
"Kayrah!"
Kayrah tersenyum kesal saat mendengar teriakan itu ditengah-tengah berisiknya suara helikopter yang datang.
Terlihat seorang laki-laki berambut pirang melambaikan tangannya dari helikopter.
Helikopter itu perlahan turun di tengah-tengah reruntuhan rumah. Seseorang langsung keluar setelah helikopter itu turun.
Kayrah langsung menjitak kepala orang yang akan memeluknya itu. "Masih tetep aja nggak sopan! Aku ini kakakmu tau!"
"Duh" Orang yang tidak lain adalah Kayron, mengusap kepalanya yang di jitak oleh Kayrah. "Udah lama nggak ketemu, sekali ketemu main jitak aja" gerutu Kayron kesal.
"Udah lama nggak ketemu sekali ketemu memaksa kakakmu ini berolahraga yang melelahkan? Apa kamu nggak takut penyakit kakakmu ini kambuh?" Balas Kayrah sinis.
"Geh" Kayron melotot ke arah Kayrah karena apa yang dikatakan Kayrah sangat tepat dengan sasaran.
"Apa?" Tantang Kayrah sembari bersedekap dada.
Kayron menatap Kayrah lekat-lekat sampai pada akhirnya pandangan Kayron terarah pada sekelompok orang yang tumbang di tengah-tengah reruntuhan.
"Itu..." Kayron langsung menatap Kayrah dengan khawatir lalu Kayron menggoyang-goyangkan tubuh Kayrah. "Kak! Kakak nggak apa-apa?! Ada yang sakit nggak? Ayo kerumah sakit sekarang"
Setelah Kayron selesai menggoyangkan tubuh Kayrah, seketika Kayrah tumbang ke tubuh Kayron.
"Eh?! Kak! Tuh kan! Apa yang sakit?!"
"Pusing bego!" Meskipun kepala Kayrah masih pusing tetapi Kayrah masih bisa menatap wajah Kayron yang dekat dengannya.
"Hahahaha" Kayron akhirnya memeluk kakak tersayangnya ini dengan erat. Dengan pelukan itu bisa Kayrah rasakan tubuh Kayron gemetar.
Kayrah tersenyum simpul. Dirinya merasa beruntung mempunyai saudara kembar seperti Kayron karena hanya dirinya terkena masalah kecil saja sudah khawatir sampai segitunya.
"Ron" panggil Kayrah pelan.
"Apa?"
"Di reruntuhan ini ada banyak mayat. Kamu tau kan apa yang ku mau?"
Kayron menghela nafas, sambil membelai rambut Kayrah, Kayron berkata, "Iya-iya, nanti biar ku urus"
"Dan juga..."
"Apa lagi?"
Kayrah menatap wajah Kayron yang sedang menatapnya. "Pria kekar itu kasihan"
Dengan cepat Kayron menjitak kepala Kayrah. "Selalu begini"
Kayrah tersenyum lebar, "Tolong ya?"
"Iya"
Setelah mendengar jawaban itu Kayrah membalas pelukan Kayron dengan tak kalah eratnya sambil berkata.
"Aron"
"Apa lagi sih?" Tanya Kayron jengah.
__ADS_1
"Aku..." Tubuh Kayrah perlahan mulai lemas di pelukan Kayron. "Capek"
.
***
.
Perlahan Kayrah membuka matanya yang masih terasa berat. Saat dirinya belum sepenuhnya sadar, sebuah suara langsung menyambutnya.
"Udah bangun? Enak tidurnya?"
Kayrah langsung menoleh dan dirinya di sambut oleh wajah garang beserta cemas milik Kayron.
"Aku... Dimana?"
Kayron memutar bola matanya malas. "Rumah sakit"
"Sejak kapan?" Tanya Kayrah sambil berusaha merubah posisinya menjadi duduk.
"Satu Minggu yang lalu"
"Apa?" Kayrah dengan mata yang lebar langsung mengambil tangan Kayron dan meremasnya. "Lalu bagaimana keadaan orang-orang itu?!"
"Kak! Kamu sedang sakit tapi kenapa tidak memikirkan diri sendiri dan malah memikirkan orang lain?!" Tanya Kayron geram.
"Memangnya aku kenapa? Toh sakitku juga itu-itu aja kan" ucap Kayrah meremehkan.
Kayron sudah cukup geram dengan Kayrah yang selalu meremehkan penyakit yang dia derita.
"Aku kira kenapa kakak semakin kurus dari terakhir kali ku lihat, ternyata penyebabnya malah membuat aku makin frustasi!"
"Kakak setiap malam sering keringat dingin? Terus kakak batuk-batuk dalam jangka waktu yang lama? Lalu kakak nggak nafsu makan? Dan kakak belakang sering tidak berenergi bukan?" Tanya Kayron beruntun.
"Eh? I-iya... Emang kenapa?"
"Arrgh!" Kayron menjambak rambutnya dan seketika air matanya keluar tanpa bisa ditahan lagi.
"Loh? Loh! Kamu kenapa?" Kayrah menjadi bingung sekaligus panik ketika melihat adiknya menangis tanpa sebab.
"Kenapa kakak nggak bilang ke Paman Rangga?! Kenapa kakak nggak bilang kalo kakak sering sakit?!" Tanya Kayron sambil menangis.
"Hah? Aku... Ku kira itu hanya sakit flu biasa. Memang ada apa sih?" Tanya Kayrah yang panik ketika mendengar pertanyaan Kayron itu.
"Belakang ini nyeri dada kakak semakin berkali-kali lebih sakit dari biasanya kan?" Tanya Kayron sambil mendongak untuk menatap wajah Kayrah.
Kayrah tersenyum sambil menghapus air mata di pipi adiknya itu. "Nggak usah kamu pikirin. Itu biar jadi urusan kakak"
"Kakak!"
Kayrah terkekeh ketika melihat Kayron yang sedang dalam kondisi ngambek. "Kamu udah berumur dua puluh tahun tapi masih bertingkah seperti anak kecil?"
"Tau ah!"
Kayrah tertawa keras membuat Kayron yang mendengarnya kagum dengan ketegaran yang dimiliki oleh kakaknya ini.
Kayron tidak bodoh. Kayron pasti tau kakaknya sudah tau tentang penyakit yang baru dia tau ini karena kakaknya sangat pintar.
__ADS_1
"Kakak udah tau kan kalo kakak juga terkena penyakit TBC?" Kayron memelankan suaranya saat mengatakan penyakit itu.
Kayrah menghentikan tawanya lalu tersenyum miris. "Iya. Kakak udah tau dari awal"
"Kenapa kakak nggak bilang?" Tanya Kayron yang matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Karena kakak nggak mau jadi beban keluarga. Toh sebentar lagi kakak akan mati" jawab Kayrah riang.
"Kakak bicara apa?!" Kayron yang geram langsung memeluk Kayrah. "Kakak harus sembuh apapun yang terjadi!"
Kayrah tertawa kecil. "Ucapan itu persis dengan ucapan Paman Rangga"
"Kak, meskipun ayah dan bunda nggak peduli sama kakak tapi masih ada aku yang sangat menyayangi kakak" Kayron membelai rambut Kayrah.
"Iya," Kayrah memeluk Kayron dengan erat. "Aku nggak tau apa yang akan terjadi bila kamu udah nggak peduli sama kakakmu ini Ron"
Kayron memejamkan matanya lalu berkata, "Kakak mau nggak berkunjung ke kampusku?"
"Mau dong!" Kayrah dengan cepat melepas pelukannya dan berkata dengan semangat.
.
***
.
"Pokoknya kamu nggak boleh pikirin urusan kakak! Kamu harus belajar dan mengejar mimpi yang kamu dambakan dari kecil" ucap Kayrah yang tidak berhenti berceloteh dari awal perjalanan tadi.
Kayron yang sedang mengemudi pun langsung memutar bola matanya malas karena dia sudah sangat malas mendengar ceramah dari kakaknya ini.
Sekarang mereka berdua sedang berada di dalam mobil menuju ke kampus tempat Kayron belajar saat ini.
"Perusahaan udah ada jadi aku tinggal melanjutkan perusahaan kakek dan nenek" jawab Kayron santai.
Cita-cita Kayron dari dulu adalah menjadi pengusaha seperti kakek dan neneknya. Tentu cita-cita itu di sambut dengan bahagia oleh kakek dan neneknya karena bagaimanapun mereka sudah tua dan anak-anak mereka tidak ada yang mau melanjutkan perusahaan itu.
Keynan yang selaku ayah dari Kayron juga mendukung apapun cita-cita yang dipilih oleh anaknya itu.
"Kakak lebih bahagia andaikan kamu mendirikan usaha sendiri dari bawah. Bukan hanya melanjutkan perusahaan milik kakek dan nenek saja"
Kayron tidak menjawab, hanya tersenyum saja.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki gedung bertingkat yang sangat mewah.
Kayron memarkirkan mobil itu ke tempat parkir khusus seperti biasanya.
Setelah itu Kayron turun dari mobil lalu dia berlari membukakan pintu untuk Kayrah.
"Terimakasih" ucap Kayrah saat pintunya di bukakan oleh Kayron.
Kayron tersenyum lalu berkata, "Selamat datang di Milestone university"
Kayrah tertawa lalu berkata dengan riang. "Kampus ini adalah batu loncatan geng black rose bukan?"
.
.
__ADS_1
.
Yang belum like dari awal mohon dukungan kalian:)