
Jleb.
Pisau yang awalnya diarahkan ke Karsein langsung menusuk tubuh Karsein karena ibu terkejut dengan pintu yang dibuka dengan kasar.
"Aaahhh!"
Karsein berteriak dengan keras saat pisau itu menembus kulitnya. Darah mengalir dengan deras seiring dengan wajah Karsein yang mulai memucat.
Ibu terkejut setengah mati. Ibu mundur beberapa langkah menjauhi Karsein yang baru saja ia tusuk dengan tangannya sendiri.
"Mau kemana kau..."
Thalita segera datang dan melumpuhkan ibu. Susah payah Thalita melumpuhkan ibu. Karena tangannya yang sakit ditambah ibu bisa membela diri akhirnya Thalita kewalahan juga.
"SEIN!!"
Kayrah berlari menuju Karsein yang masih terikat di ranjang. Kayrah berusaha melepaskan ikatan yang melilit tangan dan kaki Karsein. Sialnya karena terlalu panik, tangan Kayrah gemetar membuatnya kesusahan membuka tali itu.
"Sein sayang... Bertahanlah sebentar... Mama akan melepaskanmu lalu kita akan ke rumah sakit oke?"
"Mama..."
"Ya! Mama di sini sayang... Maaf... Maaf mama terlambat..."
"Dimana papa ma?" Tanya Karsein lirih.
Tubuh Kayrah membatu dengan senyum kecut yang terpasang di wajah cantiknya. "Tidak. Tidak ada papa sekarang."
Karsein diam setelah mendengar ucapan mamanya. Dirinya sudah tidak punya tenaga untuk bertanya lebih lanjut.
"Kakak..."
Ariadna yang digendong oleh Kayron menuju Kayrah, menangis sekali lagi setelah melihat kondisi kakaknya yang mengenaskan.
Kayrah berhasil membuka semua tali yang mengikat Karsein lalu dirinya menggendong Karsein dengan susah payah.
"Mama..."
Bruk.
Kayrah terjatuh dengan Karsein yang masih berada di pelukannya. Ternyata Kayrah tidak kuat lagi menggendong Karsein. Kayrah merasa dirinya tidak berguna.
"Ria, turun sebentar ya. Om mau gendong kak Sein ke dokter." Kayron mencoba melepaskan pelukan Ariadna yang erat di lehernya.
"Tidak mau! Ria takut! Jangan tinggalkan Ria sendiri om! Jangan tinggalkan Ria seperti kakak yang meninggalkan Ria, hiks..."
Ariadna mengeratkan pelukannya pada Kayron. Dia menangis lagi. Ariadna sangat tidak ingin melepaskan pelukan itu karena takut, jika dia melepaskan pelukan itu maka semua orang yang menyayanginya ini akan meninggalkan dia.
"Ugh... Maaf Sein, maaf. Mama... Mama nggak berguna..."
__ADS_1
Kayrah mulai menangis sesenggukan. Dia bahkan sudah tidak kuat untuk mengangkat tubuh Karsein apalagi menggendongnya. Tenaga Kayrah terkuras habis untuk menemukan Karsein dan Ariadna tadi.
"Kayrah! Kayron! Hah, hah, hah..." Keynan berhenti di depan pintu dengan nafas ngos-ngosan dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Dia sudah bersusah payah menemukan dimana Kayrah dan Kayron didalam rumah yang besar ini.
"Kayrah!"
"Ron!"
Jack dan Stevano tiba tidak lama kemudian. Mereka berdua tidak menyangka, pria paruh baya berambut pirang itu memiliki kelincahan diatas mereka berdua. Apalagi stamina yang dimiliki oleh Keynan. Jack dan Stevano kalah jauh dibandingkan Keynan yang sudah tua.
Keynan menghampiri Kayrah yang menangis sembari memeluk Karsein.
"A..ayah. Ayah! Tolong periksa Sein yah! Dia... Dia salah satu anak Kayrah yah..." Kayrah menemukan harapan setelah melihat ayahnya menghampirinya.
Keynan mengangguk. Dia mulai memeriksa cucu angkatnya itu. Wajah Keynan berubah setelah memeriksa Karsein. Keynan celingak-celinguk mencari sesuatu di dalam ruangan ini.
Tidak menemukan yang dicari, akhirnya Keynan menyobek bajunya sendiri. Keynan menghentikan pendarahan Karsein dengan kain itu.
"Kenapa bisa begini?" Gumam Keynan yang mulai panik.
"Kenapa yah? Kenapa Karsein yah!" Kayrah juga mulai ketakutan saat melihat perubahan wajah ayahnya.
"Detak jantungnya sudah melemah. Bukan hanya itu saja. Otot-otot anak kecil ini sudah..." Keynan tidak berani mengatakan kelanjutannya.
"Kenapa yah?!" Kayrah mulai membentak.
"Apa?" Kayrah sangat terkejut dengan kenyataan itu.
"Hehehe, kalian tidak akan bisa menyelamatkannya! Dia sudah ku suntikkan berbagai macam obat ciptaan ku!" Ibu yang berlutut dengan Thalita yang menahannya mulai tertawa keras seperti orang gila.
Thalita mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka ada seorang ibu seperti ini. Thalita tidak segan lagi, dia memukul kepala ibu degan sangat keras sampai-sampai langsung ibu pingsan seketika.
Kayron yang mendengar juga ikut terkejut, dia tidak menyangka nasib ponakannya akan menjadi seperti ini.
"Bibi Thalita... Ke..kenapa bibi ada di sini..." Tanya Kayrah dengan suara yang bergetar.
Thalita menghela nafas sambil membuang tubuh ibu yang tidak sadarkan diri ke sembarang arah. "Aku diculik oleh wanita ini."
Uhuk. Uhuk.
Keynan yang sibuk memeriksa langsung tersedak saat mendengar ucapan Thalita. Diculik? Kak Thalita yang menyeramkan ini bisa diculik juga??
"Sudahlah. Ayo kita bawa anak itu ke rumah sakit sekarang." Thalita menunjuk Karsein. Thalita sudah tau semuanya tidak akan percaya kalau dirinya diculik.
Keynan mengangguk lalu mengambil tubuh Karsein dari Kayrah. Kayrah berdiri setelah Karsein diangkat oleh ayahnya. Tiba-tiba saja tubuh Kayrah oleng karena kakinya tidak bisa berdiri dengan benar.
"Kamu kenapa?!" Thalita menangkap tubuh Kayrah yang hampir jatuh.
Kayrah tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan sembari meremas dadanya yang terasa sakit. Wajah Kayrah semakin pucat, keringat dingin turun dengan derasnya.
__ADS_1
"Kayrah! Kamu kenapa sayang!" Keynan langsung bertindak cepat saat putrinya merintih kesakitan.
Masih dengan menggendong Karsein, Keynan dengan tangan gemetar memeriksa keadaan Kayrah.
Jack dan Stevano serba salah. Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan.
"Mama..." Mata Karsein sudah setengah tertutup.
Kayrah yang masih kesakitan langsung mengelus pipi Karsein. "Ya sayang, mama di sini..."
Melihat Kayrah yang berwajah pucat membuat emosi Karsein bergejolak. Untuk pertama kalinya, Karsein mengeluarkan ekspresi di wajahnya.
Karsein meneteskan air matanya. Ingin sekali Karsein merasakan sakit yang dirasakan oleh mamanya itu daripada melihat mamanya yang menahan sakit sedemikian rupa.
Sakit di perut Karsein sudah tidak terasa lagi. Perlahan-lahan, semua tubuh Karsein tidak bisa merasakan apapun.
"Maaf ma... Karsein laki-laki tapi nggak bisa melindungi mama... Maaf ma... Hiks..."
"Sein... Mama selalu berharap saat kamu bisa mengeluarkan ekspresi, kamu akan mengeluarkan ekspresi bahagia. Bukan menangis seperti ini..." Kayrah menghapus air mata Karsein.
"Ma..mama... Karsein sayang mama hiks, Karsein juga sayang papa... Tapi..tapi... Karsein.. ma..af ma..."
Kayrah tersenyum lembut, "Sein, tidak perlu--Sein? Sein... Sein! KARSEIN!!"
Kayrah berteriak dengan keras seiring dengan air matanya yang tumpah dengan deras. Tubuh Kayrah bergetar hebat. Antara merasakan sakit di jantungnya dengan sakit di hatinya karena melihat putranya menutup mata untuk selamanya.
Kayron memeluk Ariadna yang menangis semakin keras dengan erat. Kayron memejamkan matanya, mencoba untuk tidak menangis.
"Tidak Sein! Jangan tinggalkan mama! Bangun Sein!!!"
Keynan segera memeriksa denyut nadi Karsein lalu dia menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata. Cobaan apa ini? Pikirnya. Putrinya kesakitan karena penyakit jantungnya kambuh dan sekarang cucu angkat yang baru dia lihat untuk pertama kali, meninggal di pelukannya.
"Sein... Sein..." Tubuh Kayrah ambruk seiring dengan mulutnya yang tidak meneriaki nama Karsein lagi.
Thalita dengan cepat langsung menggendong tubuh Kayrah yang sudah tidak sadarkan diri. Segera saja Thalita keluar dari ruangan itu diikuti oleh Keynan yang menggendong tubuh Karsein, Kayron yang menggendong Ariadna, Jack dan Stevano.
Saat sedang berjalan di koridor, Thalita berpapasan dengan sekelompok anggota geng black rose.
"Kenapa kalian di sini?" Segera saja Thalita bertanya.
Seseorang yang memimpin kelompok itu langsung mengenali Thalita. Dirinya terkejut dan langsung saja dirinya memberi hormat.
"Nyonya besar!"
Thalita mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan itu. Nyonya besar? Apalagi ini? Pikir Thalita yang semakin pusing.
.
Like.
__ADS_1