
Sinar matahari menyambut pagi hari yang cerah ini membuat siapa saja yang merasakan kehangatan sinar matahari saat ini akan merasa tenang.
Begitupun dengan Kayrah yang tidak mau bangun dari tidurnya karena kehangatan yang dipancarkan oleh matahari pagi.
"Hah" Kayrah menutup matanya sambil mencoba menggempalkan tangannya. "Cih, sebenarnya wanita itu bisa dapat racun seperti ini darimana?!" Gumam Kayrah kesal.
Sudah berkali-kali dia mencoba menggerakkan tubuhnya sambil menikmati pancaran sinar matahari pagi tapi tidak peduli seberapa keras dia berusaha, tubuhnya tidak bisa bergerak sesuai keinginannya.
Kayrah membuka matanya perlahan lalu dengan cepat menoleh ke samping untuk mencari dimana Kayron berada. "Ron?"
Kayrah celingak-celinguk mencari Kayron di setiap sudut ruangan tetapi tidak peduli berapa kali dia mencari, Kayron tidak ada di ruangan itu.
Hal itu tentu membuat Kayrah bingung karena biasanya bila dia masuk rumah sakit bahkan hanya karena luka kecil pun, Kayron akan tetap berada di sampingnya sepanjang hari.
Kayrah membuang nafas kesal. Kenapa disaat dirinya membutuhkan Kayron, adiknya itu malah tidak ada di sampingnya.
"Awas aja kalo sampe ketemu, aku omelin satu hari penuh!" Gumam Kayrah kesal.
Kayrah masih menggerutu, lebih tepatnya mengutuk Kayron saat tiba-tiba dirinya terbatuk-batuk. "Adik kayak dia mah lebih baik di--Uhuk! Uhuk!"
Kayrah terkejut dengan dirinya yang tiba-tiba terbatuk. Bukan hanya terbatuk saja, darah juga keluar dari mulutnya membuat bantal yang dia pakai ternoda darah.
"Uhuk! Uhuk! UHUK!!" Kayrah mengumpat dalam hatinya.
Dirinya terbatuk pasti karena penyakitnya kambuh tapi karena dirinya terbatuk dengan posisi tidur, sudah pasti darah yang akan keluar dari mulutnya masuk lagi membuat dirinya double batuk karena penyakit juga karena tersedak darah.
Cklek...
Saat masih terbatuk-batuk, tiba-tiba pintu ruangan Kayrah terbuka dan tampaklah seorang laki-laki yang sedang membawa sebuket bunga berdiri di depan pintu.
Laki-laki itu terkejut ketika melihat Kayrah batuk darah dengan wajah tersiksa. Laki-laki itu melemparkan bunga yang dia bawa dengan asal ke sofa yang tersedia di ruangan dan dengan cepat laki-laki itu menghampiri Kayrah.
Laki-laki itu membantu Kayrah duduk lalu laki-laki itu mengambilkan segelas air yang tersedia di atas meja. Laki-laki itu membantu Kayrah meminum air yang berada di gelas saat sadar untuk saat ini Kayrah sedang dalam keadaan 'lumpuh'.
"Kamu nggak apa?" Tanya laki-laki itu sedikit khawatir.
Kayrah meminum air yang berada di gelas dengan tergesa-gesa sebelum menatap laki-laki yang sedang menatapnya dengan cemas.
Laki-laki itu memundurkan gelasnya ketika air yang berada di dalam gelas sudah habis tak tersisa.
Laki-laki itu menaruh gelas yang kosong kembali ke tempatnya sebelum dia mengambil sapu tangan yang berada di sakunya.
"Diam sebentar" Laki-laki itu membersihkan air yang tumpah saat Kayrah minum tadi. Tidak lupa, dia juga membersihkan darah yang tersisa di bibir Kayrah.
Wajah mereka begitu dekat membuat pipi Kayrah memerah seketika.
"A..Aldebaran"
"Hm?" Yang dipanggil pun masih serius dengan aktivitasnya membersihkan noda di wajah Kayrah. "Ah, aku harus memanggil suster untuk mengganti bantal ini" gumam Aldebaran ketika melihat ada noda darah di bantal yang dipakai Kayrah.
__ADS_1
Aldebaran berbalik dan melangkah maju tetapi sebelum dia sampai pada langkah kedua, Kayrah memanggil. "Al!"
Sontak saja Aldebaran berbalik dan menatap Kayrah. "Ada apa? Apa kamu memerlukan sesuatu?" Tanya Aldebaran.
"Ah, t..tidak. Anu... Kayron... Dimana?" Tanya Kayrah sambil menunduk.
Aldebaran tersenyum tipis saat melihat rona merah di pipi Kayrah. Aldebaran duduk di samping Kayrah lalu berkata, "Katanya dia sibuk"
"Lalu," Kayrah menatap mata abu-abu milik Aldebaran. "Apakah Kayron menyuruhmu kemari untuk menemaniku?"
"Apakah kamu berharap aku kemari karena permintaan Kayron?" Tanya Aldebaran sedikit kecewa.
"Eh? Tidak tidak! Bukan begitu..." Sebenarnya Kayrah sedikit heran dengan sikap Aldebaran sekarang karena saat pertama kali mereka bertemu, Aldebaran adalah lelaki yang dingin. Bukan seperti sekarang.
"Aku kemari karena keinginanku sendiri. Apakah itu tidak boleh?" Tanya Aldebaran sambil menatap mata Kayrah lekat-lekat membuat Kayrah salah tingkah karena ditatap seperti itu.
"Emm... Itu--"
"Hei" panggil Aldebaran menyela ucapan Kayrah. Aldebaran menatap mata Kayrah lekat-lekat sebelum tertawa.
"Lo nggak usah susah-susah ngomong pake bahasa Inggris. Gue bisa bahasa Indonesia" ucap Aldebaran menggunakan bahasa Indonesia dengan fasihnya.
"Eh?" Kayrah menjadi linglung sejenak sebelum berkata menggunakan bahasa Indonesia, "Em.. kamu... Kok bisa pake--"
"Gue dari kecil udah tinggal di Jakarta. Saat SMA gue ikut bokap gue ke Amerika" Aldebaran tau apa yang akan Kayrah ucapkan.
"Oh..." Kayrah mengangguk paham.
"Kalo bahasa Jawa, gimana?" Tanya Kayrah sambil tersenyum lebar. "Ya, anggap saja bahasa Jawa timur lah"
"Eh?" Aldebaran mematung sejenak lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. "Kalo itu sih... Gue... Agak... Sulit"
Kayrah tertawa ngakak saat melihat ekspresi wajah Aldebaran yang seperti menahan malu.
Melihat Kayrah yang tertawa membuat Aldebaran menjadi salah tingkah. Terlihat rona merah di kulit pipinya yang putih. Aldebaran berdiri dari tempatnya lalu mengambil bunga yang sebelumnya dia lempar ke sofa.
Aldebaran berjalan mendekati Kayrah yang masih tertawa sambil mengambil setangkai bunga. Aldebaran membuka plastik yang melindungi bunga itu lalu menyodorkannya pada Kayrah yang sekarang sedang berusaha menghentikan tawanya.
"Aduh..." Kayrah merasa kram di bagian perutnya tetapi dirinya tidak bisa apa-apa. "Apa ini?" Tanya Kayrah sambil menatap bunga yang berada tepat di hadapan mulutnya.
"Coklat" jawab Aldebaran singkat.
Kayrah mengangkat alisnya sambil menatap bunga 'coklat' di hadapannya lalu perlahan dirinya menggigit coklat itu.
"Emh.." gumam Kayrah di sela-sela makannya.
"Makan lagi" ucap Aldebaran yang menopang dagunya untuk menatap wajah Kayrah.
"Tau darimana kalo aku suka coklat?" Tanya Kayrah sambil menggigit coklat itu lagi.
__ADS_1
"Kay--"
"--ron" sela Kayrah lalu tersenyum manis. "Anak itu ternyata masih ingat makanan kesukaan kakaknya" gumam Kayrah terharu.
Aldebaran menatap Kayrah sejenak lalu berkata dengan senyumnya. "Gue sendiri yang bikin coklat ini. Seharusnya Lo merasa terhormat karena baru pertama kali gue bikin kayak ginian"
"Coklatnya kurang manis. Warnanya juga, masa bunga mawar warna coklat? Seharusnya kamu kreatif dikit--"
"Terimakasih. Gue anggap itu sebuah pujian" sela Aldebaran sambil memutar bola matanya malas.
Kayrah tertawa kecil. "Meskipun coklatnya kurang manis tapi yang buat udah cukup manis kok. Malah manisnya kelewatan batas"
Aldebaran membeku sejenak sebelum mendekatkan wajahnya ke coklat yang di makan lagi oleh Kayrah.
Kayrah yang melihat wajah Aldebaran tepat di hadapannya jadi salah tingkah tapi wajahnya terasa seperti tidak bisa di gerakkan juga.
"Gue anggap Lo ngegoda gue"
Aldebaran mendekatkan mulutnya pada coklat yang masih di gigit oleh Kayrah. Tanpa basa-basi Aldebaran juga ikut menggigit coklat itu.
Bibir mereka berdua hampir bersentuhan membuat pipi Kayrah menjadi merah saat itu juga.
Aldebaran tersenyum miring lalu menjauhkan wajahnya dari wajah kaku milik Kayrah yang sudah merah sepenuhnya.
Melihat Kayrah seperti orang idiot yang sedang melongo membuat Aldebaran mati-matian menahan tawanya.
Aldebaran mengulurkan tangannya untuk mengusap coklat yang berada di sudut bibir Kayrah yang masih melongo.
"Jangan melamun. Nanti kesambet setan"
Seketika Kayrah sadar dari lamunannya lalu Kayrah segera membuang pandangannya ke samping.
Aldebaran sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Dirinya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Kayrah.
"Hentikan..." lirih Kayrah yang masih merasa malu karena Aldebaran yang tertawa.
Aldebaran langsung menghentikan tawanya meski masih tertawa kecil.
"Jangan takut sendirian. Gue ada di sisi Lo. Meskipun nggak ada Kayron tapi gue bakal jaga Lo dengan segenap kemampuan gue" ucap Aldebaran yang tiba-tiba serius.
Kayrah sedikit terkejut melihat perubahan Aldebaran tapi dirinya menghargai niat baik Aldebaran.
"Kenapa kamu menjagaku? Apa Kayron yang menyuruhmu?" Tanya Kayrah penasaran.
Aldebaran dengan cepat menggeleng. "Mungkin suatu saat Lo bakal jadi wanita yang gue cintai. Nggak ada salahnya kan gue jaga calon wanita yang gue cintai"
Aldebaran tersenyum. Senyum yang sangat lebar dengan kepala yang dimiring ke kanan. Meskipun wajahnya tersenyum, tetapi hatinya berkata lain.
Kayron udah ngelepas Lo. Ngehancurin kepercayaan Lo. Dan nyakitin perasaan Lo. Gue yakin nggak akan lama lagi dia pasti ninggalin Lo. Bodoh memang. Dia lebih memilih pacarnya itu daripada kakaknya ini. Karena itu, gue bakal ngelakuin apa aja asal bisa bikin Lo bahagia, calon wanita yang gue cintai.
__ADS_1
Like. Maaf ya kalo dikit + nggak jelas. Meskipun libur sekolah tapi Minggu kemarin banyak sekali tugasnya. Jadi jika tugas Minggu ini nggak banyak, saya usahakan update lagi.