
Kayrah terduduk lemas di tempat yang sepenuhnya asing. Hanya ada warna putih di tempat ini dan kesunyian yang membawa ketenangan.
Kayrah mencoba berdiri sambil terus menatap kakinya yang bersih tanpa noda. Kayrah termenung, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba Kayrah melihat sebuah tangan yang terulur padanya. Kayrah menatap tangan itu dan mendongak untuk menatap pemilik tangan itu.
Wajah tampan yang tersenyum hangat padanya membuat air mata Kayrah turun lagi. Kayrah menatap mata abu-abu itu dengan tidak percaya.
"Kenapa menangis?" Aldebaran mendekat lalu menghapus air mata Kayrah dengan lembut. "Aku tidak suka melihatmu menangis."
Kayrah terisak sambil menggenggam tangan Aldebaran yang berada di pipinya. Kayrah menikmati rasa hangat yang Aldebaran salurkan.
"Kenapa kau meninggalkanku lagi? Kenapa? Aku... Baru saja aku merasa bahagia karena akan menikah denganmu... Tapi... Tapi kamu meninggalkanku lagi dan lagi..."
"Tidak." Aldebaran tersenyum lembut. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kita akan pergi bersama."
Kayrah menatap mata abu-abu milik Aldebaran lekat-lekat. Dia tersenyum. Senyum lebar yang datang setelah merasakan sakit yang teramat sangat.
"Mama."
Kayrah mengalihkan pandangannya pada seseorang yang berbicara. Mata Kayrah melebar saat melihat putranya, Karsein, berada beberapa langkah di hadapannya.
Karsein menatap Kayrah dengan lembut. Dia tersenyum pada Kayrah. Senyum lebar yang tidak pernah dilihat oleh Kayrah sebelumnya.
"Karsein... Kamu... nak, apa kamu tidak apa-apa?" Suara Kayrah bergetar.
__ADS_1
Karsein tertawa saat melihat ibunya yang khawatir. "Aku tidak apa-apa mama. Aku sudah bisa tersenyum sekarang."
"Syukurlah..."
Aldebaran melirik Karsein yang berada di belakangnya lalu menatap Kayrah lagi. Aldebaran mundur selangkah lalu mengulurkan tangannya pada Kayrah.
Setelah Aldebaran mundur, baru Kayrah bisa melihat semuanya dengan jelas.
Di hadapannya ada Aldebaran yang mengulurkan tangan sambil tersenyum. Tidak jauh dari Aldebaran ada Karsein yang tersenyum lebar sambil menatapnya.
Lalu, di dekat cahaya yang sangat menyilaukan ada seorang laki-laki dan perempuan yang menatapnya. Laki-laki dan perempuan itu tersenyum saat Kayrah melihat mereka.
"Bibi Keysha..."
Di hadapan Keysha, Dicky juga ikut tersenyum ketika menatap Kayrah. "Bisa bertahan sejauh ini... Kamu hebat. Sama seperti bibimu ini."
Air mata Kayrah tumpah sekali lagi saat melihat Paman dan bibinya yang rela menunggu dirinya untuk pergi bersama.
Kayrah menerima uluran tangan Aldebaran dan seketika pakaiannya berubah, begitupun dengan pakaian Aldebaran.
Kayrah dengan cantiknya menggunakan gaun pengantin yang sebelumnya dia pakai saat menunggu Aldebaran. Sedangkan Aldebaran pun terlihat berwibawa dengan jas dan pita di lehernya.
Kayrah terkagum-kagum dengan perubahan ini, dia terharu karena pakaian ini adalah pakaian yang sebelumnya di belikan oleh Aldebaran untuk mereka gunakan saat pernikahan.
Aldebaran menarik Kayrah dengan lembut ke dalam pelukannya. Dirinya menggendong Kayrah dan menempelkan keningnya pada kening Kayrah. Pasangan itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
Aldebaran membawa Kayrah menuju ke tempat Keysha dan Dicky berada diikuti oleh Karsein yang menggenggam erat tangan Aldebaran.
"Kalian sudah siap?" Tanya Dicky sambil tersenyum.
Keysha, Kayrah, Aldebaran, dan Karsein tersenyum lalu mengangguk bersamaan. Dicky ikut tersenyum dan menggenggam erat tangan Keysha juga tangan Karsein.
"Mari kita pergi."
Dicky memimpin semuanya memasuki cahaya itu. Perlahan tubuh mereka berlima diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan.
"Kayrah Edward, cahayaku. Sekarang kamu tidak perlu sakit lagi."
.
.
.
.
.
Tamat
Terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat. Semoga kalian suka dengan ending ini. Jumpa lagi di karya saya berikutnya yaa!
__ADS_1