
Rangga tidak menjawab perkataan Kayrah sama sekali. Bahkan bisa dibilang dirinya terlalu terkejut dengan pertanyaan Kayrah ini sampai-sampai dia tidak bisa memikirkan jawaban yang pantas untuk pertanyaan itu.
"Sudahlah Paman, meskipun aku menelfon ayah, beliau pasti tidak akan kemari dan itu bisa membuatku makin sakit hati. Jadi lebih baik aku diam saja"
"Sayang, kamu tidak boleh begitu... Bagaimanapun juga dia tetap ayahmu" ucap Rangga dengan lembut.
Kayrah diam sebentar. "Paman... Kenapa bukan Paman saja yang menjadi ayahku?" Gumam Kayrah pelan.
"....."
"Ah" Kayrah tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan. "A..ahahaha, Paman... Itu... Kayrah... Tutup dulu yaa! Sampai jumpa Paman!"
Kayrah cepat-cepat mematikan telfon itu lalu membuang nafas panjang.
Pandangan Kayrah teralihkan pada Aldebaran yang sedang bermain bersama Ariadna dan Karsein ketika dirinya sedang bercakap lewat telefon dengan pamannya.
Melihat keceriaan kedua anak angkatnya itu membuat Kayrah tersenyum juga. "Al... Kamu sudah pantas menjadi seorang ayah"
Aldebaran langsung mengalihkan pandangannya pada Kayrah ketika mendengar perkataan Kayrah. Senyuman lebar terpasang di wajah Aldebaran.
"Dan kamu yang menjadi ibunya"
.
***
.
Kayrah menatap langit-langit ruangannya yang bewarna putih dengan datar. Dia bosan karena harus dikurung di ruangan ini tanpa boleh keluar. Lebih tepatnya Aldebaran yang melarang keluar. Meskipun begitu, Aldebaran sempatkan di sela-sela kesibukannya untuk mengunjungi Kayrah tetapi ada saatnya Aldebaran sibuk sampai tidak bisa mengunjunginya seperti hari ini.
Sampai malam hari Kayrah menunggu Aldebaran datang tetapi tidak ada tanda-tanda Aldebaran akan datang hari ini.
Beberapa saat kemudian Kayrah menghela nafas. "Kabur sebentar nggak apa kan?" Gumam Kayrah pelan.
Kayrah tersenyum licik lalu perlahan menatap infus yang terpasang di tangannya. Tangan Kayrah terulur untuk melepaskan infus itu.
"Taman dekat sini nggak terlalu jauh kok" Kayrah terkekeh dengan kata-kata yang dia ucapkan.
Kayrah berdiri dari tempatnya sambil memakai jaket yang sengaja Aldebaran tinggalkan kemarin untuk Kayrah.
"Cuma sebentar kok" ucap Kayrah sambil menekan dadanya. "Memang masih sakit sih. Tapi cuma sebentar saja, kumohon bertahanlah"
Kayrah menarik nafas dalam-dalam lalu keluar dari kamarnya sambil mengendap-endap. Kayrah berusaha bersikap netral saat melewati para suster juga dokter yang berpapasan dengannya.
Saat Kayrah akan bernafas lega karena hampir berhasil keluar dari rumah sakit, dia dikejutkan dengan datangnya dokter yang merawatnya selama dia di Amerika.
"******" gumam Kayrah yang sembunyi dibalik dinding.
Kayrah dengan cepat berlari menghindari dokter itu tanpa memikirkan kondisinya sangking kagetnya dia.
Deg. Deg. Deg.
Detak jantungnya semakin cepat saat Kayrah masih tidak mau berhenti berlari.
Kayrah secara reflek meremas bajunya saat perhatiannya terfokuskan pada dokter itu.
"Ah!" Kayrah berbelok lalu berlari lagi dan sampailah dia pada pintu utama rumah sakit ini. Lebih tepatnya Kayrah memutari rumah sakit ini untuk menghindari sang dokter.
"Gila, ternyata besar banget nih rumah sakit" ucap Kayrah sambil berusaha berlari lagi keluar dari rumah sakit.
Saat dirasa sudah aman, Kayrah berhenti lalu mengatur nafasnya yang tidak karuan. Sakit sekali rasanya. Jantungnya seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
Tapi meskipun begitu Kayrah masih bisa tersenyum. Kayrah menarik nafasnya dalam-dalam. Udara malam diluar rumah sakit yang sangat dia rindukan akhirnya terasakan juga saat ini.
Kayrah berjalan santai meskipun dia masih merasakan sakit karena Kayrah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang saat ini.
__ADS_1
Setelah berjalan tidak jauh dari rumah sakit akhirnya Kayrah sampai juga pada taman yang, bisa dibilang, sepi dengan pengunjung itu.
Kayrah malah bernafas lega karena dia memang ingin sendiri tanpa ada kebisingan.
Kayrah memilih salah satu tempat duduk lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat satu bulan besar dikelilingi oleh bintang-bintang bercahaya terang.
Kayrah mengulurkan tangannya ke langit, seakan-akan menggapai sebuah bintang yang paling cerah cahayanya.
"Kalau saja ada Aldebaran saat ini"
Kayrah tersenyum saat membayangkan wajah Aldebaran di tengah bulatnya bulan yang besar. Membayangkan itu membuat Kayrah tertawa karena bukan wajah tampan Aldebaran yang muncul di bulan tetapi malah wajah konyol Aldebaran yang dia ingat.
Tiba-tiba Kayrah meremas bajunya saat rasa sakit mulai menyerang lagi. "Sepertinya aku harus kembali sekarang"
Kayrah mengatur nafasnya sambil berusaha berdiri dari duduknya. Saat akan melangkah pergi, tubuh Kayrah membeku begitupun dengan Kayron dan Caroline yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Kayrah dihadapan mereka.
"Ron..." Lirih Kayrah sambil melihat mata Kayron yang berubah menjadi dingin.
"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Caroline tidak suka.
Kayrah mengalihkan pandangannya pada Caroline yang menatapnya dengan kesal. "Aku ingin jalan-jalan seben--"
"Kabur dari rumah sakit?" Sela Kayron datar.
"Oh? Dia dirawat di rumah sakit dekat taman ini?" Tanya Caroline sambil menatap Kayron dengan kesal. "Jadi kamu mengajakku ke taman ini agar kamu bisa bertemu dengan kakakmu?"
"Tentu tidak." Jawab Kayrah cepat. "Kebetulan sekali aku dirawat di rumah sakit dekat sini dan sangat kebetulan kita bertemu di taman ini. Dunia sempit sekali ya"
"Kayron" Caroline menatap Kayron lekat-lekat setelah mendengar ucapan Kayrah yang tidak meyakinkan.
"Aku tidak tau jika dia dirawat di dekat sini" jawab Kayron cepat.
Mendengar itu membuat bibir Kayrah mencetak senyum tipis. "Jangan salahkan Kayron. Aku sedang bosan di rumah sakit dan tempat ini adalah tujuan terdekat yang bisa aku kunjungi saat ini"
Kayron langsung menatap Kayrah dengan tatapan menyiratkan seperti 'Diamlah! Jangan ikut campur!'.
Tiba-tiba Kayrah meremas bajunya sambil berusaha mengatur nafasnya yang mulai tidak teratur karena jantungnya yang berdetak lebih cepat dari orang normal. Kayrah menatap Kayron dengan spontan lalu dirinya tersadar bahwa sekarang adiknya itu sudah 'berubah'.
"Ah, maaf. Sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit" Kayrah terkekeh ketika sadar bahwa dirinya terlihat menyedihkan di hadapan adiknya yang seolah tidak peduli pada kondisinya.
Kayrah tidak peduli. Meskipun hatinya juga sakit ketika melihat ketidakpedulian yang dilontarkan oleh adiknya itu. Dia harus kembali ke rumah sakit sekarang atau kalau tidak dia akan pingsan di taman tanpa ada yang menolong.
Kayrah berjalan menjauhi sepasang kekasih itu. Tanpa Kayrah sadari, Kayron menatap Kayrah dengan pandangan penuh rasa bersalah dalam waktu tidak lebih dari satu detik.
Kayron berusaha keras untuk tidak menghela nafas di hadapan kekasihnya yang sedang dalam mode mengamuk ini. "Ayo pergi"
Kayron menggenggam tangan Caroline dengan erat lalu menyeretnya pergi dari taman.
Sedangkan Kayrah, dirinya sesekali melirik adiknya saat berjalan menuju rumah sakit karena dia tentu berharap adik yang sangat dia sayangi mengkhawatirkan kondisinya saat ini.
Tetapi harapan Kayrah hanya menjadi sebuah harapan yang tidak terkabulkan. Melihat Kayron yang berbalik pergi sambil menggandeng tangan kekasihnya membuat Kayrah mati-matian menahan tangisnya.
Kayrah berhenti berjalan ketika pandangannya menjadi buram. Rasa sakit dari jantungnya sangat menyiksa tubuhnya saat ini.
"Aku tadi kemari dengan berlari ya" gumam Kayrah yang tiba-tiba ingat bagaimana dirinya bisa sampai di taman ini.
Darah segar keluar dari hidung Kayrah membuat tubuhnya lemas seketika.
Bruk!
Pandangan Kayrah seketika menjadi gelap gulita.
.
***
__ADS_1
.
Gelap. Hanya warna hitam yang bisa dilihat oleh mata Kayrah saat ini.
Entah kenapa tubuhnya menjadi ringan sampai-sampai Kayrah tidak bisa menggerakkan satu jarinya sedikitpun.
Berat sekali mataku. Dimana ini? Batin Kayrah sambil mencoba membuka matanya.
"Sayang aku datang"
Terdengar suara yang tentu Kayrah kenal ketika Kayrah sudah mulai menyerah untuk membuka matanya.
Cup.
Kening Kayrah dikecup ringan oleh seseorang.
"Kamu belum mau bangun?" Tanya orang itu dengan lembut di depan telinga Kayrah.
Bukan belum mau, tapi aku tidak bisa membuka mataku. Aldebaran. Batin Kayrah saat mendengar pertanyaan itu.
"Aku kangen tau"
Aku juga Al.
"Sayang, bolehkah aku cemas?"
Eh? Kenapa tidak boleh?
Terdengar isakan tangis di telinga Kayrah yang membuatnya bingung.
Aldebaran kamu menangis? Kenapa?
"Aku... Aku sangat cemas.. sungguh. Aku mencemaskan mu Kayrah Edward... Tolong, cepatlah bangun" ucap Aldebaran sambil terisak.
Al...
"Aku akan terus mencemaskan mu. Setiap saat aku akan mengkhawatirkan mu. Jika begini terus aku bisa menemanimu kan dimanapun kamu berada bukan?"
Hentikan Al... Aku akan bangun. Aku akan bangun secepat mungkin!
.
***
.
Kayrah sudah tidak tau berapa lama dia berada di alam 'hitam' yang sangat dingin itu. Seberapapun kerasnya dia mencoba, Kayrah tetap tidak bisa menemukan jalan keluar dari alam 'hitam' ini.
Sekarang, Kayrah hanya bisa menunggu ada secuil keajaiban yang bisa membawanya kembali.
Dan penantiannya akhirnya terbalaskan. Kayrah sangat senang ketika melihat sebutir cahaya ditengah-tengah gelapnya alam yang tidak dia tau itu.
Saat Kayrah memegang cahaya itu tiba-tiba dirinya mendengar suara tangisan yang sangat menyayat hati. Tangisan yang terdengar tulus juga genggaman kuat yang perlahan Kayrah rasakan di tangannya.
Kayrah membuka matanya perlahan dan seketika matanya menatap lampu ruangan yang sangat menyilaukan. Kayrah menerjapkan matanya berkali-kali untuk menetralisir cahaya lampu itu.
"Kay... Kayrah"
Kayrah menoleh ke samping dengan perlahan ketika mendengar dirinya dipanggil oleh seseorang yang suaranya tidak asing baginya.
"Siapa ya? Aku hampir tidak pernah mendengar suara--" gumaman Kayrah terpotong saat dia melihat wajah yang sangat dia rindukan.
Wajah yang begitu terkejut sekaligus senang saat melihat Kayrah membuka mata. Tercetak sebuah senyuman di wajah itu. Senyuman yang begitu tulus sampai-sampai hati Kayrah terkoyak karena sudah lama dia tidak melihat wajah itu tersenyum.
"A..ayah..."
__ADS_1
like.