I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Amerika


__ADS_3

"Tiba-tiba aku sudah rindu pada adik-adikku" ucap Kayrah sambil terkekeh.


"Hei, kamu baru saja meninggalkan mereka" protes Rangga yang sedang menyetir.


Kayrah tersenyum. "Paman Rangga aku lupa meminta maaf pada adik-adikku"


"Meminta maaf?" Rangga sekilas menoleh untuk menatap Kayrah yang berada di sampingnya. "Untuk apa?"


"Aku tidak bisa menghadiri kompetisi mereka" jelas Kayrah lirih.


Alasan mengapa kedua bocah itu tidak mengantarkan Kayrah ke bandara adalah karena dua bocah itu akan mengikuti perlombaan.


Riana juga tidak ikut mengantarkan Kayrah karena Riana harus mengurus kedua bocah itu dengan istri Rangga, Stefany.


"Halah" Rangga berdecak sebal. "Gitu aja kok dipikirin"


Kayrah terkekeh, "Bibi Fany juga. Aku belum berterimakasih karena dia sudah merawatku bersama Tante Riana selama lima tahun ini"


"Ya, sama-sama" jawab Rangga singkat.


Kayrah langsung menatap Rangga dan dengan bingung Kayrah berkata, "Aku berterimakasih pada bibi Fany. Bukan Paman Rangga"


"Aku hanya mewakili istriku untuk menjawab terimakasihmu itu" jelas Rangga sambil menopang dagunya.


"Tidak bisa! Terimakasihku ini untuk bibi Fany seorang!"


Rangga menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah.


"Lalu kamu tidak berterimakasih pada pamanmu ini?" Tanya Rangga seraya menatap Kayrah sambil mengangkat alisnya.


"Tidak mau" ucap Kayrah sambil membuang pandangannya.


"Astaga"


Kayrah terkekeh saat mendengar decakan sebal dari pamannya itu.


"Paman" panggil Kayrah dengan bahasa Indonesia.


"Hm?" Jawab Rangga yang mulai menanggapi dengan bahasa Indonesia juga.


"Kalau aku tidak terselamatkan di Amerika--"


"Bicara apa kamu?" Sela Rangga dingin. Sambil melajukan mobilnya, pandangan Rangga pun juga ikut menjadi dingin.


Kayrah membuang nafas panjang. "Aku hanya berkata kemungkinan yang terjadi"


"Itu tidak boleh terjadi. Kamu harus sembuh dan Paman ingin melihatmu menikah dengan seseorang kelak"


"Aku hanya berandai-andai Paman"


"Jangan berpikir negatif. Apapun yang terjadi kamu harus sembuh. Paman bahkan rela memberikan organ tubuh Paman padamu bila itu bisa membuatmu sembuh" ucap Rangga sendu.


Bagaimanapun Rangga sudah pernah kehilangan Keysha yang wajahnya sangat mirip dengan gadis di sampingnya ini.


Bila Kayrah sampai ikut Keysha ke alam lain maka Rangga sudah pasti akan merasa sangat frustasi karena dia gagal menjaga dua gadis yang disayanginya.


"Paman teringat bibi Keysha ya?" Tanya Kayrah sambil tersenyum.


Rangga juga tersenyum, "Paman berpikir bagaimana keadaan adik sepupu Paman itu di sana?"


"Bibi Keysha pasti bahagia karena beliau dipertemukan lagi dan bisa bersama lagi dengan kakak yang di sayanginya"

__ADS_1


Rangga terkekeh, "Iya. Bibimu itu sangat menyayangi kakaknya"


"Wajah bibi Keysha mirip denganku ya Paman?" Tanya Kayrah antusias.


Rangga mengangguk, "Sangat mirip. Kalau kamu ingin tau bagaimana wajah kakak yang begitu disayangi oleh bibimu itu maka kamu lihat saja wajah Dicka"


"Paman Dicky ya?"


Rangga mengangguk lagi. "Kenapa juga harus memberi nama yang hampir mirip? Kadang aku nggak ngerti pola pikir Diva" gumam Rangga yang tentu terdengar oleh Kayrah.


Kayrah tertawa, "Kak Dicka dengan paman Dicky. Iya juga ya"


Rangga tersenyum bahagia ketika mendengar Kayrah yang tertawa.


"Paman, katanya bibi Keysha terkena kanker darah ya?" Tanya Kayrah penasaran.


Rangga menghela nafas. "Iya. Kami para saudara bibimu itu baru tau setelah Paman Sammy buka suara"


"Lalu... Bibi Keysha tidak meninggal karena penyakit itu kan?"


"Iya. Bibimu dibunuh dengan bibinya sendiri"


"Siapa bibinya?"


Rangga diam sejenak sebelum berkata, "Ibu tiri Paman Sammy"


"Kenapa kalian percaya pada bibi tiri itu?"


Rangga tertawa miris. "Paman emang bodoh meninggalkan Keysha sendiri dengan wanita itu"


"Eh? Nggak Paman! Paman nggak salah kok!" Ucap Kayrah cepat.


Ucapan itu membuat Kayrah berhenti berbicara.


"Emang... Ayah... Kenapa?" Tanya Kayrah ragu.


"Bodoh! Sangat bodoh!" Umpat Rangga kesal. "Paman nggak pernah percaya pada wanita itu tetapi Keynan malah percaya dengan wanita itu. Paman sangat kesal dengan ayahmu itu karena dia bahkan nggak bisa membela bibi Keysha didepan mamanya sendiri"


"Em... Ayahku..."


"Intinya Keynan sangat bodoh!" Ucap Rangga dengan emosi yang meluap-luap.


Kayrah tersenyum canggung. Bila ayahnya adalah orang bodoh maka harus pada level apa seseorang dikatakan jenius?


"Kayrah"


"Ya Paman?"


Rangga tampak ragu untuk mengatakan apa yang dipikirkannya.


"Em... Bila... Kamu punya masalah, jangan dipendam sendiri ya? Berbagi saja pada Paman dan Paman akan berusaha untuk membantumu. Tenang saja, Paman bisa jaga rahasia kok"


Kayrah tersenyum lebar yang tampak begitu tulus.


Kayrah tau mengapa pamannya ini sangat khawatir karena bagaimanapun, bibi Keysha pernah memendam rasa sakitnya sendiri sampai bahkan saudara-saudaranya pun tidak tau.


Pamannya ini pasti tidak ingin Kayrah memendam masalahnya juga.


"Iya, Kayrah akan bercerita pada Paman"


Rangga tersenyum lalu berkata, "Bagus"

__ADS_1


Mobil yang dikendarai oleh Rangga akhirnya tiba di bandara setempat.


Rangga memarkirkan mobilnya lalu keluar saat mobilnya sudah terparkir rapi sedangkan Kayrah masih mengamati bandara ini.


"Amerika?" Gumam Kayrah pelan. "Apakah aku benar-benar bisa sembuh?"


Memikirkan itu membuat hati Kayrah terasa sakit. Bagaimana bila dia tidak terselamatkan?


Kayrah memejamkan matanya. Dia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang di tampilkan oleh Paman Rangga dan Tante Riana yang sudah merawatnya selama lima tahun?


Kayrah sudah menganggap mereka sebagai orang tuanya karena Keynan dan istrinya bahkan tidak pernah menjenguk Kayrah di Inggris.


"Setidaknya akan ada Aron di Amerika" gumam Kayrah menyemangati diri sendiri.


"Kayrah... Ayo keluar"


Kayrah tersenyum kecil lalu keluar dari mobil dan menatap Rangga yang berdiri dihadapannya sambil membawa koper yang berisi barang-barangnya.


"Iya Paman"


Rangga tersenyum lalu berjalan memasuki bandara dengan Kayrah yang berada di sampingnya.


Mereka berudua berhenti di salah satu tempat diantara luasnya bandara ini.


"Kayrah, di sana jangan lupa minum obatnya. Jangan kecapekan. Istirahat yang cukup. Kalau ada masalah jangan lupa untuk menghubungi Paman ya?"


Kayrah tersenyum dan mengangguk. "Iya Paman"


Setelah mengatakan itu, pengumuman akan keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Kayrah pun terdengar.


Kayrah menatap pamannya lekat-lekat lalu berjinjit hanya agar bisa mencium pipi pamannya.


Rangga terkejut dengan perlakuan Kayrah yang bahkan tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Terimakasih untuk semuanya Paman. Aku sangat menyayangi Paman dan aku tidak akan melupakan Paman juga bibi Riana"


Mata Rangga memerah lalu dengan tangan yang gemetar, Rangga memeluk tubuh Kayrah. "Baik-baik di sana. Kamu harus sembuh"


Kayrah membalas pelukan itu sambil mengangguk. "Aku akan berusaha Paman"


Rangga melepas pelukannya. Matanya sudah meneteskan air mata.


Kayrah dengan lembut menghapus air mata itu. "Aku pergi dulu paman. Jangan menangis"


Kayrah tersenyum lalu mengambil kopernya dan berjalan meninggalkan Rangga.


"Ah..." Rangga ingin sekali menahan tubuh mungil itu agar tidak pergi darinya.


Kayrah berbalik dan menatap pamannya lalu tersenyum lebar dengan tulus. "Aku sangat menyayangi Paman! Dadah Paman!"


Rangga merasakan sakit di hatinya saat melihat senyuman itu.


Senyuman itu seperti senyuman terakhir yang dilihatnya di wajah Keysha dulu.


Rangga menunduk sambil bergumam. "Kayrah... Jangan pergi"


Di sisi lain.


Kayrah membuang nafas panjang lalu bergumam sekali lagi. "Amerika... Tolong buatkan aku kenangan manis di sana"


like.

__ADS_1


__ADS_2