisa dibandingkan oleh kasih sayang papi selama ini. Jika dilihat-lihat, papi sebenarnya orang yang lu--"


"Ben! Ben!!"


Mulut Benua yang sebelumnya bergumam langsung bungkam sepenuhnya. Wajah Benua menjadi datar saat memikirkan,


Nggak jadi deh. Papi nggak jadi lucu. Kutarik kata-kataku tadi.


"Apalagi Pi..." Benua memutar bola matanya jengah.


"Itu Ben... Hah... Hah..."


Kening Benua mengerut saat melihat papinya bernafas tidak teratur seperti habis lari maraton. Oh atau mungkin papinya melihat hantu di kamar?!


Benua jadi tertarik.


"Kenapa Pi?! Kenapa?!" Benua menganggukkan kepalanya antusias.


Sammy menatap putranya dengan datar sebelum menjitak kepala anaknya itu. "Kamu itu ya!!"


"Aduuhh... Kenapa sih Pi?"


"Kamu yang kenapa! Kenapa jadi semangat begitu?!"


"Yaa... Ku pikir papi akan membawa berita.. bagus?"


"Berita bagus?! Berita bagus gundulmu! Jadi mamimu yang diculik itu berita bagus?!"


Pikiran Benua langsung kosong setelah mendengar ucapan Sammy. Benua mencoba tersenyum meskipun menjadi senyum kaku lalu dia memiringkan kepalanya, "Papi bilang apa? Tadi aku kayak denger... Em... Mami..."

__ADS_1


"Mami kamu diculik. Mami kamu. Ibu kandungmu sekaligus teman hidup papi. Kekasihnya papi. Cintanya papi. Sayangnya papi. Bebebnya--"


"Bentar Pi." Benua menyela ucapan Sammy. "Papi bercanda kan?"


"Ngapain papi bercanda! Ini menyangkut mami kamu tau! Masa iya papi bercanda bilang kalau mami kamu diculik!"


"Mami... Mami Thalita kan?"


Sammy menjitak kepala Benua dengan keras sekali lagi. "Terus siapa lagi astagaa... Emang kamu punya mami lain selain dia?!"


"Eng..gak." Benua terlihat sedang berpikir keras. "Tapi Pi... Coba papi pikir lagi, masa iya mami diculik? Secara kan mami..."


Sammy menghela nafas panjang. Dia sudah menduga anaknya tidak akan percaya. Sammy mengeluarkan handphonenya lalu memberikan pada Benua.


Benua menerima handphone itu dan membaca apa yang tertera di layar.


Mamilik Sammy.


Sayang aku diculik. Penculiknya perempuan kok jadi jangan khawatir ya.


Wajah Benua terlihat begitu kesal. Senyum yang benar-benar kaku tersinggung di wajahnya.


Orang diculik bisa ngabarin keluarganya ya? Pikir Benua. Terus apaan ini? Kenapa kalo penculiknya perempuan? Apa itu penting sekarang? Seharusnya mami ngasih tau hal yang lebih penting dong! Kayak diculik pake apa, warna apa, gimana ciri-ciri penculiknya. Perempuan kan banyak ya lord...


"Huhuhu... Benua... Gimana ini..."


Benua menoleh dan terkejut saat melihat Sammy sedang menggigit bajunya sendiri sembari mengeluarkan air mata.


Benua menepuk jidatnya. Andai saja kedua orangtuanya seperti ini saat dirinya membawa kekasih ke rumah, pasti sekarang Benua sudah mempunyai istri bahkan punya anak.


Sial banget. Pikir Benua sembari tersenyum kecut. Beruntung ada Jack yang menemaninya jadi Benua tidak begitu depresi.


"Papi, kayaknya ada yang lebih penting daripada nangis deh.."


"Apa?"


"Aku masih belum percaya loh kalo mami diculik..."


Benua melirik Sammy yang sekarang menatapnya dengan penuh ketidak percayaan. "Dasar... Dasar anak nggak tau diuntung!"


Benua menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bukan apa-apa sih tapi kenyataan ini tidak bisa diterima oleh akal sehat Benua.


Coba pikirkan. Ada penculik, ya bayangkan saja seperti penculik pada umumnya, apalagi ini perempuan penculiknya. Nah, penculik itu menculik mamiku. Siapa mamiku? Wanita terseram di dunia.


Membayangkan bayangan maminya yang sedang mengamuk ditambah penculik itu...


Wajah Benua menghitam sepenuhnya.


Nggak masuk akal maminya bisa ditangkap oleh penculik! Lalu apa yang penculik itu mau dari maminya?


Mata Benua melebar saat memikirkan sesuatu yang lain.


Jangan-jangan... Penculik itu pengen ngambil organ dalam maminya?! Secara banyak banget perdagangan organ dalam ilegal saat ini!


Seketika wajah Benua menjadi datar.

__ADS_1


Aku yakin, pikirnya. Jika mami beneran diculik dan mau diambil organ dalamnya... Pasti penculiknya bakal K.O. duluan sebelum membedah tubuh maminya!


.


***


.


"Thalita? Nama yang bagus."


Kembali lagi ke situasi Thalita yang sedang 'diculik' untuk dijadikan kambing hitam.


"Kau tidak tau siapa aku?" Thalita mengangkat alisnya.


"Memang aku harus mengetahui siapa dirimu?" Ibu jadi heran.


Thalita jadi bingung. Wanita ini, pikirnya, dia ingin menjilat ketua besar geng black rose tapi tidak tau siapa nama ketua besarnya?


"Nggak. Lupakan saja." Thalita menggeleng pelan.


Ibu mendengus kesal lalu dia mengambil sebuah pisau dari jaketnya. Ariadna yang melihat pisau itu langsung menangis dengan sangat keras. Karsein tidak berusaha menghentikan tangisan adiknya karena sadar dia yang jadi target ibu itu saat ini. Karsein memejamkan matanya, mencoba menerima situasi ini.


Thalita mengangkat alisnya saat melihat pisau itu. "Kau mau apa?"


"Kan aku sudah bilang, aku akan membunuh kedua anak ini dan menjadikanmu kambing hitam." Jawab ibu dengan cepat.


"Kau pasti bercanda kan?" Thalita berkata dengan tidak percaya. Bukan karena dirinya akan dijadikan kambing hitam tapi ibu itu ingin membunuh kedua anaknya sendiri?


"Tidak."


"Hei, kau... Eh... Kau serius ingin membunuh kedua anakmu?!" Thalita menjadi panik saat ibu mengarahkan pisaunya pada Karsein yang diam tidak bergerak.


"Huaaa! Jangan sakiti kakakku!" Ariadna menggigit tangan ibu yang memegang pisau.


Ibu meringis saat merasakan sakit dari gigitan Ariadna. "Brengsek!" Ibu melempar tubuh kecil Ariadna ke sembarang arah.


Bruk.


Tubuh mungil Ariadna menabrak dinding dengan keras. Gadis kecil itu tersungkur tidak berdaya sambil menatap kakaknya yang akan dibunuh. Air mata menetes dari mata indahnya.


"Hei! Jangan gila! Kau mau membunuh anakmu?!" Thalita menjadi panik saat melihat tubuh kecil Ariadna menabrak dinding dengan keras dan lebih panik lagi saat ibu mengarahkan pisaunya di perut Karsein.


Ibu mengelus dagunya, berpikir bagaimana enaknya mengawali pembedahan ini ya?


Thalita menggunakan segenap kekuatannya untuk membuka tali yang mengikatnya. Thalita yakin meskipun dia bisa lepas dari tali ini tapi pasti tangannya akan terluka karena gesekan tali yang kasar itu.


Tapi Thalita tidak peduli. Lecet di tangannya tidak sebanding dengan nyawa seorang anak kecil.


Brak.


Tuk.


Bertepatan dengan terputusnya tali yang mengikat Thalita, pintu ruangan dibuka dengan kasarnya dan menampilkan sosok gadis berambut pirang yang memasang tampang menyeramkan.


.

__ADS_1


Like.


__ADS_2