
"Aarghh!" Teriakan yang menggelegar itu terdengar di sebuah ruangan yang tidak ada penjenguknya sama sekali atau lebih tepatnya tidak boleh ada yang mengunjungi ruangan itu.
Di ruangan itu terdapat satu pasien gadis bernama Kayrah Edward yang sedang menangis sambil meraba wajahnya yang berbeda.
"Kenapa... Kenapa bisa jadi seperti ini?! Apa yang terjadi pada wajahku?!" Teriak Kayrah histeris.
Kayrah berdiri dari ranjang rumah sakit lalu berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah sampai ke kamar mandi, Kayrah melihat wajahnya yang berada di pantulan cermin. Seketika dirinya menjerit lebih keras dari yang tadi.
"Kyaaaaa!!" Kayrah menatap wajahnya dengan teliti.
Separuh kulit wajahnya mengelupas membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa jijik. Lalu terdapat banyak jerawat di wajahnya juga ada beberapa jerawat yang mengeluarkan nanah yang mengeluarkan bau tidak sedap.
Air matanya tidak bisa di bendung lagi. Dirinya tidak tau apa yang terjadi padanya.
Kayrah mengamati tubuhnya yang terdapat banyak bentol-bentol besar di seluruh tubuhnya.
"Apa... Apa yang terjadi..." Racau Kayrah sambil memeluk badannya sendiri.
Kayrah keluar dari kamar mandi dengan badan yang sempoyongan. Tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di balik kaca yang menghalangi ruangannya.
Terlihat ayahnya, ibunya, saudara kembarnya, para Paman juga bibinya, dan para sepupunya menatapnya dengan penuh rasa kasihan dan jijik. Hanya Paman Rangga-nya yang menangis ketika melihat kondisinya.
Kayrah seperti wabah penyakit yang harus di hindari. Tatapan sinis juga terarah pada Kayrah membuat dirinya jatuh ke lantai sambil memandang orang-orang dibalik kaca dengan tidak percaya.
"Kalian...." Kayrah mengulurkan tangannya untuk menyentuh kaca itu dan seketika orang-orang yang berada di balik kaca mundur secara teratur kecuali Rangga yang meletakkan telapak tangannya pada kaca.
"Apa... Apa yang terjadi?" Air mata Kayrah mengalir lagi diikuti dengan tangannya yang menjambak rambutnya sendiri.
"Hiks.. hiks... Huhuhuu..."
Brak!
Spontan Kayrah dan orang-orang dibalik kaca menatap seseorang yang ngos-ngosan memasuki ruangan itu dengan kasar.
Orang itu menutup pintu ruangan dan dengan cepat berlari menuju Kayrah yang tersimpuh di lantai.
Orang itu mengulurkan tangannya lalu memeluk Kayrah dengan erat diikuti oleh keluarnya kata-kata penenang dari mulutnya.
"Tenanglah. Ada gue disini. Gue disini. Di sisi Lo. Gue nggak bakal ninggalin Lo! Gue nggak bakal biarin Lo sendirian!"
Kayrah menangis di pundak orang itu. "Hiks... Al... Aldebaran..."
"Ya. Gue disini" ucapnya dengan tegas.
"Kenapa.. aku kenapa?" Tanya Kayrah disela-sela tangisnya.
Aldebaran diam.
"Kenapa Al! Ada apa sebenarnya?!" Kayrah mulai memukuli punggung Aldebaran tetapi Aldebaran tidak peduli. Dia masih memeluk Kayrah dengan erat.
"...gue bakal temenin Lo. Lo jangan takut. Gue bakal terus ada disisi Lo. Gue... Meskipun Lo pindah ke alam baka, gue bakal temenin Lo! Jadi jangan nangis..." Ucap Aldebaran dengan lirih setelah diam beberapa saat.
"Al... Hiks... Kenapa kamu... Ngelakuin ini? Aku... Wajahku hancur... Tubuhku juga... Hiks"
"Apa maksud Lo?!" Aldebaran menangkap kedua pipi Kayrah. Meskipun banyak nanah di pipi Kayrah tetapi Aldebaran tidak peduli. "Gue suka sama Lo bukan karena tubuh Lo ataupun wajah Lo! Gue tulus suka sama Lo apapun keadaan Lo!"
Kayrah menatap mata abu-abu milik Aldebaran dengan pandangan sedih, lalu Kayrah berkata dengan lirih. "Kenapa.."
"Karena Lo adalah gadis yang gue cintai!"
.
****
.
"Hah!" Kayrah membuka matanya dengan nafas yang tidak teratur. Wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin yang tidak berhenti mengalir.
Kayrah mengatur pernafasannya sambil menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Bau khas rumah sakit yang tercium di hidungnya sudah memberitahukan Kayrah bahwa dirinya sekarang ada di rumah sakit.
Kayrah menutup matanya dengan salah satu tangan dan baru dia sadari bahwa tangannya yang lain sedang digenggam oleh seseorang.
"Eh?" Kayrah menoleh ke samping hanya untuk melihat seseorang yang muncul di mimpinya tadi, yang mengatakan kata-kata penenang juga kata-kata cinta, sedang tidur terlelap sambil menggenggam tangannya.
Kayrah tersenyum tipis. Sepertinya mimpi tadi adalah pertanda bahwa Aldebaran sungguh tulus mencintainya.
"Al..." Kayrah mengelus rambut Aldebaran yang lembut.
"Ngghh..." Aldebaran mengerang pelan sebelum membuka matanya perlahan.
Aldebaran tidak mengubah posisinya. Masih tidur di samping kasur Kayrah sambil menggenggam tangannya. Bedanya, genggaman Aldebaran semakin erat seperti takut kalau Kayrah akan pergi darinya.
"Lo buat gue khawatir" Aldebaran tersenyum.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku" ucap Kayrah sambil tersenyum lembut.
"Kenapa menangis?" Aldebaran duduk tegap lalu mengusap sudut mata Kayrah yang mengeluarkan air mata.
"Ah" sepertinya karena mimpinya tadi Kayrah jadi menangis. "Aku terharu"
"Terharu? Apa yang buat Lo terharu?" Tanya Aldebaran lembut.
"Kamu" Kayrah menggenggam tangan Aldebaran yang berada dipipinya. "Aku terharu kamu bersedia berada di sisiku"
"Tentu. Gue akan selalu ada di sisi Lo. Lo tau, saat melihat Lo pingsan tadi dunia gue seperti runtuh. Gue sangat ketakutan. Takut kalau mata Lo nggak akan pernah terbuka kembali. Gue nggak tau apa yang harus gue lakukan saat kejadian itu benar-benar terjadi" Aldebaran memejamkan matanya. Mencoba merendam emosi yang membuncah.
__ADS_1
"Al..." Bahkan didunia nyata, kamu tetap bersedia disisiku. Bukan hanya di mimpi saja. Aku sangat terharu Aldebaran... Batin Kayrah yang sangat tersentuh dengan laki-laki di hadapannya ini.
"Gue mohon, jangan kayak gini lagi..." Pinta Aldebaran dengan penuh perasaan.
Kayrah membuka mulutnya sambil tersenyum, "Tolong jaga diriku Al... Tolong teruslah berada disisiku. Kayron sudah tidak peduli padaku lagi. Aku sendirian. Aku tidak punya siapa-siapa. Jadi tolong jangan tinggalkan aku juga..."
"Tentu. Gue akan terus berada di sisi Lo sampai Lo nemuin laki-laki yang pantas--"
"Itu kamu" sela Kayrah.
"Apa?"
"Temani aku. Bukan sebagai teman tapi sebagai kekasih" ucap Kayrah dengan pandangan lembut.
Tangan Aldebaran yang berada di pipi Kayrah membeku begitupun juga dengan tubuhnya karena sangking terkejutnya dia dengan pernyataan Kayrah yang tiba-tiba.
"Ha...hahaha" Aldebaran tertawa sambil mengeluarkan air mata. "Tidak bisa."
"Apa?" Wajah Kayrah berubah seketika.
"Kenapa gue selalu kalah?" Aldebaran menggenggam erat tangan Kayrah. "Gue akan menanggap perkataan Lo tadi nggak pernah terucap"
Kayrah menatap Aldebaran dengan tidak percaya.
"Biarkan gue yang meminta Lo untuk menjadi pendamping gue" Aldebaran tersenyum lembut membuat Kayrah menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan karena tidak percaya.
"Kayrah Edward maukah Lo menjadi kekasih gue, Aldebaran?"
"Ya! Tentu aku mau!" Jawab Kayrah cepat lalu memeluk Aldebaran dengan sangat erat.
Aldebaran membalas pelukan itu dengan tidak kalah erat. Ini pertama kalinya dirinya mempunyai kekasih dan Aldebaran bersyukur karena diberi seorang wanita yang hebat.
"Mama!"
Aldebaran terkejut ketika mendengar suara anak kecil di belakangnya. Seketika Aldebaran melepaskan pelukannya lalu berbalik dan melihat sepasang anak kecil sedang berjalan mendekat.
"Sein, Ria!" Wajah Kayrah semakin ceria ketika melihat kedua anak itu.
Ariadna juga tertawa cerita saat Kayrah memanggil namanya tapi tidak dengan Karsein yang masih memasang wajah datarnya.
"Mama, mama! Apa akhirnya kami akan mempunyai papa?!" Tanya Ariadna antusias sambil menatap Aldebaran yang terkejut.
"Kay... Lo... Single mom?!" Tanya Aldebaran menggunakan bahasa Indonesia dengan tidak percaya. "Kay, Gue nggak masalah kok. Pasti selama ini Lo hidup susah--"
"Bicara apa sih kamu?!" Kayrah tersenyum lebar sambil membekap mulut Aldebaran yang mulai bicara tidak karuan. "Dia anak angkatku" ucap Kayrah dengan bahasa Inggris.
Aldebaran yang mulutnya dibekap pun masih bisa tersenyum. Aldebaran menurunkan tangan Kayrah yang berada di mulutnya lalu berkata dengan lega. "Ternyata begitu.." jawab Aldebaran menggunakan bahasa Inggris juga.
"Mama! Om ganteng ini papa kami kan?" Tanya Ariadna dengan semangatnya.
Aldebaran menatap Ariadna dan Karsein secara bergantian. "Anak-anak manis, kalian boleh memanggilku papa" ucap Aldebaran sambil tersenyum lembut.
"Sungguh?! Papa! Akhirnya aku punya papa juga mama!" Teriak Ariadna girang.
Karsein yang sebelumnya diam mengamati semuanya tiba-tiba berjalan mendekati Aldebaran lalu memeluknya. "Papa... Sungguhkah papa?"
Aldebaran terkejut sejenak sebelum tersenyum sambil mengelus rambut Karsein. "Ya anakku"
"Eyy! Anak-anakmu bukan hanya dua saja loh" tangan Kayrah menoel-noel pipi Aldebaran.
Aldebaran menangkap tangan Kayrah yang berada di pipinya lalu menciumnya dengan penuh perasaan. "Memangnya ada berapa lagi?"
"Banyak!" Ucap Kayrah cepat. "Satu panti asuhan menjadi anakku semua. Sekarang mereka semua juga menjadi anakmu"
Aldebaran yang sebelumnya mencium tangan Kayrah jadi membeku. Matanya melebar diikuti oleh terpasangnya senyum canggung di wajahnya.
"Haha..hahaha... Ti..tidak apa! Aku rela kok menjadi ayah mereka semua asalkan kamu menjadi ibunya" ucap Aldebaran terbata-bata.
Kayrah tertawa kecil ketika melihat respon Aldebaran yang lucu.
"Ah, pa! Aku bawa makanan" Karsein menyodorkan makanan yang sedari tadi dibawanya sedangkan Ariadna berusaha menaiki ranjang Kayrah.
"Itu aku dan kakak yang masak loh ma!" Curhat Ariadna yang berhasil menaiki ranjang Kayrah.
Kayrah tertawa melihat keberhasilan anaknya itu, "Oh ya? Pasti enak banget" ucap Kayrah sambil membawa Ariadna untuk duduk di pangkuannya.
"Nah" Aldebaran menerima makanan yang diberikan oleh Karsein lalu membukanya. "Mama, anak-anak, ayo makan. Biar papa yang suapin"
"Pfft!" Kayrah menahan tawanya saat mendengar perkataan Aldebaran itu.
"Iya pa! Ria mau makan!" Ariadna menjadi girang.
"Anak pintar" Aldebaran menyuapi Ariadna lalu Aldebaran menatap Karsein yang sedang menatapnya. "Namamu Sein bukan? Mau makan juga?"
"Karsein pa. Iya, aku mau makan juga" jawab Karsein dengan datar.
Aldebaran heran dengan anak yang berada di hadapannya ini. Karena sudah dari tadi anak ini tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
Karsein seperti tau apa yang dipikirkan oleh Aldebaran. Dia menundukkan kepalanya, meskipun tanpa ekspresi tapi cahaya matanya menunjukkan kesedihan.
"Tidak apa Sein" Kayrah mengelus kepala Karsein dengan lembut. "Pelan-pelan saja, mama nggak memaksa kamu"
Aldebaran menatap Kayrah dengan bingung.
"Al, kamu juga harus support Karsein. Dukung dia terus sampai dia bisa mengeluarkan ekspresi pertamanya" ucap Kayrah sambil tersenyum sendu.
Aldebaran tau apa yang di maksud oleh Kayrah. Dia mengangguk paham lalu berdiri.
__ADS_1
"Nah Sein, duduk" perintah Aldebaran.
Karsein pun menurut. Dia duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Aldebaran.
"Bukan mulutmu sayang, aaa" Aldebaran menyodorkan sesendok makanan pada Karsein yang menatapnya.
Karsein mengalihkan pandangannya pada Kayrah yang mengangguk sambil tersenyum. "Kalo kamu nggak buka mulutmu, nanti tangan papa kesemutan loh Sein" ucap Kayrah.
Karsein langsung tersadar dan dengan cepat dia membuka mulutnya.
"Pintar" puji Aldebaran sambil tersenyum.
Aldebaran mengambil sesendok lagi makanannya lalu menyuapkan pada Kayrah tetapi Kayrah langsung menjauhkan wajahnya dari sendok itu membuat Aldebaran terkejut.
"Alat makan khusus" ucap Kayrah sambil tersenyum tipis.
Aldebaran yang tersadar langsung meminta maaf berulang kali sebelum membuka laci rumah sakit dan mengambil sendok yang digunakan khusus untuk Kayrah.
Aldebaran mengambil sesuap nasi dengan sendok itu lalu menyuapi Kayrah. Dengan senang hati Kayrah membuka mulutnya.
Setelah menyuapi Kayrah, Aldebaran mulai lagi menyuapi Ariadna yang girang dengan sendok lainnya.
Ditengah-tengah kegiatannya itu, Aldebaran bertanya pada Kayrah. "Kay, kita baru beberapa hari menghabiskan waktu bersama. Apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Aldebaran sambil terkekeh.
"Tidak masalah. Cinta datang karena terbiasa. Jadi jangan begitu tertekan" ucap Kayrah sambil membuka mulutnya ketika sendok khusus dirinya yang dipegang Aldebaran mengarah pada mulutnya.
"Kalau begitu langsung saja" Aldebaran menyuapi Ariadna sambil tersenyum lebar lalu melanjutkan ucapannya, "Bagaimana kalau kamu menjadi istriku?"
"Uhuk!" Kayrah langsung tersedak nasi yang dia makan.
Melihat itu, Aldebaran menjadi panik. "Kay, kamu kenapa?!"
Karsein yang duduk di dekat laci rumah sakit langsung menyambar gelas yang berisi air putih lalu menyodorkannya pada Kayrah.
Kayrah meneguk air yang berada di dalam gelas itu sampai tuntas lalu berkata, "Al, bisa nggak kalo ngomongin itu setelah aku makan? Aku kan jadi kaget setengah mati!"
Aldebaran tertawa ketika mendengar penjelasan Kayrah. "Kay, kamu tau nggak kenapa aku nggak memanggilmu kakak seperti yang Vano lakukan?"
"Memang kenapa?" Tanya Kayrah sambil mengembalikan gelas yang kosong di atas laci.
"Karena aku nggak mau kamu jadi kakakku. Aku mau kamu jadi pendampingku" ucap Aldebaran sambil menyuapi Kayrah.
"Tapi kamu harus meminta restu dulu pada ayahku. Kamu juga harus meminta restu pada para pamanku yang galak" jelas Kayrah ditengah-tengah makannya.
"Tentu saja. Segalak apapun para pamanmu juga ayahmu, aku tidak akan menyerah hanya karena mereka galak" ucap Aldebaran percaya diri.
"Ngomong-ngomong soal Paman... Aku akan menelfon Paman Rangga untuk mengabari kondisiku" ucap Kayrah sambil mengulurkan tangannya pada Aldebaran.
"Buka mulutmu dulu. Ini yang terakhir" ucap Aldebaran.
Kayrah melahap makanan itu membuat Ariadna tertawa senang.
"Sudah habis!" Teriak Ariadna senang.
Aldebaran tersenyum saat melihat tingkah Ariadna sambil mengambil handphone Kayrah yang dia simpan didalam sakunya.
"Nih" Aldebaran memberikan handphone Kayrah pada pemiliknya.
"Terimakasih" Kayrah mengotak-atik handphonenya lalu meletakkan handphonenya ke telinga.
Kayrah menunggu beberapa saat sebelum telfon itu diangkat oleh orang yang berada di sebrang.
Tut...
"Halo Kayrah, ada apa?"
Kayrah tersenyum ketika mendengar suara yang dia rindukan ini. "Ah, Kayrah hanya ingin memberitahu Paman"
"Tentang apa?"
"Tentang Kayrah" jawab Kayrah.
"Kamu? Kamu kenapa?" Rangga mulai khawatir.
"Aku masuk rumah sakit"
"Kenapa?" Suara Rangga semakin cemas.
"Biasa Paman. Penyakit Kayrah kambuh lagi" jawab Kayrah santai.
Terdengar helaan nafas di sana. "Terus bagaimana kondisimu sekarang? Apa ada yang masih sakit?"
"Sedikit" jawab Kayrah cepat.
"Maaf ya Kayrah, Paman belum bisa kesana. Paman akan usahain kesana secepatnya!"
Kayrah tertawa pelan. "Tidak apa Paman. Kayrah akan selalu menunggu kok. Lagian ini kan udah biasa Kayrah rasain"
Rangga diam sebentar. "Apa kamu sudah memberitahu tentang keadaanmu pada ayahmu?"
Senyum Kayrah menjadi kaku begitupun dengan suaranya yang tidak mau keluar. "...apa aku harus memberitahu tentang keadaanku pada beliau?"
.
like.
Heran karena nggak ada tugas dari kemarin, eh tiba-tiba ingat kalo sekarang hari Minggu. Selamat weekend yaa, wkwkw:v
__ADS_1