I'M TIRED 2

I'M TIRED 2
Namaku...


__ADS_3

"Nggak tau yah. Saat kita sampai tadi udah banyak preman di sini." Jawab Kayron sedikit cemas dengan keadaan kedua ponakannya itu.


Keynan mengerutkan keningnya lalu pandangannya mengarah pada Kayrah yang mengangkat tubuh salah satu preman dengan mudahnya.


"Katakan mengapa kalian di sini!" Bentak Kayrah.


Preman itu bungkam.


Kayrah tidak segan lagi. Langsung saja dia menyiksa preman itu dengan caranya. Sampai beberapa saat akhirnya preman itu mau mengaku juga.


"Kami.. kami mendapat perintah untuk menculik anak-anak yang tinggal di sini..." Jawab preman itu ketakutan.


Mata Kayrah melebar begitupun dengan Kayron yang langsung masuk ke dalam rumah. Kayrah menunggu Kayron di luar karena harus menjaga para preman ini.


Tidak lama kemudian, Kayron keluar dengan wajah pucatnya. Dia menggeleng lesu saat matanya bertemu dengan mata Kayrah.


Bugh.


"Katakan dimana anak-anakku sekarang!!"


Kayrah menghajar preman yang berada di tangannya dengan nafas tidak teratur. Emosinya menggebu-gebu karena terlalu cemas dengan keadaan kedua anaknya.


"Ampun! Ampun!"


Preman yang dihajar hanya bisa meminta ampun sambil mengatakan semuanya tanpa kebohongan sedikitpun.


Keynan menggeleng ketika melihat kekejaman putrinya yang sangat mirip dengan Keysha itu.


Kayrah melepaskan cengkramannya pada preman itu sambil mengelap darah yang ada di wajahnya. Tentu saja itu adalah darah preman yang Kayrah hajar. Kayrah berjalan menuju ayahnya.


"Ayah, bisakah ayah menghubungi geng black rose untuk mengurus semua preman ini?" Pinta Kayrah benar-benar berharap.


Keynan diam sejenak sebelum mengangguk. Keynan menghubungi seseorang di telfonnya lalu sepuluh menit kemudian ada sekelompok geng black rose yang datang.


"Cuma kalian?" Keynan mengangkat alisnya sembari menatap satu persatu wajah beberapa anggota yang datang.


"Tidak kak. Kebetulan kami ada di sekitar sini saat mendapat kabar jadi kami langsung kemari. Anggota yang lain akan segera kemari." Jelas salah satu anggota yang datang.


Keynan mengangguk puas lalu dia menatap Kayrah yang tatapannya mengerikan sekarang.


"Urus para preman itu dengan baik. Aku mau mereka mendapat siksaan yang sangat menyakitkan sampai-sampai mereka memohon untuk di bunuh." Ucap Kayrah dengan dinginnya.


Anggota geng black rose yang datang menatap gadis berambut pirang itu dengan bingung. Bagaimanapun anggota geng itu hanya mengetahui Keynan dan akan menuruti perintah Keynan.


"Lakukan sesuai keinginannya." Perintah Keynan ketika mengetahui apa yang dipikirkan oleh anggota itu.

__ADS_1


Anggota geng itu mengangguk secara serentak. "Baik!"


Setelah mendengar jawaban yang memuaskan, Kayrah menghela nafas panjang.


"Ini akan menjadi hari yang sangat panjang.." gumam Kayrah pelan. Kayrah memijat keningnya lalu berkata, "Mari kita menjemput Karsein dan Ariadna. Mereka berdua pasti sangat ketakutan sekarang."


.


***


.


"Huaaa kakak... Huhuhu... Kakaakk...." Ariadna menangis sembari memanggil Karsein yang diikat di sebuah ranjang.


Karsein hanya bisa menampilkan ekspresi datarnya meskipun dirinya sangat ingin tersenyum untuk menenangkan adik perempuannya ini. Tangannya tidak bisa mengelus kepala Ariadna karena tengah diikat di sisi ranjang.


"Ria... Jangan menangis... Mama dan papa pasti akan menjemput kita..."


"Huuuu... Kapan mama dan papa sampai kak... Ria takut..."


"Jangan takut. Kakak ada di sini. Menemanimu sampai mama dan papa datang..."


"Hiks, janji kakak nggak akan meninggalkan Ria sampai mama dan papa datang?"


"Iya. Janji." Ucap Karsein penuh keyakinan.


Karsein mengangguk pelan. "Meskipun kakak pengen tidur tapi kakak akan menemanimu dulu sampai mama dan papa menjemput."


"Pulang nanti kita akan tidur bersama ya!" Ariadna tidak menangis lagi.


Karsein diam. Dia memandangi wajah adik kecilnya itu lekat-lekat. Ingin sekali Karsein mengatakan 'iya' dengan yakin tapi kata-katanya itu tidak mau keluar.


Tubuh Karsein sudah mati rasa sekarang karena banyaknya obat-obatan asing yang disuntikkan padanya. Karsein bahkan tidak yakin bisa mempertahankan nyawanya dengan kondisinya saat ini.


Brak.


Ariadna dan Karsein menatap seorang wanita yang sedang membawa wanita lain masuk.


"Aduuhhh pelan-pelan dong!" Wanita yang dibawa segera mengajukan protesnya karena dirinya dibawa dengan sangat kasar.


"Jangan banyak bicara!"


Karsein dan Ariadna ketakutan ketika melihat wanita yang dibawa mulai diikat di sebuah kursi.


"K..kak... Hiks..."

__ADS_1


"Jangan... Jangan menangis... Kakak ada di sini jadi jangan takut oke?" Karsein berusaha keras untuk menenangkan adiknya agar tidak menangis lagi.


Setelah mengikat wanita yang dibawa, wanita lainnya segera menatap Ariadna dan Karsein dengan tajam.


"Halo anak-anakku, apa kalian rindu pada ibu kalian ini?" Wanita lainnya merentangkan kedua tangan sembari tersenyum lebar.


Ariadna semakin ketakutan saat melihat senyuman itu. "Kak!" Ariadna menggenggam erat tangan kakaknya yang terikat.


"Hei hei... Kalian membuat ibu sedih loh..." Wanita lainnya yang menyebut dirinya ibu memasang ekspresi sedih. Tentu saja ekspresi itu dibuat-buat.


"I..bu..." Karsein berkata dengan lirih. Dia juga ketakutan sebenarnya tapi karena kekurangannya yang tidak bisa menampilkan ekspresi jadi menutupi ketakutannya itu.


"Hahaha! Putraku Karsein!" Ibu tertawa keras saat Karsein memanggilnya ibu.


Dia adalah wanita pemilik panti asuhan yang ia hancurkan sendiri tanpa memikirkan anak-anak yang berada di dalam. Sayang sekali anak-anak itu tidak ikut meledak ketika bom yang dia pasang meledak.


Wanita yang dipanggil Ibu ditugaskan oleh bos-nya untuk memenuhi permintaan pelanggan yang menginginkan organ dalam manusia. Jadi ibu menjadikan Karsein dan Ariadna sebagai korban karena dia merasa kedua anak itu masihlah anak-anaknya.


"Ternyata kau punya anak ya... Tidak begitu terlihat di wajahmu kalau kau seorang ibu." Wanita yang terikat segera berkomentar tanpa rasa takut.


"Tentu saja." Ibu menjawabnya dengan cepat. "Lalu aku akan membunuh anak-anak itu dan menjadikanmu sebagai kambing hitam."


"Menjadikanku sebagai kambing hitam?" Wanita yang terikat mengangkat alisnya.


Wanita itu berada di sini saat ini karena dia berpikir akan seru ketika ada seseorang yang membawanya paksa atau bisa dibilang menculiknya.


Wanita itu tidak melawan karena selama hidupnya dia tidak pernah diculik. Dia pikir ini akan menarik tapi dia tidak menyangka bahwa ini lebih menarik dari yang ia kira.


"Ya. Aku harus menjaga nama baik bosku karena sebentar lagi ketua besar geng black rose akan berkunjung ke negara ini."


"Lalu?" Wanita yang terikat bingung.


"Karena kau akan menjadi kambing hitamku maka aku akan memberitahumu." Ibu menatap wanita yang terikat. "Bos harus memberikan kesan baik pada ketua besar itu agar jabatanya naik di geng black rose."


Wanita itu memutar bola matanya malas. Ada beberapa keriput di wajahnya tetapi aura kecantikannya tidaklah pudar membuat orang-orang yang melihat langsung tau bahwa di masa muda wanita itu pasti begitu cantik.


"Oh ya, siapa namamu?"


"Aku?" Wanita yang terikat bertanya balik.


"Terus siapa lagi?" Ibu menjadi jengah. Dilihat pun ibu yakin bahwa wanita itu seumuran dengannya.


Wanita yang terikat diam sebentar sebelum berkata, "Thalita. Namaku Thalita."


.

__ADS_1


Like.


__ADS_2