
"Yakin nggak mau ayah temenin?" Tanya Keynan sekali lagi pada anak gadisnya.
"Nggak perlu yah, Kayrah cuma sebentar kok." Kayrah menyakinkan ayahnya sekali lagi.
Hari ini adalah hari dimana Kayrah akan bertemu dengan Ricard setelah membuat janji di cafe Wind's. Setelah berhari-hari Kayrah menunggu akhirnya hari ini tiba juga.
"Tapi kan..."
"Kayrah sungguh sudah baik-baik saja ayah..." Kayrah menatap Keynan dengan wajah memelas.
"Aldebaran dimana? Ayah telfon Aldebaran dulu, suruh dia temenin kamu" Keynan mengambil handphonenya tetapi dengan cepat di cegah oleh Kayrah.
"Eyy... Apa ayah lupa tadi Kayron pamit kemana?" Tanya Kayrah.
"Kayron... Bukankah dia tadi bilang ada pertandingan basket dengan para senior kampusnya?"
"Nah, menurut ayah, Aldebaran yang sebagai teman Kayron akan ikut pertandingan itu atau tidak?"
"Em... Iyaya..." Keynan mengelus dagunya sambil mengangguk-angguk.
"Jadi jangan ganggu Aldebaran ya yah... Dia punya kesibukan sendiri. Hidupnya bukan untuk Kayrah saja"
Keynan tersenyum lembut. Putrinya ini ternyata penuh pengertian terhadap pasangannya.
"Terus kamu nggak liat pertandingan mereka? Sebagai kekasih harusnya kamu support dia" ayahnya tersenyum menggoda.
Kayrah terkekeh. "Iya ayah, Kayrah akan menonton pertandingan itu nanti. Sekarang Kayrah pergi dulu ya..."
"Kalo ada apa-apa langsung telfon ayah ya?"
"Memang ayah bisa langsung ke tempat Kayrah setelah Kayrah telfon?" Tanya Kayrah sambil mengangkat alis.
"Bisa. Ayah akan secepatnya ke tempatmu pakai helikopter" jawab Keynan yakin.
Kayrah tersedak sampai terbatuk-batuk mendengar jawaban ayahnya yang penuh dengan kepercayaan diri itu. "Uhuk! O..oke deh..."
"Hati-hati dijalan sayang!"
.
***
.
"Udah nunggu lama ya om?"
Kayrah tersenyum canggung saat duduk di hadapan Ricard yang terlihat sedang menikmati kopinya.
"Lumayan."
"Makasih ya om udah mau nunggu," Kayrah mulai menjelaskan. "Tadi harus bujuk ayah dulu terus dijalan kejebak macet."
"Iya nggak apa." Ricard menaruh kopinya.
"Ngomong-ngomong kakak Jack mana om?" Tanya Kayrah.
__ADS_1
"Kamu mau nemenin om sebentar di sini?" Tanya Ricard balik.
"Tentu saja!" Kayrah dengan cepat menjawab.
Ricard tersenyum tipis, "Gimana kabar ayahmu?"
"Baik om."
"Apa ayahmu dipindah tugaskan ke Amerika?"
"Eh? Maksud om?"
"Kenapa ayahmu bisa di Amerika? Dia nggak kerja?"
Kayrah terkekeh pelan membuat hati Ricard yang melihatnya menjadi melembut. "Nggak om. Katanya, ayah udah ngumpulin uang jadi ayah ke sini buat nemenin pengobatan Kayrah."
Ricard yang mendengar penjelaskan itu langsung tertawa. Sepertinya Keynan sudah bisa belajar dari masa lalu. "Jangan sakiti hati ayahmu Kayrah. Ayahmu itu memiliki hati yang lembut, dia mudah terluka untuk hal kecil sekalipun."
"Tentu saja aku tidak akan pernah mengecewakan ayah!" Kayrah berkata dengan yakin. "Ngomong-ngomong om jahat sekali."
"Jahat? Apa yang jahat?"
"Seharusnya om menanyakan kabarku, Kayrah kan sedang sakit."
Ricard menatap Kayrah dengan intens. "Apa kamu merasa sakit? Apanya yang sakit? Apa perlu kita ke dokter? Tapi... Kamu terlihat baik-baik saja saat ini"
"Eh? Eh... Itu.. tidak perlu om. Tidak ada yang sakit kok, Kayrah... Hanya bercanda" Kayrah tersenyum canggung, om yang berada di hadapannya ini tidak bisa diajak bercanda ternyata.
Ricard tidak merespon, dia hanya menatap wajah Kayrah dari waktu ke waktu. Kayrah yang ditatap seperti itu hanya bisa menahan rasa tidak nyamannya.
Ricard baru tersadar dari lamunannya lalu segera saja Ricard meminta maaf karena melihat wajah Kayrah yang sudah penuh keringat dingin.
"Ti..tidak. Tidak apa-apa om" Kayrah mengelap keringatnya.
Ricard terkekeh, "Maaf, tadi om sangat merindukan--" Ricard tidak melanjutkan ucapannya setelah mengingat sesuatu.
Kayrah tersenyum sambil mengangkat alisnya, menunggu Ricard melanjutkan ucapannya.
"Ah, lupakan saja. Maafkan om Kayrah karena sudah menyamakanmu dengan bibimu."
"Bibi Keysha ya?" Kayrah melebarkan senyumnya. "Ternyata om Ricard merindukan bibi Keysha"
.
***
.
Pertandingan basket yang diadakan oleh jurusan bisnis di universitas tempat Kayron belajar, dihadiri oleh banyak orang meskipun itu hanya pertandingan persahabatan.
Banyak orang yang ingin menyaksikan pertandingan ini, baik itu dari mahasiswa universitas ataupun orang luar. Tentu saja pertandingan ini menjadi meriah karena banyak yang mempromosikan pertandingan ini dengan kemauan sendiri.
Stadion tempat penonton sudah terlihat ramai atau bisa dikatakan sudah hampir penuh. Kayron menghela nafas panjang sambil sesekali melirik kearah penonton.
"Kenapa?" Aldebaran mendekati Kayron yang terlihat bimbang.
__ADS_1
"Kakakku ada bilang ke kau mau kemari nggak?" Kayron malah balik bertanya.
"Nggak tuh," Aldebaran menjawab santai, memang sepertinya Kayron sudah bisa menerima sedikit demi sedikit tentang hubungannya dengan Kayrah.
Kayron mendesis pelan, terlihat sedikit kekecewaan di wajahnya. "Ada bagusnya juga sih kakak nggak kemari karena pasti kalo kemari, kakak akan bertemu Caroline."
Aldebaran tersenyum tipis, meskipun Kayrah kemari pun dia bisa menjaganya dari Caroline atau siapapun itu. "Ayo kita keluar."
Kayron menghela nafas sekali lagi. Mencoba mengatur hatinya agar tetap tenang. "Oke."
Kayron dan Aldebaran pun keluar, menghampiri Stevano yang sudah berada di luar sedari tadi.
"Kalian lama banget." Stevano berdecak kesal melihat kedatangan kedua temannya itu.
"Kau yang keluar lebih cepat." Balas Kayron kesal.
Aldebaran tertawa kecil, tidak berniat ikut perdebatan ini.
"Katanya kakak tingkat kita yang ikut pertandingan ini jago-jago." Adu Stevano setelah mendengar informasi ini dari rekan basket yang lain.
"Terus?" Kayron menatap Stevano dengan datar.
Stevano mengacak rambutnya. "Ya... Aku kan cuma ngasih tau."
"Udah, kita harus optimis." Aldebaran ikut menimpali.
"Aku tenang karena ada dirimu wahai sobatku, Aldebaran." Stevano menjadi puitis tiba-tiba.
Kayron menjitak kepala Stevano cukup keras sampai-sampai sang empu mengerang kesakitan. "Kau tidak percaya padaku?!"
"Aduhh..." Stevano mengelus-elus kepalanya. "Mana bisa aku percaya padamu yang nggak pernah masuk saat shoo--"
Sebelum Stevano melanjutkan ucapannya, Kayron menjitak kepalanya lagi. Kayron tanpa berbicara lebih jauh langsung memasuki lapangan yang sudah terisi oleh pemain kakak tingkat mereka, meninggalkan Aldebaran yang berusaha menenangkan Stevano yang terus mengumpat.
"Apa kabar kak?" Kayron melakukan tos ala jurusannya yang unik pada kakak tingkatnya.
"Baik. Gimana? Udah siap tanding belum?"
"Sangat siap." Jawab Kayron percaya diri.
"Oh ya, kau belum kenal sama kapten baru kami kan?"
Kayron menggeleng, memang kapten basket kakak tingkatnya ini diubah karena kapten lama mengundurkan diri dan Kayron belum pernah sekalipun melihat kapten baru kakak tingkatnya.
Kakak tingkat itu mengajak Kayron menuju seseorang yang memunggungi mereka dan sedang melakukan pemanasan.
"Kapten, aku bawa kapten lawan kita sekarang!" Kakak tingkat itu berteriak membuat seseorang yang sedang melakukan pemanasan itu membalikkan badannya.
Saat Kayron melihat siapa kapten itu, tubuhnya langsung membatu begitupun dengan matanya yang melebar karena terkejut.
"Kau! Kenapa kau ada disini?!" Teriak Kayron sambil menunjuk wajah kapten kakak tingkatnya.
.
like.
__ADS_1