
"Terus kenapa?" Tanya Kayron datar.
"Hahaha, lucu aja sih, masa geng besar kayak geng black rose membangun kampus untuk bisa bertahan di Amerika?"
Kayron menggandeng tangan Kayrah lalu membawanya masuk ke kampusnya. "Amerika juga punya banyak geng jadi geng black rose mau nggak mau harus nyamar biar bisa bertahan di sini"
"Oh..." Kayrah mengangguk lalu menatap Kayron. "Kenapa geng black rose ngotot banget untuk bertahan di Ame--"
"Sstt!" Kayron membekap mulut Kayrah dengan tangannya membuat sang korban terkejut. "Jangan keras-keras!"
Kayron menatap sekelilingnya begitu juga dengan Kayrah dan mereka menyadari kalau mereka sekarang menjadi pusat perhatian.
Tentu Kayron yang tampan menjadi idola bagi anak-anak perempuan. Sekarang mereka melihat Kayron berduaan dengan wanita yang mirip sekali dengan wajah Kayron? Sudah pasti mereka penasaran.
Kayrah menggigit tangan Kayron yang ada di mulutnya membuat sang adik langsung melepas tangannya dan menjerit kaget sekaligus kesakitan.
"Argh gila!" Kayron mengusap-usap tangannya yang sakit. "Sakit tau!"
"Heung" Kayrah bersedekap dada sambil membuang pandangannya.
Melihat itu membuat Kayron bingung. "Kenapa sih kak?"
"Tanganmu bau" jawab Kayrah ketus.
Kayron memutar bola matanya malas lalu menggenggam tangan Kayrah lagi dan membawanya lebih memasuki kampus yang besar ini. "Bau apaan?" Gumam Kayron kesal.
"Ikan asin" Kayrah ikut bergumam juga.
"Aku belum makan tau"
"Oh, makanya kamu ngajak kakakmu ini ke kantin?" Tanya Kayrah sambil menunjuk kantin yang berada di lantai dua.
"Nah" Kayron mengangguk.
"Udah canggih amat yak kampusnya" Kayrah berdecak kagum ketika dirinya harus menaiki eskalator untuk naik ke lantai dua.
"Kampus ter-elite di Amerika nggak canggih? Terus untuk apa ayah bayar mahal-mahal kalo fasilitasnya kuno?"
Kayrah tersenyum kesal sebelum berjinjit dan menjitak kepala Kayron. "Nggak mungkin ayah bayar mahal. Secara kan pemilik dari seluruh geng black rose yang tersebar di dunia itu bibi kita"
"Ya tapi nggak usah jitak aku juga" Kayron sudah mengangkat tangannya membuat Kayrah spontan memejamkan matanya.
Kayron yang melihat itu jadi tersenyum lembut lalu tangan Kayron mendarat di kepala Kayrah dan Kayron dengan kasih sayang membelai rambut pirang Kayrah.
"Eh?" Kayrah membuka matanya perlahan dan disaat dirinya sudah sempurna membuka matanya tiba-tiba Kayron menggendong tubuhnya.
Spontan Kayrah mengalungkan tangannya ke leher Kayron.
Melihat Kayron yang keluar dari eskalator sambil menggendong Kayrah membuat perhatian seluruh kantin mengarah padanya.
"Kamu terkenal banget ya?" Bisik Kayrah di dekat telinga Kayron.
"Iya dong, secara aku kan tampan" jawab Kayron percaya diri.
"Dih, paling juga kamu terkenal karena nakal kan?" Tanya Kayrah curiga.
"Geh" Kayron melotot kearah kakaknya yang sedang menahan tawa.
Kayron berhenti di salah satu meja yang kosong lalu mendudukkan Kayrah dengan pelan.
"Terimakasih" Kayrah tersenyum lebar saat Kayron menatapnya. "Kamu sering berantem?" Tanya Kayrah yang mengejutkan Kayron.
"Apaan sih, nggak kok! Aku nggak sering berantem" jawab Kayron gugup.
"Tuh kan!" Kayrah menunjuk wajah Kayron dengan jari telunjuknya. "Aku aduin ke bunda!"
"Jangan!" Kayron jadi panik sendiri setelah mendengar ancaman dari Kayrah. "Aduin ke ayah aja, jangan bunda!"
"Dih, nggak mau dong" Kayrah tersenyum miring. "Kamu pikir aku nggak tau kalo dulu ayah juga sama nakalnya kayak kamu? Kalo aku aduin ke ayah pasti ayah akan biasa-biasa saja. Tapi kalo aku aduin ke bunda..."
"Yaampun kak! Hari ini kakak cantik banget sih! Lihatlah adikmu yang bagaikan kutu bila di sampingmu ini. Apa kamu nggak kasihan kak sama adikmu ini bila adikmu di cuekin sama bundanya sendiri? Pliss lah kak!"
Kayrah terkekeh.
"Kak, bunda kalo ngambek serem. Bisa tahan gitu nggak bicara sama anaknya sendiri berminggu-minggu" adu Kayron memohon.
Kayrah sekarang tertawa ketika melihat ekspresi Kayron yang mirip sekali dengan anak kucing.
Sebelum Kayrah berhenti tertawa tiba-tiba suara mengerikan memotong tawanya.
Kruyuuukk....
"Eh?" Kayrah spontan memegangi perutnya sambil menatap malu-malu Kayron yang sedang melongo ketika mendengar suara itu.
"Bwhahahaha" sekarang giliran Kayron yang tertawa lepas.
Tawanya yang keras membuat seluruh mahasiswa yang ada di kantin menjadi terkejut tapi mereka yang mendengar tawa ini bisa dengan mudah menemukan bahwa Kayron benar-benar tulus tertawa.
__ADS_1
Para mahasiswa yang ada di kantin hanya bisa menggelengkan kepala mereka sambil tersenyum, tidak mau mengganggu kebahagiaan Kayron.
Kayron meskipun tampan tapi juga dermawan. Dia tidak segan untuk membela yang benar meskipun di hadapan kepala pengurus kampus ini sekalipun membuat semua mahasiswa kagum sekaligus menghormati Kayron yang berani.
Kayron juga tidak segan mengeluarkan uang untuk temannya yang membutuhkan meskipun Kayron tidak kenal dengan teman itu sekalipun.
Meskipun begitu tetapi hanya sedikit yang berani meminta bantuan Kayron karena kebanyakan mahasiswa takut dengan Kayron.
Tidak mungkin Kayron mempunyai keberanian untuk melawan kepala pengurus kampus tanpa dukungan besar dari orang yang ada di belakang Kayron.
Jika tidak terdesak maka para mahasiswa tidak akan meminta bantuan Kayron.
Kayron memang ramah juga sering tertawa bersama teman-temannya tetapi tawa yang sangat bahagia seperti ini baru pertama kali di dengar oleh para mahasiswa.
"Kakak mau makan apa?" Tanya Kayron yang masih berusaha menghentikan tawanya.
"Pokoknya makanan yang bisa membuat kenyang" jawab Kayrah yang masih malu.
Melihat Kayrah yang malu-malu membuat Kayron jadi tertawa lagi.
"Aron! Cepat aku laper!" Bentak Kayrah kesal melihat Kayron yang tertawa karena kelakuannya.
"Ahahaha" Kayron mengatur nafasnya sambil berdiri dari tempatnya. "Iya-iya" ucap Kayron sambil mengacak-acak rambut Kayrah.
Kayron berdiri dari tempatnya lalu berjalan meninggalkan Kayrah menuju orang-orang yang menjual makanan dibalik meja panjang.
Kayrah menopang dagunya sambil menatap Kayron dari tempatnya. Berkali-kali Kayrah bersyukur karena Tuhan sudah memberikan Kayron sebagai adiknya.
Tanpa Kayrah sadari ada sosok laki-laki berkulit putih pucat dengan gambar teratai merah di wajah kirinya dan rambut putih pucat, sedang menatapnya sambil tersenyum misterius.
Laki-laki itu mengangkat telapak tangannya lalu muncullah bayangan dengan wajah yang mirip dengan Kayrah.
Laki-laki itu tidak mengalihkan pandangannya dari Kayrah saat berkata, "Keysha Edward. Lihatlah wajah anak dari adikmu itu. Apa aku salah lihat? Wajahnya terlihat sangat bahagia"
Gadis yang dipanggil Keysha langsung menatap wajah Kayrah. Dia tersenyum miris ketika melihat wajahnya itu. "Kenapa engkau memberi wajah itu lagi ke dalam keluargaku?"
"Hm?" Laki-laki itu menatap wajah Keysha yang berkaca-kaca. "Aku bukan dewa yang mengatur kelahiran. Apa kau lupa siapa aku? Bukankah wajah pertama itu sudah menjelaskannya padamu?"
Keysha mati-matian menahan diri untuk tidak meninju wajah menyebalkan milik laki-laki itu. Akhirnya Keysha hanya bisa membuang pandangannya ke pada Kayrah.
"Bagaimana jika aku lebih cepat merusak kebahagiaannya itu? Bukankah itu seru, Keysha?" Tanya laki-laki itu dengan nada merendahkannya.
"Apa belum cukup kau merusak hidupku? Apa belum cukup juga kau merusak hidup Ricard? Sekarang kau ingin merusak hidup keponakanku?" Keysha tertawa miris. "Ku pikir setelah aku mati, aku akan ikut bersama kakakku"
Keysha menatap laki-laki itu dengan tajam. "Bila aku tau setelah meninggalkan dunia ini aku akan dibawa olehmu ke dunia ini lagi dan terpaksa harus meninggalkan kakak juga sahabatku maka aku--"
Laki-laki itu mengangkat telapak tangannya lagi dan muncullah bayangan gadis berwajah mirip dengan Keysha.
"Wajah pertama ini..." Laki-laki itu beralih menatap Keysha. "Seharusnya kau menyalahkan wajah pertama ini"
Keysha menatap yang dipanggil 'wajah pertama' oleh laki-laki itu. Terlihat wajahnya yang bersalah saat Keysha menatapnya.
"Kak Gladys..." Keysha menatapnya dengan penuh keputusasaan.
"Maafkan aku..." Yang dipanggil Gladys langsung menundukkan kepalanya.
"Heh" desah laki-laki itu sambil menatap Kayrah yang masih menunggu Kayron. "Wajah ke enam itu juga akan terkena imbasnya. Aku tidak sabar melihat mata itu tertutup juga wajah penyesalan dari orang-orang di sekitarnya"
"Jangan lupakan pasangannya!" Bentak Gladys tidak terima.
Laki-laki itu melirik Gladys sekilas. "Ya, ya. Intinya, salah satu dari mereka harus ada yang mati. Entah itu Kayrah Edward ataupun... Jack Nathan Moses"
.
***
.
"Hm?" Kayrah bingung ketika ada dua orang laki-laki yang duduk bersamanya di meja yang sama. Dengan laki-laki berambut pirang di sampingnya dan laki-laki bermata abu-abu di depannya.
"Halo!" sapa laki-laki berambut pirang dengan ceria.
"Kalian siapa?" Tanya Kayrah sambil mengangkat alisnya.
Laki-laki berambut pirang itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum cerah. "Stevano. Panggil aja Vano"
Kayrah dengan ragu-ragu menjabat uluran tangan itu. "Kayrah" ucap Kayrah canggung.
"Nggak usah canggung gitu. Nah, laki-laki cuek di hadapanmu itu namanya Aldebaran" ucap Stevano tanpa ada niatan melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Kayrah.
Spontan Kayrah menatap laki-laki yang bernama Aldebaran itu. Melihat mata abu-abu yang dingin milik Aldebaran itu membuat Kayrah mau tidak mau bergidik ngeri.
"Panggil aja Al" lanjut Stevano ramah.
Sebelum Kayrah bisa berbicara, sebuah suara yang kesal dengan pukulan telapak lima mendarat di tangan Stevano.
"Jangan sentuh kakakku!"
__ADS_1
"Aduh!" Stevano langsung melepaskan tangannya setelah bersentuhan dengan telapak tangan Kayron. Terasa panas.
Sedangkan Kayron duduk di depan Stevano sambil bersedekap dada juga menatap temannya itu dengan tajam.
Kayrah tertawa pelan melihat kelakuan adiknya itu.
"Temannya Kayron ya?" Tanya Kayrah yang menjadi ramah.
Stevano mengangguk, "Iya, teman dari awal masuk kuliah kak"
"Ngapain manggil 'kak' ke kakakku?" Tanya Kayron tidak suka.
"Emang nggak boleh?"
"Nggak boleh!" Jawab Kayron cepat.
Stevano langsung menatap Kayrah lalu berkata dengan nada seakan-akan dia ternistakan. "Kak, masa aku nggak boleh manggil kakak dengan embel-embel?"
Kayrah yang mendengar itu tersenyum, "Boleh aja kok"
Mendengar jawaban dari Kayrah membuat Stevano girang. Stevano menoleh dan menatap Kayron sambil tersenyum kemenangan.
"Wlee, dengerin tuh" ucap Stevano sambil menjulurkan lidahnya.
"Ugh!" Kayron membuang mukanya karena tidak mau lebih kesal lagi dengan melihat wajah menyebalkan Stevano.
Secara serempak Stevano dan Kayrah tertawa bersamaan.
Sebenarnya Kayrah merasa tidak nyaman karena teman Kayron yang pendiam, Aldebaran, sedang menatap dirinya lekat-lekat membuat Kayrah merasa tidak nyaman.
"Kenapa kamu memandangi kakakku seperti itu?" Tanya Kayron saat dirinya melihat hal yang dilakukan oleh Aldebaran.
Segera saja Aldebaran mengalihkan pandangannya. "Ng-nggak!" Jawab Aldebaran gugup.
"Seorang Aldebaran suka pada seorang gadis yang baru saja ditemuinya?!" Stevano menjadi heboh sendiri ketika melihat kelakuan temannya itu.
"Ap-apaan sih?!"
Melihat kegugupan Aldebaran dan rona merah di pipinya membuat Kayrah hanya bisa tersenyum canggung.
Kayrah mengalihkan pandangannya pada penghuni kantin yang sedang memusatkan perhatian padanya.
Melihat itu membuat Kayrah merasa tertekan. "Ron" panggil Kayrah.
"Apa?" Tanya Kayron sambil menopang dagunya.
Kayrah menatap Kayron. "Kangen Indonesia" ucap Kayrah memakai bahasa Indonesia sambil terkekeh.
"Ck" Kayron berdecak kesal. "Kangen Indonesia apa kangen lelaki itu?" Balas Kayron dengan memakai bahasa Indonesia bernada sinis.
"Dua-duanya" jawab Kayrah cepat.
Mendengar itu membuat Kayron menatap Kayrah dengan tajam. "Udah deh kak, ngapain kangen sama dia? Dia aja nggak kangen sama kakak"
"Tau darimana?" Tanya Kayrah cepat.
Kayron berdecih. "Kalo dia emang rindu sama kakak dia pasti akan menjenguk kakak entah itu setiap bulan atau setahun sekali. Tapi sekarang buktinya apa? Udah lima tahun dan dia apa ada kabar?"
Kayrah langsung menundukkan kepalanya saat mendengar balasan Kayron yang memang benar adanya.
Stevano diam dan terlihat jelas raut wajah bingung darinya karena Stevano tidak tau apa yang dibicarakan oleh kedua adik kakak itu.
Sedangkan Aldebaran, dia hanya mengalihkan pandangannya dan terlihat cuek tanpa mau menggubris adik kakak itu.
"Kak," karena dipanggil, Kayrah pun menatap lawan bicaranya. "Kakak pasti bahagia meskipun tidak ada dia" ucap Kayron memakai bahasa Inggris sambil tersenyum.
"Mau aku bahagia-in kak?" Tanya Stevano menggoda setelah tau apa yang dibicarakan oleh Kayron.
Kayron langsung melayangkan tinjunya tapi berhenti tepat di depan wajah Stevano. "Mau aku aku hajar bung?" Balas Kayron sambil tersenyum.
"Geh" tentu saja Stevano langsung membeku ketika melihat gumpalan tangan Kayron yang terlihat keras berada di depan matanya.
Sedangkan Aldebaran, dia hanya bisa membuang nafas panjang ketika melihat kelakuan teman-temannya yang tidak kunjung berubah.
"Duh, ngagetin aja" ucap Stevano sambil mengalihkan tinju milik Kayron dari depan wajahnya.
Hal itu membuat Kayron kesal tapi dia tidak melakukan apa-apa lagi setelah itu.
Tidak lama setelah itu makanan yang dipesan oleh Kayron pun tiba. Karena tadi Kayron sempat melihat Aldebaran dan Stevano jadi Kayron juga memesankan makanan untuk mereka berdua.
Wajah berbinar menghiasi wajah Stevano setelah melihat makanan yang sedang ditata oleh pelayan di meja mereka.
Hal itu membuat Kayron dan Aldebaran menggelengkan kepalanya karena teman mereka yang satu ini masih saja kekanak-kanakan.
Kayrah yang melihat itu tertawa pelan. Karena setelah lima tahun lamanya dia sendirian sekarang akhirnya dia mendapatkan teman juga meskipun tidak dekat.
"Aku bahagia dengan kalian di sisiku" ucap Kayrah sambil tersenyum begitu lebar.
__ADS_1
like.