
"Al.. Aldebaran... Sudah meninggal..." Kayron menunduk saat mengatakan itu.
"Inalillahi..."
Keynan menutup matanya dengan salah satu tangan sedangkan Dahlia menutup mulutnya sambil menatap Kayron.
Semua orang yang adalah keluarga besar Kayrah secara serentak langsung menjadi murung. Keceriaan yang terlihat tadi sudah hilang entah kemana.
"Bohong! Kamu pasti bohong kan Ron?!" Kayrah langsung duduk saat berteriak sembari menangis.
"Kakak...?" Kayron dan lainnya terkejut karena Kayrah yang berteriak tiba-tiba.
"Tidak mungkin! Katakan kalau kamu sedang berbohong Ron! Hiks, jangan bercanda Ron! Ini nggak lucu! Huhuhu..." Kayrah mulai histeris.
Air matanya menetes, membasahi gaun putih yang masih Kayrah pakai. Kayrah menggempalkan tangannya, dia tidak percaya kalau Aldebaran sudah tiada.
"Tidak kak, aku tidak berbohong." Kayron mendekati Kayrah lalu memeluk kakaknya itu. "Aldebaran... Dia menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun..."
Kayrah berusaha memberontak dari pelukan Kayron tapi setelah mendengar penjelasan Kayron, Kayrah akhirnya menangis di pelukan saudara kembar itu.
"Hiks... Ron... Hiks... Gimana bisa.... Huhuhu..."
Suara alat pendeteksi detak jantung yang berada di ruangan itu berbunyi keras menandakan jantung Kayrah sedang tidak normal saat ini.
"Kayrah!!"
Keynan dan Dahlia langsung menghampiri Kayrah yang masih menangis di pelukan Kayron.
"Kak..." Kayron juga menjadi panik. Dia mencoba melepaskan pelukan Kayrah.
Pelukan itu lepas dengan mudah dan tampaklah wajah Kayrah yang sudah tidak berdaya. Mata semua orang melebar saat melihat Kayrah pingsan dengan wajah yang pucat pasi.
"Panggil dokter!!" Rangga berteriak.
Keynan langsung menekan tombol merah yang tersedia lalu tidak lama kemudian tim medis pun tiba.
Semua keluarga besar itu keluar dari ruangan dengan wajah tegang. Saat menunggu di depan ruangan pun, semua keluarga besar itu tidak berhenti khawatir dengan keadaan Kayrah.
Keynan duduk di samping Dahlia yang sedang menangis. Dirinya sangat khawatir dengan keadaan Kayrah begitupun dengan Kayron yang sekarang mondar-mandir sembari menggigit salah satu jarinya.
"Kayrah bertahanlah..." Rangga tidak berhenti berdoa.
.
***
.
Didalam ruangan Kayrah sekarang terdapat semua anggota keluarga besarnya. Ruangan itu begitu sunyi saat tidak ada orang yang berinisiatif membuka pembicaraan.
Semua orang hanya menatap Ariadna yang sekarang sedang bermain di pangkuan Kayrah. Kayrah sendiri setelah sadar dari pingsan, kondisinya tidak begitu membaik. Hanya ada tatapan kosong dimatanya.
"Mama mama, hari ini papa nggak kesini ya?" Tanya Ariadna dengan riang.
Kayrah mengalihkan pandangannya pada putrinya itu lalu setetes air mata jatuh dari matanya membuat Ariadna yang melihat langsung terkejut.
"Mama kenapa?! Apa ada seseorang yang mengganggu mama? Kenapa mama menangis?" Ariadna menghapus air mata Kayrah dengan wajah panik.
Kayrah tersenyum kecut lalu berkata dengan nada parau. "Papa... Papa nggak akan pernah kemari lagi... Kedepannya kita akan hidup berdua saja..."
"Kenapa? Apa papa yang membuat mama menangis? Ria nggak akan maafin papa karena udah buat mama nangis!"
"Hiks, huhuhu..." Kayrah mendekap Ariadna dengan sangat erat.
"Mama..." Ariadna bingung, tapi karena Kayrah yang memeluknya jadi Ariadna membalas pelukan ibunya itu.
Cklek...
Tiba-tiba pintu ruangan Kayrah terbuka dan nampak lah Anderson, kakak Aldebaran, dengan penampilan yang berantakan sedang membawa sebuah buku.
Anderson memasuki ruangan lalu berlutut di depan semua orang. "Maaf... Maafkan adik saya..."
"Apa-apaan kamu!" Rangga yang berada di dekat Anderson langsung membantu laki-laki itu berdiri.
Anderson menunduk, air matanya jatuh ke lantai. Dirinya berusaha mati-matian agar tidak mengeluarkan suara tangisannya.
"No..nona Kayrah... Maafkan adik saya... Dia... Tidak bisa menepati janjinya untuk menjadikanmu istri..."
Kayrah kembali menangis lagi setelah Anderson berkata seperti itu. Melihat dari penampilan Anderson sepertinya laki-laki itu sangat terpuruk karena meninggalnya sang adik.
"Aldebaran jahat... Dia meninggalkanku hiks..."
Anderson mendongak dan melihat wajah Kayrah yang begitu pucat sedang menangis. Anderson meneteskan air mata lagi tapi tetap tidak bersuara. Anderson mendekati Kayrah lalu menyodorkan buku yang dia bawa.
"Itu... Buku diary adikku..."
Kayrah menerima buku itu dengan tangan yang bergetar. Ariadna yang berada di pangkuan Kayrah langsung digendong oleh Kayron.
__ADS_1
Kayrah membuka satu persatu lembaran buku itu. Dari pertama, Aldebaran bercerita tentang masa-masa SMA nya. Lalu Aldebaran bercerita tentang pertemuannya dengan Kayron dan Stevano di bangku perkuliahan. Akhirnya Kayrah sampai pada lembaran dimana Aldebaran menceritakan tentangnya.
20 Mei,
Aku bertemu dengannya. Gadis cantik berambut pirang dengan sejuta pesona yang sudah membuatku jatuh cinta. Kayrah namanya.
Tangan Kayrah yang bergetar membuka halaman berikutnya lagi.
"Nona Kayrah... Aldebaran sangat mencintaimu..." Anderson berkata.
10 Juni,
Katanya Kayrah sakit. Hari ini aku menjenguknya di rumah sakit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menampilkan sosok asliku padanya yang tidak banyak diketahui orang.
"Adikku berubah menjadi lebih ceria setelah bertemu denganmu nona..."
13 Juni,
Kayrah Edward, gadis yang menjadi cahaya ditengah gelapnya hidupku. Aku mencintainya.
"Aku bahagia melihat adikku yang selalu bersikap dingin saat sudah dewasa menjadi lebih ceria, dan itu karena dirimu nona Kayrah..."
17 Juni,
Aku berhasil menjadi kekasihnya!
"Adikku menjalani hidup berat ditengah keluarga kita yang hanya mementingkan bisnis..."
25 Juni,
Jackpot! Calon ayah mertua menyukaiku!
"Aldebaran jadi lebih bersemangat setiap harinya."
6 Juli,
Dia satu-satunya kebahagiaanku di dunia ini.
"Aku sering mendengarnya berteriak bahagia saat malam hari."
20 Juli,
Aku mengakhiri hubungan kita. Aku membuatnya menangis. Haha, pada akhirnya aku tidak boleh bahagia ya? Maafkan aku. Aku akan pergi jauh dan tidak akan kembali jadi aku terpaksa melepasmu, cahayaku...
"Aldebaran kembali menjadi laki-laki dingin saat aku akan menikah dengan gadis di negeri jauh..."
Putraku dengannya... Karsein... Kenapa dia pergi secepat ini?!
Kayrah bisa melihat kertas halaman itu menjadi mengerut karena terkena air mata Aldebaran.
1 Agustus,
Aku akan membawa cahayaku pergi bersamaku! Aku akan menjadikannya sebagai istriku! Aku yakin kakak pasti akan mendukungku.
"Setelah pulang dari melamar nona hari itu... Aldebaran bahagia sekali... Bahkan dia memelukku untuk pertama kalinya setelah sekian lama..."
2 Agustus,
Aku membeli sebuah gaun pengantin. Gaun yang cantik. Akan cocok dengan Kayrah yang sama cantiknya. Cahayaku... Pasti akan lebih bersinar saat memakai gaun ini.
"Aldebaran terus tersenyum saat membelikan nona gaun pengantin itu..."
2 Agustus,
Besok aku akan resmi menjadi suami cahayaku! Betapa senangnya aku. Aku tidak punya harapan lain lagi. Terimakasih. Aku sangat bahagia. Semoga acara besok berjalan dengan lancar.
Aku mencintaimu Kayrah Edward. Tidak ku sangka besok aku bisa memilikimu seutuhnya. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia. Tidak akan kubiarkan kamu menangis lagi.
Kayrah menutup buku diary itu setelah membaca halaman terakhir. Kayrah menangis. Menangis tersedu-sedu.
"Nona Kayrah... Terimakasih sudah hadir dalam hidup Aldebaran. Terimakasih sudah membuat hidup adikku lebih berwarna disaat-saat terakhirnya. Terimakasih untuk semuanya dan tolong... Maafkan adikku yang pergi begitu saja tanpa pamit padamu... Aku... Juga tidak menyangka akan jadi seperti ini... Maaf nona..."
Anderson langsung pergi dari ruangan Kayrah setelah mengatakan itu. Anderson meninggalkan buku diary yang memang dia berikan pada Kayrah.
"Huaaa... Hiks..."
Rangga mendekat lalu memeluk Kayrah dengan erat. "Berhentilah menangis sayang..."
"Paman... Hiks, Paman Rangga..."
Rangga diam, mendengarkan apapun yang akan Kayrah ucapkan.
"Paman... Kenapa... Huhuhu..."
Rangga memejamkan matanya sejenak lalu berkata, "Tidurlah. Kamu pasti lelah menangis terus."
Kayrah berusaha menghentikan tangisannya sambil menatap mata Rangga. Rangga pun menghapus air mata Kayrah lalu menyuruhnya tidur. Kayrah meminta Rangga tetap berada disisinya. Kayrah menyuruh Rangga duduk dan menjadikan paha Rangga sebagai bantal.
__ADS_1
"Hiks..." Kayrah masih sesenggukan sambil mengeluarkan air mata saat tidur.
Rangga mengelus kepala Kayrah dengan lembut, begitu lembut karena takut jika sedikit kasar akan membuat Kayrah hancur.
"Nyaman sekali Paman Rangga... Hiks..."
"Kalau begitu tidurlah."
Kayrah mengatur nafasnya, dipeluknya buku diary Aldebaran erat-erat. Air mata yang tadi menetes sudah tidak keluar lagi. Hanya suara isak tangis yang sesekali terdengar.
"Paman... Jika aku tidur seperti ini, tolong jangan bangunkan aku..."
Rangga tertawa kecil lalu mengecup kening Kayrah singkat, "Baiklah. Tidurlah yang nyenyak."
Kayrah tersenyum tipis, perlahan matanya tertutup seiring dengan jatuhnya buku Aldebaran yang berada di pelukan Kayrah. Suara alat pendeteksi detak jantung rumah sakit terdengar keras membuat semua orang yang mendengar langsung panik.
"Kay..Kayrah..." tangan Rangga bergetar hebat saat menyentuh wajah Kayrah yang berada di pangkuannya.
"Kayrah... Kayrah!" Keynan yang sedari tadi hanya melihat, menjadi panik.
"Kak..." Kayron mendekat dengan Ariadna di gendongannya.
Semua orang menjadi tegang.
Tiiiiiiiiiiiittttttt.....
Suara alat rumah sakit yang panjang terdengar keras memekikkan telinga orang yang mendengarnya. Tidak dengan orang-orang yang berada di dalam ruangan Kayrah. Mereka semua langsung berdiri saat mendengar suara itu.
"Kayrah! KAYRAH!!"
Teriakan-teriakan terdengar memanggil nama Kayrah dengan panik.
"Mama... Mama..." Ariadna turun dari gendongan Kayron lalu mendekati Kayrah.
Ariadna kecil begitu terkejut saat mendengar suara nyaring yang panjang itu. Ditambah dengan semua orang langsung mendekati mamanya sambil menangis, Ariadna menjadi bingung.
Ariadna memegang tangan Kayrah lalu menggoyangkannya sambil memanggil-manggil Kayrah.
"Mama, mama? Mama... Mama... Kenapa mama nggak bangun?" Ariadna kecil bertanya dengan polosnya. "Om papa lihat, mama nggak bangun meskipun dibangunin."
Kayron menarik Ariadna menjauh dari Kayrah. Melihat Kayron yang menangis membuat Ariadna semakin bingung.
"Om papa? Mama kenapa? Apa mama capek juga seperti kak Sein? Mama cuma tidur kan? Mama nggak mau bangun karena capek kan? Nanti kita bisa bertemu lagi kan?" Ariadna bertanya dengan mata polosnya.
Kayron mendekap tubuh Ariadna, ruangan Kayrah sekarang dipenuhi oleh suara tangisan. "Iya. Mama cuma tidur. Nanti Ria bisa ketemu mama lagi sama kakak. Sekarang mama menemani kak Sein dulu di sana..."
"Hm? Om papa kenapa nangis? Semuanya juga kenapa nangis? Kata mama nggak boleh nangis karena nanti bisa ketemu lagi."
Kayron semakin menangis begitupun dengan yang lainnya. Melihat semua orang semakin menangis membuat Ariadna mulai menangis juga.
"Om papa... Kenapa sih... Hiks, huhuhu..."
Kayron tidak menjawab, dia hanya memeluk Ariadna dengan erat.
Keynan dan Dahlia sudah berlutut di samping ranjang Kayrah. Mereka berdua menangis sembari memegang tangan Kayrah.
"Sayang... Sayang... Hiks..."
Sepasang suami istri itu hanya bisa menangis. Mereka tidak bisa berkata-kata saat melihat wajah putri mereka yang sudah pucat tapi terlihat damai seperti sedang tertidur nyenyak.
"Kayrah... Kayrah..." Rangga yang masih sama dengan posisinya juga ikut menangis. Air mata Rangga turun dengan deras membahasi wajah Kayrah yang sudah pucat.
Ningsih juga ikut berlutut di sisi lain ranjang Kayrah. Dirinya yang sudah tua menangis dengan tersedu-sedu. Rasa sakit karena meninggalnya kedua anaknya, Dicky dan Keysha, bertambah lagi setelah melihat kematian cucu perempuannya di depan mata.
Thalita menenggelamkan wajahnya di dinding rumah sakit sembari menonjok dinding tidak bersalah itu. Meskipun tidak bersuara tapi Thalita menangis disana.
Sammy menundukkan wajahnya karena matanya sedang mengeluarkan air mata dengan deras. Kehilangan orang yang disayang sungguh sangat menyakitkan.
Benua juga ikut menangis sembari memeluk Sammy saat melihat saudarinya menutup mata untuk selamanya.
Jack menjambak rambutnya sendiri, dia juga tidak kuat melihat Kayrah pergi di depan matanya.
Ricard tidak kalah buruknya. Ricard menangis dengan derasnya. Melihat wajah yang sama dengan Keysha itu menutup mata sudah cukup membuat luka di hati Ricard terbuka lagi dan lagi.
Riana memeluk anaknya juga anak Rangga yang ikut menangis karena melihat Kayrah pergi.
"Kak Kayrah, jangan tinggalkan kami!"
"Huhuhu... Kak Kayrah... Padahal kita mau pamer piala juara kita di lomba saat kakak pergi dari negara Inggris..."
Diva dan kedua anaknya juga menangis tidak kalah keras. Diva merasakan sakit lagi saat Dicky dan Keysha meninggal dulu. Kedua anak kembar Diva juga merasakan hal yang sama. Bagaimanapun Kayrah adalah sepupu mereka berdua. Melihat Kayrah meninggal sudah cukup memberi luka di hati mereka. Devan juga ikut menangis.
Stefany menangis tersedu-sedu karena dirinya juga ikut menghabiskan waktu selama lima tahun dengan Kayrah.
Berbeda dengan Keysha yang meninggal tanpa ditemani oleh siapapun, saat ini Kayrah meninggalkan dunia tepat di hadapan orang-orang yang sayang padanya.
.
__ADS_1
Like.