
Sudah beberapa hari terlewati sejak Kayrah dipindahkan ke ruang inap. Kayrah selalu melamun sejak hari itu. Sebenarnya Kayrah marah karena keluarganya mengubur Karsein tanpa memberitahu dirinya sama sekali.
Bagaimanapun Karsein adalah anaknya. Kayrah semakin merasa bersalah karena tidak bisa mengantar Karsein ke peristirahatan terakhirnya.
Beruntung masih ada Ariadna yang setiap hari dibawa oleh Kayron ke rumah sakit untuk menjenguknya. Akhir-akhir ini Kayron sering menjenguk Kayrah membuat Kayrah heran bagaimana keadaan Caroline jika Kayron kemari setiap saat?
Tapi Kayrah tidak memikirkan itu lagi. Kayron berada di sisinya saja sudah mengangkat sedikit kesedihan Kayrah.
Jack tidak pernah mengunjungi Kayrah begitupun dengan Ricard. Katanya, setelah Jack pulang dari mengantar Kayrah ke rumah sakit hari itu, kepala Jack tiba-tiba pusing sampai pingsan.
Setelah itu Kayrah tidak tau lagi bagaimana kabar Jack karena Keynan tidak memberitahunya. Bukan tidak ingin memberitahu, tapi Keynan juga tidak tau. Ricard tidak pernah muncul ataupun mengubungi mereka lagi setelah mengatakan Jack pingsan karena sakit kepala.
Bahkan Thalita sampai mengunjungi rumah Ricard yang berada di Amerika tapi Thalita tidak menemukan keberadaan ayah dan anak itu.
"Uhuk, uhuk!"
Saat sedang melamun, tiba-tiba Kayrah terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya membuat semua orang yang berada di ruangan itu langsung berdiri karena khawatir.
"Kayrah..." Rangga yang berada paling dekat dengan Kayrah langsung memberikan sapu tangan pada Kayrah.
"Terimakasih Paman." Kayrah mengambil sapu tangan itu lalu membersihkan darah yang keluar dari mulutnya.
Setelah membersihkan darah itu, Kayrah kembali melamun lagi.
"Sayang apa ada yang sakit?" Dahlia menghampiri Kayrah sambil tersenyum lembut.
Kayrah menggeleng tanpa menatap lawan bicaranya. "Aku tidak apa-apa bunda."
"Sungguh?"
"Bunda duduk saja, temani nenek bicara. Aku baik-baik saja."
Dahlia tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Kayrah. Dahlia duduk kembali di hadapan ibu mertuanya, Ningsih, yang adalah ibu dari Keynan.
Keadaan ruangan itu menjadi hening lagi. Ningsih, Rangga, Sammy, Keynan, Dahlia, Diva, dan Riana menatap Kayrah lekat-lekat. Mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Kayrah.
"Kay--"
"Paman Rangga, aku capek."
Mendengar itu Rangga langsung mendekati Kayrah. Rangga mengelus tangan Kayrah membuat Kayrah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa?"
Kayrah menunjuk jantungnya sambil tersenyum miris. "Aku lelah Paman. Sakit sekali rasanya. Setiap detik, setiap jantungku berdetak akan terasa seperti tercabik--Uhuk! Uhuk!"
Rangga memberikan tissue yang sudah disediakan karena sapu tangannya tadi sudah terpakai. Kayrah mengambil tissue itu untuk membersihkan darah yang hampir saja menetes di selimut rumah sakit.
"Istirahatlah. Kamu akan merasa baikan setelah tidur. Paman akan menemanimu, menjagamu, dan selalu berada di sisimu... Kayrah."
Cklek...
Pintu ruangan Kayrah terbuka dan tampaklah pemuda tampan dengan pria paruh baya di sampingnya.
__ADS_1
.
***
.
"Kenapa kau nggak bilang?!" Stevano berteriak marah pada Kayron yang menatapnya dengan malas.
"Bilang apa?"
"Kalau kau punya hubungan dengan geng black rose?! Bahkan ketua besar geng black rose adalah bibimu?!"
Stevano marah karena Kayron tidak pernah menceritakan tentang ini. Stevano sangat terkejut saat tau ternyata sahabatnya ini mempunyai hubungan dengan ketua yang memimpin seluruh geng black rose.
"Untuk apa? Toh, cerita nggak cerita pun sama aja." Jawab Kayron enteng.
Ingin sekali rasanya Stevano menjitak kepala Kayron saat ini juga. Stevano mengatur emosinya yang bergejolak.
"Hei, kau tau tidak..."
"Tidak." Kayron benar-benar malas sekarang.
"Bodoh! Yang membuat keluargaku jadi seperti ini itu sebenarnya geng black rose!"
Mata Kayron melebar saat mendengar fakta itu. Sekarang Kayron memandang Stevano seperti orang menuntut penjelasan. "Apa yang kau bilang?"
Jika memang benar seperti ini bukankah seharusnya Kayron tidak perlu menjadi kekasih Caroline untuk menyelamatkan keluarga Stevano? Kayron bisa saja langsung meminta Thalita untuk melepaskan keluarga Stevano!
"Kepala universitas Milestone adalah bawahan geng black rose!" Ulang Stevano lebih jelas.
"Aku akan ke rumah sakit sekarang." Kayron berlari menuju mobilnya. Kali ini Kayron sungguh salah perhitungan.
.
***
.
Di sebuah pemakaman umum, seorang pemuda terlihat sedang berlutut sembari menangis di salah satu makam yang masih baru. Tidak jauh darinya ada pemuda lain yang mengenakan jas rapi seperti seorang tuan muda dari keluarga kaya.
"Maaf... Maaf Sein, papa tidak bisa menjagamu..." Aldebaran yang berlutut di depan makam Karsein, berkali-kali mengucapkan permintaan maaf.
Dunia Aldebaran runtuh seketika saat membaca pesan dari Kayron yang mengabarkan bahwa Karsein, putra angkatnya dengan Kayrah, meninggal.
Tanpa berpikir panjang, Aldebaran langsung menuju pemakaman umum yang diberitahukan oleh Kayron. Melihat wajah Aldebaran yang pucat pasi, Anderson--kakak Aldebaran--langsung mengejarnya.
Tidak biasanya Aldebaran berperlaku seperti ini, apalagi mereka sedang dalam rapat dengan para petinggi perusahaan saat itu. Maka dari itu Anderson mengikuti Aldebaran karena khawatir terjadi apa-apa.
Sekarang Anderson hanya bisa melihat Aldebaran menangis di depan sebuah makam. Bingung memang, tapi Anderson tidak mau menganggu Aldebaran terlebih dahulu karena tau adiknya itu butuh waktu sendiri.
"Kak..." Aldebaran melirik kakaknya yang berada tidak jauh darinya.
"Hm?"
__ADS_1
"Jika... Jika aku membawa dua orang lain untuk ikut dengan kita... Bolehkah?"
"Siapa yang ingin kau ajak?"
Aldebaran diam sejenak lalu berkata, "Kekasih yang akan menjadi istriku juga putri angkatku."
Anderson menatap Aldebaran lekat-lekat, tidak percaya kalau adiknya punya kekasih bahkan adiknya itu serius ingin menjadikan kekasihnya sebagai istri.
"Hahaha! Baiklah, tidak masalah menambah dua orang lagi." Meskipun masih tidak percaya tapi Anderson tetap terlihat senang.
Aldebaran tersenyum. Senyum yang bahkan jarang dilihat oleh Anderson meskipun dirinya adalah kakak Aldebaran.
"Kalau begitu, tolong bantu aku melamarnya..."
.
***
.
Markas geng black rose yang berada di Amerika dibangun jauh dari pemukiman warga sipil. Kenapa? Karena jika markas itu di bangun dekat dengan pemukiman maka sudah pasti warga akan ketakutan setiap saat.
Markas itu terlihat horor dengan aura mengerikan yang menyelimuti gedung besar itu. Meskipun banyak penerangan di markas itu tetapi tidak bisa menghapus kesan 'menakutkan' yang terlihat.
Apalagi banyak orang bermuka seram seperti preman keluar-masuk dari markas itu. Ditambah jeritan pilu yang terdengar setiap hari dari sana. Jeritan yang terdengar begitu menyiksa sampai ke tulang sumsum orang yang mendengarnya.
Jika jeritan itu mulai terdengar, terdengar juga suara hewan-hewan yang mengerang kelaparan.
Tapi hari ini berbeda. Bukan tidak terdengar jeritan dari markas geng black rose, tapi suara jeritan itu lebih keras dan lebih terdengar sangat memilukan.
Suara cambuk terdengar beriringan dengan jeritan itu. Teriakan-teriakan memohon ampunan tidak menghentikan suara cambuk itu.
"Kau masih tidak mau mengaku?" Thalita mengangkat alisnya sembari menatap wanita yang sudah membunuh putra Kayrah, Karsein.
Wanita itu atau yang kerap dipanggil 'ibu', berlutut sembari mengeluarkan air mata dengan deras.
"Ha..hahaha! Kau pikir aku akan mengatakannya hanya karena kau cambuk? Hiks." Wanita itu tertawa sambil sesenggukan.
Thalita mengerutkan keningnya, begitupun dengan para anggota geng black rose yang berada di sisinya untuk berjaga-jaga. Anggota geng black rose yang memegang cambuk juga sama herannya.
Jelas tadi mereka mendengar ibu berteriak meminta ampunan tetapi saat cambuk sudah berhenti diarahkan ke tubuhnya, ibu malah bersikap seperti ini.
Anggota geng black rose menganggap ibu ingin mati karena berani mempermainkan ketua besar mereka.
Thalita menghela nafas panjang lalu berdiri dari duduknya dan memerintahkan salah satu anggota geng black rose yang berada di sisinya.
"Tolong bawakan aku air garam dan obat merah yang banyak."
"Baik."
Thalita membuka jaket yang menutupi tubuhnya, meskipun Thalita sudah tua tetapi saat muda Thalita sudah terlatih dengan baik jadi dia mempunyai cara sendiri untuk mengintrogasi musuh.
"Kau yang memaksaku turun tangan. Ingatlah, aku tidak akan berhenti meski kau meminta ampun sambil menangis darah sekalipun. Jika kau tidak segera mengatakan siapa tuanmu maka aku bisa bersikap lebih kejam daripada dirimu."
__ADS_1
.
Like.